Monday, January 24, 2011

Catatan Merah Jambu Bagian 2

FKM UI 24 Januari 2011


Kenapa di FKM UI?
Gue juga kurang ngerti.
Hari ini gue habis ngisi music di teater buat bekpekk (biology exploring week). Bagus acaranya. Tadi gue ngisi music ngiringin teater bareng ade-ade kelas gue anak 2010, ada Marsya Kristanti, Jonathan Prawira Tumakaka, dan Aulia Jauhari Rakhman, bener kan begitu nama kalian? Hehe. maaf kalo salah. Tapi kenapa gue bisa tahu? Ya karena gue tahu. Hehe.
( lagi labil, si Abas ini. Mohon maklum kawan )
Hari ini gue kenalan sama anak kimia 2009 namanya Arvi, kalo ga salah juga ya hehe. tepatnya sih dia yang kenalan. Dia sama seorang temannya itu buka stand bazaar di bexpeek. Mereka jual buku. Dari mereka berdua gue beli buku kambing jantannya Raditya Dika. Gue juga bingung kenapa jadi beli. Padahal gue (pernah) puny buku ini, tapi hilang. Terus gue pinjem sama temen gue, gue ngilangin punya temen gue itu. Terus gue beli lagi, tapi ya buat gantiin punya temen gue yang ilang itu. Hehe. Mungkin gue beli buku sama si Arvi ini, agar dia seneng. Kebetulan entah mengapa uang gue minggu ini lebih banyak senilai sama harga buku itu. Mungkin ini sudah rejekinya si Arvi. Sudah diatur Tuhan. Wallahu alam.
( kalian bisa tahu alasannya si Abas ini kalo baca tulisannya yang judulnya “Aku Hanya Ingin Menyenangkan Orang Lain”, bisa dilihat di link My Notes, atau nanti ke blognya aja di masabas.no1.blogspot.com )
Jam empat nanti gue akan ngajar sampe jam delapan. Sekarang masih jam satu. Masih punya waktu tiga jam. Hal yang pengen gue lakuin buat ngisi waktu adalah makan, tidur, minum kopi susu, nulis, main games, baru kemudian berangkat. Tadi gue udah makan (warteg) dan minum, sekarang gue lagi nulis, lalu nanti main games. Mungkin kombinasi antara terong dan ikan bawal yang tadi gue makan, + minum kopi susu, + buku yang gue beli, + akses internet di FKM yang jauh lebih baik dibandingkan di fakultas gue, membawa gue ke FKM ini. Wallahu alam. Ga usah terlalu dipikirin ya, gue juga kadang ga ngerti, mungkin ini Joni dalam diri gue yang bertindak. Semua orang punya Joni dalam dirinya masing-masing.
( tuh kan, dia lagi labil. Hehe. )
Gue putusin buat nyelesein seri “Catatan Merah Jambu” ini. Gue juga belum tahu akan sampe berapa seri. Mungkin malah nanti gue bisa terbitin di Trubus kalo cukup serinya, hehe. Sebenernya gue punya beberapa judul tulisan lagi yang ingin gue bagi buat kalian semua (kalo masih pada mau baca tulisan gue lho. Hehe). Tapi, kayanya “Catatan Merah Jambu” harus gue selesein secepatnya.
Ada temen gue yang nanya, bagaimana posisi Hanum di tulisan ini? Sulit buat dijelaskan, namun mengikuti tulisan ini sampai akhir, mungkin bisa menjawab Tanya mu itu kawan.
Gue Cuma mau berbagi sama orang-orang yang membaca tulisan-tulisan ini. Sebenarnya, sewaktu gue post di notes, di blog, gue ga berharap banyak yang akan dan ngeluangin waktu dan pikiran buat baca. Sebenarnya ga pengen nge-tag tag in kalian juga, pasti mengganggu banget kan?
Namun, I Find My Pleasure in Writing , jadi gue selalu meluangkan waktu buat menulis, dan berbagi bersama kalian, kawan-kawan ku. Hal-hal yang terjadi di apa yang gue tulis, mungkin kah juga kalian alami? Berbagi lah juga bersama ku. Ingi ke baca kisah hidup mu, kawan.
Baiklah kawan ku, untuk kalian semua, Catatan Merah Jambu, bagian 2 …


Catatan Merah Jambu
Bagian 2
… … … … …

Singkat kata, saat itu pun aku langsung meluncur, bukan, lari ke kampus. Tujuan gue saat itu adalah, ruang latihan paduan suara. Paduan suara kami setiap tahun pasti mengisi acara wisuda.
Aku ketok pintu ruang latihan. Terdengar dari dalam anak padus sedang berlatih bernyanyi. Saat itu sudah sore. Sekitar jam tiga.
“Assalammualaikum”. Salam ku. Tapi tidak ada jawaban. Terang saja, mana dengar orang-orang itu di dalam. Aku memutuskan untuk langsung masuk saja, dasar tidak sopan aku ini. Tapi ini darurat.
Di dalam ruangan, didepan anggota paduan suara yang duduk sambil bernyanyi, tampak teman ku Fitri, si ketua ekskul kesenian kami, sedang berdiri.
“ Fit, fit, keluar bentar dong” kata ku pada Fitri saat itu yang sedang memimpin latihan. Kesal dia tampaknya aku potong saat sedang memeragakan birama.
Tak digubris aku.
“Fit… keluar dong… sebentar aja…” pinta ku memelas, berbisik depan pintu yang sudah kubuka tadi.
“ngapain lo,Bas? Ganggu aja deh, ni anak-anak lagi latihan tau!” kata Fitri ketus. Dia bicara biasa saja sudah ketus kawan. Apalagi marah, aku takut. Tapi sekali lagi, ini darurat.
“ Sebentar dong, keluar Fit…” pinta ku memelas.
“Iya, iya, dasar tukang maksa lo, Bas. Minta maaf lo sama anak-anak padus gue”
“Iya iya” aku pun masuk ke ruangan. Di depan anak-anak padus aku memina maaf karena telah mengganggu mereka latihan. Waktu itu musik sedang dipimpin si Arum sendirian. Tidak lupa ku layangkan salam piss bukan bukan pipis, tapi peace ke Arum. Maaf ya.
Aku bersama Fitri keluar dari ruang latihan. Kami mengobrol sebentar. Aku ceritakan kondisiku. Inti dari pembicaraan ini adalah aku mau pinjam salah seorang anak paduan suara untuk jadi vokalis dadakan band ku. Kalau bisa adik kelas. Biar menurut saja maksudku. Tanpa latihan terlebih dahulu pula. Sungguh aku tidak sopan.
“gimana, Fit? Boleh ya…? Aku memelas lagi.
“gue sih boleh aja kalo nanti anaknya juga mau, tapi siapa, Bas? Gue juga kan susah kasih lo rekomendasi orang banyak gitu…”
“gimana ya… eh gue pinjem presensi latihan hari ini deh” cetus ku. Parah juga aku, mengisi musik mereka begitu mereka tapi aku tidak kenal.
“ hah? Apaan…?
“yaudah sih nurut dulu, buruan ah”
“iye iye, dasar bawel!” kesal Fitri. Dia masuk sejenak kedalam ruang latihan untuk mengambil buku presensi.
Tak lama, Fitri keluar membawa buku presensi. Dia buka tanggal hari ini.
“emang lo ada yang kenal baik Bas?” Tanya Fitri.
“Bentar ya…” jawab ku singkat. Aku menelusuri nama-nama itu. Mencari mana yang cocok. Apa yang aku tunggu saat itu? Percayakah kau kalau ku bilang firasat dari Tuhan?
“Ini aja, Fit. Maysheilla Chandra Sari Putri. Bagus namanya. Siapa dia biasa dipanggil? Sheilla ya?” kata ku menyebut satu nama anak padus.
“wah, selera lo bagus, Bas. Bakal tekor nih gue. Sheilla itu salah satu penyanyi utama padus. Bagus suaranya. Bening… terus” jelas Fitri.
“Aduh, nanti aja Fit, dasar cerewet. Gue lagi buru-buru nih” kata ku memotong.
“Iiih, Abas maah!” ketus Fitri.
Fitri masuk kembali kedalam ruangan. Tampak dia memanggil nama yang kusebut tadi. Tidak lama dia keluar bersama seorang murid wanita, atau ku sebut siswi saja biar gampang ya?
“Sheilla, ini kakak Abas kamu sudah kenal kan ya? Nah kak Abas ini mau minta tolong sesuatu sama kamu…” Fitri memberi keterangan kepada Cla.
“Iya kak, ada apa ya?” kata Cla saat itu. Tersenyum.
“Bas, gue tinggal dulu ya, gue mau latihan lagi!” potong Fitri. Begitu mengesalkan.
“iya iya, sana. Makasih ya Fit. Hehe”.
“Huh!” ketus Fitri. Lalu dia masuk ke dalam ruang latihan. Heran, baru aku sadari teman ku ni cantik-cantik tapi ketus amat ya?.
“maaf ya sheilla, kakakmu itu memang begitu. Hehe”
“iya kak, sudah biasa, terus ada apa ya kak sama saya?” kata Cla. Masih tersenyum. Tampaknya dia mengenyam pendidikan bicara dengan ramah-senyum-salam-sapa-dengan baik. Berhasil berarti guru kewarganegaraan kami.
“Iya, de jadi begini… …” aku menjelaskan.
“kamu mau kan?”
“wah, kakak, satu jam lagi ya, hehe. dadakan kali. ya aku mau kakak, kita kan main lagu I Will Fly aja kan ya? Untung saya sudah hafal lagu itu. Hehe” kata Cla riang.
“iya Cla. Maaf ya? Saya akan ngerepotin kamu. Semoga kamu menyukainya nanti karena kamu akan sering jadi saya repotin. Hehe”
“iya deh kakak. Hehe”
“ya sudah, ayo kita ke tempat audisi de, kamu ga papa kan ya jalan kaki” ajak ku. Saat itu aku belum naik motor, apalagi mobil. Belum punya lebih tepatnya.
“iya kakak gapapa, lebih enak jalan. Bisa sekalian kakak certain ya band dan kondisi audisi nanti” dari pernyataan ini, aku tahu si Cla ini pasti penyanyi professional.
Kami pun berjalan menuju tempat audisi. Sepanjang perjalanan ini aku mengobrol dengan dia. Banyak hal. Mulai dari masalah band ku itu, sampai mata pelajaran Kimia yang ternyata Cla paling suka. Sebagai seorang laki-laki yang sedang bertumbuh di SMA alias puber. Aku diam-diam mengamati Cla. Secara tingkah laku, secara fisik, cara bicaranya, apa yang dia baca, dan dari apa yang dia sukai di sekolah ini. Dia begitu… bagaimana ya aku menyebutnya? Wanita yang menyenangkan. Entah kenapa saat itu ada perasaan aneh yang aku miliki. Kenapa aku jadi ingin sekali terus berjalan bersamanya saja? Tapi sayang, akhirnya kami pun sampai ke tempat audisi.
Aku perkenalkan Cla kepada anggota band ku. Saat itu, Alhamdulillah personil kami lengkap. Ada aku di gitar, Ian di gitar, Dimas di bass, Cla di vocal, dan Nganu di drum. Kami pun mengikuti audisi dengan gagah perkasa. Hehe.
Rasanya kami begitu memesona saat itu. Bahkan aku pun terpesona dengan kami. Perasaan yang aneh. Tapi sungguh, saat itu dengan hadirnya Cla, rasanya kami begitu melengkapi (ya iyalah, kan sekarang lo punya vokalis!). Really, I think we will fly, together!. Dunia sambutlah kami ini.
… … … … …
Sebagai bentuk tanggung jawab telah menculik Cla dari paduan suara, aku mengantarkan Cla kembali ke sekolah. Kami mengobrol banyak hal. Kami bertukar nomor hape. Entah kenapa walau saat itu punya perasaan suka padanya, hati kecil ku bilang untuk tidak akan pernah bilang. Penjelasannya adalah wanita seperti ini seharusnya, sepertinya, dan sepatutnya, sudah punya pacar yang baik, jauh lebih baik dalam segala hal dibandingkan aku. Aku sebaiknya professional saja. Aku main gitar, dia menyanyi, kami satu band. Sudah hanya itu. Aku pantasnya mundur saja. Aih, perasaan ini sering membuat aku sering menyesal di kemudian hari.
Kami pun sampai ke sekolah lagi. Di depan gerbang sekolah ini, kami akan berpisah. Cla, tahukah kau saat itu, kalu boleh aku ingin ikut saja?
“Ya sudah de, udah sampe ni. Saya balik lagi kesana ya? Mau ketemu sama temen-temen” kata ku.
“iya kakak, nanti aku di kabari ya”
“iya dede. Hehe. nanti aku sms kamu ya hasilnya”
Kami pun berpisah. Ada kemajuan, dia sudah menyebut dirinya dengan “aku”. Tidak lagi sungkan dengan “saya”. Rasanya jalan Potlot sore itu ditumbuhi bunga warni-warna. Dunia, sepertinya sekali lagi aku jatuh cinta.
Bersambung……….
NB. Sewaktu gue lagi ngetik, ada tiga momen menarik yang terjadi.
1. Gue dihampiri dua orang mahasiswa, yang ternyata anak Sejarah, FIB UI. Salah satunya akan diwisuda 5 Februari nanti. Buat daftar wisudaan (secara online), mereka pinjem laptop gue gitu. Selamat kak, semoga sukses dan mampu membaktikan ilmunya untuk negeri. Dengan sarjana-sarjana seperti kakak ini kita Jangan Sampai Lupa Akan Sejarah (Jas Merah).
2. Tiba-tiba ada Wendy temen gue datang dari suatu tempat yang tidak terduga. Mungkin dari dalam tanah atau kepuar dari batang pohon. Hehe.
3. tiba-tiba juga ada mbak-mbak dari LSM nowhat nowhere. Minta donasi a.k.a sumbangan. Nama yayasan nya Rahmatan lil alamin. Ada nama Inggrisnya juga, World Peace Foundation. Gue dan Wendy kasih donasi seikhlasnya. Di kwitansi yang kita dapat, ada alamatnya, di daerah Jakarta Timur sana, jauh banget mereka sampe kesini. Gue akan cek kebenaran yayasan itu. Sungguh, gue ga pernah suka umat islam meminta-minta dengan cara seperti ini, walau dengan embel-embel kemashlahatan umat.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment