Saturday, February 5, 2011

CATATAN MERAH JAMBU bagian 3

Senin 31 januari 2011

Catatan Merah Jambu
Bagian 3
Torn

Sejujurnya, aku sedang malas menulis. Karena aku sedang malas, maka aku menulis. Jadi aku menulis agar aku tidak malas menulis. Menulis adalah obat untuk saat-saat malas menulis. Ah,terkadang betapa menyusahkan menjadi orang malas itu, kawan.
Selain itu, beberapa hari lalu, baru saja aku alami suatu kejadian yang membuat ku harus memeriksa dalam-dalam batin ku. Akhirnya apa yang aku simpan baik-baik itu aku sampaikan padanya juga. Kejadian itu membuatku menginstrospeksi begitu dalam, apakah aku sedang menjalani hal yang benar?
Tapi aku tidak bisa menceritakan apakah hal itu kepadamu.
Ah, sudahlah. Aku lupa. Seharusnya aku kan menulis tentang lanjutan Catatan Merah Jambu disini ya. Tentang hal barusan itu, kita simpan saja buat lain kali. Pembukaan tulisan ini yang begitu melantur, semoga tidak membuat mu jengah ya? Itu karena aku menulis saat sedang malas menulis. Anggap saja kau baru saja berperan sedikit menjadi pendengar lebih tepatnya pembaca “curhatan” ku dengan baik. Iya aku tahu aku egois… maafkan aku ya?
Ngomong-ngomong tentang “curhatan” salah satu teman ku bertanya, “Semua tulisan ini tentang apa sih Bas, diary lo ya?”. Aku juga merasa kurang tepat kalau disebut diary, karena pada kenyataannya memang bukan. Semua tulisan ku ini adalah hal-hal yang pada suatu hari terlintas di pikiran ku, lalu aku tuliskan itu di jurnal ku. Hal-hal yang terlintas itu, tidak selalu kejadian yang baru saja aku alami hari itu, dan menginspirasi ku menulis, tapi juga kejadian-kejadian yang telah lewat dalam hidupku, namun tersimpan begitu dalam kenangannya, dan terkadang keluar di saat-saat tertentu.
Ah, melantur lagi. Daripada kau biarkan aku melantur begini terus, aku tuliskan buatmu kawan, sepenggal lagi Catatan Merah Jambu. Semoga aku memberimu manfaat dari hal-hal yang aku tuliskan di notes-notes ku. Amin.
( iye gue juga tau. Notes kali ini panjang banget. Parah si Abas, males males malah ngerepotin orang baca gini! )

……………………..
Momen perpisahan dengan Cla di depan gerbang itu, entah mengapa mendekatkan aku dengannya. Setelah saling bertukar nomor hape, kami mulai sering saling berbalas pesan singkat. Tidak sering tentu, karena aku berusaha menempatkan diriku dengan benar. Aku takut, apa yang aku rasakan padanya saat itu, adalah perasaan yang salah. Lebih khawatir lagi kalau hubungan ku dengan Cla saat itu adalah hal yang juga salah. Bagaimana kalau dia sudah punya pacar? Sering terlintas pertanyaan itu, membuatku merasa gelisah setiap memikirkannya.
Hal-hal yang kami bicarakan lewat pesan singkat adalah hal-hal yang biasa. Seputar musik, sekolah, sampai apa bacaan favorit kami. Entah mengapa aku tak pernah tanya tentang pacar Cla itu. Terlalu takut sepertinya aku saat itu.
Tak pernah pula kami bertemu di sekolah. Tidak pernah secara sengaja maksudku. Pernah suatu hari saat aku mencuri waktu ditengah pelajaran untuk jajan ke koperasi sekolah, aku bertemu dia sedang duduk di bangku depan perpustakaan. Wajahnya menunduk serius menatapi lembaran-lembaran kertas. Tampaknya dia saat itu sedang mengerjakan suatu ujian
“Lho, Cla kamu sedang apa disini?” tanya ku saat itu .
“Oh, kak Abas, kirain sapa” yang ditanya tersentak kaget. “Aku lagi ngerjain soal ujian kimia susulan ka”.
“ Oh gitu, kok sendirian? Disini pula? Kenapa ga didalam kelas aja?”
“iya kakak, soalnya cuma aku yang belum ujian. Terus aku harus ngerjainnya disini kata bu Tini, soalnya dia mau bahas soal ujian ini didalam kelas” terang Cla.
“Memang Cla kenapa kok jadi ikut ujian susulan?”
“Iya, kakak, aku waktu itu sakit, mau maksain masuk buat ujian ga boleh sama mama. Jahat” kata Cla sambil memamerkan bibir cemberutnya.
“Hahaha, kok gitu. Itu kan berarti mamamu perhatian. De” kata ku berusaha menghibur. Mendengar Cla sakit rasanya ingin aku bertanya lagi, “sakit apa?” “Kamu udah berobat?” , “Jangan terlalu capek Cla.” Hingga “ingin ku bantu ujian mu?”. Tapi aku urungkan saja niat ku itu. Aku simpan baik-baik tanya-tanya itu dihati. Lagipula, bisa apa aku bantu ujian Kimia Cla? Nilai terakhir ujian Kimia ku sama pak Tohir saja cuma empat lima. Ah…
“Mycla C.S.P... hihi, kok kamu tulis namamu begitu sih? Memang boleh gitu sama bu Tini?” tanya ku geli setelah membaca nama yang tertulis di kolom isian pesrta ujian di lembar kertas Cla.
“Eh, iya. Hehe. boleh kakak aku kalau sama bu Tini. Ibu udah tau juga kok nama ku Maysheilla Chandra Sari Putri. Biar lucu aku tulis gini kak, Mycla C.S.P. lucu kan kak, lucu kaan? Hehe”
Iya Cla,kenapa kamu begitu lucu?. Kataku dalam hati. Wanita di depan ku ini membuatku ingin berlama-lama saja disini. Kalau tidak karena aku takut dicubit pinggul sama bu Wiwi guru Kewarganegaraan ku dikelas nanti, aku pasti bolos saja. Lagipula, sudah SMA begini kenapa seneng sekali bu Wiwi hukum kami dengan memberi cubitan dipinggul? Terlalu banyak membaca UUD 45, ternyata membuat seorang guru mengira, semua anak sekolah adalah selamanya anak kecil yang harus dididik dengan dicubiti.
“Iya, iya… hehe. yaudah, sukses ya Cla ujiannya. Aku harus masuk nih, nanti bu Wiwi ngambek” kata ku.
“Iiiih, kakak mau cabuut! Ya kan?”
“Engga Cla, kakak cuma keluar sebentar, terus mampir kekoperasi deh. Hehe. yaudah dada Cla” kata ku lagi seraya pergi dari situ
“Kakak bohong. Hehe. iya dada kakak” kata Cla sambil melambai-lambai tangan.
Aku pun kembali ke ruang kelas. Aku lupa, alasan ku keluar tadi kan mau jajan? Sudah repot-repot ijin ke bu Wiwi padahal. Ah tapi biarlah, toh dengan begitu aku malah bisa mengobrol dengan Cla.
Sesampainya di depan kelas ku, ternyata sudah dab u Wiwi menunggu depan pintu. Jangan-jangan dia tahu tadi aku bukannya ke toilet malah mengobrol dengan Cla? Ah sial, aku diantar duduk kembali di kursi ku dengan tangan bu Wiwi mencubit pinggul ku gemes. Teman-teman ku didalam kelas tertawa terbahak-bahak melihat aku dibeginikan. Nasib.

…………………………………..
Seminggu setelah kejadian cubit pinggul itu, pengumuman yang ditunggu-tunggu pun datang. Pengumuman tentang hasil audisi itu, dipajang di majalah dinding seberang ruang guru. Begitu kata teman sekelas sekaligus pemain drum ben kami, Latif. Saat itu dalam kelas sedang tidak ada pelajaran. Akhir masa semesteran seperti ini, entah kenapa kami malah sedikit ada pelajaran. Mungkin bapak/ibu guru sedang sibuk menyiapkan wisuda nanti.
“Bas, udah tau belum lo, pengumuman audisi hari ini dipajang di mading seberang ruang guru.” kata Latif dari meja sebelah. Tempat duduknya memang disebelah tempat duduk ku.
“Belum, baru tahu nih gue dari lo. Terus gimana, Tif, hasilnya?” tanyaku penasaran.
“Nah tuh dia, Bas, hehe. Ben kita salah satu yang lolos bas, dari tiga ben yang kepilih, hehe.” kata Latif terkekeh-kekeh. Aku tahu dia pasti begitu senang ben kami lolos audisi.
“Beneran? Hahaha. Keren kita keren!” kata ku ikut senang.
Saat itu suasana sedang riuh rendah. Ada yang sedang rame-rame main gitar di pojokkan kelas. Ada yang sedang duduk berpasangan sambil mengobrol lirih-lirih, merayu barang kali. Ada yang sedang asik membaca, bukan buku pelajaran tentu, mulai dari majalah olahraga, majalah cewek, sampai novel teenlit. Ada yang sedang mengerubung teman dengan hapenya, sambil tertawa cekikikan, jangan-jangan lagi lihat film bokep mereka. Tapi, saat itu ada juga teman-teman yang sedang mengaji juga ada. Ah, betapa aneh orang-orang di kelas kami ini.
Beberapa teman sekelasku sedang didepan kelas, mencoret-coret papan tulis sekenanya. Sisa teman ku yang tidak terlihat didalam kelas, pasti sedang ngeluyur kekantin, atah bahkan sudah pulang dari sekolah lebih cepat. Seperti si Ian, teman lain satu ben ku juga itu lho. Dia juga sekelas denganku saat itu.
“Siapa aja Tif ben kelas 2 yang lolos?” tanya ku lagi.
“Dari anak IPA, kita doang Bas. Dua ben lain dari anak IPS”
“Hahaha. Ga kebayang muka temen-temen kelas lain, jadi pengen liat sendiri” kami tidak bisa menyembunyikan rasa senang bisa memenangkan persaingan ini.
“Keren tuh si Sheilla, Bas. Kayanya karena dia kan kita bisa lolos kaya gini, dulu mah gue ga ngarep-ngarep amat Bas kita bisa lolos gini” kata Latif senang.
“Bener kan, ga salah pilihan gue…”
“Eh, Lo SMS anak-anak lain dah, kita ketemuan yuk dibawah. Didepan kelasnya si Cla sebentar lagi” pinta ku pada Latif.
“Oke. Oke. Sebentar…” kata Latif sambil mengeluarkan hapenya lalu mengetik pesan singkat.
Tidak lama kemudian, kami berdua menuruni kelas. KelasXI (Sebelas) IPA A kami ini terletak di pojokkan atas sebelah kanan, dekat dengan gerbang, tepat diatas ruang guru. Jadi, perjalanan kami ke bawah itu, melewati semua kelas IPA yang lain. Sepanjang perjalanan, kami bertemu teman-teman lain. Masing-masing kelas punya ben nya sendiri, terkadang lebih dari dua. Kabar lolosnya ben kami untuk acara wisuda nanti tampaknya sudah tersebar. Beberapa teman dari kelas lain memberi selamat. Namun, kami tahu saat itu ada juga yang lagi menahan gemes. Hehe. Sebagai satu-satunya ben dari kelas IPA yang lolos, kami tahu sepatutnya kami bangga. Tapi kami simpan saja kebanggaan itu, tunggu sampai wisuda nanti. Saat ini yang kami raih belum terhitung apa-apa.
Sesampainya di bawah, di teras depan ruang kelas Cla, kami berkumpul. Cla waktu itu kelas X-C (sepuluh C). Sambil meluapkan rasa senang sudah dapat lolos audisi. Saling bercerita bagaimana dulu masa-masa kami lama latihan ben tanpa punya vokalis. Ku ceritakan pula bagaimana ihwal pertemuan ku dengan Cla. Kebetulan yang tidak disengaja itu yang mungkin menjadi penyebab utama lolosnya kami di audisi ini. Setelah puas saling bersenda gurau, kami bicarakan langkah selanjutnya: akan membawakan apa kami sewaktu wisudaan nanti.
“Zombie aja, mau ga? Kita kan pernah tuh latihan lagu itu?” usul dari Latif saat itu. Dia menyebut suatu judul lagu dari ben The Cranberries itu.
“Mmm, boleh. Sekalian kita kan jadi ga perlu terlalu lama latihan ya, tinggal dua minggu lagi tampilnya…” sahut ku menerima usul dari Latif.
“Lo gimana Mas?” tanya ku pada Dimas.
“Iya, gue ikut aja ma kalian”. Kata Dimas malas. Lagi sakit mungkin dia.
“Kalo Cla kamu gimana?” sekarang Latif bertanya pada Cla.
“Iya kakak, aku mau nyanyi lagu itu” kata Cla.
“Oke, jadinya kita tinggal nunggu Ian aja nih, tuh orang kemana sih hari gini ga masuk?” Latif dongkol.
“Mmmm, nanti gue ke rumah dia deh Tif sekalian ke rumah lo” aku mengajukan diri, kebetulan hari ini aku akan ke rumah Latif. Rumah Ian dekat rumahnya, aku ajukan diri menemuinya karena aku tahu Ian dan Latif memang tidak terlalu dekat. Entah mengapa aku juga tidak tahu.
Setelah mengobrol lagi sejenak, kami pun beranjak dari depan kelas Cla. Hari itu aku memutuskan pulang lebih cepat. Lagipula memang sedang tidak ada pelajaran begini. Setelah zuhur, sekolah mulai lengang ditinggalkan siswa-siswinya.
…………………………
“Oh gitu ya Yan? Gue juga baru tau…” kata ku sendu, walau berusaha menutupinya di depan Ian. Saat itu aku sedang dirumahnya mengabarkan perihal hasil audisi kami dan apa yang kami lakukan. Pembicaraan pun berkembang menjadi hal-hal lain hingga sampai ke Cla ini.
“Iya, Bas. Dari SMP Cla pacarannya. Tempo hari waktu gue pulang bareng, Cla cerita begitu sama gue” kata Ian yakin. “Gue lupa siapa nama pacarnya itu, tapi ya Cla sering cerita gitu Bas setiap gue pulang bareng dia” Ian menambahkan.
Apa yang kudengar baru saja dari si Ian, membuat perasaan ku saat itu tidak menentu. Ternyata benar kan, Cla sudah punya pacar. Betapa bodohnya aku tidak mau mengakui hal sesederhama itu. Cla itu wanita yang menyenangkan, cantik, dan berbakat, hal mana yang menyangkal orang lain untuk menyukainya lebih dulu? Siapa aku tahu-tahu datang punya rasa seperti ini? Memamngnya aku bisa bersaing dengan orang lain untuk Cla?
Muncul juga rasa bersalahku. Jangan-jangan selama ini pun Cla menceritakan kedekatannya dengan ku ke pacarnya. Cerita apa dia ke pacarnya? Jangan-jangan aku jadi bahan tertawaan. Ah betapa mirisnya aku ini. Rasanya aku ingin langsung pulang saja lalu tidur, siapa tahu ini mimpi.
Terbersit iri dan sebuah perasaan aneh seperti persaingan mendengar Ian pulang bareng Cla. Ternyata si Ian ini bisa sedemikian dekat dengan si Cla. Tapi, Cla toh bebas menentukan dengan siapa dia ingin pulang kan? Ah. Masa aku cemburu, betapa perasaan ku ini tidak menentu jadinya.
“ Oh gitu. Hehe. ya udah. Eh gue pamit pulang ya, entar ga dapet bis, jangan lupa besok kita latihan di studio. Janga bolos lo besok” kata ku sambil beranjak dari tempat duduk.
“Oke, Bas. Besok gue masuk kok. Hehe”
“Sekalian lo bantu mikirin apa lagu kedua nya ya Yan?”
“Oke, oke sip sip”
Ian kemudian mengantarku sampai depan rumahnya. Lalu aku pergi menuju jalan raya untuk naik bis pulang. Sepanjang perjalanan itu, diantara banyak hal yang terlintas dipikiran ku, ada Cla yang mengisi ruang besar di benakku saat itu. Harus apa aku setelah ini?
………………………..
Biar bagaimanapun, aku harus melangkah maju. Sudah terlanjur basah aku punya rasa karena dia. Biarlah apapun jawabanya itu adalah yang terbaik buatku. There is nothing to lose. Mendengar dia sudah punya pacarpun adalah hal yang baik buatku. Dengan begitu aku kan jadi bisa melangkah maju lagi, tidak tertahan di tempat seperti ini. Biar bagaimanapun aku juga punya hidup ku sendiri.
Malam itu, di depan telepon, aku uring-uringan. Ternyata melakukan suatu hal yang sederhana bisa jadi begitu rumit kalau disaat yang salah. Aku tinggal menelponnya dan berkata apa yang harus aku katakan. Aku sampai membuat bagan apa-apa aja yang bisa aku katakana untuk memulai pembicaraan. Tinggal bilang “hei Cla, apa kabar? Kamu lagi apa de?” atau “Eh, aku udah denger lho lagu yang kamu bilang itu, bagus Cla lagunya” sampai “gimana hasil ujian kimia kamu?” , lalu terakhir tinggal bertanya, “Cla, cla udah punya pacar belum, soalnya aku ga enak terlalu deket sama kamu kalau kamu sudah punya pacar?” tapi memeraktekkannya ternyata begitu sulit. Untuk mengangkat gagang telepon saja aku tidak berani..
Sejujurnya aku gugup. Menelpon ternyata sangat berbeda dengan berhubungan lewat SMS. Kalau SMS, kita punya cukup banyak waktu untuuk melontarkan suatu ha lalu menunggu cukup lama untuk merespon orang lain. Memberikan respon yang terbaik. Lagipula ini sudah cukup malam, jangan-jangan dia sudah tidur.
Setelah sedemikian lama bernegosiasi dengan diriku sendiri, akhirnya k putuskan untuk meng-SMS dia dulu, baru kemudian telepon dia.
“Cla, km ud tdr blm?” SMS pertama aku kirimkan
Beberapa menit kemudian datang balasan.
“blm kok kk. Hehe. adapa?”
“hehe. gd papa. Knp blm tdr de?” balas ku cepat.
“ya blm tdr aj k. hehe=p”
Selang beberapa menit, aku kirim SMS lagi. Perlu waktu yang lebih lama untuk memutuskan aku akan telpon dia atau tidak.
“oiy. Aq blh tlpn km ga?”
“hah? Mw tlpn? Adapa kaka?” datang balasan cepat darinya.
“gd papa. Mw tlpn aj. Blh ga?”
“dasar kk aneh =p tp kn nanti mhl k. aq gd tlpn rumah k”
“iy c… gapapa sbntr aj y?”
“Iy dh! Bener sbntr y =p”
Tahap pertama sudah dilewati, sekarang tinggal telpon. Persetujuan Cla untuk ditelpon ternyata memudahkan aku untuk berani menelpon dia. Aku angkat gagang telpon, aku tekan nomor hape Cla. Terdengar dering nada telpon dua kali, lalu telpon ku diangkat.
“Hei, Assalammualaikum. Hehe. kamu lagi apa?”
“Ihh, apa sih tiba-tiba. dasar aneh. Hehe. waalaikumsalam. Aku lagi nerima telpon kakak. Hehe” jawab Cla di seberang sana. Riang. Penerimaannya membuat aku lebih nyaman untuk berbicara lagi.
“Hehe, dasar. Mmmm, apa ya… eh, gimana hasil ujian kimia kamu waktu itu Cla”
tanya ku untuk memulai percakapan.
“Aku dapet 94 dong. Hehe. hebat kaan?” sahut Cla begitu riang. Ternyata pintar kimia dia. Jadi malu kalau aku ingat nilai kimia ku yang runyam itu.
“Wah, hebat-hebat. Cla pinter kimia ternyata”
“Ah. Enggaa. Aku kan cuma berusaha rajin belajar. Kata bapak ibu guru kan rajin pangkal pandai kakak, hemat pangkal kaya. Hehe”
Telepon yang dijanjikan berlangsung sebentar saja itu kemudian malah menjadi percakapan panjang selama satu jam lebih. Percakapan pun berpindah ke hal-hal lain. Baru aku tahu kalau dia sering menyanyi di kafe-kafe bareng pamannya. Lagu-lagu yang biasanya dibawakan adalah lagu-lagu jazz, pantas basic vokalnya begitu kuat. Baru aku tahu juga kalau Cla itu orang Batak. Kalau nama marganya dituliskan, namanya akan jadi Maysheilla Chandra Sari Putri Pasaribu. Kolom absen di daftar hadir kelas tentu tidak cukup menuliskan namanya. Tertulislah disitu Maysheilla C.S.P, dia memelesetkannya jadi Mycla C.S.P itu. Dia juga cerita rumahnya jauh, di daerah Bekasi Timur sana. Pulang pergi dia lakukan naik bis, berangkat subuh sampai rumah malam. Lalu akhir minggu menyanyi di kafe, hasil dari menyanyi dia pakai untuk membiayai sekolahnya sendiri dan membantu keuangan keluarganya. Sering dia harus pulang dini hari setelah menyanyi. Kegiatan-kegiatan itu lah yang mungkin membuatnya sering tidak masuk sekolah. Mungkin karena sakit atau memang capek. Bersyukur dia termasuk anak yang cerdas, mudah menerima pelajaran. Tapi dia tak mau dibilang cerdas, maunya dibilang rajin. Dia bercerita immpiannya untuk menjadi penyanyi namun tidak meninggalkan kuliah, kalau bisa di Universitas Indonesia.
Mendengar apa-apa saja yang dia ceritakan padaku, makin kecil saja rasanya aku buat dia. Baru aku tahu bagaimana seluk-beluk kepribadiannya dan dunianya selama ini. Aku juga begitu salut dengan apa yang sudah ia raih selama ini, dan apa yang kemungkinan besar bisa dia raih di masa depan. Sedangkan aku, apa yang aku bawa sehingga aku berani menyimpan rasa darinya seperti ini. I am nothing in this world !. Aku harus tahu diri, memang sepantasnya Cla mendapatkan orang yang pantas. Orang yang pantas itu lah yang mungkin sekarang jadi pacarnya, seperti apa yang Ian ceritakan tadi sore. Ah, rasanya aku baru saja melakukan perjalanan yang begitu jauh, setelah beristirahat lama. Di perjalanan itu, dalam suatu persimpangan, aku pilih salah satu jalan, namun ternyata aku melewati belokan yang salah. Setelah berjalan dengan terburu-buru karena ingin cepat sampai, di ujung jalan yang salah itu aku bertemu Cla dan pacarnya, serta Ian yang sedang tertawa-tawa. Menertawakan kebodohan ku. Bodoh.
“Torn aja kak…” kata Cla, memecah khayalanku.
“Apa Cla, maaf…” kata ku bingung karena dari tadi tidak mendengarkan.
“iih, kakak.. Torn ka.. buat lagu kedua kita, itu lho yang dinyanyiin Natalie Imbruglia” kata Cla gemes.
“oh yang itu, iya aku tahu… boleh, kamu sudah hafal lagunya de?”
“iya kakak, seru deh pasti kita main lagu itu…”
“iya, iya percaya… yaudah nanti aku hubungi temen-temen yang lain ya…”
“iya kakak. Makasih ya. Hehe. jadi juga kita tampil. Zombie + Torn lucu ya kombinasi lagunya”
“hehe, yaudah. Mmm udah malem nih, besok kan kamu harus berangkat pagi-pagi, nanti kamu terlambat gara-gara saya telpon… sudah dulu ya…” kata ku malas, seraya memohon diri.
“Iya kakak.. sudahan ya.. aku juga udah ngantuk… huuu”
“Iya maaf ya… da Cla… makasih ya…”
“Iya, dada kakak…”
Ku dengar telepon ditutup diujung sana. Aku menutup telepon dengan perasaan yang begitu galau. Daripada dihantui perasaan ini terus, haruskah ku ungkapkan saja padanya, sehingga perasaan ini pergi jauh dariku? Ah, Natalie Imbruglia, lo bener banget, I think I was Torn…
Malam itu aku tidak bisa tidur, membayangkan begitu banyak hal. Salah satunya, bagaimana reaksi orang tua ku melihat biaya tagihan telepon bulan depan. Oh, tidak.

Bersambung ……………….…
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment