Showing posts with label Perjalanan. Show all posts
Showing posts with label Perjalanan. Show all posts

Thursday, January 16, 2014

MENUNDA POM BENSIN

0 comments


MENUNDA POM BENSIN

Hari ini seperti biasa, pada hari Kamis saya mengajar salah seorang murid saya di SMA N 28, Harman Yusuf namanya. Lokasi rumahnya cukup dekat dengan sekolah, jadi waktu yang harus saya tempuh untuk menuju ke rumahnya juga cukup sebentar. Sudah lebih kurang 6 bulan saya mengajar Harman Biologi AS Level Cambridge Curriculum. Harman termasuk anak yang tekun belajar dan selalu ingin tahu banyak hal.

Harman adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Adik-adiknya, Hamdi dan Habibi sering ikut (mengganggu) kami belajar di lantai 2.  Hamdi duduk di kelas 7 SMP N 41 sedangkan Habibi masih kelas 1 SD. Menurut pengamatan saya selama ini , ketiganya merupakan kakak-beradik yang sungguh akrab dan akur. Keluarga Harman Yusuf pun terhitung sebagai keluarga yang harmonis dan kompak. Saya ingat sekali pernah diajak Ayah Harman untuk dipijat bersama Harman dan beliau dengan menggunakan jasa tukang pijat panggilan. Eh, momen saat ayah dan anak dipijat bersama tukang pijat itu termasuk kriteria kompak ga sih ?

Di tulisan ini saya ingin membahas hal lain.

Lebih kurang dua jam saya mengajar Harman per sesinya. Biasanya kami belajar selama 2 sesi tiap minggu pada hari Selasa dan Kamis. Mulai mengajar pukul 4 atau pukul 6 sore, tergantung kesibukan saya di sekolah. Sepulang dari sana saya biasanya sampai rumah atau kontrakan cukup malam dan menguras tenaga.

Bukan, bukan karena saya begitu lelah habis mengajar. Saya suja mengajar, bukan ?

Saya lelah sekali karena sepulang dari rumah Harman biasanya saya menghabiskan waktu lebih kurang 1 jam untuk bermacet-ria di jalanan menuju Depok. Dan lambat laun saya jemu. Akhirnya hari ini saya membuat kesepakatan dengan Harman.

Saya minta izin untuk pulang lebih malam dari rumahnya untuk menghindari macet.

Perhitungan saya begini. Jika saya pulang pukul 18.30 menit, biasanya saya akan sampai rumah sekitar pukul 20.00. Namun kalau saya pulang pukul 19.30, saya pun juga akan sampai sekitar pukul 20.00. Kok bisa begitu sih ?

Jam orang-orang melakukan perjalanan pulang kantor  umumnya terjadi sekitar pukul 17.00 sampai 19.00. Di waktu-waktu itu jalanan begitu penuh sesak dengan kendaraan bermotor, terutama sepeda motor. Dan jalan yang saya lalui untuk pulang ke rumah (Lenteng Agung, Tanjung Barat, dan Margonda) merupakan jalan-jalan yang merupakan jalanan langganan macet.

Dan jujur, saya kurang suka menghabiskan waktu saya di tengah kemacetan. Bergerak perlahan dengan menarik gas pelan-pelan membuat saya bosan. Terlebih dengan sopan santun dan kesabaran orang-orang pengguna jalan yang semakin berkurang saja.

Ah. Sungguh itu sangat menjemukan!

Akhirnya hari ini saya memulai hari pertama saya menunda pulang dari rumah Harman.
Saya selesai mengajar ( yang sengaja saya perpanjang waktu mengajarnya ) sekitar pukul 18.30 hari ini. Kami solat Maghrib berjamaah. Oh iya, saya membiasakan murid-murid privat saya untuk melakukan solat berjamaah. Setelah solat, kami mendiskusikan berbagai hal. Tentang pelajaran, tentang berbagai kabar di sekolah, hingga tentang komik-komik yang sedang Harman pinjamkan ke saya.

Kebetulan sekali hari ini kami juga makan mie Aceh. Alhamdulillah.

Lho kok ga fokus lagi.
Adzan Isya pun berkumandang, kami melakukan solat berjamaah lagi. Setelah itu saya bersiap untuk pulang. Harman mengantarkan saya sampai depan rumah.

Saat mencapai motor saya untuk beranjak pulang, saya melihat di tampilan fuelmeter motor saya sedang membutuhkan bahan bakar. Saya hitung-hitung bahan bakar itu masih cukup untuk memacu motor sampai pom bensin terdekat.Saya tidak terlalu khawatir.

Dalam perjalanan pulang, memang jalan tidak semerta-merta lengang sesuai apa yang saya rencakan. Namun, kondisi tersebut masih jauh lebih baik daripada di hari-hari sebelumnya. Saya yakin saya bisa mencapai Depok lebih cepat dengan kondisi lalu lintas seperti ini.

Melewati pom bensin tempat saya biasa mengisi premium, saya melihat lagi fuel meter. Saya rasa bahan bakar masih cukup untuk memacu motor. Saya membatalkan untuk mengisi premium di pom bensin tersebut. Saya membuat rencana baru untuk mengisi premium di tiga pom bensin selanjutnya  yang saya tahu. Saya mengulang-ngulang menyebut premium karena memang saya belum bisa move-on dari bahan bakar bersubsidi ini.

Lebih kurang 10 menit saya sampai ke pom bensin tujuan. Saat itu antrian sudah panjang mengular. Saya bergabung pada salah satu antrian premium bersama para pengendara penikmat BBM bersubsidi lainnya. Momen-momen menunggu antrian pengisian premium itu menimbulkan gagasan tentang tulisan ini. Tentang Menunda Pom Bensin.


Sadarkah kita sering menunda mengisi bahan bakar kendaraan kita karena dirasa masih cukup untuk dipacu untuk suatu jarak tertentu ?

Saat itu, kita sudah membuat kalkulasi seberapa jauh pom bensin terdekat yang masih bisa kita capai dengan kendaraan.

Saat itu kita yakin, bahwa bahan bakar yang masih ada dalam kendaraan kita mencukupi untuk sampai ke tujuan yang lebih jauh. Tapi bagaimana jika tidak ?

Bagaimana jika bahan bakar yang masih ada tersebut ternyata tidak mencukupi untuk sampai ke tujuan baru kita ?

Bagaimana jika, dalam suatu kondisi ternyata pom bensin tujuan baru kita itu sudah tutup atau kehabisan bahan bakar untuk dijual ?

Bagaimana pula jika, kita terpaksa harus mengantri sekian lama karena begitu banyak orang yang sedang melakukan hal yang sama, ingin mengisi bahan bakar di pom bensin yang sama ?. Seperti yang saya lihat malam ini. Pom bensin tempat saya mengisi premium sungguh ramai dengan pembeli. Kenapa tidak mereka membeli bahan bakar di pom bensin-pom bensin sebelumnya yang berada di arah jalan yang sama.

Saya mungkin belum cerita, pom bensin lain yang saya lewati di jalan arah saya pulang ini sungguh lengang dari pembeli. Padahal dari segi tempat, pom bensin-pom bensin tersebut cukup rapi dan nyaman. Ada pom bensin yang malah dilengkapi dengan food court. Tampaknya memang banyak orang sedang melakukan “ Menunda Pom Bensin “ seperti yang saya lakukan. Padahal pom bensin ini, yang memang pom bensin terakhir di arah jalan ini, penerangannya aga gelap, dan tidak asri. 

Kenapa banyak orang suka “ Menunda Pom Bensin ? “

Saya berpikir untuk menghubungkan hal ini dengan kebiasaan seseorang dalam menunda sesuatu.

Saat kita akan melakukan suatu pekerjaan, seringkali kita menunda atas dasar berbagai alasan yang mungkin cenderung dibuat-buat. Misalnya ingin kurus, ingin olahraga tiap 3 hari, tapi selalu batal selama ini karena belum punya sepatu lari yang layak.

Bisa juga seperti ini; ingin memulai bisnis, ingin menapaki jalur seorang pengusaha, tapi terus menunda karena banyak kondisi tidak ideal. Umur, kesempatan pendanaan, lokasi, modal, jaringan, tidak pintar, tidak punya teman, dan lain-lain.

Tapi sesungguhnya keinginan untuk memulai semua itu tidak pernah hilang. Dia tersembunyi malu-malu jauh di dalam benak. Sebetulnya ingin kita memulai, tapi selalu menunggu untuk lebih banyak nanti-nanti.

Akhirnya mugkin kita memulai, atas suatu dorongan, yang biasanya karena kepepet, untuk memulai hal yang tersembunyi malu-malu tersebut. Saat itu, syukur-syukur banyak kondisi sudah menjadi ideal buat kita. 

Bagaimana jika tidak ?

Bagaimana jika selama ini banyak kesempatan dan peluang yang berseliweran di depan kita yang penakut ini akhirya diambil orang yang lebih mau ambil resiko ? Saat itu bisa saja peluang kita sudah habis sama sekali. Kita hanya dapat menikmati remah-remah dari kue kesempatan itu.


Bagaimana jika lari pari-lari pagi yang seharusnya kita lakukan lebih dini itu ternyata tidak hanya menurunkan berat badan, namun juga menghindarkan resiko dari berbagai penyakit, menambah stamina dan semangat hidup kita, atau membuat kita menjalani hari-hari dengan lebih berenergi ?

Atau begini saja, bagaimana jika dalam suatu hari saat kita seharusnya lari pagi (yang tidak pernah kita mulai), kita berkesampatan bertemu orang-orang, suatu hal, suatu kesempatan yang bisa saja membawa kita pada suatu hal lain yang begitu besar ?

Saya sejujurnya memikirkan ini di sepanjang antrian BBM bersubsidi di pom bensin tersebut.Karena saya masih memiliki habit “ Menunda Pom Bensin “ tersebut. Kenapa ya seseorang itu sering sekali menunda ? Kenapa tidak kita lakukan saya apa yang bisa kita lakukan sekarang untuk kebaikan-kebaikan di hidup kita ? Selsai sekarang kan lebih baik daripada menumpuk pekerjaan di waktu lain bukan ? belum tentu di waktu lain itu kita sedang siap dan punya kemampuan.

Apakah menunda sudah termasuk jati diri kebanyakan umat manusia ?

Antrian untuk mengisi premium akhirnya sampai pada saya. Seperti biasa, saya membeli BBM bersubsidi tersebut senilai Rp15.000. Saya melanjutkan perjalanan dengan benak penuh perenungan atas apa yang telah saya alami pada hari ini.

Saya akan berusaha (sungguh) keras untuk tidak lagi menunda.



Wednesday, January 15, 2014

KALEIDOSKOP

0 comments
KALEIDOSKOP


            Biasanya selain Resolusi istilah Kaleidoskop menjadi popular menjelang pergantian tahun.

            Kaleidoskop kurang lebih bisa diartikan sebagai suatu penyampaian atau penggambaran kilas balik dari momen-momen penting yang terjadi pada tahun yang akan/sudah dilalui.

            Kalau ditulisan sebelumnya saya sudah menulis tentang “ Resolusi Kecil “ , di tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang Kaleidoskop Besar saya pada tahun 2013 lalu.

            Lho kok Resolusi nya Kecil tapi Kaleidoskop nya besar ?

            Iya begitu lah cara saya (akan) bekerja mulai dari sekarang, menyusun Resolusi Kecil dengan disiplin proses yang terukur, dengan harapan pada akhirnya, di akhir setiap tahun atau periode saya berhasil mencapai hal-hal yang lebih besar untuk disampaikan pada Kaleidoskop.

            Di tahun 2013, secara garis besar, Kaleidoskop saya berkisar atas 3 hal berikut.

1. Hari-hari perjuangan menggapai gelar Sarjana Sains.

Bisa digambarkan pada periode ini, saya meluangkan sebagian besar waktu saya untuk menyelesaikan studi di Departemen Biologi Universitas Indonesia. Hari-hari mengambil data di laboratorium, menuliskan hasil pengamatan, menyusun karya tulis, bolak-balik ketemu dosen pembimbing dan penguji. Belum lagi dengan serangkaian berkas-berkas dan mekanisme administrasi yang menurut saya begitu rumit di jurusan tempat saya kuliah.

Oh ya, betul sekali. Urusan administrasi kemahasiswaan terlebih menjelang masa sidang sarjana di departemen saya sungguh-sungguh-sungguh rumit dan menjemukan.

Di periode ini pula saya merasa terjepit secara finansial. Bukan apa-apa, untuk menyelesaikan studi, saya perlu waktu yang lebih banyak dan perhatian yang lebih fokus untuk satu hal saja, gelar sarjana. Itu berarti waktu dan fokus saya untuk mengerjakan hal lain akan menjadi berkurang bahkan tidak sama sekali. Salah satunya adalah mengajar bimbel BTA 8. Padahal saat saya mahasiswa, gaji dari mengajar di BTA 8 menjadi sumber penghasilan saya yang paling utama. Dan memang, jumlahnya pun lumayan. Tidak hanya untuk membayar kos dan biaya makan, dengan uang tersebut saya sering masih bisa membeli baju, sepatu, atau buku.

Tiga bulan saya praktis berhenti mengajar demi menggapai gelar sarjana untuk orang tua. Akhirnya himpitan finansial dan rasa enggan saya untuk meminta uang ke orang tua membuat saya mengambil langkah taktis.

Saya menjual motor saya.

Hasil penjualan motor saya gunakan untuk keperluan mencetak skripsi, membayar keperluan wisuda, dan sedikit untuk biaya hidup. Bisa dibilang saat itu saya benar-beanr terjepit. Biarlah, asalkan gelar sarjana bisa saya jadikan untuk oleh-oleh.

Sejujurnya saat itu saya juga sedang cemas-cemas nya. Setelah lulus, saya mau kerja jadi apa ya ?


Saya tidak tahu apakah ini kebodohan, jenius, atau ceroboh.

Di antara himpitan finansial yang saya alami pada masa-masa akhir studi, saya memutuskan untuk merintis usaha!

Adalah seorang Motivator bernama Ippho Santosa yang secara tidak langsung membuat saya berani memulai bisnis. Sebelumnya saya sudah banyak membaca buku-buku beliau. Dan dalam suatu seminar bertajuk “ 7 Keajaiban Rezeki “ , saya rasa saya tertular virus nekat berwirausaha.

Alasan pemilihan bimbel pun cukup klasik, saya  ingin menjadi diri saya sendiri.

Mungkin banyak yang sudah tahu dan bosan mendengarnya, passion saya memang mengajar. Itulah alasan saya suka bekerja paruh-waktu sebagai pengajar bimbel. Itulah alasan saya kemudian memilih bimbingan belajar sebagai bisnis yang ingin saya mulai.

Bimbingan Belajar Salman Edukasi


Oh iya, bimbingan belajar Salman Edukasi bukan bisnis pertama yang saya jalani. Saya pernah menjalani MLM, jualan buku, nyebar brosur, percetakan kaos, penyewaan alat music, rumah makan, bisnis herbarium. Macam-macam bisnis dan profesi pernah saya jalani.

Memulai Salman Edukasi tidak gampang-gampang-susah, tapi susah-susah-gampang. Lebih banyak susahnya. Alasan utamanya karena saya baru merasakan kesulitan nya menjalani sebuah bisnis yang dirasa mudah tapi ternyata tidak. Berbagai aspek dalam berbisnis, yang mungkin saya gagal pelajari selama ini, ternyata menemukan medan penerapannya di Salman Edukasi.

Sejak memulai Salman Edukasi pula saya jadi rutin membaca buku-buku bisnis dan motivasi, ikut berbagai seminar, rajin sedekah dan meningkatkan ibadah-ibadah sunah. Saya merasa, sejak mulai menjalani Salman Edukasi pula saya terdorong untuk lebih meluangkan waktu untuk keluarga dan orang tua.

Saya beruntung menjalani hari-hari di Salman Edukasi bersama teman-teman baik; Aprilia Nurfitrianti, Mohammad Hindarto, dan Hanum Dhiani. Terkadang ada Iqbal Pirzada juga. Membangun bisnis dapat berlangsung lebih menyenangkan  

Boleh saya promosi bisnis saya ?

Untuk informasi dan pendaftaran silahkan hubungi nomor 021 9031 3941 / 27CB4E64 atau lihat berbagai info dan promo menarik di www.salmanedukasi.com dan twitter @SalmanEdukasi. Akun Facebook kami adalah “ Teman Belajar Mu “

3. Mengajar di Kelas Internasional Kurikulum Cambridge SMA Negeri 28.

Hidup memang penuh kejutan ya. Allah benar-benar sudah mempersiapkan semua.

Awalnya saya aga galau menjelang hari siding sarjana saya. Galau nya jelas akan melakukan apa setelah jadi sarjana. Dan sejujurnya saya merasa bahwa fresh man dari departemen Biologi tempat saya menempuh studi tidak berhasil men-encourage para junior atau teman seangkatan nya dalam bekerja atau meraih pekerjaan.

Yang saya lebih sering dengar, kalau saya tidak salah dan boleh jujur, adalah nada-nada minor para lulusan yang susah mendapatkan pekerjaan, tidak tahu ingin melakukan apa pasca kelulusan, atau terjebak dalam pekerjaan bergaji seadanya dengan jam kerja bersaing erat dengan buruh pabrik.

Mana tidak galau kita yang belum lulus kalau mendengar semua itu ?

Saya pribadi juga merasa bahwa sistem perekrutan fresh graduate cenderung tidak adil terhadap lulusan dari bidang ilmu MIPA. Jarang sekali lowongan pekerjaan yang mensyaratkan secara terang benderang membutuhkan lulusan dari MIPA. Paling banyak kalau All Major, itu berarti perusahaan membutuhkan pekerja lintas bidang ilmu.

Menarik apa yang salah satu teman saya bilang

Kita di bidang ilmu sains murni ini memang sudah harus menerima kodrat bahwa lulusan dari ilmu sains tidak mungkin bisa mendapatkan pekerjaan bergaji besar. Relung kita memang di dunia riset dan pendidikan.

Sayang sekali di kedua dunia itu, nasib lulusan bidang ilmu sains murni pun terdengar lebih banyak murungnya.

Ah saya salahkan sistem saja deh. Lebih enak.

Eh tapi saya tidak ingin fokus kesitu.

Nah, sewaktu di depan ruang sidang, pada hari itu saya kembali memohon pada Nya. Saya memohon agar dapat menjalani pekerjaan sesuai passion saya namun dapat memberi saya kondisi finansial yang mencukupi serta waktu luang untuk beribadah dan menengok orang tua secara rutin. Lalu saya mensedekahkan sebagian besar uang sisa hasil penjualan motor ke Masjid UKHUWAH ISLAMIYAH (UI) untuk program Wakaf Al-Qur'an yang sedang mereka jalankan.

Bukan nya gugup menjalani siding sarjana, saya gugup terhadap masa depan yang akan saya jalani!

           Allah SWT memang sudah mengatur rezeki semua hamba-Nya, dari hewan melata dan burung yang berterbangan, hingga seluruh umat manusia segala ras dan agama. Alhamdulillah.

            Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan saya, lewat salah satu dosen pembimbing yang menghubungkan saya dengan salah seorang senior saya di departemen Biologi, saya mendapatkan tawaran untuk mengajar di SMA N 28. Tawaran mengajar ini tidak main-main. Saya diminta mengajar untuk program internasional.

           Sejujurnya saya tidak punya pengalaman mengajar di program internasional sebelumnya. Saya hanya pernah mengajar beberapa kali privat siswa-siswa yang mengambil progam internasional. Saya mengetahui dari situ bahwa terdapat dua program internasional yang umum diterapkan oleh lembaga pendidikan dunia. Pertama adalah Cambridge Curriculum dan yang kedua adalah International Bachelor (IB).

        Perasaan saya saat itu begitu excited, sekaligus begitu gugup karena akan menjalani tes mengajar langsung di depan para siswa. Namun, saya nothing to lose, saya hanya tinggal mempersiapkan sebaik mungkin, dan biarlah Allah yang menentukan. Rejeki gak akan kemana.

       Alhamdulillah. Setelah tes wawancara dan mengajar di kelas (dengan bahasa Inggris), saya dinyatakan lolos diantara para calon pengajar lain. Mulai bulan Juli pertengahan saya mulai mengajar di SMA N 28 hingga sekarang dan Insha Allah dalam beberapa tahun mendatang. Sewaktu mengajar itu, bisa dibilang saya masih berstatus sebagai mahasiswa. Saya baru diwisuda pada bulan September.
 

           Dan, salah satu yang terbaik dari profesi ini, jam kerja nya cukup lowong untuk saya melakuka banyak hal lain; mengurus dan membesarkan Salman Edukasi, melakukan solat dhuha, dan tentu saja menjengok orang tua sering-sering.

        Alhamdulillah, tahun 2013 berlalu dengan baik untuk saya. Saya berdoa agar kamu, dan kita semua dapat menjalani 2014 dengan Resolusi Kecil masing-masing dan menutupnya dengna Kaleidoskop besar di akhir tahun. Aamiin.


















Tuesday, January 14, 2014

Resolusi Kecil

2 comments
                Ini suatu tulisan yang aga telat sesungguhnya. Tapi ide untuk menulis ini terus bersliweran di kepala saya semenjak malam tahun baru. Disiplin menulis (dan disiplin-disiplin lainnya) memang masih menjadi pekerjaan rumah yang berat buat saya.

                Oh iya, malam tahun baru saya dihabiskan di rumah sakit. Bukan untuk dirawat atas suatu penyakit, tapi saya meluangkan waktu untuk menemani gadis yang tersayang di rumah sakit. Ah, ia akhirnya tumbang juga setelah berhari-hari pergi-pulang kampus-rumah.

                Malam itu, saya merenung, tentang beberapa hal, salah satunya soal resolusi.

                Resolusi biasa kita buat menjelang masuk tahun yang baru. Ketika itu pun saya terpikir untuk melakukan hal yang sama. Di salah satu detik saya akan menyusun resolusi, saya lalu berpikir. Bukan kah resolusi sering kali justru membebani ?

                Resolusi yang kita susun memang kebanyakan hanya membebani. Iya ga sih ?

                Resolusi untuk kurus misalnya, akan membuat stress karena kita tidak menyukai meluangkan waktu untuk menjalani proses nya, seperti lari pagi, atau mengurangi makanan berlemak. Hari pertama dan kedua kita masih bisa melakukannya. Hari ketiga kita sudah menyerah.

                Resolusi yang kita susun untuk tahun baru tersebut kebanyakan hanya berjalan tiga hari.

                Resolusi untuk tembus jurusan favorit di perguruan tinggi negeri lain lagi ceritanya. Target yang kita tetapkan pasti tinggi. Tapi prosesnya ? Kita seharusnya meluangkan waktu untuk belajar lebih lama, latihan soal lebih banyak, dan mengurangi waktu bermain dan utak-atik gadget. Alih-alih menjalani proses, kita sudah kembali ke rutinitas lama yang mungkin tidak sedikit pun mendekatkan kita pada tujuan yang kita tetapkan.

                Mungkin kah proses-proses seperti itu tidak kita bayangkan waktu kita menyusun resolusi tahun yang baru ?

                Hal tersebut mengganggu saya malam itu. Saya yakin saya pun mengalami saat-saat itu, ketika resolusi kita hanya menjadi sebuah angan-angan.

                Di antara kilatan kembang api di langit malam, saya merenung dalam.

                Saya ingin terjadi perubahan besar di hidup saya. Saya semakin tua, belum tentu makin dewasa. Saya bersyukur dengan segala hal yang sudah terjadi di hidup saya pada tahun 2013 lalu. Tapi saya merasa belum cukup. Mungkin sedikit narsis, saya merasa bahwa saya bisa meraih lebih banyak hal dengan sedikit tambahan disiplin.

                Entah berapa tahun saya menyusun resolusi untuk menerbitkan buku tulisan saya. Entah itu berupa novel. Tapi bertahun-tahun hal tersebut tidak terwujud. Alih-alih novel, saya hanya bisa menerbitkan tulisan di media elektronik. Sama seperti orang lain, saya merasa berat sekali menjalani proses, mencintai proses yang harus dilalui.

                Lalu saya berpikir, apakah ini tidak karena resolusi yang besar cenderung membebani psikologis kita sehingga tubuh pun merasa berat mejnjalani nya ?

                Kalau begitu, kenapa tidak memulai dengan resolusi kecil saja ?

                Saya tahu menulis sebuah novel memberatkan untuk saya yang sebagai sanguinis cenderung cepat bosan. Menulis novel perlu konsistensi dan persistensi yang berkesinambungan. Saya sadar bahwa kemampuan disiplin saya belum bisa menerima kedua hal tersebut. Karena itu, kenapa tidak memulai dari hal yang lebih kecil dulu ? Antologi cerpen misalnya.

                Antologi cerpen terdengar lebih sederhana untuk diri saya. Dan saya merasakan bahwa pikiran saya dengan senang hati menyerap ide tersebut. Antologi cerpen yang saya susun bisa berisi 12-15 cerpen. Hal tersebut jauh lebih tidak sulit dilakukan dalam jangka waktu satu tahun bukan ?

                Lewat ide “ Resolusi Kecil “ itu, pikiran saya ternyata terpacu untuk memikirkan cara-cara saya bisa mencapai target. Ide tentang menulis 15 menit sehari, 1 cerita pendek setiap minggu, menulis blog, membaca buku-buku kemudian terlintas. Itu begitu menyenangkan ! Menulis 15 menit sehari tidak mungkin tidak bisa saya lakukan !

                Kemudian saya coba menyusun Resolusi Kecil saya yang lain untuk tahun 2014.

                Saya berencana untuk khatam Al-Qur’an untuk tahun 2014 ini. Satu kali saja khatam Al-Qur’an. Itu menjadi tidak terlalu sulit. Pikiran saya pun menyusun rencana untuk rutin membaca Al-Qur’an dua lembar per halaman secara rutin setelah solat isya dan solat dhuha.

                Oh iya, dan soal solat dhuha itu, awalnya saya memaksakan diri untuk bisa sola dhuha 12 rakaat setiap hari. Tapi ternyata saya sering terlupa. Solat dhuha 12 rakaat setiap hari ternyata “memberatkan” saya.

                Dengan konsep Resolusi Kecil, agenda rutin solat dhuha saya sesuaikan menjadi 4 rakaat untuk tahun ini. Empat rakaat untuk dilakukan setiap hari menjadi ringan. Perlahan tinggal meningkatkannya menjadi 8 rakaat lalu 12 rakaat. Saya tinggal menambah rakaat solat dhuha ketika waktu saya lebih luang. Misalnya pada saat hari libur.

                Banyak hal kemudian saya rencanakan di Resolusi Kecil saya untuk tahun 2014. Mulai dari olahraga pagi setiap Senin, Rabu, dan Sabtu ( itu karena hari libur saya bekerja ), membaca 50 buku pada tahun 2014 dengan rutinitas setidaknya 30 menit membaca buku setiap hari, dan memulai usaha ber- cashflow harian untuk perlahan mendapatkan penghasilan 10 juta per bulan.

                Resolusi Kecil menjadi lebih menyenangkan !

                Tapi apakah semua resolusi saya kemudian menjadi “ kecil-kecil ? “

                Tidak begitu juga, Resolusi Kecil bukanlah soal resolusi yang “ kecil “ . Menurut saya , konsep Resolusi Kecil lebih kepada menyesuaikan pencapaian target sesuai dengan disiplin dalam proses-proses yang bisa kita lakukan secara rutin. Nantinya saya yakin Resolusi Kecil setiap orang akan berkembang semakin besar karena kita makin terbiasa menjalani proses-proses yang diperlukan.

                Di antara Resolusi Kecil yang saya susun untuk tahun 2014, ada juga resolusi yang mungkin aga lebih besar.

                Resolusi itu adalah menikah,

                Ya, di tahun 2014 ini Insha Allah saya akan menikah, Dan tentu saja menikah bukan hal yang kecil. Hehe. Mohon doanya ya.