Sunday, April 7, 2013

Tentang Martabak dan Sopir Taksi Malam Minggu (Bagian 2)




Setelah menyimpan tas dan segala bawaan di kursi belakang, saya mengikatkan diri dengan safety belt di kursi depan, di sebelah bapak sopir yang sedang bekerja (ini apa…). Saya pun menyebutkan tujuan saya kepada bapak sopir taksi burung biru.

“ Mas, tolong ke daerah Pejaten ya, Samali Ujung “ kata saya kepadanya. Saya panggil dia mas karena tampaknya dia masih cukup muda.

“Oh iya, bapak. Mohon maaf itu dimana ya ? mohon saya dipandu “ balas mas Sopir.

“Oh iya, nanti saya tunjukkan jalannya kok, tidak terlalu jauh darisini” kata saya lagi. Ini kali pertama soir taksi yang mobilnya saya tumpangi minta dipandu ke daerah tujuan.

“Terimakasih bapak”

Taksi pun melaju, meninggalkan pemberhentian tak resmi transportasi umum Pasar Jumat dan segala kekecewaannya  dibelakang. Saya cukup lelah dan mengantuk hari ini dan ingin sekali agar perjalanan ini berjalan mulus dan saya bisa tertidur sejenak.


Baru saja saya akan tertidur, sopir taksi mengagetkan saya dengan pertanyaannya.

“Bapak, mohon maaf, ini kita ambil arah mana ? “ tanyanya saat kita melewati suatu perempatan.

“Mas ambil kanan ya, terus nanti lurus saja sampe akhir jalan. Setelah itu belok kiri ke arah Mampang Prapatan “ saya menjelaskan. Saat itu kita akan memasuki jalan R.A. Kartini menuju perempatan Ragunan-Mampang Prapatan-T.B. Simatupang.

“Terimakasih Bapak, mohon maaf saya banyak tanya, saya masih baru soalnya” kata mas sopir dengan nada merendah.

Taksi pun memasuki jalan R.A. Kartini. Jalanan cukup lengang saat itu hingga taksi bisa cukup kencang melaju. Taksi baru berhenti saat memasuki perempatan Ragunan-Mampang Prapatan ketika jalanan menjadi cukup padat menjelang lampu merah.

“Oh, begitu ya, Mas ? Memang sebelumnya dinas dimana ?” saya basa-basi bertanya.

“Sama, nyopir juga, Pak. Tapi sopir pribadi, jadi sopir taksi sih baru-baru ini saja”

Mobil sedan taksi ini aga tersentak ketika lampu lalu lintas berubah ke warna hijau. Tampaknya perpindahan rem tangan dan perseneling sang sopir tidak terlalu sempurna. Kendaraan di belakang kami, yang kebetulan juga taksi dari merek lain sontak membunyikan klakson berkali-kali merespon tabrakan yang mungkin terjadi di tanjakkan ini.

“Lho, Mas, jangan begitu mindahin rem dan main koplingnya, ini kan di tanjakkan, itu hampir saja barusan kita nabrak taksi orang!” saya berseru. Cukup kaget juga dengan cara mas sopir taksi ini membawa mobil.

“Maaf, Maaf sekali, Pak. Saya memang belum terbiasa bawa mobil sedan seperti ini” kata mas sopir dengan nada penuh penyesalan sambil memegang bagian belakang kepalanya.

Saya lihat papan identitas pengemudi taksi di depan saya yang tertanam di dashboard. Cahya Asih H., nama sopir taksi burung biru saya malam ini.

“ Iya, gapapa, Mas Cahya. Tapi, mindahin rem tangannya jangan sontak begitu, harus ditambah dengan ngegas dan rem juga, kan lagi ditanjakkan seperti ini.  Mobil sedan begini kan enak mas, sensitifitasnya tinggi “ kata saya sok tahu, wong saya menyetir mobil saja tidak bisa. Tapi, saya sering melihat bapak atau teman saya menyetir dengan baik, dan itu tidak seperti Mas Cahya ini.

“Iya, Bapak. Mohon maaf sekali lagi. Wong saya biasanya bawa mobil Avanza, Xenia, masih adaptasi nih sama mobil sedan begini”

“Pantesan kok daerah sini saja belum tahu.. Memang baru berapa lama mas Cahya nyopir taksi ?“

Taksi memasuki jalan Warung Buncit Raya yang cukup lengang. Sesekali taksi bergolak sedikit karena jalanan yang tidak rata. Di sepanjang perjalanan, tampak berbagai sisa-sisa aktivitas di penghujung malam. Awan langit malam merintik hujan. Sang sopir taksi fokus kearah jalan dengan raut wajah tegang.

“Baru hari ini, Bapak, pagi tadi, saya menyopir taksi” jawab mas sopir taksi dengan senyum santun penuh arti.

Sungguh, saya berharap saat itu (seharusnya) saya sudah punya asuransi jiwa.

(Bersambung ke Bagian 3)
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment