Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Saturday, September 1, 2012

Aku dan Kucing Kosan

0 comments
Di usia yang ke 25 ini, aku adalah gambaran umum penduduk Indonesia usia produktif.
           
Lulus dari dunia kampus, seperti kebanyakan sarjana di negeri ini, aku pun menjadi bingung akan masa depan.  Kampus sudah menjadi zona nyaman bagi pemuda-pemuda seperti ku.  Kuliah, mengerjakan tugas, pulang ke kosan, makan, menerima kiriman uang, pacaran adalah rutinitas kami.

 Lalu cepat saja tahun berlalu dan masa-masa itu terlewati.  Skripsi dan wisuda menjelang, tapi kami mahasiswa tidak juga mengetahui apa yang akan ada setelah itu.  Kami dipaksa terjun ke dunia yang belum terlalu kami kenal.  Ternyata empat tahun pendidikan di kampus tidak memberi kami cukup bekal yang berarti !.
           
Dalam kondisi seperti itu, sebagian besar dari kami mengambil kesempatan terdekat, teraman, dan tercepat yang bisa diambil.  Potensi penghasilan dan iming-iming berbagai tunjangan menjadi mantra penggoda.  Akhirnya seorang sarjana pertanian tersasar bekerja di bank, atau sarjana ekonomi kepincut mencari nafkah di partai politik. Tidak heran swasembada pangan hanya akan jadi impian.  Tentu saja politik kita penuh dengan hitung-hitungan untung rugi.

Tidak ada itu idealisme atau segala tetek-bengek orasi yang kami dengungkan dan telan saat jadi mahasiswa. Yang ada adalah urusan perut dan lima sentimeter dibawahnya.  Cari makan lalu cari pasangan kawin lalu meninggal dunia.  Habis perkara.
           
Kondisi ku pun sebenarnya tidak berbeda jauh.  Bingung akan masa depan seorang lulusan departemen fisika, aku kalang kanbut melamar pekerjaan di berbagai tempat.  Mulai dari televisi swasta, bank-bank hingga perusahaan pemerintah, semua aku kirimi berkas lamaran.  Beberapa bahkan aku datangi secara langsung. Hasilnya nihil.  Televisi swasta ternyata tidak punya tempat untuk seorang lulusan fisika.. Mungkin kalau dia ganteng dan camera face bisa dipertimbangkan, tapi aku tidak ganteng. Bank-bank lebih menyukai merekrut sarjana pertanian, mereka lebih gampang diatur.  Lembaga pemerintah merekrut kroni-kroninya saja, kecuali dia punya koneksi atau sanggup bayar mahal.  Lembaga riset, tempat seharusnya seorang sarjana fisika berada, kembang kempis dan membayar murah ilmuwannya.  Masih ada ya yang mau dibayar murah dengan gombalan manis seperti pengabdian untuk kemajuan riset bangsa dan negara ? bah.
           
Atas ajakan seorang teman, aku pun mengajukan lamaran di sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel).  Tidak rumit prosesnya, tiga hari setelah mengajukan lamaran, aku langsung diterima sebagai pengajar.  Jadilah sejak itu aku mengajarkan fisika, ilmu yang aku pelajari selama empat tahun di kampus kepada siswa-siswa SMA ini.
           
Dalam segi bayaran, menjadi seorang pengajar bimbel sebenarnya cukup menguntungkan.  Kalkulasi ku seperti ini: jika seorang pengajar mengajar selama dua sesi sehari selama enam hari, maka bayaran yang dia dapatkan adalah Rp.2.400.000. Sebuah angka yang lumayan mengingat waktu yang diluangkan hanyalan selama 3-4 jam sehari.  Besaran Rp. 2.400.000 didapatkan dari tarif ku mengajar per sesi saat ini yaitu Rp.60.000.  Angka ini tentu bertambah ketika seseorang sudah menjadi pengajar yang lebih senior.  Tarif seorang pengajar senior bisa mencapai Rp.100.000 per sesi.
           
Kenapa ya tidak banyak yang memilih jadi pengajar bimbel saja ? tidak gengsi mungkin. Lebih mentereng kerja di televisi, bank, atau lembaga pemerintah.  Tapi tetap, sedikit sekali kebanggaan bekerja di lembaga riset negara ini selain niat tulus mengabdi. 
           
Angka Rp.2.400.000 itulah yang aku kantongi tiap bulan selama beberapa waktu ini.  Cukup lumayan untuk membiayai kehidupan di kota Depok.  Sisa waktu sehari setelah mengajar aku lakukan untuk bekerja yang lain, mulai menjual kaos dan kemeja batik, makanan dan minuman, hingga mengirimkan berbagai tulisan ku ke penerbit-penerbit.  Lambat laun aku bisa menabung cukup banyak.  Uang yang akan aku gunakan untuk memulai bisnis ku.  Biar bagaimanapun aku ingin berkeluarga juga.  Tidak mungkin aku nanti bisa membiayai hidup ku dan anak istri dengan mengajar saja. 
           
Selama fase hidup yang ini, aku punya teman setia yang selalu menemani.  Mereka adalah dua ekor kucing di kosan ku. Mereka adalah kucing generasi ketiga di kosan ku.  Empat tahun lalu waktu aku pertama kali ngekos disini, buyut dan nenek mereka sudah disini.  Lalu buyut mereka mati.  Kemudian diteruskan generasi kedua; nenek dan ibu mereka.  Sang jantan ? melakukan tabiat alaminya, setelah kawin ya kawin lagi.
           
Lucunya biar pun setiap kali sang induk melahirkan 3-4 anak nya, hanya satu yang dapat bertahan hidup sampai dewasa. Macam-macam penyebab kematian kucing-kucing ini, mulai dari dimangsa ayahnya sendiri hingga mati karena kedinginan saat tercebur ke selokan.  Sewaktu ibu dari dua orang kosan yang sekarang melahirkan empat orang anak, dua pun kemudian mati.  Jadilah kucing di kosan ini selalu berjumlah dua. Ketika dua orang anaknya beranjak dewasa, sang ibu kucing pun pergi, mungkin untuk kawin lagi, sama seperti jantannya.  Tabiat kucing memang dimana saja, jantan betina sama saja, senang sekali kawin. Berarti manusia yang gemar sekali kawin tidak jauh berbeda dengan kucing. 

Mereka bukanlah kucing dari ras yang istimewa.  Tidak mungkin mahal harga mereka.  Mereka hanya kucing kampung, yang kebetulan hidup di kosan di pinggir kampung ini.  Rambut mereka tidak lebat.  Wajah mereka juga tidak bulat.  Jauh dari menggemaskan. Yah, seperti layaknya kucing kampung, yang kita lihat di jalan atau pasar ikan.  Tapi mereka memang cukup lucu.

Kucing Kampung di Kosan Mu ?
Kucing-kucing kampug di kosan ku ini begitu setia.  Pola hubungan aku dan kucing-kucing ini sederhana, tidak ribet dan jauh dari stres. Ketika deru motor ku terdengar saat aku pulang ke kosan, mereka pun berdatangan menghampiri ku.  Mereka begitu untuk satu tujuan; berharap diberi makan.

Aku tidak memperlakukan mereka secara khusus.  Tidak aku mandikan apalagi bawa mereka ke salon.  Hanya memberi makan, itu pun bergantung akan keuangan ku.  Ada kalanya mereka tidak makan karena aku pun kekurangan makan di akhir bulan.  Tapi, mereka toh tidak protes. 

Pada awalnya aku memberikan sisa makanan ku pada mereka.  Kalau aku makan dengan lauk ayam, maka jadilah mereka makan tulang ayam.  Ketika aku makan dengan lauk ikan, maka menu makanan mereka adalah kepala ikan.  Walaupun makanan sisa, toh mereka tidak pernah protes.  Mereka makan dengan lahapnya. 

         Lambat laun, seiring dengan meningkatnya taraf hidup ku,  makanan mereka pun ikut meningkat kualitasnya.  Setelah sebelumnya hanya makan apa yang aku sisakan, sekarang aku beri mereka ikan yang dicampur nasi dari warung tegal.  Bukan makanan sisa, benar-benar nasi dan ikan yang baru.  Tampaknya mereka senang sekali. 

Suatu kali aku terpikir untuk memberikan mereka makanan yang lebih layak.  Atas saran seorang teman, aku belikan mereka biskuit kucing. Makanan sama yang dimakan kucing ningrat yang berambut lebat dan berwajah bulat itu.  Ketika diberikan makan, suara mereka saat mengunyah yang kriuk-kriuk itu asik sekali terdengarnya. Pasti mereka begitu menyukai makanan mereka yang mahal ini.

Sering mereka masuk ke kamar, menemani aku saat menulis atau memeriksa tugas para siswa. Yang mereka senangi adalah tidur di kasur saling bertumpuk berdua. Sungguh adik kakak yang kompak.  Mereka memang teman yang sangat mengerti kondisi ku. Tahu aku sering tidak bisa tidur di kasur, mereka membuat aku tidur di karpet. Sesekali aku bermain dengan mereka, sekedar menghilangkan penat. Waktu-waktu ku dikosan memang sebagian besar ditemani mereka.
           
Beberapa saat setelah diberi biskuit kucing, kedua ekor kucing ini terserang pilek berkepanjangan.  Penyakit ini juga menyebabkan nafsu mereka turun dan rambut mereka rontok.  Aku khawatir karena mereka sama sekali tidak ingin makan walaupun pernah aku ganti dengan makan awal mereka; ikan dan nasi campur ala warung tegal.         
           
Berbekal honor ku sebulan mengajar, aku bawa mereka ke dokter hewan.  Sungguh mahal sekali pengobatan mereka, mengalahkan biaya ku ke puskesmas saat sedang sakit.  Memang ada kalanya hewan lebih berharga daripada manusia.  Dokter hewan bilang aku sudah terlambat.  Mereka terserang infeksi saluran pencernaan.  Penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah biskuit kucing itu.  Mereka tidak terbiasa dengan makanan ini.  Memang sekalinya kucing kampung, akan tetap kucing kampung      

Aku seharusnya menyadari bahwa kodrat illahi mereka adalah kucing kampung.  Sedangkan kodrat biskuit kucing ini  tidak untuk kucing kampung.  Biar bagaimana pun aku telah menyangkal kodrat keduanya.  Aku sedih sekali. Ini bukan soal bagaimana mereka bisa meningkatkan diri menjadi kucing ningrat misalnya.  Mereka tidak seperti manusia, mereka tidak dikaruniai kemawasan diri seperti itu.  Mereka adalah makhluk yang diciptakan untuk makan, setia pada majikan dan kawin. Berarti manusia, yang tidak mau berusaha meningkatkan nilai dirinya tidak ada bedanya dengan kucing kampung.  Mereka hanya layak makan ikan campur nasi ala warung tegal lalu kawin.

Monday, August 13, 2012

Hari-Hari Terakhir Kerajaan Duragonia. bagian 2.

1 comments
Kejadian tersebut malah menjadi momentum munculnya Gerakan Perlawanan secara nasional di seantero wilayah kerajaan.  Pemberontakan itu terjadi di hampir seluruh provinsi, bahkan di ibukota kerajaan, Astium.  Perlawanan rakyat yang selalu dihadang tentara bersenjata ini membuat rakyat kemudian mempersenjatai diri.  Milisi-milisi di bentuk di berbagai wilayah perlawanan.  Senjata didapatkan dari pasar gelap atau negeri-negeri yang memang mengambil keuntungan dari konflik ini.  Gerakan Perlawanan pun berubah menjadi perang saudara. Aksi unjuk rasa berubah jadi medan pertempuran. 

Dalam setiap pertempuran yang terjadi, tentu saja terjadi korban jiwa dari kedua belah pihak.  Ketika korban jiwa mencapai angka ratusan ribu jiwa, berbagai kerajaan dan negeri di Bumi Gaia pun mulai bereaksi.  Ada pihak yang Kontra terhadap kerajaan karena responnya yang kejam dalam mengatasi gerakan rakyat ini.  Ada juga yang Pro yang beranggapan bahwa gerakan rakyat ini pasti ditunggangi oleh pihak asing yang ingin mengambil keuntungan dari konflik di Kerajaan Duragonia.  Yang jelas adalah, sebenarnya kedua belah pihak memilki berbagai kepentingan di dalam Kerajaan Duragonia. Itu adalah atas sumber daya alam utama negeri itu, minyak.

Konflik akan menyebabkan harga minyak dari Kerajaan Duragonia melambung tinggi.  Padahal Kerajaan Duragonia adalah pemasok utama minyak di Bumi Gaia.  Minyak adalah energi utama yang digunakan manusia di Bumi Gaia.  Kalau konflik berakhir dengan kemenangan pihak kerajaan, maka yang Pro akan mendapat keuntungan karena kontrak ladang minyaknya dipastikan aman.  Di sisi lain, kalau kemenangan di dapatkan pihak perlawanan, maka yang Kontra akan mendapatkan kesempatan untuk memajukan proposal pengelolaan minyak kepada pemerintahan baru yang terbentuk.  Itulah kenapa muncul dugaan bahwa pemasok senjata pada Gerakan Perlawanan adalah dari pihak yang Kontra.

Pihak yang Pro maupun Kontra toh tidak melakukan sesuatu yang berarti untuk mengubah keadaan.  Berbagai konferensi, sidang majelis tinggi, seminar para akademisi hanyalah omong kosong untuk sekedar menunjukkan keprihatinan.  Pengiriman pengawas perdamaian maupun tim pemantau Hak Asasi Manusia (HAM) sepertinya dilakukan atas dasar mempertinggi pamor negeri atau kerajaan masing-masing saja.  Korban jiwa tetap saja berjatuhan.
  
Raja Binsar tahu bahwa pihak-pihak ini tidak akan dapat berbuat apapun terhadap dirinya.  Hal ini membuat raja makin brutal untuk memberantas pemberontakan.  Raja Binsar terlalu berat untuk beranjak dari kursi tahtanya karena menjadi raja Kerajaan Duragonia memberinya begitu banyak kekayaan dan kemahsyuran.  Raja telah gelap mata karena tahta.
Apa yang perang beri
Sekarang, setelah setahun lebih pemberontakan berlangsung, Raja Binsar harus melakukan sesuatu.  Pemberontakan telah memakan tidak hanya korban jiwa yang besar namun juga dana yang tidak sedikit.  Belum lagi segala kerusakan yang terjadi.  Disaat pemberontakan tidak pernah surut, para loyalis kerajaan sudah nyaris putus asa dan merasa semakin berdosa.  Biar bagaimanapun, yang mereka perangi, yang mereka bunuhi, adalah juga rakyat mereka. Saudara-saudara mereka.

Beberapa minggu lalu, Dewan Agung Militer sudah menyetujui dekrit berisi diambilnya tindakan apapun oleh raja untuk menghentikan pemberontakan.  Tindakan apapun itu terbebas dari konstitusi yang berlaku maupun perjanjian internasional yang disepakati. Dengan kata lain, sekarang masa depan Kerajaan Duragonia ada di tangan Raja Binsar seorang. 

Bah, Jenderal-jenderal sialan. Cuci tangan sekarang kalian ? umpat raja dalam hati sehabis menandatangani dekrit.

Rakyat merespon berlakunya dekrit dengan melakukan serangan bersenjata di berbagai wilayah secara serentak. Kerajaan Duragonia semakin luluh lantak.  Kobaran api terjadi di berbagai wilayah. 
... … …

Notabene nya, Raja Binsar memang sekarang memerintah sendirian, karena Perdana Menteri Sarif sudah membelot jauh hari sebelumnya.  Karena itulah, tanpa dekrit pun segala keputusan pemerintahan ada di tangan raja seorang.

Segera setelah dekrit keluar, sisa-sisa tentara kerajaan dikerahkan menggempur wilayah-wilayah basis pemberontakan.  Didukung peralatan perang yang lebih maju,mereka bergerak dengan tujuan satu, membabat habis pemberontakan.

Entah berapa peluru, bom, roket yang ditembakkan.  Gedung-gedung luluh lantak.  Rumah-rumah rata dengan tanah.  Korban jiwa sudah tidak jelas apakah dari pihak Gerakan Perlawanan atau rakyat sipil biasa.  Bahkan pihak pemantau dari negeri luar dan para wartawan peliput perang turur menjadi korban.

Pada titik ini, atas dasar nilai-nilai kemanusiaan, Bumi Gaia akhirnya merespon dengan satu suara. Tidak ada lagi pihak Pro dan Kontra.  Tidak mungkin menjadi pendukung dari sebuah aksi pemusnahan missal manusia. Mereka kemudian memutuskan dengan suara bulat pembantaian di Kerajaan Duragonia harus dihentikan.  Raja Binsar harus dienyahkan.

Pasukan Gabungan antar negeri pun dibentuk. Jumlah dan persenjataannya tidak terkira.  Negeri-negeri tetangga Kerajaan Duragonia pun dengan mudah memberi akses masuk ke wilayah mereka.  Segera saja, Pasukan Gabungan membanjiri wilayah Kerajaan Duragonia untuk menyerang balik tentara kerajaan dan menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan dari kerajaan ini…

Satu persatu kota direbut kembali. Basis-basis militer kerajaan dihancurkan.  Tentara kerajaan lambat laun dipukul mundur, hingga tersudut di ibukota kerajaan.
… … … … …

Pada akhirnya, didukung oleh Pasukan Gabungan, Gerakan Perlawanan pun akhirnya berhasil menembus pertahanan istana.  Tujuan mereka adalah ruang tahta Raja Binsar.  Para penjaga istana yang melawan dibunuh, yang menyerah menjadi tawanan.  Memang lebih banyak tentara yang menyerah akhir-akhir ini. Tampaknya mereka tahu kemana angin kemenangan berhembus. Kerajaan Duragonia telah memasuki masa-masa kejatuhannya.

Gerakan Perlawanan terus merangsek masuk ke Istana, lantai demi lantai dikuasai. Teriakan-teriakan kemenangan di pekikkan, lagu-lagu kebebasan dinyanyikan.  Di dalam ruang tahta, Raja Binsar gemetar ketakutan.

Bahkan seorang tiran pun punya rasa takut.

Pintu ruang tahta digedor. Para pemburu tahu Raja Binsar sedang berada didalamnya.  Sang raja tiran tidak punya pilihan, dia tahu tidak ada pengadilan, tidak akan ada pengampunan dari para pemberontak ini.  Mereka akan senang hati menggantung nya dan menyeret jenazahnya keliling kerajaan.

Saat itulah, di detik-detik akhir kehidupannya, Raja Binsar membuat keputusan penting.  Daripada mati hina ditonton seluruh negeri Raja Binsar memilih akhir ceritannya sendiri, dia melompat dari balkon, dan mati dengan tubuh hancur di taman berpuluh meter dibawahnya.  Membawa hari-hari akhir Kerajaan Duragonia pergi bersamanya.
… … …

Hari itu, Kerajaan Duragonia resmi dibubarkan.  Republik Duragonia terbentuk sebulan kemudian dipimpin jenderal Arbad dan Sarif sebagai presiden dan perdana menteri pertama.  Namun, sumber daya alam negeri ini tetap saja dimiliki oleh negeri-negeri lain.

Saturday, August 11, 2012

Hari-Hari Terakhir Kerajaan Duragonia

0 comments
BAGIAN 1

            Pada suatu pagi, Raja Binsar sedang duduk termenung di kursi malas kesayangannya.  Menatap indah taman istana berpuluh meter dari balkon ruang tahta.  Kopi dan nasi goreng yang menjadi sarapannya sama sekali tidak tersentuh.  Raja Binsar tampak sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
            Sudah lebih dari setahun pemberontakkan di Kerajaan Duragonia berlangsung. Rakyat Kerajaan Duragonia dari berbagai propinsi terus melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Raja Binsar.  Entah sudah berapa medan perang digelar di berbagai wilayah yang bergolak.  Sudah ribuan tentara dikerahkan dan jutaan peluru ditembakkan, dan entah sudah berapa banyak nyawa melayang, rakyat maupun tentara, namun pemberontakkan tidak juga surut.  Raja menyebutnya pemberontakkan, untuk rakyat ini adalah Gerakan Perlawanan.
            Ratusan orang pemimpin pemberontakkan sudah dipenjarakan sebagai tahanan politik.  Hampir semua penjara di Kerajaan Duragonia sekarang dipenuhi oleh para pemberontak, bukan lagi penjahat kriminal biasa.  Namun, entah mengapa untuk setiap satu orang yang dipenjarakan, selalu muncul dua orang pemimpin pemberontakkan yang baru.
            Raja Binsar menangani pemberontakkan ini dengan cara yang bisa dibilang kelewat kejam.  Tidak ada pemisahan antara sipil maupun milisi, selama mereka mendukung Gerakan Perlawanan terhadap raja, maka akan diberantas.  Kalaupun seseorang itu netral, dia bisa saja ikut menjadi korban dalam suatu serangan yang dilakukan.  Tidak ada bedanya entah dia anak-anak, dewasa, orang tua, wanita maupun lansia, rakyat yang melawan akan diberantas.  Tidak ada waktu tertentu dalam pemberantasan pemberontakan ini, bahkan serangan oleh tentara kerajaan juga dilakukan pada saat rakyat melakukan ibadah atau saat sedang tidur terlelap.    
            Akibat kekejaman itu pulalah kemudian beberapa pembesar Kerajaan Duragonia yang masih memiliki nurani membelot dari Raja Binsar.  Yang paling terkini, pemimpin besar angkatan udara Kerajaan Duragonia, Arbad, bersama dengan sebagian tentara angkatan udara yang setia padanya, melakukan pembelotan. 
Hal ini terjadi ketika perintah Raja Binsar untuk melakukan pengeboman ke suatu wilayah pemberontak ditugaskan kepada angkatan udara kerajaan.  Arbad mengetahui bahwa wilayah yang menjadi target pengeboman hanyalah sebuah wilayah miskin yang dihuni oleh kaum pekerja dan pensiunan.  Tidak pernah ada bukti bahwa di wilayah itu ada kaum pemberontak.  Arbad pun menyampaikan ini kepada Raja Binsar.  Namun, Raja Binsar tidak berkenan sedikitpun untuk mendengarkan penjelasan Arbad.  Keputusan raja tidak bisa diubah.
Maka terjadilah, pada suatu malam, satu skuadron kecil pesawat tempur yang dipimpin langsung oleh Arbad menuju wilayah target.  Namun, bukannya melakukan pengeboman di wilayah yang dimaksud, Arbad bersama skuadronnya malah menuju arah negeri tetangga, Libera.  Diketahuilah kemudian bahwa Arbad sudah merencanakan pembelotan ketika Raja Binsar memutuskan untuk melakukan pengeboman.  Arbad lewat jaringan yang dimilikinya menghubungi Republik Libera untuk menyusun siasat pembelotan. 
Republik Libera adalah salah satu kerajaan di Bumi Gaia ini yang mengecam keras kebrutalan Raja Binsar memimpin Kerajaan Duragonia.  Konon malah, Kerajaan Libera ikut memasok senjata dan logistik untuk Gerakan Perlawanan.
            Sikap kerajaan-kerajaan di Bumi Gaia berbeda-beda dalam menyikapi apa yang terjadi di Kerajaan Duragonia.  Yang menentang, seperti Kerajaan Libera, menuntut Raja Binsar segera turun tahta dan menyelenggarakan pemilihan pemimpin baru secara demokratis, dan menghapuskan sistem kerajaan.  Raja Binsar mewarisi tahta dari ayahnya, Raja Akinsa.
Sama seperti Raja Binsar, Raja Akinsa juga memimpin Kerajaan Duragonia dalam waktu yang sangat lama. Hampir setengah abad Raja Akinsa bertahta.  Raja Akinsa juga memimpin dengan tangan besi.  Pada masanya, Raja Akinsa berhasil menjadikan Kerajaan Duragonia menjadi negeri yang kaya makmur dan aman sentosa.  Rakyat memang tercukupi kebutuhan hidupnya, namun tidak pernah ada kebebasan berpendapat apalagi demokrasi.  Segala hal berjalan sesuai pendapat Raja Akinsa. 
Rakyat pada masa itu tidak berani melawan karena hukuman untuk rakyat yang melakukan itu sangat lah berat.  Sebagai contoh, pernah ada seseorang yang menulis di surat kabar tentang dugaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dikalangan keluarga kerajaan dalam penguasaan bidang bidang bisnis tertentu.  Tidak berapa lama kemudian, sang penulis dan satu-persatu keluarganya diberitakan tewas secara tidak wajar karena kecelakaan tragis, kebakaran, hingga gantung diri.
Semua Salah Kapitalisme ?
            Yang tidak banyak diketahui khalayak adalah segala kemakmuran Kerajaan Duragonia saat itu berasal dari  berbagai mekanisme hutang berbagai pihak dari luar negeri.  Entah berapa macam lembaga yang berkedok lembaga donor, lembaga kebudayaan, hingga negeri sahabat menawarkan berbagai macam skema “ kerjasama “ . Sesungguhnya yang terjadi adalah lembaga-lembaga maupun negeri-negeri tersebut kemudian mencengkeram Kerajaan Duragonia dari berbagai aspek.  Ekonomi, sosial, politik, keamanan, budaya, pendidikan, hingga olahraga diatur oleh mereka.
Sebagian besar sumber daya alam Kerajaan Duragonia sudah dikelola (baca: dimiliki) oleh pihak asing.  Tidak terhitung berapa perusahaan asing yang menguasai hajat-hajat hidup orang banyak tersebut.  Kerajaan Duragonia hanya mendapatkan sebagian kecil sekali dari kekayaan alamnya ini.  Sebagian kecil yang memang cukup untuk membiayai kehidupan dalam taraf “ makmur “ . Padahal, jika saja semua orang mengetahui, sungguh betapa besar keuntungan berlipat-lipat yang didapatkan berbagai pihak asing ini dari “ menguasai” Kerajaan Duragonia.
Setelah mangkat, Raja Akinsa segera digantikan oleh anaknya, Raja Binsar.  Tidak banyak kondisi yang berubah saat itu, hanya saja, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, jauh lebih mudah untuk setiap orang mendapatkan akses berbagai informasi.  Lewat berbagai situs di internet, rakyat belajar dan mengetahui lebih banyak hal.  Berbagai –isme –isme kemudian sampai ke pemikiran rakyat.  Sekarang rakyat mengetahui bahwa ada sistem pemerintahan selain kerajaan.  Mereka mengetahui bahwa ada negeri di laut seberang barat bernama Amadea penganut –isme liberalisme yang dapat menjadi negeri yang maju luar biasa.  Ada juga negeri di Benua Besar, Xian, penganut sosialisme yang menjadi negeri makmur.
Dari internet pula rakyat Kerajaan Duragonia mengetahui sejarah bangsanya dari berbagai sumber yang berbeda, tidak dari pihak kerajaan.  Diketahui lah apa yang terjadi di masa-masa Kerajaan Duragonia dulu, tentang berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia, tentang perilaku korup anggota kerajaan, tentang besaran hutang yang ditanggung rakyat, dan tentang penguasaan sumber daya alam kerajaan yang hanya dinikmati segelintir orang.
            Lambat laun, terjadi akumulasi kekecewaan, amarah, dan frustasi pada diri rakyat Kerajaan Duragonia. Mulanya di berbagai kampus, diawali oleh orasi-orasi mahasiswa, mulai ada unjuk rasa daalam skala kecil memprotes pihak kerajaan.  Skalanya yang kecil membuat unjuk rasa seperti in dapat dengan mudah di bubarkan paksa tentara kerajaan. Namun, respon kerajaan membuat lebih banyak rakyat yang sadar bahwa sesuatu telah terjadi di kerajaan ini.  Sebelumnya memang tidak pernah sekali pun para mahasiswa turun ke jalan seperti ini.
Kabar pun menyebar, di pasar-pasar, di kampung-kampung, di masjid,di gereja, di kuil sesembahan, di kantor-kantor, bahkan di kalangan kerajaan.  Mengetahui hal ini, Raja Binsar mengeluarkan dekrit raja yang berisi pengaturan arus informasi di Kerajaan Duragonia yang lebih ketat dan selektif.  Berbagai situs di tutup.  Aktivitas-aktivitas warga yang sedang berkumpul di bubarkan karena khawatir menyebar isu tentang kerajaan.  Belum lagi, penggunaan televisi swasta dan pemerintah secara paksa untuk menyiarkan berbagai klarifikasi tentang isu yang beredar disisipkan dengan kebohongan keberhasilan dan kebaikan Raja Binsar.
Namun, sepertinya apa yang dilakukan raja sudah terlambat, ekskalasi massa malah membesar.  Terlebih setelah gerakan-gerakan perlawanan rakyat di negeri-negeri tetangga telah berhasil menggulingkan penguasa lalim.  Makin menggeloralah Gerakan Perlawanan di Kerajaan Duragonia. Unjuk rasa yang berlangsung makin diikuti lebih banyak orang.  Tidak hanya mahasiswa yang sekarang turun ke jalan, ada pedagang, ada para buruh, ada para penganggur, para professional, petani, nelayan, semua kalangan ada dalam massa protes. Hanya anggota kerajaan dan tentara yang setia pada mereka yang tidak turut serta.  Tuntutan gerakan ini adalah: turun tahtanya Raja Binsar dan bubarnya sistem kerajaan.
  Merespon hal ini, Raja Binsar menurunkan lebih banyak tentara, didukung berbagai peralatan berat; panser, tank, bulldozer… dalam suatu aksi unjuk rasa, saat massa menjadi sedemikian tidak terkendali, terjadilah bentrokan antara tentara dan rakyat.  Korban jiwa pun tak terelakkan.  Tentara menggunakan peluru tajam, tank dan bulldozer meratakan bangunan-bangunan… dan berbagai altileri ditembakkan, dari darat dan udara. 
 ... ... ... Bersambung