Setelah
menyimpan tas dan segala bawaan di kursi belakang, saya mengikatkan diri dengan
safety belt di kursi depan, di
sebelah bapak sopir yang sedang bekerja (ini apa…). Saya pun menyebutkan tujuan
saya kepada bapak sopir taksi burung biru.
“ Mas, tolong
ke daerah Pejaten ya, Samali Ujung “ kata saya kepadanya. Saya panggil dia mas
karena tampaknya dia masih cukup muda.
“Oh iya,
bapak. Mohon maaf itu dimana ya ? mohon saya dipandu “ balas mas Sopir.
“Oh iya,
nanti saya tunjukkan jalannya kok, tidak terlalu jauh darisini” kata saya lagi.
Ini kali pertama soir taksi yang mobilnya saya tumpangi minta dipandu ke daerah
tujuan.
“Terimakasih
bapak”
Taksi pun
melaju, meninggalkan pemberhentian tak resmi transportasi umum Pasar Jumat dan
segala kekecewaannya dibelakang. Saya
cukup lelah dan mengantuk hari ini dan ingin sekali agar perjalanan ini
berjalan mulus dan saya bisa tertidur sejenak.
Baru saja
saya akan tertidur, sopir taksi mengagetkan saya dengan pertanyaannya.
“Bapak, mohon
maaf, ini kita ambil arah mana ? “ tanyanya saat kita melewati suatu
perempatan.
“Mas ambil
kanan ya, terus nanti lurus saja sampe akhir jalan. Setelah itu belok kiri ke
arah Mampang Prapatan “ saya menjelaskan. Saat itu kita akan memasuki jalan
R.A. Kartini menuju perempatan Ragunan-Mampang Prapatan-T.B. Simatupang.
“Terimakasih
Bapak, mohon maaf saya banyak tanya, saya masih baru soalnya” kata mas sopir
dengan nada merendah.
Taksi pun
memasuki jalan R.A. Kartini. Jalanan cukup lengang saat itu hingga taksi bisa
cukup kencang melaju. Taksi baru berhenti saat memasuki perempatan
Ragunan-Mampang Prapatan ketika jalanan menjadi cukup padat menjelang lampu
merah.
“Oh, begitu
ya, Mas ? Memang sebelumnya dinas dimana ?” saya basa-basi bertanya.
“Sama, nyopir
juga, Pak. Tapi sopir pribadi, jadi sopir taksi sih baru-baru ini saja”
Mobil sedan
taksi ini aga tersentak ketika lampu lalu lintas berubah ke warna hijau. Tampaknya
perpindahan rem tangan dan perseneling sang sopir tidak terlalu sempurna.
Kendaraan di belakang kami, yang kebetulan juga taksi dari merek lain sontak
membunyikan klakson berkali-kali merespon tabrakan yang mungkin terjadi di
tanjakkan ini.
“Lho, Mas,
jangan begitu mindahin rem dan main koplingnya, ini kan di tanjakkan, itu hampir
saja barusan kita nabrak taksi orang!” saya berseru. Cukup kaget juga dengan
cara mas sopir taksi ini membawa mobil.
“Maaf, Maaf
sekali, Pak. Saya memang belum terbiasa bawa mobil sedan seperti ini” kata mas
sopir dengan nada penuh penyesalan sambil memegang bagian belakang kepalanya.
Saya lihat
papan identitas pengemudi taksi di depan saya yang tertanam di dashboard. Cahya Asih H., nama sopir
taksi burung biru saya malam ini.
“ Iya,
gapapa, Mas Cahya. Tapi, mindahin rem tangannya jangan sontak begitu, harus
ditambah dengan ngegas dan rem juga, kan lagi ditanjakkan seperti ini. Mobil sedan begini kan enak mas,
sensitifitasnya tinggi “ kata saya sok tahu, wong saya menyetir mobil saja
tidak bisa. Tapi, saya sering melihat bapak atau teman saya menyetir dengan
baik, dan itu tidak seperti Mas Cahya ini.
“Iya, Bapak. Mohon
maaf sekali lagi. Wong saya biasanya bawa mobil Avanza, Xenia, masih adaptasi
nih sama mobil sedan begini”
“Pantesan kok
daerah sini saja belum tahu.. Memang baru berapa lama mas Cahya nyopir taksi ?“
Taksi
memasuki jalan Warung Buncit Raya yang cukup lengang. Sesekali taksi bergolak
sedikit karena jalanan yang tidak rata. Di sepanjang perjalanan, tampak
berbagai sisa-sisa aktivitas di penghujung malam. Awan langit malam merintik
hujan. Sang sopir taksi fokus kearah jalan dengan raut wajah tegang.
“Baru hari
ini, Bapak, pagi tadi, saya menyopir taksi” jawab mas sopir taksi dengan senyum
santun penuh arti.
Sungguh, saya
berharap saat itu (seharusnya) saya sudah punya asuransi jiwa.
(Bersambung
ke Bagian 3)









0 comments:
Post a Comment