Showing posts with label Bimbel. Show all posts
Showing posts with label Bimbel. Show all posts

Sunday, March 27, 2011

TIGA ORANG MURID. bagian 3. habis

1 comments
THEODORE GABRIEL

Aku pun mengambil wudhu untuk kemudian menjalankan solat magrib. Tiga kelas masuk hari ini, sehingga kemungkinan ruangan untuk solat berjamaah tidak akan cukup untuk semua. Kami biasa solat berjamaah, pengajar dan siswa. Seperti apa yang pernah kuceritakan di tulisan lain ku. Tidak banyak lagi profesi yang bisa mendekatkan antar sesama manusia sekaligus dengan Allah nya. Bahkan, aku amati presiden dan para menteri tidak bisa begitu. Guru bimbel adalah salah satunya.
Kami solat di kelas IPA 1 di lantai 2. Tampaknya sudah banyak yang bersiap solat, termasuk Aulia Prasetyo dan Jenny Asla. Di dalam kelas, selain yang solat, ada seorang siswa yang menyendiri di belakang. Begitu kami yang ingin solat masuk, dia menepikan meja-meja supaya ruang kelas menjadi lebih lega untuk solat berjamaah. Memang ruangan ini tidak akan cukup untuk uamt muslim di bimbel solat, jadi ritual ini sering diadakan dua kloter. Setelah merapikan kelas itu, yang memang tanpa diminta, dia keluar kelas, mungkin menuju di bawah. Dia tidak ikut solat, karena dia bukan muslim, dia seorang pemeluk iman Trinitas. Nama siswa itu adalah Theodore Gabriel, kami memanggilnya Theo.

Di saat itu, aku berpapasan dengannya.
“ Hai, Yo…”
“ eh, kak Abas… nanti Biologinya sama kak Abas kan ya…? Katanya.
“ iya, saya solat dulu ya, Yo…, kamu mengantuk begitu Yo…”
“ iya nih kak, lagi sepi kelasnya, kalo giliran saya masuk, malah pada ga dateng, kemarin saya ga masuk, sekelas lengkap kecuali saya…” katanya dengan gaya bicaranya yang khas, seperti professor sepuh sedang menyampaikan kuliah. Terkantuk-kantuk.

Theodore Gabriel adalah salah satu siswa cerdas di bimbel ini. Setidaknya itu aku dapatkan dari pengalaman mengajar kelasnya. Selain itu, nilai try out apapun yang diadakan oleh bimbel ku ini, dia selalu peringkat satu di cabang siliwangi ini.
Dia begitu unik. Di waktu istirahat, di saat semua orang berkumpul, bergurau, bercengkerama, dia biasanya menyendiri, entah dikelasnya atau dimana pun, bahkan di dapur. Yang dia lakukan adalah membaca buku, sambil berkeliling kantor bimbel. Lantai 1, lantai 2, ruang depan, ruang tengah, Theo dapat berkeliaran dimanapun.
Jam masuk resmi bimbel adalah jam 4 sore, namun Theo seringkali datang lebih awal. Pernah saat aku datang ke bimbel lebih awal, sekitar jam 2, dan aku masuk ke ruang XII IPA 1 kelasnya Theo itu, berniat untuk tidur, waktu masuk, ternyata sudah ada yang terlebih dahulu tidur, dia adalah Theo. Waktu aku tanya kenapa datang seawall ini, dia bilang di sekolah sudah tidak enak buat belajar, makanya kesini, karena lelah, dia tidur dulu di ruang kelasnya. Bangun-bangun, dia kemudian berkeliling kantor bimbel sambil membaca buku. Dia selalu begitu.
Aneh ? mungkin dari sudut pandang beberapa orang yang sempit pikirannya. Sering kita anggap orang yang “ sedikit berbeda “ dari kebanyakan orang dengan sebutan aneh. Padahal dirinya yang kita panggil aneh itu tidak merasa begitu. Dia merasa melakukan hal yang sama normalnya dengan kebanyakan orang seharusnya. Buat Theo, apakah aneh meluangkan waktu lebih banyak untuk belajar dibandingkan bersenda gurau yang mungkin tidak terlalu banyak manfaatnya. Hal ini seperti selera musik yang beragam dari banyak orang. Orang yang menyukai musik melayuan, sering kita anggap alay, apakah mereka menganggap dirinya alay ? orang yang suka musik metal, sering dianggap urakan, orang yang suka jazz, dibilang bergaya hidup hedonis, orang suka dangdut dibilang norak, orang suka orchestra, dibilang sok tau, orang suka lagu daerah, dibilang kampungan, macam-macam lagi. Kan itu semua selera dari hati ya? Sama juga dengan memilih wanita atau pria, walaupun kita mungkin punya criteria universal yang sama tentang pria dan wanita idaman, toh nyata-nyatanya, di kehidupan yang nyata ini, siapa yang kita pilih, benar-benar melalui selera hati. Mungkin ditambah mata juga.



Theo pun menuai banyak dari kebiasaan belajarnya yang lebih itu. Aku yakin, fakultas kedokteran Universitas Indonesia, seperti yang Theo begitu idam-idamkan, akan sangat senang menerima orang-orang seperti Theo ini.
Suatu hari aku bicara dengan Theo tentang suatu judul buku.
“ terima kasih ya buku Biologi jilid duanya, akhirnya lengkap tiga jilid, hehe… “ kata ku saat itu.
“ iya, kakak. Itu buat kakak aja biar ngajarnya terbantu” kata Theo.
“ hah? Buat saya? Jangan, itu saja pinjem sampai sesi semester ini selesai aja kok “ waktu itu, aku pinjam buku pelajaran Biologi kelas XI IPA ke Theo. Buku kelas X sudah aku pinjam dari adek kelas ku di biologi, Risya, sedangkan buku kelas XII nya dari teman ku si kembar Tono-Noto. Pinjaman buku dari Theo melengkapi materi pengajaran ku. Kenapa pinjam ? karena buku-buku itu cukup mahal dibeli saat itu. Hehe.
“ iya kak Abas, gapapa. Itu juga saya dikasih kakak kelas saya yang sekarang ngga tau dimana dia. Saya juga sudah punya kok “ katanya sambil mengacungkan sebuah buku yang sama dari dalam tasnya.
“ oh, begitu. Hmm gimana ya, oke deh, terima kasih ya Yo, semoga buku ini bermanfaat karena saya mengajar kalian dengan buku ini juga “
Itu suatu kejadian yang aku ingat dari Theo. Waktu itu dia sampai mencari ku di luar sesi kelasnya hanya untuk memberikan buku itu. Aku terheran-heran dengan Theo. Katanya dia mencari ku setiap hari untuk memberikan buku itu. Setelah memberikan buku itu, dia pergi begitu saja. Berkeliling kantor bimbel lagi, sambil membaca buku.
… … …

Setelah solat, aku bersiap untuk mengajar di kelas. Kelasnya Theo. Saat itu, sama seperti kelasnya si Aul, tidak terlalu banyak yang datang. Kalau tadi di kelasnya Aul ada dua siswa yang masuk, di kelasnya Theo ini ada tiga orang. Ujian sekolah memang sangat menguji keimanan untuk tetap masuk bimbel sore-sore begini.
Selai Theo, ada siswa yang bernama Resty, dan kalau tidak salah Danti yang juga masuk. Sulit memang mengingat sekaligus ratusan orang siswa yang aku ajar belakangan ini. Di SMA 60, di cabang Pasar Minggu, di cabang Nusantara, lalu di cabang Siliwangi ini, entah ada berapa puluh nama lagi yang tidak aku ingat-ingat. Kalau wajah sih aku sudah banyak ingat. Kalau siswa yang “unik” seperti Theo, Jenny, dan Aul, aku lebih mudah ingat mereka.
Kelas pun dimulai. Kami akan membahas soal yang sama dengan kelas IPA 3. Dan, untuk kau ketahui, mengajar di kelas ini, adalah salah satu pengalaman paling menyenangkan ku di bimbel ini.
Setelah beberapa soal dibacakan jawabannya.
“ baik sekarang soal nomor 7, tentang siklus nitrogen, kakak sudah pernah gambarkan skemanya waktu itu, kalian masih ingat kan ? “ tanya ku pada mereka saat berdiri di depan kelas.
Tebak siapa yang menjawab, maksudku menjelaskan panjang lebar ?
“ kak, sebagian besar tumbuhan itu tidak dapat langsung memfiksasi nitrogen, tapi ada beberapa jenis umbuhan yang bersimbiosis dengan mikroorganisme pemfiksasi nitrogen, ada Rhyzobium dengan tumbuhan Legum, ada Anabaena dengan tumbuhan paku, kemudian selalin memfiksasi nitrogen di udara, simbion ini mengubah bentuk nitrogen tersebut menjadi senyawa amoniak, yang sudah di dalam tanah. Proses ini namanya amonifikasi kak, kemudian… bla bla ada Nitrosomonas dan Nitorococcus, mengubah amoniak jadi nitirit bla bla bla bla Nitritasi,kemudian bla bla Nitrobacter mengubah nitrit bla bla jadi nitrat, nitrat adalah bentuk senyawaan nitrogen yang bisa diserap akar sebagian besar tumbuhan, sampai semua skema itu disebut, bla bla nitrifikasi, kemudian bla bla Thiobacillus ferooxidans melakukan denitrifikasi, mengurai nitrat jadi nitrogen di udara lagi, itu melengkapi apa yang kita kenal dengan siklus nitrogen di daur biogeokimia kak” jelas siswa unik itu panjang lebar.

Yep, kamu benar kawan ku, itu adalah Theodore Gabriel, siswa ajaib kita. Memberi penjelasan panjang lebar akan semua hal yang ada di kepalanya, yang menanti sabar untuk keluar dan mengambil eksistensi nyata. Biasanya setelah menjelaskan suatu hal yang sedemikian itu, kami didalam kelas memberi applaus panjang ke Theo, bahkan sampai terkekeh-kekeh. Theo, yang mendapat penghargaan seperti itu, biasanya hanya tersipu-sipu, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Seru sekali.
“ baik itu benar, Theo, kalian berdua paham kan, Res, Dan ?” tanya ku pada dua siswa yang lain.
“ iya kakak, hehe…” kata mereka bersamaan terkikik geli ke arah Theo.
Masuk ke soal global warming, Theo menjelaskan dengan panjang lebar soal efek rumah kaca, penipisan ozon, beda UV A dan UV B, sinar infra merah untuk fotosintesis, sampai dampak perubahan iklim terhadap persebaran penyakit.
Masuk ke bagian perpindahan zat, sekali lagi Theo jelaskan bagaimana membedakan osmosis, difusi, dan imbibisi. Bahwa imbibisi hanya terjadi di kecambah, bahwa osmosis adalah perpindahan air ke konsentarsi rendah ke konsentrasi tinggi. Bahwa di fusi yang pindah adalah zat terlarutnya.
Sesekali teman-teman nya tidak mau kalah kalau Theo mendominasi kelas, mereka lalu mengambil alih kemudi, keroyokan melawan Theo. Theo yang diperlakukan seperti itu, cuma tersenyum-senyum karena terus digurau teman-temannya. Seru sekali kelas IPA I ini. Hari ini cuma bertiga, kalau mereka lengkap, kelas ini begitu gaduh, riuh rendah mengalahkan kelas IPS nya Jenny disebelah yang memang terkenal ribut.
Walau seringkali tidak semua soal terbahas dalam satu sesi, belajar seperti ini begitu menyenangkan. Menyenangkan melihat bagaimana para siswa berinteraksi, saling mengutarakan pendapat. Bagaimana mereka saling belajar mengoreksi, namun tidak kehilangan kesantunan, karena mereka melakukannya antar teman. Lucu bagaimana mereka saling menggurau temannya dengan menggoda kesalahan yang dibuat. Aku akan bangga saat suatu hari nanti aku tahu dan melihat mereka menjadi sesuatu di dunia ini, dengan pilihan yang mereka ambil, bahwa aku pernah melalui hari-hari seperti ini dengan mereka sebagai seorang pengajar.
Akhirnya, walau dengan semangat yang masih tinggi untuk belajar, kelas harus diakhiri. Biasanya mereka merajuk untuk menambah waktu belajar sebentar lagi. Kenyataannya sih tidak belajar, mereka minta aku menceritakan sesuatu. Terutama Theo, yang minta aku menceeritakan sesuatu, yang biasanya teramat rumit untuk anak seusia mereka. Permintaan Theo ini tentu saja di kontra teman-temannya.
… … …

Hari ini melalui Aul, Jenny, dan Theo, tiga orang murid ku yang unik, aku mempelajari banyak hal. Yang satu adalah seorang siswa yang punya kehidupan penjelajah alam, yang satu adalah seorang siswa yang mengembangkan bakatnya hingga sekarang menuai hasilnya, yang satu lagi adalah seorang siswa yang meluangkan waktu untuk lebih banyak belajar dibandingkan siswa yang lain.
Melihat mereka, dengan dibekali waktu yang sama, aku tahu setiap orang bisa menjadi apapun yang dimauinya. Semua orang, tua muda, sakit maupun sehat, kaya miskin, merasa biasa ataupun hebat, semua orang punya waktu hanya 24 jam. Tidak lebih dan tidak kurang. Waktu 24 jam itu yang dapat mengubah yang sakit jadi sehat, yang bodoh jadi pintar, yang merasa biasa menjadi hebat.
Aku belajar dari mereka, bagaimana memanfaatkan waktu yang Tuhan beri untuk berbuat sebaik-baiknya. Hal yang selama ini belum aku lakukan. Aku tahu sedikit telat untuk menyadari hal ini, dibalik fakta usia ku sekarang. Tapi aku tidak ingin merasa terlambat, karena kalau terus melambat-lambat kan untuk memulai, aku tidak akan pernah sampai.
Aku belajar dari mereka, bagaimana menjadi diri sendiri, namun tidak sebatas diri sendiri. Diri sendiri yang terbaik. Terbaik dalam pilihan hidup yang kita ambil. Aku belajar dari mereka untuk jujur dengan diri, tidak melebih-lebihkan hidup, dengan menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri saja, maka kau akan merasa cukup dengan kehidupan yang kau punya.
Setiap orang tentu tidak akan bisa menjadi semua hal dari sesuatu yang dimiliki dalam dirinya. Tapi setidaknya, aku ingin memilih tiga saja dalam diri yang aku punya sekarang. Aku ingin hidup ku bermanfaat untuk orang lain, untuk dunia tempat aku hidup berpijak. Aku ingin jadi besar dari menulis, aku ingin jadi besar dari bermain musik, dan aku ingin mengajar untuk membesarkan orang lain. Amin, Ya Allah, aku percaya Kau di Arsy sana sedang mendengar doa-doa kami dan mengabulkannya.
Tamat

Kawan ku, terima kasih untuk berbagi dengan ku perhatian mu membaca tulisan-tulisan ini. Semoga bermanfaat untuk mu, semoga selamat senantiasa atas mu kawan. =).
Visit my blog in masabas.no1, karena hidup yang nomor 1 adalah hidup yang bermanfaat =) hehe.

TIGA ORANG MURID. bagian 2

1 comments
JENNY ASLA

Aku mengagumi orang yang mengembangkan bakatnya. Sebagai beberapa contoh saja, aku mengagumi kegigihan Hanum dalam megembangkan bakatnya bermain viola atau menjelajahi laut. Dulu bahkan sampai sekarang aku sangat mengagumi bakat yang dikaruniai Tuhan ke Sheilla pacar ku semasa SMA dulu. Bakat itu berupa suara emasnya. Aku mengagumi teman ku Wendy yang memiliki blog yang begitu bagus isinya itu. Aku mengagumi dosen ku Jatna Supriatna atas segala pengalamannya yang begitu memesona, yang beliau ceritakan di ruang kuliah. Aku mengagumi Andrea Hirata yang tahu-tahu saja membuat tetralogi best-seller. Aku mengagumi orang-orang seperti itu. Dan untuk hari ini, aku rasanya akan mengagumi Jenny Asla untuk alasan yang sama.
Kawan ku, sekali lagi, jika kau ingat pesan ku di awal cerita ini, 24 jam bisa membentuk kita menjadi apa pun yang kita mau dan sanggup. Mau kah kau begitu ?

… … … … … … … … … … … … …
Waktu istirahat di bimbel biasanya aku habiskan dengan beberapa hal. Minum kopi di dapur lalu bergurau dengan teman sejawat. Memakan mie ayam yang dipesan dari Pak De belokan gang, lalu juga sambil bergurau. Memanfaatkan fasilitas internet, mengirimkan tulisan-tulisan, melihat berita-berita, sampai mengomentari profil picture atau update status orang-orang di facebook, juga dengan bergurau dengan yang lain.
Aku, Aul, dan Kak Qosim memesan mie ayam. Lalu kami memakannya bersama di ruangan deoan meja resepsionis. Hari ini aku yang (diminta) membayari. Ceritanya panjang. Tidak usah ku ceritakan disini ya?
Jadi aku dapat tawaran dari pengajar lain, Kak Ramon namanya, dia pengajar Geografi, untuk mengerjakan soal-soal dari dua modul yang dibawanya. Soal biologi tentu. Awalnya aku menolak, apalgi soal-soal itu cukup banyak, namun ketika kak Ramon mengeluarkan sebuah amplop sakti berisi uang kaget sebesar seratus ribu, entah mengapa aku jadi tak kuasa menolak. Seratus ribu, atau sama dengan seribu rupiah per soal. Alhamdulillah. Hehe. maaf ya, ternyata malah cerita.
“ bos bos, ambil duluan…”
“ bos. Bos, ini sambelnya saya ambilkan…”
“ bos, bos, mau pakai sumpit atau mau pakai sendok nih…?”
“ bos, bos, ini pangsitnya saya bukain ya…?”
Itu semua adalah kata Aul saat pesanan mie ayam kami bertiga datang. Ah, kau Ul, mentang-mentang dibayarin jadi bos, bos begitu. Sejak hari itu aku dipanggil Bos, Bos. Nanti aku tidak bayarin, jadi apa ya ? Ngos-ngos gitu ? dari kata jongos, haha.

Kami bertiga pun makan dengan lahap. Mie ayam Pak De belokan gang ini terhitung enak. Iya, terhitung enak untuk suatu mie ayam yang satu porsinya Rp. 4500. Iya, empat ribu lima ratus rupiah untuk satu porsi mie ayam yang benar-benar ada ayamnya, dilayan antar jemput mangkok, tambah pangsit tinggal tambah Rp. 500, pesan tinggal telpon atau sms via hape. Murah kan? Seru pula dimakan sama-sama.
Saat itu, baru kelas yang aku ajarkan, XII IPA 2, yang sudah keluar. Totalnya tadi dua orang dari enam orang siswa kelas XII IPA 2 yang hadir. Bimbel ku ini memang menekankan pada kekondusifan belajar, selain kurikulum yang disusun langsung dari SMA Negeri 8 pusat, karena itu dibatasi jumlah siswanya per kelas. Bimbel ku ini juga sangat menekankan kedekatan antar siswa-pengajar-karyawan yang terjadi selama proses belajar. Suasananya pun dibangun sehangat mungkin, dari slogannya pun bisa kalian tahu apa visi bimbel ini “ Rumah Kedua Siswa “. Para siswa, dibalik semua ceria warna-warni masa SMA nya, menjadikan rumah kedua ini, sebagai rumah yang setiap saat mereka bisa datang, menemukan apa yang mereka cari, keluarga kedua.

Tidak berapa lama kemudian, disaat kami lagi makan, terdengar riuh ramai kesibukan lain, tampaknya kelas sudah semuanya usai. Terdengar kemudian celoteh ramai siswa. Saat itu yang terjadwalkan untuk masuk adalah kelas XII IPA 2, kelas XII IPA 1, dan kelas XII IPS, tempat Jenny Asla berada, dan beberapa siswa yang sedang mengambil kelas tambahan persiapan ujian sekolah.
Beberapa siswa, laki-perempuan, berhamburan menuju ruangan depan. Sepertinya anak IPS, karena aku belum pernah melihat mereka selama aku mengajar kelas IPA. Tampaknya mereka juga ingin memesan suatu menu makanan.
“ Lo mau makan apa Ri “ kata salah seorang mereka kepada yang lain. Mungkin salah satu dari mereka itu namanya Hari, atau Ruri.
“ gue mie ayam aja “ kata yang ditanya.
“ gue juga ikut…”
“ gue juga, gue yang pedes…”
“ yaelah, entar tuh juga saos sambel dianter kesini semua botolnya, lo tuang sendiri-sendiri aja, berapa mie ayamnya? “ kata salah satu orang yang mengomandoi.
“ berarti empat ya sama lo, nah kalo lo Jen, lo mau pesen apa ?”
“ gue mie ayam juga, tapi setengah porsi aja ya “ kata Jenny
Ah, itu dia, gadis berkaus merah, orang bernama si Jenny Asla itu. Jujur aku kira dari cerita Aul, dia laki-laki, ternyata wanita. Benar juga tapi, kalo laki-laki pasti namanya Jonny kan?. Manis pula ia, ya iya ya? Kalau namanya Joni, dia pasti ganteng. Tidak tahu juga sih.
“ Jen, pesen satu porsi aja, nanti setengah nya buat gue sih ! “ kata salah satu temannya protes.
“ ga mau ah… nanti gue kenyang duluan pas ngeliatnya… gue pesen setengah saja… “ kata si Jenny Asla merajuk.
“ ya bilang aja nanti sama Pak De, jatah lo dikasihin ke gue…”
“ ngga mau, pokoknya gue mau pesen setengah “

Aneh juga sebenarnya, kan biar bagaimanapun si Jenny ini pesan mie ayam, kalau cuma mau dimakan setengah ya tinggal diberikan saja setengahnya ke temannya kan ya? Setengahnya dimakan sendiri deh. Dikasih waktu di gerobak Pak De, atau dikasih setelah diantar, kan sama juga ya hitung-hitungan nya? Tetap setengah. Benar kan kawan ku ? ah, memang banyak sisi kepuasan batin yan gbelum kita mengerti ya? Mungkin si Jenny Asla ini batinnya tentang mie ayam baru akan terpenuhi saat dia memesan seengah porsi dan memakan pula setengah porsi. Sulit terbayang kriteria ini saat dia akan memilih suami nanti. Masa mau suaminya setengah saja? Hehe

“ Itu Ul yang namanya Jenny Asla yang tadi lo ceritain ?” tanya ku pada Aul yang baru saja selesai makan di sebelah ku.
“ Iye, Bos! “
“ gue kira cowo! Parah lo ga bilang! “
“ Nah si Bos gimana, namanya aja Jenny atuh, si Bos, haha “ kata Aul. Tertawa senang dia berhasil mengerjaiku.
Aku melengos kesal dan pergi ke dapur mengambil minum. Di ruang tengah, di tempat dimana terjadi interaksi intensif antar kami semua di bimbel, aku bertemu Jenny sedang duduk di pojok dikerubungi teman-teman nya lain yang sedang mengguraunyaTampaknya dia memang figur yang popular di bimbel kami ini. Oiya, sekedar informasi, yang tidak penting-penting amat, menggurau itu artinya mengajak bergurau, tak tau aku sudah ada di EYD atau belum menggurau itu.
Aku duduk disebelahnya, sambil menyeruput kopi yang aku ambil dari dapur. Setelah teman-temannya selesai mengguraunya, aku berusaha memulai pembicaraan dengannya. Belum mulai bicara, terdengar pintu depan dibuka, tampaknya pesanan mie ayam Pak De belokan gang Jenny dan kawan-kawan sudah datang. Tidak jadi aku bicara dengannya.

Saat Jenny sedang sibuk makan dengan teman-temannya, aku juga menuju ruangan depan tempat ku dan Auld an Kak Qosim tadi juga makan. Niatnya internetan sebentar mengecek respon-respon di tulisan. Lalu kemudian mengajak si Jenny Asla ini bicara, sungguh aku senang sekali bila bisa berkenalan dengannya nanti.
Di meja resepsionis, setelah Jenny selesai makan, tentu saja lebih cepat karena dia cuma makan setengah porsi, aku ajak dia bicara.
“ Hei, salam kenal, namamu Jenny ya ? Jenny Asla ? tadi si Aul di kelas certain kamu terus…” kata ku
“ APAAN LO BOS, BAWA-BAWA GUE ? “ teriak si Aul dari ruang tengah protes.
“ Woi, emang lo kan yang tadi cerita! “ balas ku.
“ Ul, jadi lo kalo di kelas cerita-ceritain gue yaaaa? “ goda si Jenny ke Aul, aku yakin wajah si Aul merah padam sekarang.
“ Tadi gue cerita-cerita ma kak Abas, soal lo, soalnya kita lagi mau bikin BTA band, dia main gitar ni ma kak Agung, terus gue gapapa dah main Bass, nah si Qosim ni vokalis sekaligus mimpin doa “ kata Aul yang sekarang telah menghampiri kami dan bergabung di ruang depan.
“ Asem lo, bawa-bawa gue juga “ kak Qosim yang lagi asik duduk sambil internetan, sekarang ikut-ikutan protes namanya diproklamirkan sebagai vokalis BTA band.
“ Oh, iya Jenny, kenalin aku kak Abas, De. Tadi si Aul juga cerita katanya kamu jago main drum de, kamu sering tampil di Java Jazz festival begitu ya? “ kata ku.
“ Uuul, jadi lo promosiin gue juga ke kak Abas gitu yaaa ? “ goda si Jenny lagi melirik ke Aul yang disebelahnya.
“ Ah, payah ni si, Bos. Bawa-bawa gue mulu mah !” sergahnya protes. Aku bersumpah wajahnya saat itu begitu merah. Hehe. satu sama Ul kita sekarang.
Aul pun melengos pergi ke ruang tengah tanda menyerah dari perledekkan kami berdua.
“ Iya kakak, kalo Java Jazz, aku biasanya main kak “ kata Jenny mantap.
“ Wah, kamu keren. Dengan siapa, band gitu ya ?”
“ siapa aja sih kak, kalo ada yang ngajak aku ikut, ah kakak. Biasa aja itu…” kata nya tersipu merendah.
“ Heee, itu sih hebat, kamu kan masih begitu muda, sudah bisa begitu, banyak orang saja belum bisa lho, Jen “ cetus ku membanggakan si Jenny.
Seberapa orang dari dirimu yang telah menyadari bakat karuniamu lalu kau menuju jalan hidupmu dengan itu? Aku rasa tidak telalu banyak lagi. Lingkungan kita banyak mengubah jalan dan cara pandang kita tentang hidup. Dapat saja kau yang telah sedari lama mendalami sesuatu, tiba-tiba membelot. Kau dapat saja membelot karena keuntungan yang lebih baik, atau karena kau rasa jalan yang kau lalui dengan caramu dulu tidak lagi mulus namun berliku. Itu sama sekali tidak salah kawan ku, sama sekali tidak. Hanya saja, apakah kau merasa menjadi dirimu sendiri? Apakah kau puas hanya dengan kaya misalnya? Mungkin iya mungkin tidak, namun setiap orang akan lebih baik mengisi relungnya di dunia.
Namun ada orang, yang jumlahnya lebih sedikit, tetap fokus pada apa yang Tuhan beri dalam dirinya, dalam kehidupannya yang disyukuri. Pemberian itu banyak sebutannnya, aku menyebutnya bakat. Banyak orang sering salah menilai tentang bakat yang sebatas memainkan sesuatu dengan handal, menggiring bola dengan baik atau melukiskan sesuatu dengan indah. Mereka kemudian menjadi tidak percaya diri.
Bakat lebih dari itu kawan ku. Bahkan kemampuan mengubah suasana sendu jadi kegimbiraan. Bahkan kemampuan memikat orang-orang. Bahkan kemampuan untuk merenungkan sesuatu lalu menulisnya. Bahkan kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan unik. Bahkan kemampuan menghibur orang lain. Bahkan kemampuan menganalisis aritmatika. Bahkan kemampuan mengidentifikasi organisme. Bahkan hal-hal lainnya. Kita tidak akan pernah sendiri kawanku. Atau apa yang seperti Liverpudian bilang, You Will Never Walk Alone!.

“ ya, tetap biasa aja kok kak…” kata Jenny masih merendah saja.
“ Ah kamu ini Jen, memang sedari kecil ngedrum? “ tanya ku.
“ Iya, k, dari SD gitu, lupa saya kelas berapa, sudah lama “
“ wah, selama itu, kamu pernah main double pedal juga ga?”
“ Bisa sih, kak dulu. Tapi kan sekarang mainnya jazz, jadi udah ngga lagi…”
“ wah, keren kamu Jen… “ kata ku tambah kagum.
“ ah, kakak bisa aja…” kata Jenny, tersipu malu.
“ tapi kan, memang hebat, coba berapa banyak siswa SMA kaya kamu sekarang ? ga banyak kan, jadi kamu memang hebat, Jen “
“ di Java Jazz minggu lalu kamu main ? “ tanya ku merujuk pada sebuah gelaran besar musik Jazz.
“ iya, kakak. Aku main di Java Jazz kemarin itu… “ kata Jenny.
Iri aku terhadap Jenny. Sampai tahap dan usia ku ini, aku baru saja menentukan mau seperti apa jalan hidup ku. Sedangkan Jenny, bahkan sedari kecil sudah terarahkan lewat bakatnya, akan kemana ia. Semoga kesuksesan dalam hidup selalu bisa diraih. Semoga aku pun berkesempatan berbuat sesuatu yang besar dari apa yang aku telah pilih untuk jalani. Hei, Jenny, tahukah kau ? terima kasih telah memberi ku dan orang-orang yang nanti membaca tulisan ini, sebuah semangat lagi .
Teeeeeeet! Bel tanda kelas masuk berbunyi. Aku belum solat maghrib.
“ udah masuk nih, Jen, aku mau solat dulu ya, senang mengenalmu, nanti kapan-kapan aku ajak ngobrol lagi ya De, buat BTA band, hehe. sekali lagi, salam kenal ya Jenny Asla, sang drummer cilik…” kata ku terkekeh.
“ah kakak mah… iya kak Abas, salam kenal aku juga mau solat dulu… “ kata Jenny lirih.
Ternyata dia seorang muslim, aku kira dia katolik atau apa.
… … … … …
bersambung

TIGA ORANG MURID. bagian 1

0 comments
AULIA PRASETIO Dapatkah kita menjalani beberapa hidup sekaligus?
Aku tidak tahu pasti, yang jelas, kalau kita berhitung dengan benar, dalam 24 jam hati kita saja, kita bisa menjalani beberapa hidup sekaligus kalau kita mau.
Tidak percaya? Mungkin cerita ku ini bisa membantumu untuk percaya.
Hari ini, sesuai rutinitas baru ku, aku mengajar di bimbel. Dalam seminggu, aku mengajar 7-10 sesi atau kalau di konversikan ke jam, sekitar 10-15 jam seminggu. Bisa juga dibilang, dalam seminggu, atau tujuh hari, aku gunakan waktu ku selama sekitar setengah hari, untuk mengajarkan ilmu ku ke anak sekolah, sekaligus mencari nafkah.
Di luar itu, ada beberapa kegiatan lagi yang aku lakukan.
Selama seminggu, aku menghabiskan waktu untuk berkuliah, sekitar lebih kurang 20 jam. Lalu, menulis selama 2 jam sehari, atau sekitar 14 jam seminggu, Meluangkan hobi ku bermusik dan membaca sekitar 5-6 jam dalam seminggu, belajar selama 7 jam dalam seminggu, beribadah selama 5 jam dalam seminggu, dan untuk beristirahat selama 21 jam dalam seminggu.
Sekarang ayo kita konversikan sedikit. Tujuh hari bisa kita konversikan menjadi 24 jam x 7 atau sama dengan 168 jam. Seluruh bilangan jam di paragraf sebelumnya jika dijumlahkan bernilai 82-88 jam. Kalau kita bulatkan keatas, aku punya sekitar 80 jam dalam seminggu yang belum bernilai apa-apa, kawan ku! Mungkin aku dalam perjalanan, aku melamun, aku ngobrol, aku ke kamar mandi, aku duduk melamun lagi dan lain lain, misal aku habiskan 10 jam, tetap saja, ada sekitar 70 jam yang hilang entah kemana. Jam-jam yang mungkin bisa membuat kita jadi siapa pun yang kita mau dan sanggupi. Luar biasa, aku tidak tahu bagaimana dengan hitung-hitungan dirimu.
Berarti apa lalu semua itu di tulisan ini untuk mu? Mohon sabar kawan, biar aku selesaikan dulu cerita ku.
Di dua kelas XII IPA yang aku ajar hari ini, aku temukan suatu hal yang berkesan dari anak-anak didik ku.
… … … … … … … …
“ pada kemana yang lain ? baru lo sendiri aja, Ul “ tanya ku pada salah seorang murid di kelas XII IPA 3 yang aku ajar. Namanya Aulia Prasetyo. Aku panggil dia Aul, dia panggil Kak Abas. Lalu kita berdua saling ber lo gue Tidak pada banyak murid aku gunakan panggilan-panggilan seperti itu. Aul salah satunya, entah mengapa, kami hanya merasa cocok begitu saja dengan saling bicara dengan seperti itu. Lain kombinasi adalah aku-kamu , saya-kamu, dan kakak-ade. Belum. Belum pernah ada tuh yang inyong-sampean atau kulo-panjenengan. Hehe
“ ah lembek mah mereka, baru ujian sekolah aja, udah pada males masuk les Kak! “ kata Aul nyolot.
“ Oh, gitu. Nah lo kok masuk Ul? “ tanya ku lagi.
“ Cielah, cuma ujian sekolah gitu. Bercanda doang. Gue Bahasa Indonesia aja cuma setengah jam “ katanya lagi, tetap nyolot.
“ jago juga lo, Ul, lo dapet kebetan ? “ sindir ku.
“ kagak bos, nah tuh guru gimana, kasih kisi-kisi soal, pas di ujian keluar cuma pindah pilihan hurufnya doang. Nah gue sampe apal jawabannya, baru soalnya aja gue udah tau jawabannya “ kata Aul merepet.
Aku salah, ternyata dia tidak jago. Gurunya lebih jago lagi, bikin kisi-kisi apa niat kasih tahu soal ujian, toh bapak/ibu ini ?
“ Oh, gitu, yaudah. Ayo kita mulai, udah setengah lima. Lo dateng juga uda telat lama Ul, haha “
“ sial, tapi kan mendingan gue dateng, Kak! “ balasnya.
“ iye, iye… yo kita berdoa dulu sebelum mulai pelajaran…”
Setelah berdoa.
“ Kita bahas yang mana, Kak ?” tanya Aul.
“ Yang ini, modul UAN nomor 2, lo bawa kan ? “ jawab ku sambil menunjukkan lembaran modul lepas pelajaran Biologi bersampul kuning. Masing-masing modul lepasan seperti ini berisi 40-50 soal, tergantung mata pelajaran terkait.
“ bawa gue…” katanya sambil mengeluarkan modul miliknya dari dalam tas.
“ Lo kerjain dulu dah, per sepuluh soal kita bahasnya”
Aul membuka lembaran-lembaran soal, dan mulai menjawab soal-soal tersebut.
Sret. Sret. Sret. Cepat saja sepuluh soal sudah terjawab.
“ ni soal begini-begini aja, Kak. Sampe bosen “ katanya, sekarang songong.
Aul terhitung anak yang “ cerdas “. Cerdas dengan tanda kutip karena nyatanya dia cerdas ditambah nyolot dan songong. Hehe. Dia adalah pelajar SMA N 49. Suatu SMA Negeri di bilangan Jagakarsa. Cabang bimbel yang sekarang aku ajar adalah cabang jalan Siliwangi, distrik Depok 2. Cukup jauh jarak dari Jagakarsa sana ke Siliwangi. Entah mengapa dia tidak mau ikut bimbel ini di cabang Pasar Minggu saja yang lebih dekat.
Aulia Prasetio begitu menyukai aktivitas lapangan, terutama naik gunung. Seringkali dia meceritakan pengalamannya yang telah mendaki berbagai gunung di pulau jawa. Bagaimana dia dikejar-kejar babi hutan, memakan anggrek tanah, begonia, buah-buah butan, mempupus dahan rotan untuk diambil dagingnya, membuat bivak perapian, memanjat tebing-tebing, hingga tidur di tengah hutan gelap. Bahkan mahasiswa Biologi yan gkukenal saja tidak banyak yang seperti Aul ini. Akhir bulan April nanti kami berdua merencanakan naik gunung Gede. Sampai ke puncak Pandan Wangi, untuk kemudian terdiam terpesona ditengah padang Edelweis nya.
“ sotoy lo… kita bahas dulu, kita lihat lo bener berapa “ kata ku menantang.
Kami berdua (saja) pun mulai membahas soal-soal Biologi di modul itu. Kelas sudah berjalan setengah sesi lebih, tidak ada lagi siswa yang datang. Mungkin benar kata Aul ,yang lain lagi lembek gara-gara ujian sekolah. Padahal masih ada ujian nasional dan berbagai ujian ke perguruan tinggi.
“ Bos, lo bisa main gitar ga ? ” tanya si Aul di saat kita rehat mengerjakan modul.
“ bisa “ jawab ku apa adanya.
“ bikin ben yo “ katany lagi
“ hah? Apaan ben ? “
“ iya ayo kita bikin ben di BTA sini, lo yang main gitar, terus kita ajak kak Agung buat main gitar juga “
“ oh, kak Agung juga bisa main gitar ? “ kata ku merujuk pada salah satu pengajar lain. Kalau tidak salah, kak Agung itu mengajar mata pelajaran Matematika.
“ Wuiih, jago dia, Bos. Melintir-melintir main gitarnya. Apalagi kalo lo minta dia main klasik, wuuiiiih mantap, Bos. Waktu itu gue nginep rumahnya gue liat dia main gitar “ katanya panjang lebar promosi.
“ oh iya ? kalo gue si gitu-gitu aja main gitarnya…” kata ku berusaha merendah, padahal memang cuma begitu-begitu saja.
“ kalo lo main nya potlot-potlotan gitu ya? Hahahaha “ katanya senang sambil menyebut kawasan dimana aku habiskan masa SMA ku dan mendalami musik disana.
“ sial lo, emang gimana pula tuh potlot-potlotan ? “ kata ku kesal.
“ yang kaya musik Slank-Slank gitu…” katanya sekarang menyebut suatu band legendaris Indonesia yang bertumbuh dan berkembang dari gang Potlot.
“ eh, Bos, terus gue main Bass bos ye ? “ katanya lagi.
“ terserah lo dah, emang lo bener mau bikin BTA band ?”
“ beneran bos, nanti pas training motivasi kita bisa tampil tuh… nanti kita ajak kak Qosim buat jadi vokalis, sekalian dia bisa mimpin baca alfatihah, doa tolak bala, dan salawatan sebelum kita tampil. Hahahaha. Terus kalo udah selesai manggung, kak Qosim nya tutup pake doa penutup majelis! Hahahaha” kata Aul dengan seru tergeli-geli sambil memegang perutnya.
“ parah lo… hahahaha “ kata ku ikut seru.
“ terus Bos, gue udah ada calon drummernya “ kata Aul setelah itu.
“ hah? Pengajar mana lagi yang bisa main drum gitu ? “ tanya ku penasaran.
“ bukan Bos, bukan pengajar. Dia siswa juga, anak IPS, masa lo belum tau “ katanya menantang.
“ hah belum tau gue, pan gue disini baru beberapa bulan “ kata ku kesal. Untuk cabang siliwangi ini, aku praktis baru mengajar selama lebih kurang dua bulan.
“ ya si Bos, yang ini beda… udah terkenal soalnya, masa lo belum tau, Jenny Asla namanya! “
“ hah siapa tuh ? belum kenal gue. Emang dia terkenal kenapa ?”
“ drummer cilik musik jazz, bos. Udah terkenal dia, kalo di Java Jazz aja dia rutin ngisi terus “ katanya mempromosikan
“ hah ? serius. Hebat dong. Itu kan internasional “ kata ku terkagum-kagum kepada orang ini.
“ Ah, lo kuper si kak. Katanya lo suka nonton JGTC. haha “ katanya. Ini anak kadang ngeselin.
“ gue nonton juga kan karena bagus-bagus musiknya, yang main sih gue belum tentu kenal. Eh certain lagi tentang si Jenny Asla “ pinta ku.
“ iya dia anak bimbel sini, sekarang juga masuk. Nanti lo gue kenali dah kak. Bentar lagi kan kita selesai. “
Tanpa terasa sudah diakhir sesi satu mengajar. Waktu istirahat pun datang ditandai dengan bunyi panjang bel yang ditekan Kak Qosim. Alhamdulillah, walau sambil bicarain hal lain, modul selesai dibahas.Sekedar info, bel ini teletak di bagian dapur kantor bimbel cabang siliwangi ini. Entah mengapa dibuat begitu.
Ingin sekali kukenal, Jenny Asla itu.
bersambung

Tuesday, February 8, 2011

ROMANTISME AGIANDA

1 comments
7 FEBRUARI 2011

ROMANTISME AGIANDA

Jalan Kemang Dalam VI blok C nomor 16.
setahun yang lalu, dan hari ini…

“Sebelum kita bisa mulai, kita kenalan dulu ya… nama ku Abdul Basir, di bimbel aku biasa dipanggil kak Abas. Aku pengajar Biologi, kalau kamu siapa namanya?”
“Nama ku Habibah Zahra Putri Agianda, kakak. Aku biasa dipanggil Habibah”
“Oh, begitu, nama yang bagus. Habibah... Sudah tahukah kamu arti namamu itu adalah sang kekasih?” sejujurnya dari serangkaian panjang namanya itu, aku cuma ingat saat dia menyebut Habibah saja. Selebihnya aku tidak jelas, bahkan sampai setahun kemudian aku baru tahu nama lengkapnya.
“Iya, kakak. Mama dan papa pernah kasih tahu arti nama ku itu” katanya sambil tersipu malu.
“Mama papa mu memberi mu nama yang terbaik, Habibah…,Baiklah, bisa kita langsung mulai belajar? Hari ini kita akan belajar IPA, boleh saya lihat buku mu saja untuk belajar?”
“Iya kakak, sebentar…” katanya lirih sambil mengambil sebuah buku dari tas sekolahnya. Sebuah buku yang cukup tebal, judulnya Kumpulan Soal Masuk … aku tidak dapat ingat jelas judul buku saat itu. Sepertinya nama sekolah swasta favorit di Rawamangun sana.
Aku bentangkan buku itu diatas meja tempat kami belajar berdua ini. Aku buka bagian soal Ilmu Pengetahuan Alam, tempat dua puluh soal biologi bercampur dengan dua puluh soal fisika.
“Oke Habibah, kita mulai belajar ya… Semoga saya bisa membantumu masuk sekolah ini… bismillah…”
... … … … … … …

Momen itu terjadi kurang lebih setahun yang lalu, saat aku datang kerumah salah satu murid privat ku Habibah untuk memberikan layanan pengajaran. Aku cuma dua kali mengajar Habibah, setelah itu aku tak tahu bagaimana kabarnya. Hal lain yang aku ingat, pulang dari mengajar Habibah, aku pulang menembus hujan dengan motorku. Entah mengapa momen kecil itu tidak hilang dari ingatanku saja bahkan hingga satu tahun. Hari ini aku tahu kenapa satu ingatan itu berdiam diri selama itu dipikiran ku.
Kenangan adalah hantu yang bersembunyi di salah satu sudut pikiran kita, itu salah satu kalimat yang begitu ku ingat di buku yang sedang aku baca. Sebuah novel berjudul Perahu Kertas. Iya, kawanku. Begitulah kenangan bersifat didalam pikiran kita. Dia seperti hantu. Dan karena dia hantu, maka dia akan menghantui. Menghantui dirimu.
Kenangan akan suatu momen dapat membahagiakan atau menyakitkan dalam hidup kita. Dia akan muncul begitu saja tanpa permisi. Saat misalnya kau lewat suatu tempat dengan tidak sengaja, tiba-tiba hantu itu muncul. Dia mengingatkan mu bahwa di tempat itu dimasa lalu kau pernah bersuap makan siang berdua dengan pacarmu. Lalu apa yang terjadi pada mu saat ini? Tersenyum getir kah kau akan kenyataan yang kau punya sekarang? Atau kah kau malah sedang menertawakan kenangan itu? Menertawakan kebodohanmu sendiri?
Momen seperti bersama Habibah itu mungkin saja sebegitu kecil seperti serangkaian kejadian sekelebat yang lewat di hidup kita. Tapi tahukah kau, kawan? Atau kau malah pernah merasakan? Bahwa serangkaian beberapa momen kecil hidupmu itu bisa jadi suatu romantisme yang menyunggingkan senyum? Aku beritahu kau kawan, di Arsy sana, Tuhan kita itu ternyata begitu puitis. Tidak hanya merangkai firman-firman indah di kitab suci, dia merangkai kejadian hidup manusia manapun pilihannya, menjadi satu untaian manik-manik mutiara romantisme.
Tidak percaya? Aku bagikan pada kalian catatan ku ini.
… … … …
… … … …
Setahun itu waktu yang lama atau waktu yang sebentar ya? Aku juga sudah lupa. Aku sudah lupa seberapa lama atau seberapa sebentar satu tahun itu semenjak tidak lagi aku lihat kalender untuk pengingat tanggal. Dulu, sewaktu aku masih melihat kalender untuk melihat tanggal, aku menandai setiap tanggal yang telah dilewati. Aku tandai dengan coretan berwarna merah. Berantakan tentu. Di kalender pula aku menandai suatu tanggal dengan lingkaran berwarna merah, tanda suatu tanggal penting. Mulai dari hari ulang tahun seseorang, hari saat aku akan pergi dengan pacarku, hingga hari penting lain. Pernah aku menandai tanggal di kalender dimana saat hari itu aku akan dikhitan. Di sunat. Makin dekat tanggal itu, makin panik diriku. Atau kalian memiliki kalender yang dirobek setiap hari setiap tanggal hari itu telah lewat?, menyenangkan sekali merobeknya setiap hari, hingga bilangan 365.
Sekarang kemana ya kebiasaan itu pergi? Sekarang aku melihat tanggal di kalender elektronik di hape. Kebiasaan memberi tanda dikalender pun jadi hilang, digantikan alarm yang kita setel hape kita berbunyi saat tanggal itu datang. Seiring perkembangan teknologi, memang banyak yang hilang dari kita ya? Masihkah ada dari kalian yang menulis diary? Lebih gampang meng-update status di fesbuk bukan? Sekali tulis, sebar ke orang lain, rasanya lepas beban di hati. Bahkan cerita tersedih yang kita simpan pun bisa jadi obrolan bersama yang begitu menarik. Pertanyaannya adalah apakah setelah itu lalu kau merasa telah melakukan hal yang benar?
Mungkin karena itu pula setahun itupun rasanya menjadi begitu cepat buatku. Tahu-tahu sudah satu tahun. Tahu-tahu sudah semester baru saja hari ini, rasanya baru kemarin masuk kampus ini. Terus kenapa aku hitung hari ini sebagai tanda satu tahun sudah lewat? Tunggulah sabar kawan, aku bahkan belum mulai cerita.
Aku dapat jadwal mengajar privat dua hari, hari ini dan besok, alamatnya dimana? Betul sekali, jalan Kemang Dalam VI blok C nomor 16. Kalian kan sudah baca awalan catatan ku ini. Tapi aku yang siang tadi, belum menyadari dimanakah alamat itu sesungguhnya pernah aku singgahi.
Aku pun berangkat kesana, setelah kuliah jam kedua. Perkiraan waktu akan sampai dalam satu jam. Sekarang masih jam tiga, masih ada dua jam sebelum mengajar. Aku niatkan pergi ke kantor bimbel untuk mengambil sekalian honor mengajarku bulan lalu.
Sesampainya di kantor bimbel ku di daerah Bambu Suling, Pasar Minggu sana, aku langsung izin ke manajemen untuk solat ashar. Setelah solat ashar itu, aku keluarkan hape, hendak menuliskan alamat yang dikirim ke hape ku ke buku catatan kecil. Jalan Kemang Dalam VI blok C nomor 16. Rasanya alamat ini tidak asing buat ku? Aku sepertinya sudah tahu dimana lokasi tempat mengajarku sore ini. Tapi aku lupa diantara sedikit ingat itu.
“Kak, rasanya aku tahu alamat ini, tapi aku lupa begitu, tapi sungguh, aku punya perasaan aku tahu alamat ini kak” kata ku kepada beberapa teman mengajar yang hadir di kantor bimbel saat itu.
“Iya kak? Wah aku juga kurang tahu kakak. Mungkin dulu kakak pernah punya teman disana, terus alamatnya deket-deket alamat itu?” sahut kak Nia, salah satu yang hadir saat itu. Dia manajer keuangan cabang bimbel ini.
Sekilas, sekelebat, muncul bayangan-bayangan itu dari pikiran ku.. Hantu yang bersembunyi di sudut pikiran. Seperti sebuah kilasan peristiwa, hantu-hantu itu berseliweran. Beberapa rangkai kejadian terlintas di pikiran. Bersembunyi begitu lama, rasanya mereka begitu senang akhirnya dapat keluar. Akhirnya aku tahu, alamat siapa ini. Ini rumah Habibah yang itu!
“Ah aku ingat, ini alamat rumahnya Habibah kak, dulu aku pernah ngajar disitu. Kalo ngga ya alamat ini deket-deket rumah itu” kata ku sumringah.
“iya kak? Habibah yang privat waktu kelas 6 itu? Tapi yang sekarang kan kakak privat anak SMP mau masuk SMA, masa iya si Habibah yang itu udah SMA aja… hehe” kak Nia berceloteh riang.
Iya juga ya, berarti bukan si Habibah. Tapi entah mengapa aku yakin sekali aku tahu alamat ini.
“Yaudah deh kakak, aku pamit berangkat ya…”
Aku pun berangkat menuju alamat itu. Tujuan pertama adalah menuju daerah Kemang. Sekitar lima belas menit aku sudah sampai. Lalu di lampu merah McDonalds Kemag Raya itu, aku mengambil jalan ke arah gedung Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Saat ketemu petunjuk jalan arah Hero kemang, aku akan belok disitu, sampai daerah Kemang Dalam. Sungguh aku tahu daerah ini. Bahkan aku masih begitu ingat seluk-beluk jalanan ini setelah begitu lama. Aku ingat dimana didalam kompleks Kemang Dalam VI itu aku harus belok, mencari blok C. Setelah pos RW, setelah melewati jembatan dengan sungai kecil dibawahnya. Aku tahu dimana rumah ini. Sungguh aku tahu. Aku tahu perjalanan sore ini akan sampai di tujuan di rumah itu. Rumah yang berfungsi sekaligus sebagai taman bermain, playgroup, pada pagi hari. Rumah berwarna jingga berhiaskan berbagai macam gambar dunia bayi dan balita. Rumah yang di teras depannya ada taman bermain anak-anak. Rumah bernomor 16 di blok C Kemang Dalam VI ini adalah rumah Habibah yang itu. Aku benar. Sungguh aku benar. Ini rumah tahun lalu itu.
Aku masuk ke garasi yang sedang lengang. Hanya sebuah sedan merah terparkir disitu. Kondisi rumah sekaligus playgroup ini juga tampak lengang. Aku ucapkan salam, ada seorang lelaki keluar. Mungkin penjaga rumah ini. Darinya aku mendapat informasi bahwa yang empunya rumah sedang menjemput anaknya pulang sekolah. Aku diminta menunggu di depan.
Terbersit pertanyaan dalam diriku, ini rumah Habibah tempat ku mengajar tahun lalu. Saat itu Habibah baru kelas 6 SD, baru akan masuk SMP. Lalu siapa yang aku ajar sebentar lagi ini? Apa Habibah selama satu tahun ini ikut kelas akselerasi mengebut sampai kelas 9 SMP? Itu sangat tidak mungkin. Apa ada sekolah yang tega begitu? Atau Habibah mungkin punya kakak, yang belum aku tahu? Ah, kesimpulan ini kan lebih masuk akal! Bodohnya aku. Berarti yang aku ajar sebentar lagi adalah kakaknya Habibah yang sedang persiapan masuk SMA.
Lama menunggu, setelah beberapa bab novel Perahu Kertas aku baca, sebuah mobil pun berhenti didepan gerbang rumah ini. Penjaga rumah datang keluar setelah mendengar beberapa kali klakson mobil dibunyikan. Penjaga rumah membukakan gerbang, sebuah mobil Kijang pun masuk ke garasi, menjadi penghuninya bersama dengan sedan merah tadi dan motor ku didepannya.
Seorang remaja laki-laki tanggung, anak SMP, keluar dari mobil yang terparkir. Di kursi kemudi tampak seorang wanita, dari informasi yang aku dapat, namanya ibu Indri, ibunya Habibah. Dan itu Habibah yang sudah aku kenal, sedang duduk di kursi bagian tengah.
“Kakak, maaf ya menunggu sudah lama ya? Padahal kita janjian jam lima tadi ya… maaf hari ini macet sekali kak” kata Ibu mereka dengan wajah tulus memohon maaf.
“Iya ibu, gapapa, saya juga cuma menunggu sebentar kok…, ini anak ibu yang nanti saya ajar?”
“Iya, namanya Fariz kak… dia anak pertama saya… Fariz, salim nak sama kak…?
“Abas bu…”
“Salam kenal kak Abas” kata anak lelaki itu, Fariz, sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat. Lalu menundukkan kepala hendak mengecup punggungan tangan ku, yang aku tolak dengan halus.
“Berarti dia kakak nya Habibah ya bu?” tanya ku pada sang Ibu.
“Iya, lho kok kakak kenal sama Habibah” tanya bu Indri heran.
“Iya ibu, mungkin ibu lupa, tapi saya pernah mengajar Habibah. Dulu dia masih kelas 6 SD”
“Oh, iya? Wah. Sudah lama sekali ya? Itu kan setahun yang lalu ya?.... Habibah… turun sini Nak, kamu masih ingat sama kak Abas ga naaak? Tahun lalu kak Abas yang ikut mengajar kamu buat masuk Labschool nak”. Kata bu Indri riang kepada anaknya, Habibah, yang memang belum keluar dari mobil.
Terdengar suara pintu mobil yang dibuka lalu ditutup kembali. Yang dipanggil akhirnya keluar dari mobil.
“Iya, Maa.. aku ingat sama kak Abas…” jawab Habibah. Ia pun menghampiri kami bertiga. Berusaha berjabat tangan, tapi aku tahu dia tidak mau. Kami pun hanya saling menangkupkan tangan untuk alasan Syar’I yang keluarga ini jaga. Aku tidak tahu sejujurnya, tapi perasaan ku bilang keluarga ini begitu. Jilbab yang dipakai anak dan ibu ini, suasana rumah ini, dan sopan santun mereka yang halus yang menggambarkan itu buatku.
“Waah, Habibah, sudah lama ya? Sekarang kamu SMP dimana?” tanya ku pada Habibah.
“Iya kak Abas, dia bisa masuk Labschool, terima kasih juga buat kak Abas dan tim pengajar BTA 8 Pasar Minggu. Karena itu pula makanya si Fariz ini saya privatkan saja juga ke BTA 8. Fariz ingin saya masukkan saja SMA nya ke Labschool” jawab bu Indri yang sebenarnya tidak ditanya, dengan panjang.
“Oh begitu bu? Alhamdulillah, bersyukur saya kalau saya ikut membantu Habibah masuk Labschool. Semoga saya juga bisa membantu Fariz masuk SMA Labschool ya bu” kata ku. Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan senangku. Rasanya baru kali ini aku mendapat kesempatan langsung melihat hasil apa yang selama ini aku lakukan, walau disela-sela waktu. Ini semua diluar materi. Ini tentang kepuasan batin, walau apa yang aku beri cuma setitik air dalam pikirannya,aku ikut menyemai bibit dalam jiwa seseorang. Lama aku tinggal pergi tanpa sempat melihat biji itu berkecambah. Sekarang dia ada di depan ku, telah tumbuh, dan masih terus tumbuh. Kelak dia akan berbunga, dan menyebarkan pesonanya kedunia. Saat itu aku berharap, masih ada setitik air itu didalam dirinya.
“Ya sudah, ayo sana Nak masuk kedalam, belajar yang rajin ya, nanti mama jemput kamu ya?” kata bu Indri penuh sayang pada anaknya Fariz.
Tidak lama, mobil yang dikendarai ibu Indri dengan Habibah didalamnya beranjak dari rumah ini. Lalu melaju ke suatu tempat. Aku dan Fariz masuk kerumah, seperti pengalaman tahun lalu aku bersama Habibah, belajar diruang yang sama. Belajar untuk tujuan yang sama, masuk ke sekolah yang sama.

… … … …
Setelah mengerjakan berpuluh soal Biologi, Fariz tampak bosan. Aku mengajaknya ngobrol untuk memberinya jeda sebentar. Si Fariz ini memang pendiam sekali. Habibah juga tahun lalu begini. Kalau aku tidak ajak mereka ngobrol, bisa-bisa aku ketiduran. Kejadian yang mirip ini, dipisahkan waktu selama satu tahun. Waskita kata orang Jawa. De javu kata orang asing. Tidak tahu aku dari bahasa mana kata de javu itu berasal.
“Fariz, kamu kenapa mau masuk Labs? Tidak mau ke SMA negeri saja?” tanya ku memulai perbincangan.
“Mmmm, aku ga mau aja kakak… kata Mama, pergaulannya ga baik” jawabnya singkat.
“Oh, begitu, memang sih, banyak SMA berlabel negeri itu malah tidak mencerminkan pergaulan siswanya yang baik…, tapi kan ada juga yang tidak?”
“Iya kakak, aku juga nyiapin SMA negeri cadangan kok kak. Aku mau coba ikut tes masuk SMA 8 atau SMA 28 kak kalo ga keterima di Labs”
“Oh begitu…” aku kaget sejujurnya, baru kali ini aku ketemu siswa yang menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan alternative, pilihan cadangan. Dua-duanya SMA favorit pula.
“Eh iya, aku boleh tanya sesuatu ngga?” sambungku tiba-tiba.
“Iya kak boleh… ada apa?”
“Dari tadi saya cuma kenal nama kamu Fariz saja. Boleh saya tahu nama lengkap mu?” tanya ku penuh minat.
“Oh iya kakak… Nama lengkap ku Abdurrahman Fariz Agianda” jawabnya.
“Hmmm, kalau ade mu, Habibah, siapa nama lengkapnya?”
“Habibah itu nama lengkapnya Habibah Zahra Putri Agianda kak …” jawabnya lagi. Sudah kan aku beritahu kamu kawan? Tahun lalu itu Habibah sudah perkenalkan nama lengkapnya, tapi aku tidak lengkap jelas mendengarnya. Sekarang, setahun kemudian, baru aku tahu nama lengkap Habibah itu. Bahkan, seorang manusia butuh satu tahun untuk tahu nama lengkap orang lain, kawan. Dua nama Agianda, dipisahkan waktu satu tahun lamanya.
“Kok di nama kamu, ngga ada Putra nya?” tanya ku lebih lanjut.
“Dulu ada kakak, aku juga lupa sejak kapan tidak tertulis Putra dinama ku…”
Terdengar sayup-sayup azan dikejauhan. Kami pun memutuskan untuk rehat sejenak. Kami akan solat berjamaah di ruangan ini.
Setelah mengambil wudu masing-masing, kami hamparkan sepasang sejadah di pojok ruangan. Aku sering solat berjamaah dengan para siswaku. Sepertinya tidak banyak lagi profesi yang bisa sekaligus mendekatkan sesama manusia serta sesama manusia dengan Tuhan nya. Guru bimbel adalah salah satunya.
“Siapa kak yang jadi imam?” tanya Fariz sebelum kami solat.
“Ini rumah mu, kamu tuan rumah disini. Baiknya kamu yang jadi imam buat saya. Besok kita gantian tapi ya?” kata ku mantap.
Kami pun solat. Alunan merdu bacaan surat panjang yang dilantunkan Fariz begitu membelai udara sekitar. Hangat. Aku tanya kau satu hal kawan. Mungkin kau sudah sedikit banyak mengenal pribadi siswa ku ini. Masih kah banyak anak lelaki seperti si Fariz ini? Setelah solat, kami melanjutkan belajar bersama. Bersama, karena sesungguhnya aku juga belajar banyak darinya hari ini.
Di luar, hujan turun disertai angin kencang. Menahan aku untuk pulang tepat waktu. Kecuali aku, nekat menembus hujan. Berbasah kuyup badan. Sama seperti kejadian setahun yang lalu. Sungguh sebuah romantisme.

…. … …
Temen-temen maaf ya ganggu.
Gue seneng banget tulisan gue dibaca, apalagi dikomentari atau diperbaiki isinya disana sini. Maaf ya, ada beberapa temen yang sering nanya kok mereka jarang di taggin, Gue memang ngetaggin nya acak. Sering kali yang gue inget taggin adalah orang yang kasih komen di notes sebelumnya. Atau orang yang sms gue setelah baca notes itu, entah ngasi komentar atau minta dikirimin notes lain-lainnya. Gue sangat berterima kasih =’) (terharu, hehe). bisa juga yang lama ga muncul komennya, ya ga gue kirim lagi. Prasangka baik, mungkin kalian ga suka tulisan gue yang emang ga bagus ini.
Menulis kegiatan gue mengisi waktu, selain baca dan main gitar (dan main games juga =p). Apalagi kalo lagi ga bisa tidur. Jadi dah, catatan-catatan ini dikirimkan dan mengganggu kalian. Hehe. Tapi kalo memang tulisan gue jelek dan kalian ga mau baca, gapapa kawan, gue udah seneng bisa berbagi. Kalo ada yang mau baca lebih banyak tulisan gue lagi (kalo memang ada yang begitu, hehe). kalian bisa tuh ketik di google, pake keyword masabas.no1, itu judul blog gue yang (narsis) jayus. Hehe.
Gue belum terpanggil buat merapikan blog gue, lebih suka menulis di notes. Mungkin secepatnya. =) terima kasih semua. Ingin ku baca juga catatanmu. Ayo kita mulai berbagi.
Wassalammualaikum. Semoga keselamatan tercurahkan senantiasa atasmu, kawan ku.

Saturday, January 15, 2011

Sehari Penuh Segenggam Pesimisme

0 comments
Sabtu 15 Januari 2011

Sehari Penuh Segenggam Pesimisme

Bangun tidur di pagi hari. Setelah solat subuh, ku setel televisi, malah tidak mengaji. Mencari-cari saluran peliput berita olahraga. Lihat berita transfer pemain bola. Edin Dzeko pindah dari Wolfsburg ke Manchester City, Real Madrid ngincer Miroslav Klose. Rafael Nadal petenis nomor satu se-dunia tahun 2010. Tapi, belum ada berita positif tentang olahraga Indonesia. Ya Allah, bantu kami. Bantu supaya kami agar punya prestasi olahraga yang bersinar ya?
Ganti channel, ku lihat berita, masih muka lama. Masih tentang aksi Super Gayus. Enak ya punya uang 30 milyar. Bisa melakukan apapun terserah Anda, apalagi ditambah bekingan orang gede negeri ini. Rabbi, kalau aku punya uang 30 milyar, dengan cara jujur, aku ingin menikah muda saja, biar kulamar saja dia, lalu kami punya rumah sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, kalau bisa sih, lebih baik sama istri hamba saja ya?, tak lupa pula ku hajikan lagi ayah bunda dan para mertua. Walau uang di kantong hamba sekarang 30 ribu,Semoga Kau kabulkan ya Rabb? Tinggal tambahkan enam angka nol lagi,kok.
Satu-satunya tontonan yang masih begitu jujur dikala pagi seperti ini, kayanya tinggal Spongebob Squarepants. Itu kalo kita ga memperhitungkan faktor didikan kapitalisme dan liberalisme dari mister Krabs. Ga kebayang, kalo di masa depan nanti ada lebih banyak lagi pemuja harta dan pendewa dunia gara-gara pada nonton Spongebob Squarepants pagi-pagi kaya diriku ini.
Ah, pusing, ku mandi saja kalau begitu.
Segar setelah mandi, ku bersiap mengantar adik ke sekolah. Kebiasaan yang ku lakukan saat lagi dirumah seperti ini. Pagi-pagi begini, dia lagi begitu serius mengutak atik keypad hape. Fesbukan. Beda banget kaya aku dulu. Serabutan menyiapkan bahan pelajaran sekolah. Khawatir ga bisa jawab soal Bapak/Ibu guru nanti, terus disetrap pulang lebih lama. Tapi, adik ku ni ga salah kok. Kalau zaman ku dulu sudah ada hape ber-fesbuk, aku akan ber-fesbuk juga pagi-pagi. Bikin status “ Bro, siap-siap ngantuk, nanti pelajaran Kewarganegaraan.. huahh. Malay. -__-“
Ku tegur adik ku untuk bersegera berangkat. Dia menurut. Ya Rabb… akan jadi apa generasi penerus negeri kami ini, kalau pagi-pagi begini, bukannya membaca kalam-kalam Mu, kami malah sedang sibuk mengurusi status fesbuk? Bantu kami, ya Rabb? Tinggal blokir saja akses fesbuk dan twitter di waktu-waktu ibadah, waktu belajar, dan waktu-waktu kami berkumpul dengan orang-orang yang kami sayangi, jadi mereka ga dicuekin lagi. Tolong bantu ya, Rabb?
Pulang mengantar sekolah, Ibu sudah menyiapkan sarapan.
Ibu bilang “ makan juga pakai sambal” begitu katanya
“Ma’e, kok sambalnya ini aga manis ya?” Tanya ku penasaran. Sambalnya berasa manis, padahal kan harusnya pedas ya? Kan namanya sambal? Tidak nyambung.
“Iya, harga cabainya sedang mahal, itu cuma tiga biji cabainya, lebih banyak tomatnya, tapi sama merahnya kan?” begitu Ibu memberi penjelasan. Diplomatis. Apa adanya. Tidak seperti para menteri sok tahu itu. Bilang harga pangan terkendali. Inflasi dalam batas wajar. Aku sih bukan mahasiswa Ekonomi, seperti teman ku Aichiro atau Indarnoto itu. Tak mengerti aku bahasa inflasi. Tapi cabai memang bukan termasuk pangan kan? Cabai itu bahan tambahan memasak. Terang aja harga pangan terkendali. Menteri itu tidak bohong, maksudnya pasti beras, atau jagung barangkali. Dia tidak bohong, tapi pasti diminta menipu kami. Tapi, beras juga kan mahal ya? Tuh sampai ada yrakyat ang makan tiwul saban hari, udah gitu mati keracunan pula ia… keracunan tiwul, kemarin masuk koran.
Ya Allah, bantu rakyat negeri ini. Supaya bisa melalui hari-hari berat ini dengan tetap penuh syukur kepada-Mu… Bantu juga pemimpin kami, supaya tidak tuli
telinga mereka, supaya masih punya hati mereka semua. Dan soal bapak/ibu keracunan tiwul itu, tolong ampuni dosanya ya Allah? Supaya bisa mereka masuk surga. Lalu, biar mereka senang-senang didalamnya. Makan nasi lauk ayam bakar, lengkap dengan sambal dan lalapan.
Setelah sarapan, aku bersiap berangkat. Mengajar di bimbel.
Hujan deras di luar. Aku tidak ingin sampai tempat bimbel basah kuyup. Aku naik bis saja kalau begitu. Aku berjalan ke arah jalan raya. Menunggu bis jurusan pasar minggu.
Aku naik bis, yang aga lengang. Di depan ku, dua orang mas, karena sulit aku menyebutnya remaja, atau pemuda apalagi. Di sebelah kiri ku, ada empat orang remaja putri.
Kedua orang mas itu, mereka merokok, merokok dengan nikmat. Mengebul-ngebulkan asap ke seantero bis. Aku tepat dibelakang mereka, terbatuk-batuk. Remaja-remaja putri itu, begitu sexy, berpakaian minim, mudah terlihat, dan ketat sekali. Masih pagi padahal. Aku tepat di sebelah mereka, mengalihkan pandangan. Takut memikirkan yang tidak-tidak. Padahal sudah. Tapi apa itu jadi salahku? Tidak kan? Membela diri aku, kawan.
Ya Allah, kalau begini, hamba kan jadi serba salah. Ingin hati ku tegur mas-mas itu, tapi cari ribut itu namanya. Tau apa aku tentang menghargai hak orang lain untuk tidak merokok di tempat umum? Mereka juga pasti bilang punya hak untuk merokok di tempat umum seperti ini. Kan namanya tempat umum? Cuma hati dan budi pekerti yang bisa menghentikan mereka merokok sepertinya. Terus anak anak gadis itu, duwh… gapapa deh belum bisa berjilbab, tapi ya jangan jualan gitu dong, kan jadi banyak yang pengen nantinya. Tapi mereka kan, ga sepenuhnya salah, wong yang mereka tonton sehari-hari isinya juga yang begitu, orang terkenal pula, cantik pula, mulus pula, jadi pake celana pendek sepaha pun makin terlihat mulus. Niru-niru deh mereka. Duh, Ya Allah, aku bingung kalinat doanya kalau begini jadinya… tapi ya Allah, apapun yang akan kau putuskan nanti, aku tahu itu adalah yang terbaik untuk bangsa dan masyarakat kami. Amiin.
Bis berjalan, bukan, bis berlari,cepat sekali! Kernet dan sopir tertawa-tawa senang. Mereka sedang berbalap dengan bis lain satu jurusan. Ini pasti soal kejar-kejaran setoran lagi! Parah, dikiranya kita sayuran dari pasar induk Kramat Jati barangkali! Atau baju murah Pasar Grosir Cililitan! Hahaha. Tak berdaya kami. Hanya dengan uang dua ribu rupiah, pantaslah kalau kalau kami percayakan nyawa ke bapak sopir dan kernet. Gila. Ya Allah, semoga rem metromini ini ga blong.
Sampai di pasar minggu, aku turun berganti angkot. Lalu turun di seberang bimbel. Tidak mau bapak sopir aku kasih seribu untuk jarak yang sedekat ini. Bapak sopir ankot minta dua ribu, seperti harga biasa. Aku mengalah saja, aku berikan dua ribu. Memang susah cari uang zaman sekarang. Semoga istri dan anak bapak sopir angkot makan dengan baik lewat uang-uang kami ini. Anaknya kuliah sampai sarjana. Anaknya cukup dua saja, biar tidak tambah banyak orang miskin negeri ini. Amin ya Allah.
Menyeberang lewat jalan yang ada, dengan undakan tangga, menuju jalur yang terpotong rel kereta! Gila, kemana palang pintu, atau setidaknya rambu-rambu? Di depan ku baru saja dua kereta lewat. Dua berturut-turut, tanpa ada peringatan! Bagaimana kalau ada yang tertabrak? Hancur terburai-burai barangkali. Bukan, maksudku mana tanggung jawab pemerintah, dan masyarakat, kalau ada yang tertabrak? Ya Allah, semoga pemerintah, atau setidaknya orang yang punya uang, terpanggil ya, untuk memperbanyak pintu di jalur perlintasan kereta kaya begini. Sekalian kalau bisa, keretanya diperbagus, diperbanyak juga. Biar ga sempit-sempitan di dalam kereta begitu.
Sudah sampai aku di bimbel, tempat aku mencari uang tambahan untuk hidup dengan baik di kampus, tidak terlalau merepotkan orang tua plus mengabdikan ilmu mendidik generasi penerus. Ya Allah, setelah solat zuhur ku ini, sebelum aku masuk ruang kelas, ku panjatkan doa-doa ku sepanjang hari tadi. Ya Allah, jadikan pula aku, dan teman-teman lain sesame pengajar, senantiasa memiliki ketulusan hati, mendidik adik-adik kami, ilmu-ilmu yang kami beri, yang kami dapatkan dari Engkau dan guru-guru kami. Supaya dengan ilmu-ilmu itu, adik-adik kami bisa lebih tertarik belajar, menjadi insan-insan terbaik bangsa ini, dan agama-Mu. Ya Allah, semoga bisa pula kami berikan mereka budi pekerti dan pribadi luhur, tentu saja dengan diawali dari diri kami ini. Amiin ya Allah.
Aku masuk ke ruang kelas.

N.B:
Ya Allah, berkenanlah pula jika Kau gerakkan hati manajer-manajer bimbel kami untuk menaikkan honor mengajar kami. Supaya bertambah semangat kami dalam mengajar. Amin.