Showing posts with label Kampus. Show all posts
Showing posts with label Kampus. Show all posts

Wednesday, January 15, 2014

KALEIDOSKOP

0 comments
KALEIDOSKOP


            Biasanya selain Resolusi istilah Kaleidoskop menjadi popular menjelang pergantian tahun.

            Kaleidoskop kurang lebih bisa diartikan sebagai suatu penyampaian atau penggambaran kilas balik dari momen-momen penting yang terjadi pada tahun yang akan/sudah dilalui.

            Kalau ditulisan sebelumnya saya sudah menulis tentang “ Resolusi Kecil “ , di tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang Kaleidoskop Besar saya pada tahun 2013 lalu.

            Lho kok Resolusi nya Kecil tapi Kaleidoskop nya besar ?

            Iya begitu lah cara saya (akan) bekerja mulai dari sekarang, menyusun Resolusi Kecil dengan disiplin proses yang terukur, dengan harapan pada akhirnya, di akhir setiap tahun atau periode saya berhasil mencapai hal-hal yang lebih besar untuk disampaikan pada Kaleidoskop.

            Di tahun 2013, secara garis besar, Kaleidoskop saya berkisar atas 3 hal berikut.

1. Hari-hari perjuangan menggapai gelar Sarjana Sains.

Bisa digambarkan pada periode ini, saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menyelesaikan studi di Departemen Biologi Universitas Indonesia. Hari-hari mengambil data di laboratorium, menuliskan hasil pengamatan, menyusun karya tulis, bolak-balik ketemu dosen pembimbing dan penguji. Belum lagi dengan serangkaian berkas-berkas dan mekanisme administrasi yang menurut saya begitu rumit di jurusan tempat saya kuliah.

Oh ya, betul sekali. Urusan administrasi kemahasiswaan terlebih menjelang masa sidang sarjana di departemen saya sungguh-sungguh-sungguh rumit dan menjemukan.

Di periode ini pula saya merasa terjepit secara finansial. Bukan apa-apa, untuk menyelesaikan studi, saya perlu waktu yang lebih banyak dan perhatian yang lebih fokus untuk satu hal saja, gelar sarjana. Itu berarti waktu dan fokus saya untuk mengerjakan hal lain akan menjadi berkurang bahkan tidak sama sekali. Salah satunya adalah mengajar bimbel BTA 8. Padahal saat saya mahasiswa, gaji dari mengajar di BTA 8 menjadi sumber penghasilan saya yang paling utama. Dan memang, jumlahnya pun lumayan. Tidak hanya untuk membayar kos dan biaya makan, dengan uang tersebut saya sering masih bisa membeli baju, sepatu, atau buku.

Tiga bulan saya praktis berhenti mengajar demi menggapai gelar sarjana untuk orang tua. Akhirnya himpitan finansial dan rasa enggan saya untuk meminta uang ke orang tua membuat saya mengambil langkah taktis.

Saya menjual motor saya.

Hasil penjualan motor saya gunakan untuk keperluan mencetak skripsi, membayar keperluan wisuda, dan sedikit untuk biaya hidup. Bisa dibilang saat itu saya benar-beanr terjepit. Biarlah, asalkan gelar sarjana bisa saya jadikan untuk oleh-oleh.

Sejujurnya saat itu saya juga sedang cemas-cemas nya. Setelah lulus, saya mau kerja jadi apa ya ?


Saya tidak tahu apakah ini kebodohan, jenius, atau ceroboh.

Di antara himpitan finansial yang saya alami pada masa-masa akhir studi, saya memutuskan untuk merintis usaha!

Adalah seorang Motivator bernama Ippho Santosa yang secara tidak langsung membuat saya berani memulai bisnis. Sebelumnya saya sudah banyak membaca buku-buku beliau. Dan dalam suatu seminar bertajuk “ 7 Keajaiban Rezeki “ , saya rasa saya tertular virus nekat berwirausaha.

Alasan pemilihan bimbel pun cukup klasik, saya  ingin menjadi diri saya sendiri.

Mungkin banyak yang sudah tahu dan bosan mendengarnya, passion saya memang mengajar. Itulah alasan saya suka bekerja paruh-waktu sebagai pengajar bimbel. Itulah alasan saya kemudian memilih bimbingan belajar sebagai bisnis yang ingin saya mulai.

Bimbingan Belajar Salman Edukasi


Oh iya, bimbingan belajar Salman Edukasi bukan bisnis pertama yang saya jalani. Saya pernah menjalani MLM, jualan buku, nyebar brosur, percetakan kaos, penyewaan alat music, rumah makan, bisnis herbarium. Macam-macam bisnis dan profesi pernah saya jalani.

Memulai Salman Edukasi tidak gampang-gampang-susah, tapi susah-susah-gampang. Lebih banyak susahnya. Alasan utamanya karena saya baru merasakan kesulitan nya menjalani sebuah bisnis yang dirasa mudah tapi ternyata tidak. Berbagai aspek dalam berbisnis, yang mungkin saya gagal pelajari selama ini, ternyata menemukan medan penerapannya di Salman Edukasi.

Sejak memulai Salman Edukasi pula saya jadi rutin membaca buku-buku bisnis dan motivasi, ikut berbagai seminar, rajin sedekah dan meningkatkan ibadah-ibadah sunah. Saya merasa, sejak mulai menjalani Salman Edukasi pula saya terdorong untuk lebih meluangkan waktu untuk keluarga dan orang tua.

Saya beruntung menjalani hari-hari di Salman Edukasi bersama teman-teman baik; Aprilia Nurfitrianti, Mohammad Hindarto, dan Hanum Dhiani. Terkadang ada Iqbal Pirzada juga. Membangun bisnis dapat berlangsung lebih menyenangkan  

Boleh saya promosi bisnis saya ?

Untuk informasi dan pendaftaran silahkan hubungi nomor 021 9031 3941 / 27CB4E64 atau lihat berbagai info dan promo menarik di www.salmanedukasi.com dan twitter @SalmanEdukasi. Akun Facebook kami adalah “ Teman Belajar Mu “

3. Mengajar di Kelas Internasional Kurikulum Cambridge SMA Negeri 28.

Hidup memang penuh kejutan ya. Allah benar-benar sudah mempersiapkan semua.

Awalnya saya aga galau menjelang hari siding sarjana saya. Galau nya jelas akan melakukan apa setelah jadi sarjana. Dan sejujurnya saya merasa bahwa fresh man dari departemen Biologi tempat saya menempuh studi tidak berhasil men-encourage para junior atau teman seangkatan nya dalam bekerja atau meraih pekerjaan.

Yang saya lebih sering dengar, kalau saya tidak salah dan boleh jujur, adalah nada-nada minor para lulusan yang susah mendapatkan pekerjaan, tidak tahu ingin melakukan apa pasca kelulusan, atau terjebak dalam pekerjaan bergaji seadanya dengan jam kerja bersaing erat dengan buruh pabrik.

Mana tidak galau kita yang belum lulus kalau mendengar semua itu ?

Saya pribadi juga merasa bahwa sistem perekrutan fresh graduate cenderung tidak adil terhadap lulusan dari bidang ilmu MIPA. Jarang sekali lowongan pekerjaan yang mensyaratkan secara terang benderang membutuhkan lulusan dari MIPA. Paling banyak kalau All Major, itu berarti perusahaan membutuhkan pekerja lintas bidang ilmu.

Menarik apa yang salah satu teman saya bilang

Kita di bidang ilmu sains murni ini memang sudah harus menerima kodrat bahwa lulusan dari ilmu sains tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan bergaji besar. Relung kita memang di dunia riset dan pendidikan.

Sayang sekali di kedua dunia itu, nasib lulusan bidang ilmu sains murni pun terdengar lebih banyak murungnya.

Ah saya salahkan sistem saja deh. Lebih enak.

Eh tapi saya tidak ingin fokus kesitu.

Nah, sewaktu di depan ruang sidang, pada hari itu saya kembali memohon pada Nya. Saya memohon agar dapat menjalani pekerjaan sesuai passion saya namun dapat memberi saya kondisi finansial yang mencukupi serta waktu luang untuk beribadah dan menengok orang tua secara rutin. Lalu saya mensedekahkan sebagian besar uang sisa hasil penjualan motor ke Masjid UKHUWAH ISLAMIYAH (UI) untuk program Wakaf Al-Qur'an yang sedang mereka jalankan.

Bukan nya gugup menjalani siding sarjana, saya gugup terhadap masa depan yang akan saya jalani!

           Allah SWT memang sudah mengatur rezeki semua hamba-Nya, dari hewan melata dan burung yang berterbangan, hingga seluruh umat manusia segala ras dan agama. Alhamdulillah.

            Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan saya, lewat salah satu dosen pembimbing yang menghubungkan saya dengan salah seorang senior saya di departemen Biologi, saya mendapatkan tawaran untuk mengajar di SMA N 28. Tawaran mengajar ini tidak main-main. Saya diminta mengajar untuk program internasional.

           Sejujurnya saya tidak punya pengalaman mengajar di program internasional sebelumnya. Saya hanya pernah mengajar beberapa kali privat siswa-siswa yang mengambil progam internasional. Saya mengetahui dari situ bahwa terdapat dua program internasional yang umum diterapkan oleh lembaga pendidikan dunia. Pertama adalah Cambridge Curriculum dan yang kedua adalah International Bachelor (IB).

        Perasaan saya saat itu begitu excited, sekaligus begitu gugup karena akan menjalani tes mengajar langsung di depan para siswa. Namun, saya nothing to lose, saya hanya tinggal mempersiapkan sebaik mungkin, dan biarlah Allah yang menentukan. Rejeki gak akan kemana.

       Alhamdulillah. Setelah tes wawancara dan mengajar di kelas (dengan bahasa Inggris), saya dinyatakan lolos diantara para calon pengajar lain. Mulai bulan Juli pertengahan saya mulai mengajar di SMA N 28 hingga sekarang dan Insha Allah dalam beberapa tahun mendatang. Sewaktu mengajar itu, bisa dibilang saya masih berstatus sebagai mahasiswa. Saya baru diwisuda pada bulan September.
 

           Dan, salah satu yang terbaik dari profesi ini, jam kerja nya cukup lowong untuk saya melakuka banyak hal lain; mengurus dan membesarkan Salman Edukasi, melakukan solat dhuha, dan tentu saja menjengok orang tua sering-sering.

        Alhamdulillah, tahun 2013 berlalu dengan baik untuk saya. Saya berdoa agar kamu, dan kita semua dapat menjalani 2014 dengan Resolusi Kecil masing-masing dan menutupnya dengna Kaleidoskop besar di akhir tahun. Aamiin.


















Thursday, August 8, 2013

(Kalau) Ditinggal Para Pendatang, Kota Depok Bisa Sepi Juga Ternyata

0 comments


Di sela meramaikan malam takbiran di kampung halaman saya si Pekalongan, saya menyempatkan diri menggunakan Blackberry melihat salah satu web berita favorit saya; Republika Online. Saya membaca beberapa artikel yang ada di laman tersebut hingga terhenti di salah satu artikel yang menarik perhatian. Artikel itu berjudul “ Ditinggal Mudik Warganya, Depok Sepi pada Malam Takbiran “.

Saya seorang (mantan) mahasiswa Universitas Indonesia (UI) jurusan Biologi. Beberapa minggu lagi saya akan di wisuda. Kampus Depok Universitas Indonesia adalah salah satu landmark kota belimbing. Namun jika orang-orang ditanya apalagi yang mereka ingat dari kota Depok selain buah belimbing dan kampus UI adalah kemacetan di ruas-ruas jalan utamanya, seperti jalan Margonda, jalan Juanda, dan jalan Siliwangi yang menyangi kemacetan di ibukota.

Kemacetan di tiga jalan utama kota Depok ini bisa dibilang dapat terjadi sepanjang hari. Selain volume kendaraan yang memang cukup besar, salah satu sebab lain adalah banyaknya arus kendaraan masuk dan keluar mal dan pusat perbelanjaan. Depok memang terkenal memiliki cukup banyak mal dan pusat perbelanjaan. Tiga yang terkenal antara lain Margo City, Depok Town Square, dan ITC Depok.

Menjelang sore hingga malam hari, apalagi di akhir Minggu, jalan-jalan di Depok dapat dipastikan sedang mengalami kemacetan kendaraan yang cukup menjemukan. Saya jadi ingat kelakar teman saya bahwa bepergian di Depok, apalagi ke pusat-pusat perbelanjaan pada saat malam Minggu adalah ide buruk, karena alih-alih kita dapat berekreasi dan menghilangkan penat, kita bakal terlanjur tua dijalan.

Mengetahui bahwa kota Depok menjadi lebih sepi pada malam takbiran menyadarkan saya bahwa kota Depok, sebagai bagian dari wilayah Jabodetabek, adalah kota yang sebagian besar hiruk-pikuk nya “disebabkan” oleh aktivitas para pendatang. Sebagai contoh adalah di lingkungan kampus Universitas Indonesia, tempat saya menuntut ilmu. Sebagian besar teman saya adalah mahasiswa pendatang dari luar Jabodetabek. Tidak hanya itu, bahkan para pedagang makanan dan pedagang-pedagang lain yang biasanya berinteraksi dengan kehidupan mahasiswa adalah pendatang.

Ketika memasuki masa libur bulan Ramadhan, banyak mahasiswa akan mudik ke kampung halaman masing-masing, yang pada akhirnya akan diikuti oleh para pedagang yang notabene konsumen utamanya adalah mahasiswa. Cepat saja, Depok pun menjadi lebih sepi dari biasanya. Ketika para pendatang ini mudik ke kampung halaman, maka segala hiruk-pikuk pun dibawa dari kota-kota ini menuju jalur Pantura, atau jalur mudik lainnya. Saya jadi ingat salah satu kelakar tweet teman saya yang warga asli Jakarta “Lebaran adalah satu-satunya solusi kemacetan kota ini, sayang nya lebaran tidak datang tiap hari :’D”

Sebagian besar orang mungkin lega karena akhirnya bisa juga ada waktu saat tidak ada kegilaan kemacetan dirasakan. Namun, lama kelamaan toh saya percaya bahwa hiruk-pikuk itu nantinya akan dirindukan. Hiruk-pikuk yang menggerakkan ekonomi dan aktivitas sosial yang menjadi denyut nadi kota Depok, dan kota-kota lainnya.

Ah, saya juga nanti “pulang” ke Depok.
            
Sumber berita asli di Republika Online:


 

Saturday, October 27, 2012

Kaderisasi. Bagian 1

0 comments


Empat tahun saya menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI), sudah dua periode saya merasakan lembaga eksekutif mahasiswa UI (BEM) dipimpin oleh seorang mahasiswa dari fakultas saya; Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.  Pertama adalah Trie Setyatmoko (Tiko) yang menjadi ketua BEM UI tahun 2009 dan yang terkini adalah Faldo Maldini (Faldo), ketua BEM UI tahun 2012.  Tahun 2010, sebenarnya Tri Sutrisno Gauss juga mengajukan diri sebagai ketua BEM sayang kalah dalam jumlah suara raihan dibandingkan kandidat pemenang; Muhammad Imanuddin Abdullah. Beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa juga dipimpin oleh mahasiswa FMIPA, yang terbaru adalah Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya yang diketuai Ibnu Budiman, mahasiswa angkatan 2009.

Kaderisasi organisasi kemahasiswaan di fakultas saya memang cukup baik. Sejak mahasiswa baru (maba) masuk, berbagai organisasi dan kepanitiaan diperkenalkan dari awal. Berbagai mentoring dan pendampingan dilakukan sejak awal. Bahkan, untuk ketua organisasi di tahun kepengurusan selanjutnya, sudah digadang-gadang dari awal.

Saya ingat semua hal ini saya lalui sewaktu maba.

Seperti fakultas lain, setelah masa Orientasi Kehidupan Kampus di tingkat universitas, maka maba menjalani masa orientasi di tingkat fakultas; Pengenalan Sistem Akademin Fakultas (PSAF).   Sewaktu saya maba, OKK berlangsung selama 3 hari dan PSAF selama 5 hari.

Seperti maba kebanyakan, saya awalnya merasa kegiatan-kegiatan seperti ini tidak jelas manfaatnya.  Tugas yang entah apa maksudnya, pembuatan segala pernak-pernik kegiatan, segala orasi dan mars, diskusi kelompok, artikel, pelatihan aksi, motivation training berbagai tema, ditambah dilangsungkan waktu bulan puasa. Lengkap sudah alasan seorang maba untuk mangkir seseringnya.

Sewaktu PSAF, maba dari 6 departemen yang ada di fakultas saya; Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Farmasi (sekarang menjadi fakultas), dan Geografi dibagi menjadi kelompok-kelompok. Dalam kelompok-kelompok tersebut, mahasiswa mendapatkan tugas-tugas yang harus mereka kerjakan selama PSAF berlangsung.  Beberapa hal yang umum dijadikan sebagai tugas kami adalah esai mengenai alasan masuk departemen masing-masing dan target kelulusan, dan apa yang akan dilakukan setelah lulus.  Maba juga ditugaskan membuat artikel dengan tema yang sudah ditentukan, tugas wawancara civitas academica di fakultas, dan biografi singkat tokoh teladan.

Khusus untuk wawancara, maba tidak hanya mewawancarai seniornya, namun juga dosen, satpam, bahkan pedagang kantin.  Diharapkan mereka dapat segera mengenal dengan baik lingkungan yang akan ada disekelilingnya selama 4 tahun atau lebih.  Dalam proses wawancara itu pula, maba bisa mendapatkan berbagai info mengenai pengalaman dan pengetahuan mengenai organisasi, jurusan yang dia pilih, kehidupan di fakultas kami, hingga berbagai pengalaman mengenai profesi atau riset yang dijalani seniornya.

Memang seperti yang sudah diduga oleh panitia, tidak ada atau sedikit sekali mahasiswa yang menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan dengan baik. Memang ada saja kelakukan dan alasan maba. Ada yang belum bisa beradaptasi lah, ketiduran lah, rumah jauh lah, sakit kambuhan lah, banyak kesibukan di luarlah, tidak bisa internetan lah, disuruh mengantar mama ke salon lah, laptop rusak lah, dan ratusan alasan lain yang masuk akal maupun mengada-ada, yang sungguhan atau dibuat-buat dengan lihai ala maba.  Saya tahu ini karena tidak hanya pernah menjadi maba, pada tahun kedua,ketiga, dan keempat saya melibatkan diri di kepanitiaan PSAF.     


Kalau dulu alasan saya apa ya, hmm. Saat tugas membuat Scrap Book saya tidak selesai, saya bilang kepanitia kalau saya kehabisan kardus karena di kukusan, tempat saya ngekos, seluruh kardus di warung-warung diborong oleh mahasiswa, yang juga untuk buat Scrap Book.  Kalian sudah tahu kan ya apa itu Scrap Book ?

Ketika tugas mewawancarai ketua lembaga saya tidak lengkap, saya beralasan kalau salah satu ketua lembaga yang seharusnya saya dan teman-teman wawancarai tidak bisa saya temui saking sibuknya.  Saya yakin kakak yang satu ini bakal jadi orang penting negeri ini karena dia sudah punya salah satu syarat, (sok) sibuk luar biasa.


Ketika saya kepergok datang ke kampus naik ojek, saya pun punya alasan. Saya bilang karena saya ketinggalan kemeja putih, yang harus saya kenakan hari itu, maka saya pulang ke rumah. Karena saya harus datang ke kampus paling lambat jam setengah tujuh pagi, dan saya tidak diizinkan naik kendaraan pribadi atau diantar orang tua, dan karena saya sarapan dulu dan karena Jakarta macet luar biasa, dan karena-karena yang lain maka saya pun terlambat datang ke kampus.  Semua hal ini saya sampaikan ke senior panitia, yah, senior dalam hal-hal seperti ini selalu benar, tapi yang namanya alasan, itu juga selalu benar. Jadi karena kita berdua merasa benar, kesimpulannya ya tetap saja saya dihukum. Kan saya yang waktu itu berstatus maba

Ngomong-ngomong soal dihukum, selama 5 hari pelaksaan PSAF, saya menjadi “terhukum” dan “dipertontonkan” di depan teman lain seangkatan sebanyak 4 kali. Bayangkan, 5 hari pelaksanaan kegiatan, 4 kali saya maju ke depan panggung dengan berbagai alasan. Saya memang bukan maba teladan. Tentu saja suasana saat itu “cukup tegang” karena sesi seperti ini selalu dilaksanakan ketika panitia dari komisi disiplin (komdis) sedang melaksanakan tugasnya.  Tugas yang mereka lakukan dengan begitu bersemangat.  Mendetensi adek kelasnya sampai tegang.

Tapi saya tahu kalau apa yang dilakukan senior-senior di panitia komdis ini hanyalah suatu peran.  Mereka sesuai namanya memerankan para penegak disiplin. Yang mereka tegakkan adalah semangat dan antusiasme kami maba yang masih seperempat-seperempat (karena tidak sampai setengah-setengah), loyo, klemer-klemer dan ogah-ogahan.  Saya pernah juga jadi panitia komdis di PSAF 2010, waktu itu saya rasa saya cukup galak juga. Hehe.


Kami maba dikumpulkan di aula utama gedung B.  Gedung B adalah gedung yang paling jelas terlihat dari samping jalan kalau kamu melewati FMIPA UI, lurus dari taman selamat datang dan kawasan DPR.  Bukan, bukan DPR Dewan Perwakilan Rakyat (siapa) yang ada di senayan, DPR FMIPA UI adalah suatu kawasan tempat sebagian besar aktivitas mahasiswa diluar perkuliahan terjadi.  DPR adalah kepanjangan dari Dibawah Pohon Rindang. Entas siapa pencetusnya pertama kali.

Kalau kamu sempat ke fakultas kami, kawasan DPR ditanda dengan beberapa pohon beringin yang tumbuh di sana-sini dan banyak aktivitas mahasiswa dilakukan, mulai dari janji bertemu kekasih, diskusi tugas dan ujian, bermain musik sore hari hingga persiapan aksi ke bundaran HI. 


Di dalam aula utama gedung B, yang memang tidak terlalu luas, maba melalui rangkaian acara PSAF nya.  Jumlah maba, yang pada tahun angkatan saya saja sudah mencapai 550 sesungguhnya sudah membuat aula utama terasa sesak. Dipastikan maba peluh berkeringat walaupun dengan AC menyala disana sini. Dilaksanakan bulan puasa, diadakan di aula utama, dipandu komisi disiplin nan setia, menjadikan PSAF kami begitu “bermakna”.

Ada sisi positifnya departemen Farmasi menjadi fakultas, aula utama menjadi tidak terlalu penuh saat kegiatan PSAF.  Sebagai informasi, mahasiswa Farmasi bisa mencapai 150 orang tiap tahunnya. Tadinya sih saya pikir dengan tidak adanya mereka di PSAF kami, maba setidaknya sekarang bisa lebih menselonjorkan kakinya saat kegiatan berlangsung, yah biar lebih santai, tapi ternyata kebijakan baru adanya kelas parallel di semua departemen menyebabkan jumlah maba tidak terlalu berbeda. Maka aula utama tetap begitu penuh.

Memang tidak semua kegiatan dilangsungkan di dalam aula utama, beberapa kegiatan diadakan secara outdoor, misalnya pelatihan aksi massa.

Pelatihan aksi biasanya diadakan di lapangan olahraga fakultas.  Di tempat ini kami mahasiswa abru satu fakultas akan dipandu dalam menjalani aksi massa yang mungkin kelak kita lakukan. Di sesi ini maba akan mempelajari bagaimana sebuah aksi berjalan, membuat pagar manusia (border) yang kuat, mengatasi aksi represif aparat, dan juga orasi.  Maba satu angkatan dituntut untuk solid, saling bahu membahu dan menjaga selama aksi berlangsung, tidak terpancing provokasi dan tetap beraksi secara elegan.  Biar bagaimanapun, kita adalah mahasiswa Universitas Indonesia.

Sesi ini diakhiri dengan evaluasi panitia PSAF untuk kami maba selama kegiatan dilangsungkan. Yah, yang namanya maba, tentu saja kami dibilang belum maksimal menjalani rangkaian kegiatan dan diminta memperbaiki diri selama berkuliah di fakultas ini.  Alhamdulillah, kami maba senang sekali masa orientasi di tingkat fakultas ini akhirnya selesai.  Lega rasanya besok tidak lagi bertemu dengan senior komdis yang setulus hati marah sama kami saban hari.


Di hari terakhir ini pula dipilih ketua angkatan fakultas.  Ketua angkatan fakultas bersama ketua angkatan di tingkat departemen berperan memimpin maba terutama dalam beberapa kegiatan di awal-awal masa kehidupan kampus kami.  Suatu kesempatan berharga didapatkan maba yang menjadi ketua angkatan memimpin orang-orang dari berbagai latar belakang.
Di kemudian hari, orang-orang terpilih ini memilik peran yang besar dalam melanjutkan estafet kepemimpinan dan jalannya roda kemahasiswaan di fakultas saya, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.