Showing posts with label catatan merah jambu. Show all posts
Showing posts with label catatan merah jambu. Show all posts

Sunday, April 7, 2013

Tentang Martabak dan Sopir Taksi Malam Minggu (Bagian 2)

0 comments



Setelah menyimpan tas dan segala bawaan di kursi belakang, saya mengikatkan diri dengan safety belt di kursi depan, di sebelah bapak sopir yang sedang bekerja (ini apa…). Saya pun menyebutkan tujuan saya kepada bapak sopir taksi burung biru.

“ Mas, tolong ke daerah Pejaten ya, Samali Ujung “ kata saya kepadanya. Saya panggil dia mas karena tampaknya dia masih cukup muda.

“Oh iya, bapak. Mohon maaf itu dimana ya ? mohon saya dipandu “ balas mas Sopir.

“Oh iya, nanti saya tunjukkan jalannya kok, tidak terlalu jauh darisini” kata saya lagi. Ini kali pertama soir taksi yang mobilnya saya tumpangi minta dipandu ke daerah tujuan.

“Terimakasih bapak”

Taksi pun melaju, meninggalkan pemberhentian tak resmi transportasi umum Pasar Jumat dan segala kekecewaannya  dibelakang. Saya cukup lelah dan mengantuk hari ini dan ingin sekali agar perjalanan ini berjalan mulus dan saya bisa tertidur sejenak.


Baru saja saya akan tertidur, sopir taksi mengagetkan saya dengan pertanyaannya.

“Bapak, mohon maaf, ini kita ambil arah mana ? “ tanyanya saat kita melewati suatu perempatan.

“Mas ambil kanan ya, terus nanti lurus saja sampe akhir jalan. Setelah itu belok kiri ke arah Mampang Prapatan “ saya menjelaskan. Saat itu kita akan memasuki jalan R.A. Kartini menuju perempatan Ragunan-Mampang Prapatan-T.B. Simatupang.

“Terimakasih Bapak, mohon maaf saya banyak tanya, saya masih baru soalnya” kata mas sopir dengan nada merendah.

Taksi pun memasuki jalan R.A. Kartini. Jalanan cukup lengang saat itu hingga taksi bisa cukup kencang melaju. Taksi baru berhenti saat memasuki perempatan Ragunan-Mampang Prapatan ketika jalanan menjadi cukup padat menjelang lampu merah.

“Oh, begitu ya, Mas ? Memang sebelumnya dinas dimana ?” saya basa-basi bertanya.

“Sama, nyopir juga, Pak. Tapi sopir pribadi, jadi sopir taksi sih baru-baru ini saja”

Mobil sedan taksi ini aga tersentak ketika lampu lalu lintas berubah ke warna hijau. Tampaknya perpindahan rem tangan dan perseneling sang sopir tidak terlalu sempurna. Kendaraan di belakang kami, yang kebetulan juga taksi dari merek lain sontak membunyikan klakson berkali-kali merespon tabrakan yang mungkin terjadi di tanjakkan ini.

“Lho, Mas, jangan begitu mindahin rem dan main koplingnya, ini kan di tanjakkan, itu hampir saja barusan kita nabrak taksi orang!” saya berseru. Cukup kaget juga dengan cara mas sopir taksi ini membawa mobil.

“Maaf, Maaf sekali, Pak. Saya memang belum terbiasa bawa mobil sedan seperti ini” kata mas sopir dengan nada penuh penyesalan sambil memegang bagian belakang kepalanya.

Saya lihat papan identitas pengemudi taksi di depan saya yang tertanam di dashboard. Cahya Asih H., nama sopir taksi burung biru saya malam ini.

“ Iya, gapapa, Mas Cahya. Tapi, mindahin rem tangannya jangan sontak begitu, harus ditambah dengan ngegas dan rem juga, kan lagi ditanjakkan seperti ini.  Mobil sedan begini kan enak mas, sensitifitasnya tinggi “ kata saya sok tahu, wong saya menyetir mobil saja tidak bisa. Tapi, saya sering melihat bapak atau teman saya menyetir dengan baik, dan itu tidak seperti Mas Cahya ini.

“Iya, Bapak. Mohon maaf sekali lagi. Wong saya biasanya bawa mobil Avanza, Xenia, masih adaptasi nih sama mobil sedan begini”

“Pantesan kok daerah sini saja belum tahu.. Memang baru berapa lama mas Cahya nyopir taksi ?“

Taksi memasuki jalan Warung Buncit Raya yang cukup lengang. Sesekali taksi bergolak sedikit karena jalanan yang tidak rata. Di sepanjang perjalanan, tampak berbagai sisa-sisa aktivitas di penghujung malam. Awan langit malam merintik hujan. Sang sopir taksi fokus kearah jalan dengan raut wajah tegang.

“Baru hari ini, Bapak, pagi tadi, saya menyopir taksi” jawab mas sopir taksi dengan senyum santun penuh arti.

Sungguh, saya berharap saat itu (seharusnya) saya sudah punya asuransi jiwa.

(Bersambung ke Bagian 3)

Tentang Martabak dan Sopir Taksi Malam Minggu

0 comments

Malam ini adalah malam minggu, dan sebagai orang yang berpacar (ehem) saya pun meluangkan waktu untuk berkunjung (baca: silaturahmi) ke rumah pacar saya di daerah Pamulang, Jakarta Selatan. Saya sampai dirumahnya sekitar pukul 5 sore.

Setelah menghabiskan waktu hingga menjelang waktu salat maghrib, kami memutuskan ingin membeli martabak yang akan dihabiskan bersama sambil menonton pertandingan sepakbola televisi. Kami membelinya pada penjual martabak di ujung jalan pintu masuk komplek rumah pacar saya, Sinar Pamulang, sehabis salat maghrib.  Saya menyukai martabak manis, dia lebih suka martabak telur.

Pertandingan yang kami berdua nantikan, yaitu derby antara Manchester United dan Manchester City ternyata tidak (belum) ditayangkan karena saya salah membaca informasi jadwal.  Pertandingan tersebut ditayangkan esok harinya. Sekali lagi saya membuktikan bahwa diri saya adalah orang yang ceroboh di depan pacar saya ini. Apa saja bisa lalai bin lupa, mulai dari dompet dan kunci motor, sekarang bahkan jadwal pertandingan tim favorit di televisi. Padahal sudah datang jauh-jauh, sudah pakai jersey pula.

Tidak ingin lama-lama kecewa, kami menghabiskan waktu dengan saling bertukar kabar, sambil saling bercanda serta menghabiskan martabak berdua. Ah, sudah sudah, saya tidak ingin bercerita banyak soal ini, tidak adil buat para pembaca budiman yang (masih) jomblo. Ups. Hehe. Tapi, saking asiknya mengobrol, saya sampai lupa waktu dan pulang dari rumahnya sekitar jam 9. Padahal, saya sedang tidak membawa motor dan harus pulang ke rumah dengan menaiki angkot dua kali lalu berpindah ke bis.

Martabak kami masih sisa cukup banyak, pacar bilang saya saja yang membawa pulang dan makan di rumah nanti bersama keluarga atau teman-teman yang ada. Jadilah saya pulang dengan membawa plastik berisi sekotak martabak, lengkap dengan sebotol minuman dan sebuah payung kecil karena nampaknya akan hujan. Beginilah dia dan keluarga, begitu perhatia dan teramat sayang (aduh, saya ini daritadi ngomongin pacaran-pacaran terus,hehe)


               
Setelah berpamitan dengan dia dan seluruh keluarganya, saya melangkah keluar komplek menuju jalanan utama kota Pamulang, menenteng kresek berisi martabak di tangan kanan, dan payung ditangan kiri. Cukup jauh rute yang harus saya tempuh, dua kali menaiki angkot hingga ke Pasar Jumat lalu berpindah bis P20 jurusan Senen-Bulus untuk turun di daerah Pejaten.
               
Sesampainya di Pasar Jumat, saya pun mengambil tempat yang biasa, bersama banyak orang lain  yang menunggu kedatanganya sang kopaja sambil harap-harap cemas.  Sudah menjelang pukul sepuluh malam, sudah tidak banyak bis yang masih melayani keberangkatan ke arah Pasar Senen. Benar saja, beberapa kali Kopaja P20 datang, namun tidak menerima penumpang untuk naik karena sudah akan pulang ke pangkalan masing-masing.

Menjelang pukul setengah sebelas, banyak (calon) penumpang P20 putus asa menunggu dan mulai menaiki apapun transportasi publik yang masih ada disitu, sebagian kecil naik busway, entah akan turun di shelter mana, sebagian lain menaiki angkot dan bis yang mungkin trayeknya melewati sekitar daerah rumah masing-masing.  Sebagian lagi menghentikan taksi yang lewat, dan pergi melaju dengan anggun. Untuk saya pribadi, tidak ada trayek angkot atau bis lain disini yang melewati daerah tempat saya akan pulang, sehingga pada akhirnya saya pun memutuskan akan naik taksi. Walaupun saya sedikit banyak khawatir soal berapa besar biaya untuk sampai ke tujuan saya.

Akhirnya saya memutuskan akan pulang naik taksi. Segera saya menghentikan satu taksi yang lewat. Saya selalu memilih taksi berwarna biru dan berlambangkan burung tersebut apabila harus berpergian naik taksi, atas alasan keamanan dan kepercayaan. Dan perjalanan pun dimulai…

Saturday, September 17, 2011

Jika ( 2 )

0 comments

Akhirnya dalam wisuda jurusan kemarin aku mainin lagu IF - Bread itu. Bahkan aku dan ibu dosen yang ada di atas panggung merasa lagu itu begitu menyentuh buat para hadirin yang hadir.

Besoknya, dalam suatu percakapan dengan seorang teman, aku belajar banyak hal karena lagu IF itu. Teman ku bilang kalau lagu IF adalah lagu yang dia masukkan dalam kategori " The Meaning Endless Song " atau lagu menyentuh sepanjang masa. Teman ku itu bilang, lagu seperti IF ini tidak hanya kuat secara musikalitas namun juga kuat secara lirik.
" Liriknya itu begitu menyentuh dan universal, Bas " begitu katanya saat itu.
Lalu aku dan dia memainkan lagu IF itu di taman kampus.

Hmm, karena penasaran, sesampainya dirumah, aku berusaha menerjemahkan lirik lagu itu kedalam bahasa Indonesia. Masihkah lirik itu " punya kekuatan " yang sama ?

... ... ...
... ... Jika

Jika sebuah gambar mampu melukiskan ribuan kata,
Mengapa aku tak pernah bisa melukis kan dirimu ?
Karena, bahkan ribuan kata pun tidak akan bisa melukiskan kau yang aku kenal selama ini

Jika karena sebuah wajah, ribuan kapal dapat melepas sauh ke laut,
kemana pula aku akan pergi ?
Karena hanya kau lah tempat ku akan pulang. Hanya kau lah yang aku punya di dunia sayang

Aku ingat saat itu, ketika cinta ku akan kehidupan ini telah mengering,
Kau datang, dan menuangkan cinta mu yang meluap-luap itu kepada ku

Jika seorang pria dapat ada di dua tempat dalam satu waktu,
aku pasti memilih ada di sisi mu
dengan mu sekarang dan esok hari, selalu di sisi mu

Jika suatu saat bumi berhenti berputar dan kehidupan di dunia berakhir,
aku ingin habiskan sisa-sisa waktu itu dengan mu saja,
hingga ajal menjemput kita di dunia

Dan saat akhir itu, satu-persatu bintang pun berguguran
Lalu kau dan aku, akan terbang mengawan, mengangkasa...


... ... ...
Bagaimana ? ini terjemahan lirik versi ku.

Thursday, September 15, 2011

Jika (1)

1 comments

Hari ini (15 September 2011) dikasih tahu ibu dosen satu lagu yang menyentuh. If judulnya. Awalnya khawatir lagu seperti ini terlalu tua untuk dibawain untuk para wisudawan besok, ternyata... Lagunya menyentuh * hehe *
Berikut liriknya * coba aja donlot juga lagunya *
Bikin kangen orang tersayang.

... ... ...

If a picture paints a thousand words,
Then why can't I paint you?
The words will never show the you I've come to know.

If a face could launch a thousand ships,
Then where am I to go?
There's no one home but you,
You're all that's left me too.
And when my love for life is running dry,
You come and pour yourself on me.

If a man could be two places at one time,
I'd be with you.
Tomorrow and today, beside you all the way.

If the world should stop revolving spinning slowly down to die,
I'd spend the end with you.
And when the world was through,
Then one by one the stars would all go out,
Then you and I would simply fly away

... ... ...

See ? coba mainkan lagu ini dengan gitar bersama teman mu yang bersuara bagus, apalagi jika ia adalah salah satu orang tersayang mu.

Monday, September 12, 2011

Jatuh Cinta

0 comments
13 September 2011 Jatuh cinta kah ? Mungkin ini akan jadi tulisan ku yang paling singkat. Tapi akan jadi tulisan ku yang paling berkesan. Kalau aku rasakan rasa di perasaan ini dalam-dalam, rasanya sekarang aku memang sedang jatuh cinta. Sekali lagi jatuh cinta. Aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada gadis itu. Gadis yang bahkan tidak aku kenal sebelumnya. Gadis yang berbulan-bulan hanya berani ku pandangi saja wajah manisnya dari jauh. Gadis yang dalam waktu-waktu itu aku begitu takut dekati. Gadis yang dalam satu waktu, dalam suatu kesempatan indah yang Tuhan berikan, di taman itu kala siang, berhasil aku kenal namanya. Sekarang nama tiga kata itu itu terus terngiang di pikiran ku, gadis yang sapaan lembutnya waktu perkenalan dulu terus tersimpan di hati ini, gadis yang setiap sekarang aku amati wajahnya dari jauh pun, terus membuat ku menyukainya. Manis, kenapa aku ingin sekali terus ada di dekat mu ? aku ingin sekali jadi pemilik senyum itu, sapa itu, kerling mata itu. Aku menyukaimu sungguh, dan pada saatnya nanti, yang aku rasa tidak akan lama lagi, aku akan bilang padamu manis, bahwa aku mencintaimu sayang…

Sunday, March 27, 2011

CATATAN MERAH JAMBU bagian 4

0 comments
Depok. 9 Maret 2011

CATATAN MERAH JAMBU BAGIAN 4
Vespa Gang Potlot

Beberapa SMA negeri yang gue kenal, punya suatu tempat khusus yang menjadi saksi masa-masa kehidupan yang terjadi dan tumbuh didalamnya. Sebagai contoh, SMA 70 dan SMA 6 punya blok M plaza dan mungkin Mahakam sebagai tempat khusus yang mereka bagi antar mereka. Di tempat khusus itu pula mereka, sebagai akibat pembagian yang tidak merata, sering terlibat perkelahian saban akhir minggu. SMA 70 secara khusus akrab dengan kawasan bulungan, seperti SMA 60 dengan Kemang Timurnya, SMA 8 dengan kawasan Bukit Durinya, SMA 28 dengan kawasan Pejaten dan sekitarnya , dan tentu saja, SMA 55 kami ini, dengan gang Potlotnya.
Di sebut gang sebenarnya kurang tepat, karena kenyataanya, “gang” ini tidak sempit-sempit amat. Namun, karena sudah terlanjur orang menyebutnya gang potlot, maka sampai sekarang kami sebut saja gang potlot. Oia, penamaan “potlot” itu diambil dari suatu kata dalam bahasa Jawa yang berarti “penghapus”. Konon, sejauh yang aku tahu, dinamai begitu dengan harapan dari gang inilah, segala laku jelek dan jahat di masa lalu orang yang menyempatkan diri tinggal didalamnya, dapat terhapuskan, dan orang itu kemudian menjadi insan yang lebih baik lagi.
Gang Potlot sudah sedari awal menjadi keunikan sekolah kami ini. Tidak banyak sejujurnya yang tahu bahwa di gang Potlot lah ada SMA 55 itu. Beberapa teman ku malah lebih menyukai menyebut sekolah kami sebagai SMA Potlot, selain Petrol yang disebut begitu karena secara de jure kami ada di jalan yang bernama Minyak Raya.
Di gang Potlot ini lah, Slank ber-home base. Gang Potlot telah jadi saksi bisu perjuangan band legendaris ini mulai dari masa-masa sulit mereka hingga sekarang. Dan nama Potlot itu, sudah menunjukkan tuahnya saat tempat ini, lebih tepatnya di kediaman bunda Ivet, ibunda dari Bim-Bim, drummer Slank, menjadi pusat rehabilitasi personil Slank yang saat itu ketergantungan narkoba. Di gang ini pula, secara rutin, penggemar Slank dari berbagai penjuru nusantara, datang dan menghabiskan sebentar waktu disini. Gang Potlot, telah menjadi simbol persatuan mereka se-Indonesia.
Di gang ini pula, berbagai lapisan masyarakat, dan berbagai latar belakang budaya dan sosial, berkumpul jadi satu. Mulai dari warung kopi pinggir jalan, bengkel motor-motor komunitas Vespa, LSM sosial DIBO PISS, kantor manajemen Slank, rumah makan Bakwan Malang, kantor cabang suatu partai besar berlambang banteng, hingga salon kecantikan dapat kita temui. Di tambah kami, para siswa sekolah, gang potlot telah menjadi salah satu hal yang paling membedakan sekolah kami ini dengan sekolah negeri yang lain
Di balik semua itu, buat ku gang ini selalu jadi satu hal yang istimewa buat ku. Bahkan setelah beberapa tahun kemudian, entah sampai kapan,gang ini, suasana ini, sekolah ini, selalu mengingatkan ku pada satu orang. Pada satu orang itu.
. . . . . . . . . . . . . . .
“Bas, mana si Sheilla?”
Ah, pertanyaan menyebalkan ini lagi. Cla lagi, Cla lagi, memang aku siapanya dia? Apa-apa tanya aku. Kalian kan bisa tanya dia langsung. Terserah dia lah mau dimana sekarang, ambil pusing amat kalian ini.
“Ga tau gue, tadi si dia SMS, katanya habis latihan padus mau langsung jalan kesini, bukannya dia SMS lo semua juga kan? Jawab ku ketus.
“Yee, Lo Bas. Biasanya kan lo doang yang mau anter jemput dia, lo kan lebih deket sama dia. Lo SMS lagi dah sana, udah ngaret setengah jam ni, sayang kan udah bayar” kata Dimas, seperti biasa menyebalkan. Sambil membuat asap berbentuk lingkaran dari asap rokok yang dihembusnya.
“Dia minta jemput kali, Bas” kata Ian yang sedang menata rambut pada kaca spion, menimpali dari atas motor
“Ah, ngeselin lo semua, gue telpon aja deh, sini gue pinjem hape lo Tip, gue lagi gada pulsa telpon ni!” kata ku lagi sambil merebut paksa hape Latif dari atas meja.
“Nah nah nah, kok jadi pake pulsa gue….?”
“Yaudah sih, ntar kapan gue ganti, yang penting gue telpon dulu si Cla”
Aku tekan nomor hape Cla, nomor hape ini begitu aku hafal, bahkan setelah bertahun-tahun mendatang. Terdengar bunyi nada panggil, tak lama telpon ku diangkat.
“Ya halo kakak, assalammualaikum, aku sudah di jalan kok, 10 menit lagi aku sampe sana, maaf ya kakak terlambat, tadi banyak yang harus diulang latihannya. Kak Fitrinya lagi ngambek juga….” Kata Cla merajuk menyesal.
“oh gitu ya… udah pada ga sabar nunggu kamu… aku jemput aja ya? Kata ku
“ngga usah kak… aku jalan saja… ngerepotin…”
“udah sih, biar kamu cepet sampe sini…” kata ku malas.
“kok gitu…? Yaudah… aku tunggu di potlot ya…” katanya lagi menyebut suatu jalan di dekat sekolah kami.
“Clanya udah deket, gue jemput aja. Tip gue pinjem motor lo” pinta ku tanpa permisi mengambil kunci motor si Latif yang juga ada di atas meja.
“iya Bas, sip pake aja…”
Cuaca saat itu sedang panas sekali. Belum lagi dengan suasana hati seperti ini. Sejujurnya aku juga sedang begitu bingung. Apa yang sedang ku risaukan? Aku mencari apa? Apa yang ku harapkan? Bukan kah aku hanya menanti sesuatu yang kosong belaka? Aku tidak akan dapat apa-apa dari perasaan ini. Tidak bahkan penolakan Cla, karena aku pun bahkan tidak akan berani bilang bahwa aku menyukainya saat ini. Ah, hati, kenapa tidak aku menyukai orang lain saja?
Kurang dari lima menit aku sampai ketempat Cla menunggu. Dia menunggu dengan wajah orang yang kesal. Entah karena dia sedang lelah atau aku yang sedang gundah, tapi aku dapat melihat pada dirinya ada perasaan heran yang tak terjelaskan kepada ku.
“Kak… kamu kenapa sih…?
“Hah? Ngga aku ga kenapa-kenapa, kok kamu nanya begitu? mungkin karena hawa panas ini. Emang aku kelihatan seperti apa?”
“Kakak seperti lagi marah, marah sama aku. Seperti kakak ga ingin ngeliat aku… aku salah apa sama kakak…?
“ngga… kamu ga salah apa-apa… beneran deh Cla, hari ini panas banget.. kamu bisa melihat wajah seperti aku ini dimanapun…”
“beneran ga lagi kenapa-kenapa?”…
“Iya bener.. ayo Cla ah, kita udah telat nih…”
Segera, dengan wajah yang sama-sama masih merengut, kami berangkat menuju studio. Ah, biar saja si Cla ini. Memang nya kamu mau tahu kenapa aku kesal saat ini Cla?
Tidak lama kami pun sampai ke studio. Setelah teman-teman lain menumpahkan rasa kesalnya, yang ujung-ujungnya ke aku juga, kami pun mulai latihan disisa waktu yang ada. Hari ini, aku malas sekali latihan. Betapa hebatnya rasahati itu ya, sedikit takaran nya berubah, keadaan seseorang bisa bergantu sedemikian rupa.
Setelah dua lagu pentas dimainkan.
“Bas Woi! Lo kenapa sih. Main lo jelek amat?” kata Dimas ketus. Ingin sekali ku tonjok teman ku yang selalu menyebalkan ini.
“ngga gue gapapa, kecapekan aja, panas pula kan tadi diluar Lagian dua lagu ini kan baru beberapa kali kita mainin bareng. Masih kagok gue”
Sungguh, didalam ruangan latihan berpendingin ini pun, aku masih merasa gerah. Gerah yang berbeda.
“Tapi main lo kagok gitu Bas, bikin ribet yang lain jadinya” Latif, drummer kami menimpali.
“Iya, Bas, gue bingung ngingutin lead yang lo mainin” Ian ikut-ikutan. Dasar tukang memperkeruh suasana.
“Sori-sori… ya udah ayo kita coba lagi satu putaran… gue lebih bener lagi deh mainnya…” kata ku buru-buru minta maaf.
Hanya satu orang dibelakang mikrofon itu yang sedari tadi diam. Sesekali aku lihat dia menatap ku dalam-dalam. Sesekali pula kami beradu pandang, aku balas tatapan ingin tahunya dengan tanggapan yang acuh tak acuh. Di lain kondisi, aku senang sekali kalau Cla memperhatikan ku diatas yang lain. Walau pun mungkin itu cuma aku yang merasakan. Tapi tidak di kondisi yang jauh berbeda ini.
Setelah sekali lagi putaran, yang tidaj berubah banyak dibandingkan sebelumnya, kami pun menyudahi latihan.
“Ah, sial lo Bas hari ini, udah capek-capek nyiapin latihan hari ini gue, lo gitu-gitu doang!” kata Dimas.
“Kalo lo males-malesan gitu, males gue Bas buat tampil nanti. Jangan lupa ganti pulsa telpon gue tadi” kata Latif.
“Bas, lo hubungin kita buat latihan, kalo mood lo udah bagus, deh. Inget bas, Minggu depan kita udah tampil” kata Ian. Iya yan, sok tahu lo.
“Iya, sori banget ya… gue hari ini lagi banyak pikiran… maaf ngerepotin lo semua”
“Udah ah, mau balik gue. Ntar gue SMS lagi aja deh” kata Dimas lagi.
Komando Dimas itu juga jadi komando yang lain buat pulang. Karena cuma ada dua motor, Latif sama si Ian boncengan, si Dimas cuma sendirian karena jarang dia mau boncengin aku. Kalo boncengin Cla dia pasti mau, tapi entah mengapa si Cla jarang mau, alasannya sih karena ga enak sama aku yang akan jalan sendirian karena yang lain naik motor. Satu kendala motor ini sering buat diriku minder dalam bergaul. Sebenarnya aku ga masalah kalaupun harus naik bis atau jalan kaki pulang. Sudah terbiasa seperti itu. Tapi, sewaktu ada Cla, sebisa mungkin aku ingin pulang bersamanya saja. Kalau Cla pulang sama Dimas, itu jadi masalah.
Di gang potlot itu, yang rasanya hati itu jadi lebih jauh dan panas, kami lebih banyak diam. Seingat ku, kami memang belum mulai bicara. Di sepanjang jalan, pikiran ku berkelana keberbagai hal. Apakah aku benar-benar menyukai gadis ini? Bagaimana kalau ternyata rasa ini semu, dengan halangan dia sudah dimiliki, aku benar-benar mimpi pungguk bulan. Kenapa pula tidak bisa ku alihkan pikiran ku darinya? Mana ada seorang lelaki yang mengharap-harap wanita orang lain. Film macam mana pula yang seperti itu pernah aku tonton? Ah, dulu sudah si Ana begitu, sekarang Cla pula begini. Benar-benar pungguk bulan aku ini.
Begitu lama saling diam saja, lalu dia yang mulai bicara.
“Kak Abas…” katanya lirih.
“Iya Cla, kenapa…?” jawabku sekenanya.
“Kamu kenapa sih kak hari ini…?” tanyanya prihatin
“Kamu tanya lagi de… aku ga papa kan…”
“Kamu bohong kak… masa yang begitu bilang ga papa…”
“Habis gimana… emang aku ga lagi kenapa-kenapa…” kata ku sedikit kesal.
“Kakak ga mau cerita ke aku gitu…? siapa tahu aku bisa jadi ngeringanin pikiran kamu sedikit…” pintanya merajuk.
Memangnya kamu bisa? Tahukah kamu aku begitu serba salah kepadamu sekarang. Ini tidak semudah aku tinggal bilang aku menyukaimu Cla. Tidak akan semudah itu.
Setelah sekian lama, bahkan dia selalu bisa meluluhkan aku. Biar bagaimanapun, aku memang harus mengutarakan ini, aku lelaki. Aku harus tahu dari dirinya langsung. Sekaligus bisa aku tahu bagaimana sebenarnya perasaannya juga kepadaku selama ini. Ah, menyebalkan sekali pengungkapan kejujuran itu.
“Kak…”
“Apa sih… memang bener kamu mau denger aku cerita?”
“Ini semua karena ku ya kak…? Ada hal yang ga aku sadari ya…?”
“Sepertinya begitu Cla…”
“Kalau begitu cerita dong… biar aku juga tahu aku salah apa ke kakak…”
Gang potlot saat itu sedang begitu ramai. Sebenarnya memang selalu ramai. Selain para warga yang bertempat tinggal disitu, sering ada slankers yang menyambangi kediaman Slank disana. Ditambah lagi dengan jam pulang SMA kami yang sore begini.
Tiba-tiba aku berhenti. Dia kaget lalu berhenti. Lama kami berdiri mematung. Saling menatap lekat-lekat. Aku sayang kamu Cla, hanya seperti itu yang harus aku ucapkan. Namun, lidah ini begitu kelu dibuatnya setiap mata kami berpapasan. Hei gadis manis bersuara merdu, tahukah kau rasahati ku ini sudah mulai belajar mencintaimu?
Di gang potlot ini, di sekeliling keramaian orang lalu lalang, aku seperti mendapatkan pencerahan untuk mulai mengungkapkan semua. Aku pun mulai cerita.
“Hhhh… ini pasti pertanyaan paling bodoh yang pernah kamu dengar dari ku de… Cla… Kamu sudah punya pacar ya?” kata ku serius
“Hah?”
“Kamu sudah punya pacar ya? Seperti yang selama ini ku ketahui.” Kataku lagi.
“Hah? Ketahui darimana”
“Yaa, ada teman kita yang cerita begitu” kataku mulai tak sabar
“Hah? Teman kita yang mana ya yang aku certain begitu”
“Si Ian, dia cerita begitu ke aku tempo hari di rumahnya, Cla, kalo sekali lagi kamu hah hah begitu, kupingmu aku jewer” kataku sudah tak sabar.
“hihihi, apa sih kakak ini… si Ian cerita begitu sama kakak? Lengkapnya gimana?” sahut nya riang.
“Dia bilang, kamu sudah punya pacar, dari sewaktu SMP di bekasi sana, kakak kelas mu, aku lupa nama pacar mu itu” lanjut ku.
“hihihi, jadi itu yang dari tadi dipikirin?”
“yah… engga juga.. sedikit banyak begitu”
“Emang aku sudah punya pacar dari SMP kakak, terus kenapa?”
“Ya ga kenapa-kenapa Cla…”
“Kak… kamu ni… kebiasaan, aku belum selesai kamu potong…
“Iya maaf-maaf…”
“iya aku memang punya pacar dari SMP, tapi sudah putus lama, sudah setengah tahun lebih, aku memang pernah cerita begitu ke kak Ian”
“Hah? Jadi begitu toh”
Jawaban langsungnya ini, membuat ku tiba-tiba merasa begitu gembira. Awan gelap yang sedari tadi hinggap di atas ku, menguap. Sulit ku sembunyikan rasa senang ku ini. Senyum senang menyungging dari wajah ku.
“Oh begitu? Berarti aku salah ya? sekarang Cla lagi ga punya pacar ya?”
“Eh kakak… terus kenapa nya kan belum dijawab…”
“Memang kamu mau tahu?”
“Iya! Kan aku udah cerita, kakak sekarang cerita gantian, ternyata seharian ini mikirin itu toh, dasar”
“Yaa, masa aku jawab sekarang sih di gang potlot ini?… hehe”
Aku pun beranjak untuk bersiap pergi dari tempat itu. Semua jawaban itu sudah cukup buat ku. Sialan si Ian itu,me nutup-nutupi info penting. Rugi aku langsung percaya begitu. Gadis manis bersuara merdu ini, sedang tidak ada yang punya. Oh, rasahati, ternyata memang kamu benar. Terima kasih sudah belajar mulai mencintai dirinya.
Ku tatap lagi gadis menyebalkan ini, yang sudah beberapa hari ingatan tentang dirinya menganggu hari ku. Aku layangkan senyum nakal padanya, dia membalas dengan senyum yang begitu manis. Senyum penganggu mimpi-mimpi tidur ku.
Aku raih tangannya, lalu aku genggam. Refleks. Gerak refleks yang aneh, entah mengapa secara naluriah aku tahu Cla tidak akan menolaknya. Sesekali dia menghindar, namun aku curi-curi lagi genggam tangan itu.
“Sudah sore, kita pulang yuk Cla”
“Ihhh, kakak curang, kakak belum jawab”seru Cla seraya berlari-lari kecil mengejarku.
“Kamu sudah tahu kenapanya aku Cla…” kataku tersenyum menggoda.
Di sisa perjalanan ini, rasanya jauh berbeda dengan tadi. Saat ini takaran di hati kami masing-masing sudah berubah, karena satu kejujuran yang diungkapkan. Hari ini aku pelajari satu hal tentang kejujuran itu. Sesulit apapun, kejujuran memang harus disampaikan. Kau tidak pernah tahu apa balasan dari setiap kejujuran. Setelah jujur, ada beban besar dihatimu yang terangkat begitu saja. Setelah itu hati rasanya begitu luang, hati yang luang itu, bisa kau isi ulang lagi dengan perasaan-perasaan yang baik. Untuk mengubah hari mu, menjadi hari-hari yang jauh begitu berbeda. Luar biasa makhluk bernama cinta itu.
Tiba-tiba. Bruuk!.
“Ah, aduh!…”
Sebuah vespa yang melaju cepat di gang ini menyerempet Cla dari samping belakang. Seketika dia jatuh tersungkur. Untung saja tidak sampai terjerembab ke tanah. Pengemudi Vespa tidak menyadari baru saja menyerempet orang di jalan, dia pergi begitu saja. Aku waktu itu, yang kaget, begitu bodoh, cuma bisa bilang dengan tertegun…
“aduh aduh, Cla… sakit ya?” tanya ku polos saat menghampirinya.
“…… tau ah! Ya sakit lah, pake nanya lagi!” kata Cla yang terduduk, menatap ku sebal.
“ya maaf, aku juga kaget kan, tau-tau kamu jatuh gitu Cla…” kata ku pasrah.
“Tau ah, ngomong apa gitu ada orang jatoh keserempet Vespa, sini, bantu aku bangun, dasar” serunya masih kesal.
“ iya, iya maaf maaf… aku salah” kata ku sambil memegang tangannya mengangkatnya bangun.
“… dasar jahat” ujar nya sambil berjalan cepat meninggalkan ku.
“Lho lho, mau kemana? Aku antar kamu sampai naik bis kan?”
“Tau ah, terserah”
Aku kejar dia hingga ujung jalan, ku bujuk dia sepanjang perjalanan pulang. Aku goda dia dengan mengungkit-ungkit kejadian Vespa tadi, biar saja dia sebal. Bahkan saat sebal pun aku tetap menyukainya. Aku curi-curi kesempatan menggenggam tanganya, dia menolak malu-malu. Setelah pengakuan hari ini, tidak secara jelas kami ungkapkan perasaan masing-masing, atau aku kira begitu, karena aku masih tidak tahu bagaimana perasaannya padaku . Tapi biarlah setiap detik genggam tangan curi-curi ini menjelaskan semuanya buat kami.

… … … … … … …

Saturday, February 5, 2011

CATATAN MERAH JAMBU bagian 3

0 comments
Senin 31 januari 2011

Catatan Merah Jambu
Bagian 3
Torn

Sejujurnya, aku sedang malas menulis. Karena aku sedang malas, maka aku menulis. Jadi aku menulis agar aku tidak malas menulis. Menulis adalah obat untuk saat-saat malas menulis. Ah,terkadang betapa menyusahkan menjadi orang malas itu, kawan.
Selain itu, beberapa hari lalu, baru saja aku alami suatu kejadian yang membuat ku harus memeriksa dalam-dalam batin ku. Akhirnya apa yang aku simpan baik-baik itu aku sampaikan padanya juga. Kejadian itu membuatku menginstrospeksi begitu dalam, apakah aku sedang menjalani hal yang benar?
Tapi aku tidak bisa menceritakan apakah hal itu kepadamu.
Ah, sudahlah. Aku lupa. Seharusnya aku kan menulis tentang lanjutan Catatan Merah Jambu disini ya. Tentang hal barusan itu, kita simpan saja buat lain kali. Pembukaan tulisan ini yang begitu melantur, semoga tidak membuat mu jengah ya? Itu karena aku menulis saat sedang malas menulis. Anggap saja kau baru saja berperan sedikit menjadi pendengar lebih tepatnya pembaca “curhatan” ku dengan baik. Iya aku tahu aku egois… maafkan aku ya?
Ngomong-ngomong tentang “curhatan” salah satu teman ku bertanya, “Semua tulisan ini tentang apa sih Bas, diary lo ya?”. Aku juga merasa kurang tepat kalau disebut diary, karena pada kenyataannya memang bukan. Semua tulisan ku ini adalah hal-hal yang pada suatu hari terlintas di pikiran ku, lalu aku tuliskan itu di jurnal ku. Hal-hal yang terlintas itu, tidak selalu kejadian yang baru saja aku alami hari itu, dan menginspirasi ku menulis, tapi juga kejadian-kejadian yang telah lewat dalam hidupku, namun tersimpan begitu dalam kenangannya, dan terkadang keluar di saat-saat tertentu.
Ah, melantur lagi. Daripada kau biarkan aku melantur begini terus, aku tuliskan buatmu kawan, sepenggal lagi Catatan Merah Jambu. Semoga aku memberimu manfaat dari hal-hal yang aku tuliskan di notes-notes ku. Amin.
( iye gue juga tau. Notes kali ini panjang banget. Parah si Abas, males males malah ngerepotin orang baca gini! )

……………………..
Momen perpisahan dengan Cla di depan gerbang itu, entah mengapa mendekatkan aku dengannya. Setelah saling bertukar nomor hape, kami mulai sering saling berbalas pesan singkat. Tidak sering tentu, karena aku berusaha menempatkan diriku dengan benar. Aku takut, apa yang aku rasakan padanya saat itu, adalah perasaan yang salah. Lebih khawatir lagi kalau hubungan ku dengan Cla saat itu adalah hal yang juga salah. Bagaimana kalau dia sudah punya pacar? Sering terlintas pertanyaan itu, membuatku merasa gelisah setiap memikirkannya.
Hal-hal yang kami bicarakan lewat pesan singkat adalah hal-hal yang biasa. Seputar musik, sekolah, sampai apa bacaan favorit kami. Entah mengapa aku tak pernah tanya tentang pacar Cla itu. Terlalu takut sepertinya aku saat itu.
Tak pernah pula kami bertemu di sekolah. Tidak pernah secara sengaja maksudku. Pernah suatu hari saat aku mencuri waktu ditengah pelajaran untuk jajan ke koperasi sekolah, aku bertemu dia sedang duduk di bangku depan perpustakaan. Wajahnya menunduk serius menatapi lembaran-lembaran kertas. Tampaknya dia saat itu sedang mengerjakan suatu ujian
“Lho, Cla kamu sedang apa disini?” tanya ku saat itu .
“Oh, kak Abas, kirain sapa” yang ditanya tersentak kaget. “Aku lagi ngerjain soal ujian kimia susulan ka”.
“ Oh gitu, kok sendirian? Disini pula? Kenapa ga didalam kelas aja?”
“iya kakak, soalnya cuma aku yang belum ujian. Terus aku harus ngerjainnya disini kata bu Tini, soalnya dia mau bahas soal ujian ini didalam kelas” terang Cla.
“Memang Cla kenapa kok jadi ikut ujian susulan?”
“Iya, kakak, aku waktu itu sakit, mau maksain masuk buat ujian ga boleh sama mama. Jahat” kata Cla sambil memamerkan bibir cemberutnya.
“Hahaha, kok gitu. Itu kan berarti mamamu perhatian. De” kata ku berusaha menghibur. Mendengar Cla sakit rasanya ingin aku bertanya lagi, “sakit apa?” “Kamu udah berobat?” , “Jangan terlalu capek Cla.” Hingga “ingin ku bantu ujian mu?”. Tapi aku urungkan saja niat ku itu. Aku simpan baik-baik tanya-tanya itu dihati. Lagipula, bisa apa aku bantu ujian Kimia Cla? Nilai terakhir ujian Kimia ku sama pak Tohir saja cuma empat lima. Ah…
“Mycla C.S.P... hihi, kok kamu tulis namamu begitu sih? Memang boleh gitu sama bu Tini?” tanya ku geli setelah membaca nama yang tertulis di kolom isian pesrta ujian di lembar kertas Cla.
“Eh, iya. Hehe. boleh kakak aku kalau sama bu Tini. Ibu udah tau juga kok nama ku Maysheilla Chandra Sari Putri. Biar lucu aku tulis gini kak, Mycla C.S.P. lucu kan kak, lucu kaan? Hehe”
Iya Cla,kenapa kamu begitu lucu?. Kataku dalam hati. Wanita di depan ku ini membuatku ingin berlama-lama saja disini. Kalau tidak karena aku takut dicubit pinggul sama bu Wiwi guru Kewarganegaraan ku dikelas nanti, aku pasti bolos saja. Lagipula, sudah SMA begini kenapa seneng sekali bu Wiwi hukum kami dengan memberi cubitan dipinggul? Terlalu banyak membaca UUD 45, ternyata membuat seorang guru mengira, semua anak sekolah adalah selamanya anak kecil yang harus dididik dengan dicubiti.
“Iya, iya… hehe. yaudah, sukses ya Cla ujiannya. Aku harus masuk nih, nanti bu Wiwi ngambek” kata ku.
“Iiiih, kakak mau cabuut! Ya kan?”
“Engga Cla, kakak cuma keluar sebentar, terus mampir kekoperasi deh. Hehe. yaudah dada Cla” kata ku lagi seraya pergi dari situ
“Kakak bohong. Hehe. iya dada kakak” kata Cla sambil melambai-lambai tangan.
Aku pun kembali ke ruang kelas. Aku lupa, alasan ku keluar tadi kan mau jajan? Sudah repot-repot ijin ke bu Wiwi padahal. Ah tapi biarlah, toh dengan begitu aku malah bisa mengobrol dengan Cla.
Sesampainya di depan kelas ku, ternyata sudah dab u Wiwi menunggu depan pintu. Jangan-jangan dia tahu tadi aku bukannya ke toilet malah mengobrol dengan Cla? Ah sial, aku diantar duduk kembali di kursi ku dengan tangan bu Wiwi mencubit pinggul ku gemes. Teman-teman ku didalam kelas tertawa terbahak-bahak melihat aku dibeginikan. Nasib.

…………………………………..
Seminggu setelah kejadian cubit pinggul itu, pengumuman yang ditunggu-tunggu pun datang. Pengumuman tentang hasil audisi itu, dipajang di majalah dinding seberang ruang guru. Begitu kata teman sekelas sekaligus pemain drum ben kami, Latif. Saat itu dalam kelas sedang tidak ada pelajaran. Akhir masa semesteran seperti ini, entah kenapa kami malah sedikit ada pelajaran. Mungkin bapak/ibu guru sedang sibuk menyiapkan wisuda nanti.
“Bas, udah tau belum lo, pengumuman audisi hari ini dipajang di mading seberang ruang guru.” kata Latif dari meja sebelah. Tempat duduknya memang disebelah tempat duduk ku.
“Belum, baru tahu nih gue dari lo. Terus gimana, Tif, hasilnya?” tanyaku penasaran.
“Nah tuh dia, Bas, hehe. Ben kita salah satu yang lolos bas, dari tiga ben yang kepilih, hehe.” kata Latif terkekeh-kekeh. Aku tahu dia pasti begitu senang ben kami lolos audisi.
“Beneran? Hahaha. Keren kita keren!” kata ku ikut senang.
Saat itu suasana sedang riuh rendah. Ada yang sedang rame-rame main gitar di pojokkan kelas. Ada yang sedang duduk berpasangan sambil mengobrol lirih-lirih, merayu barang kali. Ada yang sedang asik membaca, bukan buku pelajaran tentu, mulai dari majalah olahraga, majalah cewek, sampai novel teenlit. Ada yang sedang mengerubung teman dengan hapenya, sambil tertawa cekikikan, jangan-jangan lagi lihat film bokep mereka. Tapi, saat itu ada juga teman-teman yang sedang mengaji juga ada. Ah, betapa aneh orang-orang di kelas kami ini.
Beberapa teman sekelasku sedang didepan kelas, mencoret-coret papan tulis sekenanya. Sisa teman ku yang tidak terlihat didalam kelas, pasti sedang ngeluyur kekantin, atah bahkan sudah pulang dari sekolah lebih cepat. Seperti si Ian, teman lain satu ben ku juga itu lho. Dia juga sekelas denganku saat itu.
“Siapa aja Tif ben kelas 2 yang lolos?” tanya ku lagi.
“Dari anak IPA, kita doang Bas. Dua ben lain dari anak IPS”
“Hahaha. Ga kebayang muka temen-temen kelas lain, jadi pengen liat sendiri” kami tidak bisa menyembunyikan rasa senang bisa memenangkan persaingan ini.
“Keren tuh si Sheilla, Bas. Kayanya karena dia kan kita bisa lolos kaya gini, dulu mah gue ga ngarep-ngarep amat Bas kita bisa lolos gini” kata Latif senang.
“Bener kan, ga salah pilihan gue…”
“Eh, Lo SMS anak-anak lain dah, kita ketemuan yuk dibawah. Didepan kelasnya si Cla sebentar lagi” pinta ku pada Latif.
“Oke. Oke. Sebentar…” kata Latif sambil mengeluarkan hapenya lalu mengetik pesan singkat.
Tidak lama kemudian, kami berdua menuruni kelas. KelasXI (Sebelas) IPA A kami ini terletak di pojokkan atas sebelah kanan, dekat dengan gerbang, tepat diatas ruang guru. Jadi, perjalanan kami ke bawah itu, melewati semua kelas IPA yang lain. Sepanjang perjalanan, kami bertemu teman-teman lain. Masing-masing kelas punya ben nya sendiri, terkadang lebih dari dua. Kabar lolosnya ben kami untuk acara wisuda nanti tampaknya sudah tersebar. Beberapa teman dari kelas lain memberi selamat. Namun, kami tahu saat itu ada juga yang lagi menahan gemes. Hehe. Sebagai satu-satunya ben dari kelas IPA yang lolos, kami tahu sepatutnya kami bangga. Tapi kami simpan saja kebanggaan itu, tunggu sampai wisuda nanti. Saat ini yang kami raih belum terhitung apa-apa.
Sesampainya di bawah, di teras depan ruang kelas Cla, kami berkumpul. Cla waktu itu kelas X-C (sepuluh C). Sambil meluapkan rasa senang sudah dapat lolos audisi. Saling bercerita bagaimana dulu masa-masa kami lama latihan ben tanpa punya vokalis. Ku ceritakan pula bagaimana ihwal pertemuan ku dengan Cla. Kebetulan yang tidak disengaja itu yang mungkin menjadi penyebab utama lolosnya kami di audisi ini. Setelah puas saling bersenda gurau, kami bicarakan langkah selanjutnya: akan membawakan apa kami sewaktu wisudaan nanti.
“Zombie aja, mau ga? Kita kan pernah tuh latihan lagu itu?” usul dari Latif saat itu. Dia menyebut suatu judul lagu dari ben The Cranberries itu.
“Mmm, boleh. Sekalian kita kan jadi ga perlu terlalu lama latihan ya, tinggal dua minggu lagi tampilnya…” sahut ku menerima usul dari Latif.
“Lo gimana Mas?” tanya ku pada Dimas.
“Iya, gue ikut aja ma kalian”. Kata Dimas malas. Lagi sakit mungkin dia.
“Kalo Cla kamu gimana?” sekarang Latif bertanya pada Cla.
“Iya kakak, aku mau nyanyi lagu itu” kata Cla.
“Oke, jadinya kita tinggal nunggu Ian aja nih, tuh orang kemana sih hari gini ga masuk?” Latif dongkol.
“Mmmm, nanti gue ke rumah dia deh Tif sekalian ke rumah lo” aku mengajukan diri, kebetulan hari ini aku akan ke rumah Latif. Rumah Ian dekat rumahnya, aku ajukan diri menemuinya karena aku tahu Ian dan Latif memang tidak terlalu dekat. Entah mengapa aku juga tidak tahu.
Setelah mengobrol lagi sejenak, kami pun beranjak dari depan kelas Cla. Hari itu aku memutuskan pulang lebih cepat. Lagipula memang sedang tidak ada pelajaran begini. Setelah zuhur, sekolah mulai lengang ditinggalkan siswa-siswinya.
…………………………
“Oh gitu ya Yan? Gue juga baru tau…” kata ku sendu, walau berusaha menutupinya di depan Ian. Saat itu aku sedang dirumahnya mengabarkan perihal hasil audisi kami dan apa yang kami lakukan. Pembicaraan pun berkembang menjadi hal-hal lain hingga sampai ke Cla ini.
“Iya, Bas. Dari SMP Cla pacarannya. Tempo hari waktu gue pulang bareng, Cla cerita begitu sama gue” kata Ian yakin. “Gue lupa siapa nama pacarnya itu, tapi ya Cla sering cerita gitu Bas setiap gue pulang bareng dia” Ian menambahkan.
Apa yang kudengar baru saja dari si Ian, membuat perasaan ku saat itu tidak menentu. Ternyata benar kan, Cla sudah punya pacar. Betapa bodohnya aku tidak mau mengakui hal sesederhama itu. Cla itu wanita yang menyenangkan, cantik, dan berbakat, hal mana yang menyangkal orang lain untuk menyukainya lebih dulu? Siapa aku tahu-tahu datang punya rasa seperti ini? Memamngnya aku bisa bersaing dengan orang lain untuk Cla?
Muncul juga rasa bersalahku. Jangan-jangan selama ini pun Cla menceritakan kedekatannya dengan ku ke pacarnya. Cerita apa dia ke pacarnya? Jangan-jangan aku jadi bahan tertawaan. Ah betapa mirisnya aku ini. Rasanya aku ingin langsung pulang saja lalu tidur, siapa tahu ini mimpi.
Terbersit iri dan sebuah perasaan aneh seperti persaingan mendengar Ian pulang bareng Cla. Ternyata si Ian ini bisa sedemikian dekat dengan si Cla. Tapi, Cla toh bebas menentukan dengan siapa dia ingin pulang kan? Ah. Masa aku cemburu, betapa perasaan ku ini tidak menentu jadinya.
“ Oh gitu. Hehe. ya udah. Eh gue pamit pulang ya, entar ga dapet bis, jangan lupa besok kita latihan di studio. Janga bolos lo besok” kata ku sambil beranjak dari tempat duduk.
“Oke, Bas. Besok gue masuk kok. Hehe”
“Sekalian lo bantu mikirin apa lagu kedua nya ya Yan?”
“Oke, oke sip sip”
Ian kemudian mengantarku sampai depan rumahnya. Lalu aku pergi menuju jalan raya untuk naik bis pulang. Sepanjang perjalanan itu, diantara banyak hal yang terlintas dipikiran ku, ada Cla yang mengisi ruang besar di benakku saat itu. Harus apa aku setelah ini?
………………………..
Biar bagaimanapun, aku harus melangkah maju. Sudah terlanjur basah aku punya rasa karena dia. Biarlah apapun jawabanya itu adalah yang terbaik buatku. There is nothing to lose. Mendengar dia sudah punya pacarpun adalah hal yang baik buatku. Dengan begitu aku kan jadi bisa melangkah maju lagi, tidak tertahan di tempat seperti ini. Biar bagaimanapun aku juga punya hidup ku sendiri.
Malam itu, di depan telepon, aku uring-uringan. Ternyata melakukan suatu hal yang sederhana bisa jadi begitu rumit kalau disaat yang salah. Aku tinggal menelponnya dan berkata apa yang harus aku katakan. Aku sampai membuat bagan apa-apa aja yang bisa aku katakana untuk memulai pembicaraan. Tinggal bilang “hei Cla, apa kabar? Kamu lagi apa de?” atau “Eh, aku udah denger lho lagu yang kamu bilang itu, bagus Cla lagunya” sampai “gimana hasil ujian kimia kamu?” , lalu terakhir tinggal bertanya, “Cla, cla udah punya pacar belum, soalnya aku ga enak terlalu deket sama kamu kalau kamu sudah punya pacar?” tapi memeraktekkannya ternyata begitu sulit. Untuk mengangkat gagang telepon saja aku tidak berani..
Sejujurnya aku gugup. Menelpon ternyata sangat berbeda dengan berhubungan lewat SMS. Kalau SMS, kita punya cukup banyak waktu untuuk melontarkan suatu ha lalu menunggu cukup lama untuk merespon orang lain. Memberikan respon yang terbaik. Lagipula ini sudah cukup malam, jangan-jangan dia sudah tidur.
Setelah sedemikian lama bernegosiasi dengan diriku sendiri, akhirnya k putuskan untuk meng-SMS dia dulu, baru kemudian telepon dia.
“Cla, km ud tdr blm?” SMS pertama aku kirimkan
Beberapa menit kemudian datang balasan.
“blm kok kk. Hehe. adapa?”
“hehe. gd papa. Knp blm tdr de?” balas ku cepat.
“ya blm tdr aj k. hehe=p”
Selang beberapa menit, aku kirim SMS lagi. Perlu waktu yang lebih lama untuk memutuskan aku akan telpon dia atau tidak.
“oiy. Aq blh tlpn km ga?”
“hah? Mw tlpn? Adapa kaka?” datang balasan cepat darinya.
“gd papa. Mw tlpn aj. Blh ga?”
“dasar kk aneh =p tp kn nanti mhl k. aq gd tlpn rumah k”
“iy c… gapapa sbntr aj y?”
“Iy dh! Bener sbntr y =p”
Tahap pertama sudah dilewati, sekarang tinggal telpon. Persetujuan Cla untuk ditelpon ternyata memudahkan aku untuk berani menelpon dia. Aku angkat gagang telpon, aku tekan nomor hape Cla. Terdengar dering nada telpon dua kali, lalu telpon ku diangkat.
“Hei, Assalammualaikum. Hehe. kamu lagi apa?”
“Ihh, apa sih tiba-tiba. dasar aneh. Hehe. waalaikumsalam. Aku lagi nerima telpon kakak. Hehe” jawab Cla di seberang sana. Riang. Penerimaannya membuat aku lebih nyaman untuk berbicara lagi.
“Hehe, dasar. Mmmm, apa ya… eh, gimana hasil ujian kimia kamu waktu itu Cla”
tanya ku untuk memulai percakapan.
“Aku dapet 94 dong. Hehe. hebat kaan?” sahut Cla begitu riang. Ternyata pintar kimia dia. Jadi malu kalau aku ingat nilai kimia ku yang runyam itu.
“Wah, hebat-hebat. Cla pinter kimia ternyata”
“Ah. Enggaa. Aku kan cuma berusaha rajin belajar. Kata bapak ibu guru kan rajin pangkal pandai kakak, hemat pangkal kaya. Hehe”
Telepon yang dijanjikan berlangsung sebentar saja itu kemudian malah menjadi percakapan panjang selama satu jam lebih. Percakapan pun berpindah ke hal-hal lain. Baru aku tahu kalau dia sering menyanyi di kafe-kafe bareng pamannya. Lagu-lagu yang biasanya dibawakan adalah lagu-lagu jazz, pantas basic vokalnya begitu kuat. Baru aku tahu juga kalau Cla itu orang Batak. Kalau nama marganya dituliskan, namanya akan jadi Maysheilla Chandra Sari Putri Pasaribu. Kolom absen di daftar hadir kelas tentu tidak cukup menuliskan namanya. Tertulislah disitu Maysheilla C.S.P, dia memelesetkannya jadi Mycla C.S.P itu. Dia juga cerita rumahnya jauh, di daerah Bekasi Timur sana. Pulang pergi dia lakukan naik bis, berangkat subuh sampai rumah malam. Lalu akhir minggu menyanyi di kafe, hasil dari menyanyi dia pakai untuk membiayai sekolahnya sendiri dan membantu keuangan keluarganya. Sering dia harus pulang dini hari setelah menyanyi. Kegiatan-kegiatan itu lah yang mungkin membuatnya sering tidak masuk sekolah. Mungkin karena sakit atau memang capek. Bersyukur dia termasuk anak yang cerdas, mudah menerima pelajaran. Tapi dia tak mau dibilang cerdas, maunya dibilang rajin. Dia bercerita immpiannya untuk menjadi penyanyi namun tidak meninggalkan kuliah, kalau bisa di Universitas Indonesia.
Mendengar apa-apa saja yang dia ceritakan padaku, makin kecil saja rasanya aku buat dia. Baru aku tahu bagaimana seluk-beluk kepribadiannya dan dunianya selama ini. Aku juga begitu salut dengan apa yang sudah ia raih selama ini, dan apa yang kemungkinan besar bisa dia raih di masa depan. Sedangkan aku, apa yang aku bawa sehingga aku berani menyimpan rasa darinya seperti ini. I am nothing in this world !. Aku harus tahu diri, memang sepantasnya Cla mendapatkan orang yang pantas. Orang yang pantas itu lah yang mungkin sekarang jadi pacarnya, seperti apa yang Ian ceritakan tadi sore. Ah, rasanya aku baru saja melakukan perjalanan yang begitu jauh, setelah beristirahat lama. Di perjalanan itu, dalam suatu persimpangan, aku pilih salah satu jalan, namun ternyata aku melewati belokan yang salah. Setelah berjalan dengan terburu-buru karena ingin cepat sampai, di ujung jalan yang salah itu aku bertemu Cla dan pacarnya, serta Ian yang sedang tertawa-tawa. Menertawakan kebodohan ku. Bodoh.
“Torn aja kak…” kata Cla, memecah khayalanku.
“Apa Cla, maaf…” kata ku bingung karena dari tadi tidak mendengarkan.
“iih, kakak.. Torn ka.. buat lagu kedua kita, itu lho yang dinyanyiin Natalie Imbruglia” kata Cla gemes.
“oh yang itu, iya aku tahu… boleh, kamu sudah hafal lagunya de?”
“iya kakak, seru deh pasti kita main lagu itu…”
“iya, iya percaya… yaudah nanti aku hubungi temen-temen yang lain ya…”
“iya kakak. Makasih ya. Hehe. jadi juga kita tampil. Zombie + Torn lucu ya kombinasi lagunya”
“hehe, yaudah. Mmm udah malem nih, besok kan kamu harus berangkat pagi-pagi, nanti kamu terlambat gara-gara saya telpon… sudah dulu ya…” kata ku malas, seraya memohon diri.
“Iya kakak.. sudahan ya.. aku juga udah ngantuk… huuu”
“Iya maaf ya… da Cla… makasih ya…”
“Iya, dada kakak…”
Ku dengar telepon ditutup diujung sana. Aku menutup telepon dengan perasaan yang begitu galau. Daripada dihantui perasaan ini terus, haruskah ku ungkapkan saja padanya, sehingga perasaan ini pergi jauh dariku? Ah, Natalie Imbruglia, lo bener banget, I think I was Torn…
Malam itu aku tidak bisa tidur, membayangkan begitu banyak hal. Salah satunya, bagaimana reaksi orang tua ku melihat biaya tagihan telepon bulan depan. Oh, tidak.

Bersambung ……………….…

Monday, January 24, 2011

Catatan Merah Jambu Bagian 2

0 comments
FKM UI 24 Januari 2011


Kenapa di FKM UI?
Gue juga kurang ngerti.
Hari ini gue habis ngisi music di teater buat bekpekk (biology exploring week). Bagus acaranya. Tadi gue ngisi music ngiringin teater bareng ade-ade kelas gue anak 2010, ada Marsya Kristanti, Jonathan Prawira Tumakaka, dan Aulia Jauhari Rakhman, bener kan begitu nama kalian? Hehe. maaf kalo salah. Tapi kenapa gue bisa tahu? Ya karena gue tahu. Hehe.
( lagi labil, si Abas ini. Mohon maklum kawan )
Hari ini gue kenalan sama anak kimia 2009 namanya Arvi, kalo ga salah juga ya hehe. tepatnya sih dia yang kenalan. Dia sama seorang temannya itu buka stand bazaar di bexpeek. Mereka jual buku. Dari mereka berdua gue beli buku kambing jantannya Raditya Dika. Gue juga bingung kenapa jadi beli. Padahal gue (pernah) puny buku ini, tapi hilang. Terus gue pinjem sama temen gue, gue ngilangin punya temen gue itu. Terus gue beli lagi, tapi ya buat gantiin punya temen gue yang ilang itu. Hehe. Mungkin gue beli buku sama si Arvi ini, agar dia seneng. Kebetulan entah mengapa uang gue minggu ini lebih banyak senilai sama harga buku itu. Mungkin ini sudah rejekinya si Arvi. Sudah diatur Tuhan. Wallahu alam.
( kalian bisa tahu alasannya si Abas ini kalo baca tulisannya yang judulnya “Aku Hanya Ingin Menyenangkan Orang Lain”, bisa dilihat di link My Notes, atau nanti ke blognya aja di masabas.no1.blogspot.com )
Jam empat nanti gue akan ngajar sampe jam delapan. Sekarang masih jam satu. Masih punya waktu tiga jam. Hal yang pengen gue lakuin buat ngisi waktu adalah makan, tidur, minum kopi susu, nulis, main games, baru kemudian berangkat. Tadi gue udah makan (warteg) dan minum, sekarang gue lagi nulis, lalu nanti main games. Mungkin kombinasi antara terong dan ikan bawal yang tadi gue makan, + minum kopi susu, + buku yang gue beli, + akses internet di FKM yang jauh lebih baik dibandingkan di fakultas gue, membawa gue ke FKM ini. Wallahu alam. Ga usah terlalu dipikirin ya, gue juga kadang ga ngerti, mungkin ini Joni dalam diri gue yang bertindak. Semua orang punya Joni dalam dirinya masing-masing.
( tuh kan, dia lagi labil. Hehe. )
Gue putusin buat nyelesein seri “Catatan Merah Jambu” ini. Gue juga belum tahu akan sampe berapa seri. Mungkin malah nanti gue bisa terbitin di Trubus kalo cukup serinya, hehe. Sebenernya gue punya beberapa judul tulisan lagi yang ingin gue bagi buat kalian semua (kalo masih pada mau baca tulisan gue lho. Hehe). Tapi, kayanya “Catatan Merah Jambu” harus gue selesein secepatnya.
Ada temen gue yang nanya, bagaimana posisi Hanum di tulisan ini? Sulit buat dijelaskan, namun mengikuti tulisan ini sampai akhir, mungkin bisa menjawab Tanya mu itu kawan.
Gue Cuma mau berbagi sama orang-orang yang membaca tulisan-tulisan ini. Sebenarnya, sewaktu gue post di notes, di blog, gue ga berharap banyak yang akan dan ngeluangin waktu dan pikiran buat baca. Sebenarnya ga pengen nge-tag tag in kalian juga, pasti mengganggu banget kan?
Namun, I Find My Pleasure in Writing , jadi gue selalu meluangkan waktu buat menulis, dan berbagi bersama kalian, kawan-kawan ku. Hal-hal yang terjadi di apa yang gue tulis, mungkin kah juga kalian alami? Berbagi lah juga bersama ku. Ingi ke baca kisah hidup mu, kawan.
Baiklah kawan ku, untuk kalian semua, Catatan Merah Jambu, bagian 2 …


Catatan Merah Jambu
Bagian 2
… … … … …

Singkat kata, saat itu pun aku langsung meluncur, bukan, lari ke kampus. Tujuan gue saat itu adalah, ruang latihan paduan suara. Paduan suara kami setiap tahun pasti mengisi acara wisuda.
Aku ketok pintu ruang latihan. Terdengar dari dalam anak padus sedang berlatih bernyanyi. Saat itu sudah sore. Sekitar jam tiga.
“Assalammualaikum”. Salam ku. Tapi tidak ada jawaban. Terang saja, mana dengar orang-orang itu di dalam. Aku memutuskan untuk langsung masuk saja, dasar tidak sopan aku ini. Tapi ini darurat.
Di dalam ruangan, didepan anggota paduan suara yang duduk sambil bernyanyi, tampak teman ku Fitri, si ketua ekskul kesenian kami, sedang berdiri.
“ Fit, fit, keluar bentar dong” kata ku pada Fitri saat itu yang sedang memimpin latihan. Kesal dia tampaknya aku potong saat sedang memeragakan birama.
Tak digubris aku.
“Fit… keluar dong… sebentar aja…” pinta ku memelas, berbisik depan pintu yang sudah kubuka tadi.
“ngapain lo,Bas? Ganggu aja deh, ni anak-anak lagi latihan tau!” kata Fitri ketus. Dia bicara biasa saja sudah ketus kawan. Apalagi marah, aku takut. Tapi sekali lagi, ini darurat.
“ Sebentar dong, keluar Fit…” pinta ku memelas.
“Iya, iya, dasar tukang maksa lo, Bas. Minta maaf lo sama anak-anak padus gue”
“Iya iya” aku pun masuk ke ruangan. Di depan anak-anak padus aku memina maaf karena telah mengganggu mereka latihan. Waktu itu musik sedang dipimpin si Arum sendirian. Tidak lupa ku layangkan salam piss bukan bukan pipis, tapi peace ke Arum. Maaf ya.
Aku bersama Fitri keluar dari ruang latihan. Kami mengobrol sebentar. Aku ceritakan kondisiku. Inti dari pembicaraan ini adalah aku mau pinjam salah seorang anak paduan suara untuk jadi vokalis dadakan band ku. Kalau bisa adik kelas. Biar menurut saja maksudku. Tanpa latihan terlebih dahulu pula. Sungguh aku tidak sopan.
“gimana, Fit? Boleh ya…? Aku memelas lagi.
“gue sih boleh aja kalo nanti anaknya juga mau, tapi siapa, Bas? Gue juga kan susah kasih lo rekomendasi orang banyak gitu…”
“gimana ya… eh gue pinjem presensi latihan hari ini deh” cetus ku. Parah juga aku, mengisi musik mereka begitu mereka tapi aku tidak kenal.
“ hah? Apaan…?
“yaudah sih nurut dulu, buruan ah”
“iye iye, dasar bawel!” kesal Fitri. Dia masuk sejenak kedalam ruang latihan untuk mengambil buku presensi.
Tak lama, Fitri keluar membawa buku presensi. Dia buka tanggal hari ini.
“emang lo ada yang kenal baik Bas?” Tanya Fitri.
“Bentar ya…” jawab ku singkat. Aku menelusuri nama-nama itu. Mencari mana yang cocok. Apa yang aku tunggu saat itu? Percayakah kau kalau ku bilang firasat dari Tuhan?
“Ini aja, Fit. Maysheilla Chandra Sari Putri. Bagus namanya. Siapa dia biasa dipanggil? Sheilla ya?” kata ku menyebut satu nama anak padus.
“wah, selera lo bagus, Bas. Bakal tekor nih gue. Sheilla itu salah satu penyanyi utama padus. Bagus suaranya. Bening… terus” jelas Fitri.
“Aduh, nanti aja Fit, dasar cerewet. Gue lagi buru-buru nih” kata ku memotong.
“Iiih, Abas maah!” ketus Fitri.
Fitri masuk kembali kedalam ruangan. Tampak dia memanggil nama yang kusebut tadi. Tidak lama dia keluar bersama seorang murid wanita, atau ku sebut siswi saja biar gampang ya?
“Sheilla, ini kakak Abas kamu sudah kenal kan ya? Nah kak Abas ini mau minta tolong sesuatu sama kamu…” Fitri memberi keterangan kepada Cla.
“Iya kak, ada apa ya?” kata Cla saat itu. Tersenyum.
“Bas, gue tinggal dulu ya, gue mau latihan lagi!” potong Fitri. Begitu mengesalkan.
“iya iya, sana. Makasih ya Fit. Hehe”.
“Huh!” ketus Fitri. Lalu dia masuk ke dalam ruang latihan. Heran, baru aku sadari teman ku ni cantik-cantik tapi ketus amat ya?.
“maaf ya sheilla, kakakmu itu memang begitu. Hehe”
“iya kak, sudah biasa, terus ada apa ya kak sama saya?” kata Cla. Masih tersenyum. Tampaknya dia mengenyam pendidikan bicara dengan ramah-senyum-salam-sapa-dengan baik. Berhasil berarti guru kewarganegaraan kami.
“Iya, de jadi begini… …” aku menjelaskan.
“kamu mau kan?”
“wah, kakak, satu jam lagi ya, hehe. dadakan kali. ya aku mau kakak, kita kan main lagu I Will Fly aja kan ya? Untung saya sudah hafal lagu itu. Hehe” kata Cla riang.
“iya Cla. Maaf ya? Saya akan ngerepotin kamu. Semoga kamu menyukainya nanti karena kamu akan sering jadi saya repotin. Hehe”
“iya deh kakak. Hehe”
“ya sudah, ayo kita ke tempat audisi de, kamu ga papa kan ya jalan kaki” ajak ku. Saat itu aku belum naik motor, apalagi mobil. Belum punya lebih tepatnya.
“iya kakak gapapa, lebih enak jalan. Bisa sekalian kakak certain ya band dan kondisi audisi nanti” dari pernyataan ini, aku tahu si Cla ini pasti penyanyi professional.
Kami pun berjalan menuju tempat audisi. Sepanjang perjalanan ini aku mengobrol dengan dia. Banyak hal. Mulai dari masalah band ku itu, sampai mata pelajaran Kimia yang ternyata Cla paling suka. Sebagai seorang laki-laki yang sedang bertumbuh di SMA alias puber. Aku diam-diam mengamati Cla. Secara tingkah laku, secara fisik, cara bicaranya, apa yang dia baca, dan dari apa yang dia sukai di sekolah ini. Dia begitu… bagaimana ya aku menyebutnya? Wanita yang menyenangkan. Entah kenapa saat itu ada perasaan aneh yang aku miliki. Kenapa aku jadi ingin sekali terus berjalan bersamanya saja? Tapi sayang, akhirnya kami pun sampai ke tempat audisi.
Aku perkenalkan Cla kepada anggota band ku. Saat itu, Alhamdulillah personil kami lengkap. Ada aku di gitar, Ian di gitar, Dimas di bass, Cla di vocal, dan Nganu di drum. Kami pun mengikuti audisi dengan gagah perkasa. Hehe.
Rasanya kami begitu memesona saat itu. Bahkan aku pun terpesona dengan kami. Perasaan yang aneh. Tapi sungguh, saat itu dengan hadirnya Cla, rasanya kami begitu melengkapi (ya iyalah, kan sekarang lo punya vokalis!). Really, I think we will fly, together!. Dunia sambutlah kami ini.
… … … … …
Sebagai bentuk tanggung jawab telah menculik Cla dari paduan suara, aku mengantarkan Cla kembali ke sekolah. Kami mengobrol banyak hal. Kami bertukar nomor hape. Entah kenapa walau saat itu punya perasaan suka padanya, hati kecil ku bilang untuk tidak akan pernah bilang. Penjelasannya adalah wanita seperti ini seharusnya, sepertinya, dan sepatutnya, sudah punya pacar yang baik, jauh lebih baik dalam segala hal dibandingkan aku. Aku sebaiknya professional saja. Aku main gitar, dia menyanyi, kami satu band. Sudah hanya itu. Aku pantasnya mundur saja. Aih, perasaan ini sering membuat aku sering menyesal di kemudian hari.
Kami pun sampai ke sekolah lagi. Di depan gerbang sekolah ini, kami akan berpisah. Cla, tahukah kau saat itu, kalu boleh aku ingin ikut saja?
“Ya sudah de, udah sampe ni. Saya balik lagi kesana ya? Mau ketemu sama temen-temen” kata ku.
“iya kakak, nanti aku di kabari ya”
“iya dede. Hehe. nanti aku sms kamu ya hasilnya”
Kami pun berpisah. Ada kemajuan, dia sudah menyebut dirinya dengan “aku”. Tidak lagi sungkan dengan “saya”. Rasanya jalan Potlot sore itu ditumbuhi bunga warni-warna. Dunia, sepertinya sekali lagi aku jatuh cinta.
Bersambung……….
NB. Sewaktu gue lagi ngetik, ada tiga momen menarik yang terjadi.
1. Gue dihampiri dua orang mahasiswa, yang ternyata anak Sejarah, FIB UI. Salah satunya akan diwisuda 5 Februari nanti. Buat daftar wisudaan (secara online), mereka pinjem laptop gue gitu. Selamat kak, semoga sukses dan mampu membaktikan ilmunya untuk negeri. Dengan sarjana-sarjana seperti kakak ini kita Jangan Sampai Lupa Akan Sejarah (Jas Merah).
2. Tiba-tiba ada Wendy temen gue datang dari suatu tempat yang tidak terduga. Mungkin dari dalam tanah atau kepuar dari batang pohon. Hehe.
3. tiba-tiba juga ada mbak-mbak dari LSM nowhat nowhere. Minta donasi a.k.a sumbangan. Nama yayasan nya Rahmatan lil alamin. Ada nama Inggrisnya juga, World Peace Foundation. Gue dan Wendy kasih donasi seikhlasnya. Di kwitansi yang kita dapat, ada alamatnya, di daerah Jakarta Timur sana, jauh banget mereka sampe kesini. Gue akan cek kebenaran yayasan itu. Sungguh, gue ga pernah suka umat islam meminta-minta dengan cara seperti ini, walau dengan embel-embel kemashlahatan umat.