Sunday, March 27, 2011

CATATAN MERAH JAMBU bagian 4

Depok. 9 Maret 2011

CATATAN MERAH JAMBU BAGIAN 4
Vespa Gang Potlot

Beberapa SMA negeri yang gue kenal, punya suatu tempat khusus yang menjadi saksi masa-masa kehidupan yang terjadi dan tumbuh didalamnya. Sebagai contoh, SMA 70 dan SMA 6 punya blok M plaza dan mungkin Mahakam sebagai tempat khusus yang mereka bagi antar mereka. Di tempat khusus itu pula mereka, sebagai akibat pembagian yang tidak merata, sering terlibat perkelahian saban akhir minggu. SMA 70 secara khusus akrab dengan kawasan bulungan, seperti SMA 60 dengan Kemang Timurnya, SMA 8 dengan kawasan Bukit Durinya, SMA 28 dengan kawasan Pejaten dan sekitarnya , dan tentu saja, SMA 55 kami ini, dengan gang Potlotnya.
Di sebut gang sebenarnya kurang tepat, karena kenyataanya, “gang” ini tidak sempit-sempit amat. Namun, karena sudah terlanjur orang menyebutnya gang potlot, maka sampai sekarang kami sebut saja gang potlot. Oia, penamaan “potlot” itu diambil dari suatu kata dalam bahasa Jawa yang berarti “penghapus”. Konon, sejauh yang aku tahu, dinamai begitu dengan harapan dari gang inilah, segala laku jelek dan jahat di masa lalu orang yang menyempatkan diri tinggal didalamnya, dapat terhapuskan, dan orang itu kemudian menjadi insan yang lebih baik lagi.
Gang Potlot sudah sedari awal menjadi keunikan sekolah kami ini. Tidak banyak sejujurnya yang tahu bahwa di gang Potlot lah ada SMA 55 itu. Beberapa teman ku malah lebih menyukai menyebut sekolah kami sebagai SMA Potlot, selain Petrol yang disebut begitu karena secara de jure kami ada di jalan yang bernama Minyak Raya.
Di gang Potlot ini lah, Slank ber-home base. Gang Potlot telah jadi saksi bisu perjuangan band legendaris ini mulai dari masa-masa sulit mereka hingga sekarang. Dan nama Potlot itu, sudah menunjukkan tuahnya saat tempat ini, lebih tepatnya di kediaman bunda Ivet, ibunda dari Bim-Bim, drummer Slank, menjadi pusat rehabilitasi personil Slank yang saat itu ketergantungan narkoba. Di gang ini pula, secara rutin, penggemar Slank dari berbagai penjuru nusantara, datang dan menghabiskan sebentar waktu disini. Gang Potlot, telah menjadi simbol persatuan mereka se-Indonesia.
Di gang ini pula, berbagai lapisan masyarakat, dan berbagai latar belakang budaya dan sosial, berkumpul jadi satu. Mulai dari warung kopi pinggir jalan, bengkel motor-motor komunitas Vespa, LSM sosial DIBO PISS, kantor manajemen Slank, rumah makan Bakwan Malang, kantor cabang suatu partai besar berlambang banteng, hingga salon kecantikan dapat kita temui. Di tambah kami, para siswa sekolah, gang potlot telah menjadi salah satu hal yang paling membedakan sekolah kami ini dengan sekolah negeri yang lain
Di balik semua itu, buat ku gang ini selalu jadi satu hal yang istimewa buat ku. Bahkan setelah beberapa tahun kemudian, entah sampai kapan,gang ini, suasana ini, sekolah ini, selalu mengingatkan ku pada satu orang. Pada satu orang itu.
. . . . . . . . . . . . . . .
“Bas, mana si Sheilla?”
Ah, pertanyaan menyebalkan ini lagi. Cla lagi, Cla lagi, memang aku siapanya dia? Apa-apa tanya aku. Kalian kan bisa tanya dia langsung. Terserah dia lah mau dimana sekarang, ambil pusing amat kalian ini.
“Ga tau gue, tadi si dia SMS, katanya habis latihan padus mau langsung jalan kesini, bukannya dia SMS lo semua juga kan? Jawab ku ketus.
“Yee, Lo Bas. Biasanya kan lo doang yang mau anter jemput dia, lo kan lebih deket sama dia. Lo SMS lagi dah sana, udah ngaret setengah jam ni, sayang kan udah bayar” kata Dimas, seperti biasa menyebalkan. Sambil membuat asap berbentuk lingkaran dari asap rokok yang dihembusnya.
“Dia minta jemput kali, Bas” kata Ian yang sedang menata rambut pada kaca spion, menimpali dari atas motor
“Ah, ngeselin lo semua, gue telpon aja deh, sini gue pinjem hape lo Tip, gue lagi gada pulsa telpon ni!” kata ku lagi sambil merebut paksa hape Latif dari atas meja.
“Nah nah nah, kok jadi pake pulsa gue….?”
“Yaudah sih, ntar kapan gue ganti, yang penting gue telpon dulu si Cla”
Aku tekan nomor hape Cla, nomor hape ini begitu aku hafal, bahkan setelah bertahun-tahun mendatang. Terdengar bunyi nada panggil, tak lama telpon ku diangkat.
“Ya halo kakak, assalammualaikum, aku sudah di jalan kok, 10 menit lagi aku sampe sana, maaf ya kakak terlambat, tadi banyak yang harus diulang latihannya. Kak Fitrinya lagi ngambek juga….” Kata Cla merajuk menyesal.
“oh gitu ya… udah pada ga sabar nunggu kamu… aku jemput aja ya? Kata ku
“ngga usah kak… aku jalan saja… ngerepotin…”
“udah sih, biar kamu cepet sampe sini…” kata ku malas.
“kok gitu…? Yaudah… aku tunggu di potlot ya…” katanya lagi menyebut suatu jalan di dekat sekolah kami.
“Clanya udah deket, gue jemput aja. Tip gue pinjem motor lo” pinta ku tanpa permisi mengambil kunci motor si Latif yang juga ada di atas meja.
“iya Bas, sip pake aja…”
Cuaca saat itu sedang panas sekali. Belum lagi dengan suasana hati seperti ini. Sejujurnya aku juga sedang begitu bingung. Apa yang sedang ku risaukan? Aku mencari apa? Apa yang ku harapkan? Bukan kah aku hanya menanti sesuatu yang kosong belaka? Aku tidak akan dapat apa-apa dari perasaan ini. Tidak bahkan penolakan Cla, karena aku pun bahkan tidak akan berani bilang bahwa aku menyukainya saat ini. Ah, hati, kenapa tidak aku menyukai orang lain saja?
Kurang dari lima menit aku sampai ketempat Cla menunggu. Dia menunggu dengan wajah orang yang kesal. Entah karena dia sedang lelah atau aku yang sedang gundah, tapi aku dapat melihat pada dirinya ada perasaan heran yang tak terjelaskan kepada ku.
“Kak… kamu kenapa sih…?
“Hah? Ngga aku ga kenapa-kenapa, kok kamu nanya begitu? mungkin karena hawa panas ini. Emang aku kelihatan seperti apa?”
“Kakak seperti lagi marah, marah sama aku. Seperti kakak ga ingin ngeliat aku… aku salah apa sama kakak…?
“ngga… kamu ga salah apa-apa… beneran deh Cla, hari ini panas banget.. kamu bisa melihat wajah seperti aku ini dimanapun…”
“beneran ga lagi kenapa-kenapa?”…
“Iya bener.. ayo Cla ah, kita udah telat nih…”
Segera, dengan wajah yang sama-sama masih merengut, kami berangkat menuju studio. Ah, biar saja si Cla ini. Memang nya kamu mau tahu kenapa aku kesal saat ini Cla?
Tidak lama kami pun sampai ke studio. Setelah teman-teman lain menumpahkan rasa kesalnya, yang ujung-ujungnya ke aku juga, kami pun mulai latihan disisa waktu yang ada. Hari ini, aku malas sekali latihan. Betapa hebatnya rasahati itu ya, sedikit takaran nya berubah, keadaan seseorang bisa bergantu sedemikian rupa.
Setelah dua lagu pentas dimainkan.
“Bas Woi! Lo kenapa sih. Main lo jelek amat?” kata Dimas ketus. Ingin sekali ku tonjok teman ku yang selalu menyebalkan ini.
“ngga gue gapapa, kecapekan aja, panas pula kan tadi diluar Lagian dua lagu ini kan baru beberapa kali kita mainin bareng. Masih kagok gue”
Sungguh, didalam ruangan latihan berpendingin ini pun, aku masih merasa gerah. Gerah yang berbeda.
“Tapi main lo kagok gitu Bas, bikin ribet yang lain jadinya” Latif, drummer kami menimpali.
“Iya, Bas, gue bingung ngingutin lead yang lo mainin” Ian ikut-ikutan. Dasar tukang memperkeruh suasana.
“Sori-sori… ya udah ayo kita coba lagi satu putaran… gue lebih bener lagi deh mainnya…” kata ku buru-buru minta maaf.
Hanya satu orang dibelakang mikrofon itu yang sedari tadi diam. Sesekali aku lihat dia menatap ku dalam-dalam. Sesekali pula kami beradu pandang, aku balas tatapan ingin tahunya dengan tanggapan yang acuh tak acuh. Di lain kondisi, aku senang sekali kalau Cla memperhatikan ku diatas yang lain. Walau pun mungkin itu cuma aku yang merasakan. Tapi tidak di kondisi yang jauh berbeda ini.
Setelah sekali lagi putaran, yang tidaj berubah banyak dibandingkan sebelumnya, kami pun menyudahi latihan.
“Ah, sial lo Bas hari ini, udah capek-capek nyiapin latihan hari ini gue, lo gitu-gitu doang!” kata Dimas.
“Kalo lo males-malesan gitu, males gue Bas buat tampil nanti. Jangan lupa ganti pulsa telpon gue tadi” kata Latif.
“Bas, lo hubungin kita buat latihan, kalo mood lo udah bagus, deh. Inget bas, Minggu depan kita udah tampil” kata Ian. Iya yan, sok tahu lo.
“Iya, sori banget ya… gue hari ini lagi banyak pikiran… maaf ngerepotin lo semua”
“Udah ah, mau balik gue. Ntar gue SMS lagi aja deh” kata Dimas lagi.
Komando Dimas itu juga jadi komando yang lain buat pulang. Karena cuma ada dua motor, Latif sama si Ian boncengan, si Dimas cuma sendirian karena jarang dia mau boncengin aku. Kalo boncengin Cla dia pasti mau, tapi entah mengapa si Cla jarang mau, alasannya sih karena ga enak sama aku yang akan jalan sendirian karena yang lain naik motor. Satu kendala motor ini sering buat diriku minder dalam bergaul. Sebenarnya aku ga masalah kalaupun harus naik bis atau jalan kaki pulang. Sudah terbiasa seperti itu. Tapi, sewaktu ada Cla, sebisa mungkin aku ingin pulang bersamanya saja. Kalau Cla pulang sama Dimas, itu jadi masalah.
Di gang potlot itu, yang rasanya hati itu jadi lebih jauh dan panas, kami lebih banyak diam. Seingat ku, kami memang belum mulai bicara. Di sepanjang jalan, pikiran ku berkelana keberbagai hal. Apakah aku benar-benar menyukai gadis ini? Bagaimana kalau ternyata rasa ini semu, dengan halangan dia sudah dimiliki, aku benar-benar mimpi pungguk bulan. Kenapa pula tidak bisa ku alihkan pikiran ku darinya? Mana ada seorang lelaki yang mengharap-harap wanita orang lain. Film macam mana pula yang seperti itu pernah aku tonton? Ah, dulu sudah si Ana begitu, sekarang Cla pula begini. Benar-benar pungguk bulan aku ini.
Begitu lama saling diam saja, lalu dia yang mulai bicara.
“Kak Abas…” katanya lirih.
“Iya Cla, kenapa…?” jawabku sekenanya.
“Kamu kenapa sih kak hari ini…?” tanyanya prihatin
“Kamu tanya lagi de… aku ga papa kan…”
“Kamu bohong kak… masa yang begitu bilang ga papa…”
“Habis gimana… emang aku ga lagi kenapa-kenapa…” kata ku sedikit kesal.
“Kakak ga mau cerita ke aku gitu…? siapa tahu aku bisa jadi ngeringanin pikiran kamu sedikit…” pintanya merajuk.
Memangnya kamu bisa? Tahukah kamu aku begitu serba salah kepadamu sekarang. Ini tidak semudah aku tinggal bilang aku menyukaimu Cla. Tidak akan semudah itu.
Setelah sekian lama, bahkan dia selalu bisa meluluhkan aku. Biar bagaimanapun, aku memang harus mengutarakan ini, aku lelaki. Aku harus tahu dari dirinya langsung. Sekaligus bisa aku tahu bagaimana sebenarnya perasaannya juga kepadaku selama ini. Ah, menyebalkan sekali pengungkapan kejujuran itu.
“Kak…”
“Apa sih… memang bener kamu mau denger aku cerita?”
“Ini semua karena ku ya kak…? Ada hal yang ga aku sadari ya…?”
“Sepertinya begitu Cla…”
“Kalau begitu cerita dong… biar aku juga tahu aku salah apa ke kakak…”
Gang potlot saat itu sedang begitu ramai. Sebenarnya memang selalu ramai. Selain para warga yang bertempat tinggal disitu, sering ada slankers yang menyambangi kediaman Slank disana. Ditambah lagi dengan jam pulang SMA kami yang sore begini.
Tiba-tiba aku berhenti. Dia kaget lalu berhenti. Lama kami berdiri mematung. Saling menatap lekat-lekat. Aku sayang kamu Cla, hanya seperti itu yang harus aku ucapkan. Namun, lidah ini begitu kelu dibuatnya setiap mata kami berpapasan. Hei gadis manis bersuara merdu, tahukah kau rasahati ku ini sudah mulai belajar mencintaimu?
Di gang potlot ini, di sekeliling keramaian orang lalu lalang, aku seperti mendapatkan pencerahan untuk mulai mengungkapkan semua. Aku pun mulai cerita.
“Hhhh… ini pasti pertanyaan paling bodoh yang pernah kamu dengar dari ku de… Cla… Kamu sudah punya pacar ya?” kata ku serius
“Hah?”
“Kamu sudah punya pacar ya? Seperti yang selama ini ku ketahui.” Kataku lagi.
“Hah? Ketahui darimana”
“Yaa, ada teman kita yang cerita begitu” kataku mulai tak sabar
“Hah? Teman kita yang mana ya yang aku certain begitu”
“Si Ian, dia cerita begitu ke aku tempo hari di rumahnya, Cla, kalo sekali lagi kamu hah hah begitu, kupingmu aku jewer” kataku sudah tak sabar.
“hihihi, apa sih kakak ini… si Ian cerita begitu sama kakak? Lengkapnya gimana?” sahut nya riang.
“Dia bilang, kamu sudah punya pacar, dari sewaktu SMP di bekasi sana, kakak kelas mu, aku lupa nama pacar mu itu” lanjut ku.
“hihihi, jadi itu yang dari tadi dipikirin?”
“yah… engga juga.. sedikit banyak begitu”
“Emang aku sudah punya pacar dari SMP kakak, terus kenapa?”
“Ya ga kenapa-kenapa Cla…”
“Kak… kamu ni… kebiasaan, aku belum selesai kamu potong…
“Iya maaf-maaf…”
“iya aku memang punya pacar dari SMP, tapi sudah putus lama, sudah setengah tahun lebih, aku memang pernah cerita begitu ke kak Ian”
“Hah? Jadi begitu toh”
Jawaban langsungnya ini, membuat ku tiba-tiba merasa begitu gembira. Awan gelap yang sedari tadi hinggap di atas ku, menguap. Sulit ku sembunyikan rasa senang ku ini. Senyum senang menyungging dari wajah ku.
“Oh begitu? Berarti aku salah ya? sekarang Cla lagi ga punya pacar ya?”
“Eh kakak… terus kenapa nya kan belum dijawab…”
“Memang kamu mau tahu?”
“Iya! Kan aku udah cerita, kakak sekarang cerita gantian, ternyata seharian ini mikirin itu toh, dasar”
“Yaa, masa aku jawab sekarang sih di gang potlot ini?… hehe”
Aku pun beranjak untuk bersiap pergi dari tempat itu. Semua jawaban itu sudah cukup buat ku. Sialan si Ian itu,me nutup-nutupi info penting. Rugi aku langsung percaya begitu. Gadis manis bersuara merdu ini, sedang tidak ada yang punya. Oh, rasahati, ternyata memang kamu benar. Terima kasih sudah belajar mulai mencintai dirinya.
Ku tatap lagi gadis menyebalkan ini, yang sudah beberapa hari ingatan tentang dirinya menganggu hari ku. Aku layangkan senyum nakal padanya, dia membalas dengan senyum yang begitu manis. Senyum penganggu mimpi-mimpi tidur ku.
Aku raih tangannya, lalu aku genggam. Refleks. Gerak refleks yang aneh, entah mengapa secara naluriah aku tahu Cla tidak akan menolaknya. Sesekali dia menghindar, namun aku curi-curi lagi genggam tangan itu.
“Sudah sore, kita pulang yuk Cla”
“Ihhh, kakak curang, kakak belum jawab”seru Cla seraya berlari-lari kecil mengejarku.
“Kamu sudah tahu kenapanya aku Cla…” kataku tersenyum menggoda.
Di sisa perjalanan ini, rasanya jauh berbeda dengan tadi. Saat ini takaran di hati kami masing-masing sudah berubah, karena satu kejujuran yang diungkapkan. Hari ini aku pelajari satu hal tentang kejujuran itu. Sesulit apapun, kejujuran memang harus disampaikan. Kau tidak pernah tahu apa balasan dari setiap kejujuran. Setelah jujur, ada beban besar dihatimu yang terangkat begitu saja. Setelah itu hati rasanya begitu luang, hati yang luang itu, bisa kau isi ulang lagi dengan perasaan-perasaan yang baik. Untuk mengubah hari mu, menjadi hari-hari yang jauh begitu berbeda. Luar biasa makhluk bernama cinta itu.
Tiba-tiba. Bruuk!.
“Ah, aduh!…”
Sebuah vespa yang melaju cepat di gang ini menyerempet Cla dari samping belakang. Seketika dia jatuh tersungkur. Untung saja tidak sampai terjerembab ke tanah. Pengemudi Vespa tidak menyadari baru saja menyerempet orang di jalan, dia pergi begitu saja. Aku waktu itu, yang kaget, begitu bodoh, cuma bisa bilang dengan tertegun…
“aduh aduh, Cla… sakit ya?” tanya ku polos saat menghampirinya.
“…… tau ah! Ya sakit lah, pake nanya lagi!” kata Cla yang terduduk, menatap ku sebal.
“ya maaf, aku juga kaget kan, tau-tau kamu jatuh gitu Cla…” kata ku pasrah.
“Tau ah, ngomong apa gitu ada orang jatoh keserempet Vespa, sini, bantu aku bangun, dasar” serunya masih kesal.
“ iya, iya maaf maaf… aku salah” kata ku sambil memegang tangannya mengangkatnya bangun.
“… dasar jahat” ujar nya sambil berjalan cepat meninggalkan ku.
“Lho lho, mau kemana? Aku antar kamu sampai naik bis kan?”
“Tau ah, terserah”
Aku kejar dia hingga ujung jalan, ku bujuk dia sepanjang perjalanan pulang. Aku goda dia dengan mengungkit-ungkit kejadian Vespa tadi, biar saja dia sebal. Bahkan saat sebal pun aku tetap menyukainya. Aku curi-curi kesempatan menggenggam tanganya, dia menolak malu-malu. Setelah pengakuan hari ini, tidak secara jelas kami ungkapkan perasaan masing-masing, atau aku kira begitu, karena aku masih tidak tahu bagaimana perasaannya padaku . Tapi biarlah setiap detik genggam tangan curi-curi ini menjelaskan semuanya buat kami.

… … … … … … …
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment