Malam ini
adalah malam minggu, dan sebagai orang yang berpacar (ehem) saya pun meluangkan
waktu untuk berkunjung (baca: silaturahmi) ke rumah pacar saya di daerah
Pamulang, Jakarta Selatan. Saya sampai dirumahnya sekitar pukul 5 sore.
Setelah menghabiskan
waktu hingga menjelang waktu salat maghrib, kami memutuskan ingin membeli
martabak yang akan dihabiskan bersama sambil menonton pertandingan sepakbola
televisi. Kami membelinya pada penjual martabak di ujung jalan pintu masuk
komplek rumah pacar saya, Sinar Pamulang, sehabis salat maghrib. Saya menyukai martabak manis, dia lebih suka
martabak telur.
Pertandingan
yang kami berdua nantikan, yaitu derby antara Manchester United dan Manchester
City ternyata tidak (belum) ditayangkan karena saya salah membaca informasi
jadwal. Pertandingan tersebut
ditayangkan esok harinya. Sekali lagi saya membuktikan bahwa diri saya adalah
orang yang ceroboh di depan pacar saya ini. Apa saja bisa lalai bin lupa, mulai
dari dompet dan kunci motor, sekarang bahkan jadwal pertandingan tim favorit di
televisi. Padahal sudah datang jauh-jauh, sudah pakai jersey pula.
Tidak ingin
lama-lama kecewa, kami menghabiskan waktu dengan saling bertukar kabar, sambil
saling bercanda serta menghabiskan martabak berdua. Ah, sudah sudah, saya tidak
ingin bercerita banyak soal ini, tidak adil buat para pembaca budiman yang
(masih) jomblo. Ups. Hehe. Tapi, saking asiknya mengobrol, saya sampai lupa
waktu dan pulang dari rumahnya sekitar jam 9. Padahal, saya sedang tidak
membawa motor dan harus pulang ke rumah dengan menaiki angkot dua kali lalu
berpindah ke bis.
Martabak kami masih sisa cukup banyak, pacar bilang saya saja yang membawa pulang dan makan di rumah nanti bersama keluarga atau teman-teman yang ada. Jadilah saya pulang dengan membawa plastik berisi sekotak martabak, lengkap dengan sebotol minuman dan sebuah payung kecil karena nampaknya akan hujan. Beginilah dia dan keluarga, begitu perhatia dan teramat sayang (aduh, saya ini daritadi ngomongin pacaran-pacaran terus,hehe)
Setelah
berpamitan dengan dia dan seluruh keluarganya, saya melangkah keluar komplek
menuju jalanan utama kota Pamulang, menenteng kresek berisi martabak di tangan kanan, dan payung ditangan kiri. Cukup jauh rute yang harus saya tempuh, dua
kali menaiki angkot hingga ke Pasar Jumat lalu berpindah bis P20 jurusan
Senen-Bulus untuk turun di daerah Pejaten.
Sesampainya
di Pasar Jumat, saya pun mengambil tempat yang biasa, bersama banyak orang
lain yang menunggu kedatanganya sang
kopaja sambil harap-harap cemas. Sudah
menjelang pukul sepuluh malam, sudah tidak banyak bis yang masih melayani
keberangkatan ke arah Pasar Senen. Benar saja, beberapa kali Kopaja P20 datang,
namun tidak menerima penumpang untuk naik karena sudah akan pulang ke pangkalan
masing-masing.
Menjelang
pukul setengah sebelas, banyak (calon) penumpang P20 putus asa menunggu dan
mulai menaiki apapun transportasi publik yang masih ada disitu, sebagian kecil
naik busway, entah akan turun di shelter mana, sebagian lain menaiki angkot dan
bis yang mungkin trayeknya melewati sekitar daerah rumah masing-masing. Sebagian lagi menghentikan taksi yang lewat,
dan pergi melaju dengan anggun. Untuk saya pribadi, tidak ada trayek angkot
atau bis lain disini yang melewati daerah tempat saya akan pulang, sehingga
pada akhirnya saya pun memutuskan akan naik taksi. Walaupun saya sedikit banyak
khawatir soal berapa besar biaya untuk sampai ke tujuan saya.
Akhirnya saya
memutuskan akan pulang naik taksi. Segera saya menghentikan satu taksi yang
lewat. Saya selalu memilih taksi berwarna biru dan berlambangkan burung
tersebut apabila harus berpergian naik taksi, atas alasan keamanan dan
kepercayaan. Dan perjalanan pun dimulai…









0 comments:
Post a Comment