Sunday, March 27, 2011

TIGA ORANG MURID. bagian 2

JENNY ASLA

Aku mengagumi orang yang mengembangkan bakatnya. Sebagai beberapa contoh saja, aku mengagumi kegigihan Hanum dalam megembangkan bakatnya bermain viola atau menjelajahi laut. Dulu bahkan sampai sekarang aku sangat mengagumi bakat yang dikaruniai Tuhan ke Sheilla pacar ku semasa SMA dulu. Bakat itu berupa suara emasnya. Aku mengagumi teman ku Wendy yang memiliki blog yang begitu bagus isinya itu. Aku mengagumi dosen ku Jatna Supriatna atas segala pengalamannya yang begitu memesona, yang beliau ceritakan di ruang kuliah. Aku mengagumi Andrea Hirata yang tahu-tahu saja membuat tetralogi best-seller. Aku mengagumi orang-orang seperti itu. Dan untuk hari ini, aku rasanya akan mengagumi Jenny Asla untuk alasan yang sama.
Kawan ku, sekali lagi, jika kau ingat pesan ku di awal cerita ini, 24 jam bisa membentuk kita menjadi apa pun yang kita mau dan sanggup. Mau kah kau begitu ?

… … … … … … … … … … … … …
Waktu istirahat di bimbel biasanya aku habiskan dengan beberapa hal. Minum kopi di dapur lalu bergurau dengan teman sejawat. Memakan mie ayam yang dipesan dari Pak De belokan gang, lalu juga sambil bergurau. Memanfaatkan fasilitas internet, mengirimkan tulisan-tulisan, melihat berita-berita, sampai mengomentari profil picture atau update status orang-orang di facebook, juga dengan bergurau dengan yang lain.
Aku, Aul, dan Kak Qosim memesan mie ayam. Lalu kami memakannya bersama di ruangan deoan meja resepsionis. Hari ini aku yang (diminta) membayari. Ceritanya panjang. Tidak usah ku ceritakan disini ya?
Jadi aku dapat tawaran dari pengajar lain, Kak Ramon namanya, dia pengajar Geografi, untuk mengerjakan soal-soal dari dua modul yang dibawanya. Soal biologi tentu. Awalnya aku menolak, apalgi soal-soal itu cukup banyak, namun ketika kak Ramon mengeluarkan sebuah amplop sakti berisi uang kaget sebesar seratus ribu, entah mengapa aku jadi tak kuasa menolak. Seratus ribu, atau sama dengan seribu rupiah per soal. Alhamdulillah. Hehe. maaf ya, ternyata malah cerita.
“ bos bos, ambil duluan…”
“ bos. Bos, ini sambelnya saya ambilkan…”
“ bos, bos, mau pakai sumpit atau mau pakai sendok nih…?”
“ bos, bos, ini pangsitnya saya bukain ya…?”
Itu semua adalah kata Aul saat pesanan mie ayam kami bertiga datang. Ah, kau Ul, mentang-mentang dibayarin jadi bos, bos begitu. Sejak hari itu aku dipanggil Bos, Bos. Nanti aku tidak bayarin, jadi apa ya ? Ngos-ngos gitu ? dari kata jongos, haha.

Kami bertiga pun makan dengan lahap. Mie ayam Pak De belokan gang ini terhitung enak. Iya, terhitung enak untuk suatu mie ayam yang satu porsinya Rp. 4500. Iya, empat ribu lima ratus rupiah untuk satu porsi mie ayam yang benar-benar ada ayamnya, dilayan antar jemput mangkok, tambah pangsit tinggal tambah Rp. 500, pesan tinggal telpon atau sms via hape. Murah kan? Seru pula dimakan sama-sama.
Saat itu, baru kelas yang aku ajarkan, XII IPA 2, yang sudah keluar. Totalnya tadi dua orang dari enam orang siswa kelas XII IPA 2 yang hadir. Bimbel ku ini memang menekankan pada kekondusifan belajar, selain kurikulum yang disusun langsung dari SMA Negeri 8 pusat, karena itu dibatasi jumlah siswanya per kelas. Bimbel ku ini juga sangat menekankan kedekatan antar siswa-pengajar-karyawan yang terjadi selama proses belajar. Suasananya pun dibangun sehangat mungkin, dari slogannya pun bisa kalian tahu apa visi bimbel ini “ Rumah Kedua Siswa “. Para siswa, dibalik semua ceria warna-warni masa SMA nya, menjadikan rumah kedua ini, sebagai rumah yang setiap saat mereka bisa datang, menemukan apa yang mereka cari, keluarga kedua.

Tidak berapa lama kemudian, disaat kami lagi makan, terdengar riuh ramai kesibukan lain, tampaknya kelas sudah semuanya usai. Terdengar kemudian celoteh ramai siswa. Saat itu yang terjadwalkan untuk masuk adalah kelas XII IPA 2, kelas XII IPA 1, dan kelas XII IPS, tempat Jenny Asla berada, dan beberapa siswa yang sedang mengambil kelas tambahan persiapan ujian sekolah.
Beberapa siswa, laki-perempuan, berhamburan menuju ruangan depan. Sepertinya anak IPS, karena aku belum pernah melihat mereka selama aku mengajar kelas IPA. Tampaknya mereka juga ingin memesan suatu menu makanan.
“ Lo mau makan apa Ri “ kata salah seorang mereka kepada yang lain. Mungkin salah satu dari mereka itu namanya Hari, atau Ruri.
“ gue mie ayam aja “ kata yang ditanya.
“ gue juga ikut…”
“ gue juga, gue yang pedes…”
“ yaelah, entar tuh juga saos sambel dianter kesini semua botolnya, lo tuang sendiri-sendiri aja, berapa mie ayamnya? “ kata salah satu orang yang mengomandoi.
“ berarti empat ya sama lo, nah kalo lo Jen, lo mau pesen apa ?”
“ gue mie ayam juga, tapi setengah porsi aja ya “ kata Jenny
Ah, itu dia, gadis berkaus merah, orang bernama si Jenny Asla itu. Jujur aku kira dari cerita Aul, dia laki-laki, ternyata wanita. Benar juga tapi, kalo laki-laki pasti namanya Jonny kan?. Manis pula ia, ya iya ya? Kalau namanya Joni, dia pasti ganteng. Tidak tahu juga sih.
“ Jen, pesen satu porsi aja, nanti setengah nya buat gue sih ! “ kata salah satu temannya protes.
“ ga mau ah… nanti gue kenyang duluan pas ngeliatnya… gue pesen setengah saja… “ kata si Jenny Asla merajuk.
“ ya bilang aja nanti sama Pak De, jatah lo dikasihin ke gue…”
“ ngga mau, pokoknya gue mau pesen setengah “

Aneh juga sebenarnya, kan biar bagaimanapun si Jenny ini pesan mie ayam, kalau cuma mau dimakan setengah ya tinggal diberikan saja setengahnya ke temannya kan ya? Setengahnya dimakan sendiri deh. Dikasih waktu di gerobak Pak De, atau dikasih setelah diantar, kan sama juga ya hitung-hitungan nya? Tetap setengah. Benar kan kawan ku ? ah, memang banyak sisi kepuasan batin yan gbelum kita mengerti ya? Mungkin si Jenny Asla ini batinnya tentang mie ayam baru akan terpenuhi saat dia memesan seengah porsi dan memakan pula setengah porsi. Sulit terbayang kriteria ini saat dia akan memilih suami nanti. Masa mau suaminya setengah saja? Hehe

“ Itu Ul yang namanya Jenny Asla yang tadi lo ceritain ?” tanya ku pada Aul yang baru saja selesai makan di sebelah ku.
“ Iye, Bos! “
“ gue kira cowo! Parah lo ga bilang! “
“ Nah si Bos gimana, namanya aja Jenny atuh, si Bos, haha “ kata Aul. Tertawa senang dia berhasil mengerjaiku.
Aku melengos kesal dan pergi ke dapur mengambil minum. Di ruang tengah, di tempat dimana terjadi interaksi intensif antar kami semua di bimbel, aku bertemu Jenny sedang duduk di pojok dikerubungi teman-teman nya lain yang sedang mengguraunyaTampaknya dia memang figur yang popular di bimbel kami ini. Oiya, sekedar informasi, yang tidak penting-penting amat, menggurau itu artinya mengajak bergurau, tak tau aku sudah ada di EYD atau belum menggurau itu.
Aku duduk disebelahnya, sambil menyeruput kopi yang aku ambil dari dapur. Setelah teman-temannya selesai mengguraunya, aku berusaha memulai pembicaraan dengannya. Belum mulai bicara, terdengar pintu depan dibuka, tampaknya pesanan mie ayam Pak De belokan gang Jenny dan kawan-kawan sudah datang. Tidak jadi aku bicara dengannya.

Saat Jenny sedang sibuk makan dengan teman-temannya, aku juga menuju ruangan depan tempat ku dan Auld an Kak Qosim tadi juga makan. Niatnya internetan sebentar mengecek respon-respon di tulisan. Lalu kemudian mengajak si Jenny Asla ini bicara, sungguh aku senang sekali bila bisa berkenalan dengannya nanti.
Di meja resepsionis, setelah Jenny selesai makan, tentu saja lebih cepat karena dia cuma makan setengah porsi, aku ajak dia bicara.
“ Hei, salam kenal, namamu Jenny ya ? Jenny Asla ? tadi si Aul di kelas certain kamu terus…” kata ku
“ APAAN LO BOS, BAWA-BAWA GUE ? “ teriak si Aul dari ruang tengah protes.
“ Woi, emang lo kan yang tadi cerita! “ balas ku.
“ Ul, jadi lo kalo di kelas cerita-ceritain gue yaaaa? “ goda si Jenny ke Aul, aku yakin wajah si Aul merah padam sekarang.
“ Tadi gue cerita-cerita ma kak Abas, soal lo, soalnya kita lagi mau bikin BTA band, dia main gitar ni ma kak Agung, terus gue gapapa dah main Bass, nah si Qosim ni vokalis sekaligus mimpin doa “ kata Aul yang sekarang telah menghampiri kami dan bergabung di ruang depan.
“ Asem lo, bawa-bawa gue juga “ kak Qosim yang lagi asik duduk sambil internetan, sekarang ikut-ikutan protes namanya diproklamirkan sebagai vokalis BTA band.
“ Oh, iya Jenny, kenalin aku kak Abas, De. Tadi si Aul juga cerita katanya kamu jago main drum de, kamu sering tampil di Java Jazz festival begitu ya? “ kata ku.
“ Uuul, jadi lo promosiin gue juga ke kak Abas gitu yaaa ? “ goda si Jenny lagi melirik ke Aul yang disebelahnya.
“ Ah, payah ni si, Bos. Bawa-bawa gue mulu mah !” sergahnya protes. Aku bersumpah wajahnya saat itu begitu merah. Hehe. satu sama Ul kita sekarang.
Aul pun melengos pergi ke ruang tengah tanda menyerah dari perledekkan kami berdua.
“ Iya kakak, kalo Java Jazz, aku biasanya main kak “ kata Jenny mantap.
“ Wah, kamu keren. Dengan siapa, band gitu ya ?”
“ siapa aja sih kak, kalo ada yang ngajak aku ikut, ah kakak. Biasa aja itu…” kata nya tersipu merendah.
“ Heee, itu sih hebat, kamu kan masih begitu muda, sudah bisa begitu, banyak orang saja belum bisa lho, Jen “ cetus ku membanggakan si Jenny.
Seberapa orang dari dirimu yang telah menyadari bakat karuniamu lalu kau menuju jalan hidupmu dengan itu? Aku rasa tidak telalu banyak lagi. Lingkungan kita banyak mengubah jalan dan cara pandang kita tentang hidup. Dapat saja kau yang telah sedari lama mendalami sesuatu, tiba-tiba membelot. Kau dapat saja membelot karena keuntungan yang lebih baik, atau karena kau rasa jalan yang kau lalui dengan caramu dulu tidak lagi mulus namun berliku. Itu sama sekali tidak salah kawan ku, sama sekali tidak. Hanya saja, apakah kau merasa menjadi dirimu sendiri? Apakah kau puas hanya dengan kaya misalnya? Mungkin iya mungkin tidak, namun setiap orang akan lebih baik mengisi relungnya di dunia.
Namun ada orang, yang jumlahnya lebih sedikit, tetap fokus pada apa yang Tuhan beri dalam dirinya, dalam kehidupannya yang disyukuri. Pemberian itu banyak sebutannnya, aku menyebutnya bakat. Banyak orang sering salah menilai tentang bakat yang sebatas memainkan sesuatu dengan handal, menggiring bola dengan baik atau melukiskan sesuatu dengan indah. Mereka kemudian menjadi tidak percaya diri.
Bakat lebih dari itu kawan ku. Bahkan kemampuan mengubah suasana sendu jadi kegimbiraan. Bahkan kemampuan memikat orang-orang. Bahkan kemampuan untuk merenungkan sesuatu lalu menulisnya. Bahkan kemampuan mencetuskan gagasan-gagasan unik. Bahkan kemampuan menghibur orang lain. Bahkan kemampuan menganalisis aritmatika. Bahkan kemampuan mengidentifikasi organisme. Bahkan hal-hal lainnya. Kita tidak akan pernah sendiri kawanku. Atau apa yang seperti Liverpudian bilang, You Will Never Walk Alone!.

“ ya, tetap biasa aja kok kak…” kata Jenny masih merendah saja.
“ Ah kamu ini Jen, memang sedari kecil ngedrum? “ tanya ku.
“ Iya, k, dari SD gitu, lupa saya kelas berapa, sudah lama “
“ wah, selama itu, kamu pernah main double pedal juga ga?”
“ Bisa sih, kak dulu. Tapi kan sekarang mainnya jazz, jadi udah ngga lagi…”
“ wah, keren kamu Jen… “ kata ku tambah kagum.
“ ah, kakak bisa aja…” kata Jenny, tersipu malu.
“ tapi kan, memang hebat, coba berapa banyak siswa SMA kaya kamu sekarang ? ga banyak kan, jadi kamu memang hebat, Jen “
“ di Java Jazz minggu lalu kamu main ? “ tanya ku merujuk pada sebuah gelaran besar musik Jazz.
“ iya, kakak. Aku main di Java Jazz kemarin itu… “ kata Jenny.
Iri aku terhadap Jenny. Sampai tahap dan usia ku ini, aku baru saja menentukan mau seperti apa jalan hidup ku. Sedangkan Jenny, bahkan sedari kecil sudah terarahkan lewat bakatnya, akan kemana ia. Semoga kesuksesan dalam hidup selalu bisa diraih. Semoga aku pun berkesempatan berbuat sesuatu yang besar dari apa yang aku telah pilih untuk jalani. Hei, Jenny, tahukah kau ? terima kasih telah memberi ku dan orang-orang yang nanti membaca tulisan ini, sebuah semangat lagi .
Teeeeeeet! Bel tanda kelas masuk berbunyi. Aku belum solat maghrib.
“ udah masuk nih, Jen, aku mau solat dulu ya, senang mengenalmu, nanti kapan-kapan aku ajak ngobrol lagi ya De, buat BTA band, hehe. sekali lagi, salam kenal ya Jenny Asla, sang drummer cilik…” kata ku terkekeh.
“ah kakak mah… iya kak Abas, salam kenal aku juga mau solat dulu… “ kata Jenny lirih.
Ternyata dia seorang muslim, aku kira dia katolik atau apa.
… … … … …
bersambung
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

1 comments:

Unknown said...

wah.. keren sumpah!! hahaa.. iya, dari namanya kirain si Jenny Asla chinese2 katholik gitu ternyata eh ternyata muslim..

Post a Comment