Sunday, April 7, 2013

Tentang Martabak dan Sopir Taksi Malam Minggu


Malam ini adalah malam minggu, dan sebagai orang yang berpacar (ehem) saya pun meluangkan waktu untuk berkunjung (baca: silaturahmi) ke rumah pacar saya di daerah Pamulang, Jakarta Selatan. Saya sampai dirumahnya sekitar pukul 5 sore.

Setelah menghabiskan waktu hingga menjelang waktu salat maghrib, kami memutuskan ingin membeli martabak yang akan dihabiskan bersama sambil menonton pertandingan sepakbola televisi. Kami membelinya pada penjual martabak di ujung jalan pintu masuk komplek rumah pacar saya, Sinar Pamulang, sehabis salat maghrib.  Saya menyukai martabak manis, dia lebih suka martabak telur.

Pertandingan yang kami berdua nantikan, yaitu derby antara Manchester United dan Manchester City ternyata tidak (belum) ditayangkan karena saya salah membaca informasi jadwal.  Pertandingan tersebut ditayangkan esok harinya. Sekali lagi saya membuktikan bahwa diri saya adalah orang yang ceroboh di depan pacar saya ini. Apa saja bisa lalai bin lupa, mulai dari dompet dan kunci motor, sekarang bahkan jadwal pertandingan tim favorit di televisi. Padahal sudah datang jauh-jauh, sudah pakai jersey pula.

Tidak ingin lama-lama kecewa, kami menghabiskan waktu dengan saling bertukar kabar, sambil saling bercanda serta menghabiskan martabak berdua. Ah, sudah sudah, saya tidak ingin bercerita banyak soal ini, tidak adil buat para pembaca budiman yang (masih) jomblo. Ups. Hehe. Tapi, saking asiknya mengobrol, saya sampai lupa waktu dan pulang dari rumahnya sekitar jam 9. Padahal, saya sedang tidak membawa motor dan harus pulang ke rumah dengan menaiki angkot dua kali lalu berpindah ke bis.

Martabak kami masih sisa cukup banyak, pacar bilang saya saja yang membawa pulang dan makan di rumah nanti bersama keluarga atau teman-teman yang ada. Jadilah saya pulang dengan membawa plastik berisi sekotak martabak, lengkap dengan sebotol minuman dan sebuah payung kecil karena nampaknya akan hujan. Beginilah dia dan keluarga, begitu perhatia dan teramat sayang (aduh, saya ini daritadi ngomongin pacaran-pacaran terus,hehe)


               
Setelah berpamitan dengan dia dan seluruh keluarganya, saya melangkah keluar komplek menuju jalanan utama kota Pamulang, menenteng kresek berisi martabak di tangan kanan, dan payung ditangan kiri. Cukup jauh rute yang harus saya tempuh, dua kali menaiki angkot hingga ke Pasar Jumat lalu berpindah bis P20 jurusan Senen-Bulus untuk turun di daerah Pejaten.
               
Sesampainya di Pasar Jumat, saya pun mengambil tempat yang biasa, bersama banyak orang lain  yang menunggu kedatanganya sang kopaja sambil harap-harap cemas.  Sudah menjelang pukul sepuluh malam, sudah tidak banyak bis yang masih melayani keberangkatan ke arah Pasar Senen. Benar saja, beberapa kali Kopaja P20 datang, namun tidak menerima penumpang untuk naik karena sudah akan pulang ke pangkalan masing-masing.

Menjelang pukul setengah sebelas, banyak (calon) penumpang P20 putus asa menunggu dan mulai menaiki apapun transportasi publik yang masih ada disitu, sebagian kecil naik busway, entah akan turun di shelter mana, sebagian lain menaiki angkot dan bis yang mungkin trayeknya melewati sekitar daerah rumah masing-masing.  Sebagian lagi menghentikan taksi yang lewat, dan pergi melaju dengan anggun. Untuk saya pribadi, tidak ada trayek angkot atau bis lain disini yang melewati daerah tempat saya akan pulang, sehingga pada akhirnya saya pun memutuskan akan naik taksi. Walaupun saya sedikit banyak khawatir soal berapa besar biaya untuk sampai ke tujuan saya.

Akhirnya saya memutuskan akan pulang naik taksi. Segera saya menghentikan satu taksi yang lewat. Saya selalu memilih taksi berwarna biru dan berlambangkan burung tersebut apabila harus berpergian naik taksi, atas alasan keamanan dan kepercayaan. Dan perjalanan pun dimulai…

  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment