Saturday, January 15, 2011

Sehari Penuh Segenggam Pesimisme

Sabtu 15 Januari 2011

Sehari Penuh Segenggam Pesimisme

Bangun tidur di pagi hari. Setelah solat subuh, ku setel televisi, malah tidak mengaji. Mencari-cari saluran peliput berita olahraga. Lihat berita transfer pemain bola. Edin Dzeko pindah dari Wolfsburg ke Manchester City, Real Madrid ngincer Miroslav Klose. Rafael Nadal petenis nomor satu se-dunia tahun 2010. Tapi, belum ada berita positif tentang olahraga Indonesia. Ya Allah, bantu kami. Bantu supaya kami agar punya prestasi olahraga yang bersinar ya?
Ganti channel, ku lihat berita, masih muka lama. Masih tentang aksi Super Gayus. Enak ya punya uang 30 milyar. Bisa melakukan apapun terserah Anda, apalagi ditambah bekingan orang gede negeri ini. Rabbi, kalau aku punya uang 30 milyar, dengan cara jujur, aku ingin menikah muda saja, biar kulamar saja dia, lalu kami punya rumah sendiri, makan sendiri, cuci baju sendiri, kalau bisa sih, lebih baik sama istri hamba saja ya?, tak lupa pula ku hajikan lagi ayah bunda dan para mertua. Walau uang di kantong hamba sekarang 30 ribu,Semoga Kau kabulkan ya Rabb? Tinggal tambahkan enam angka nol lagi,kok.
Satu-satunya tontonan yang masih begitu jujur dikala pagi seperti ini, kayanya tinggal Spongebob Squarepants. Itu kalo kita ga memperhitungkan faktor didikan kapitalisme dan liberalisme dari mister Krabs. Ga kebayang, kalo di masa depan nanti ada lebih banyak lagi pemuja harta dan pendewa dunia gara-gara pada nonton Spongebob Squarepants pagi-pagi kaya diriku ini.
Ah, pusing, ku mandi saja kalau begitu.
Segar setelah mandi, ku bersiap mengantar adik ke sekolah. Kebiasaan yang ku lakukan saat lagi dirumah seperti ini. Pagi-pagi begini, dia lagi begitu serius mengutak atik keypad hape. Fesbukan. Beda banget kaya aku dulu. Serabutan menyiapkan bahan pelajaran sekolah. Khawatir ga bisa jawab soal Bapak/Ibu guru nanti, terus disetrap pulang lebih lama. Tapi, adik ku ni ga salah kok. Kalau zaman ku dulu sudah ada hape ber-fesbuk, aku akan ber-fesbuk juga pagi-pagi. Bikin status “ Bro, siap-siap ngantuk, nanti pelajaran Kewarganegaraan.. huahh. Malay. -__-“
Ku tegur adik ku untuk bersegera berangkat. Dia menurut. Ya Rabb… akan jadi apa generasi penerus negeri kami ini, kalau pagi-pagi begini, bukannya membaca kalam-kalam Mu, kami malah sedang sibuk mengurusi status fesbuk? Bantu kami, ya Rabb? Tinggal blokir saja akses fesbuk dan twitter di waktu-waktu ibadah, waktu belajar, dan waktu-waktu kami berkumpul dengan orang-orang yang kami sayangi, jadi mereka ga dicuekin lagi. Tolong bantu ya, Rabb?
Pulang mengantar sekolah, Ibu sudah menyiapkan sarapan.
Ibu bilang “ makan juga pakai sambal” begitu katanya
“Ma’e, kok sambalnya ini aga manis ya?” Tanya ku penasaran. Sambalnya berasa manis, padahal kan harusnya pedas ya? Kan namanya sambal? Tidak nyambung.
“Iya, harga cabainya sedang mahal, itu cuma tiga biji cabainya, lebih banyak tomatnya, tapi sama merahnya kan?” begitu Ibu memberi penjelasan. Diplomatis. Apa adanya. Tidak seperti para menteri sok tahu itu. Bilang harga pangan terkendali. Inflasi dalam batas wajar. Aku sih bukan mahasiswa Ekonomi, seperti teman ku Aichiro atau Indarnoto itu. Tak mengerti aku bahasa inflasi. Tapi cabai memang bukan termasuk pangan kan? Cabai itu bahan tambahan memasak. Terang aja harga pangan terkendali. Menteri itu tidak bohong, maksudnya pasti beras, atau jagung barangkali. Dia tidak bohong, tapi pasti diminta menipu kami. Tapi, beras juga kan mahal ya? Tuh sampai ada yrakyat ang makan tiwul saban hari, udah gitu mati keracunan pula ia… keracunan tiwul, kemarin masuk koran.
Ya Allah, bantu rakyat negeri ini. Supaya bisa melalui hari-hari berat ini dengan tetap penuh syukur kepada-Mu… Bantu juga pemimpin kami, supaya tidak tuli
telinga mereka, supaya masih punya hati mereka semua. Dan soal bapak/ibu keracunan tiwul itu, tolong ampuni dosanya ya Allah? Supaya bisa mereka masuk surga. Lalu, biar mereka senang-senang didalamnya. Makan nasi lauk ayam bakar, lengkap dengan sambal dan lalapan.
Setelah sarapan, aku bersiap berangkat. Mengajar di bimbel.
Hujan deras di luar. Aku tidak ingin sampai tempat bimbel basah kuyup. Aku naik bis saja kalau begitu. Aku berjalan ke arah jalan raya. Menunggu bis jurusan pasar minggu.
Aku naik bis, yang aga lengang. Di depan ku, dua orang mas, karena sulit aku menyebutnya remaja, atau pemuda apalagi. Di sebelah kiri ku, ada empat orang remaja putri.
Kedua orang mas itu, mereka merokok, merokok dengan nikmat. Mengebul-ngebulkan asap ke seantero bis. Aku tepat dibelakang mereka, terbatuk-batuk. Remaja-remaja putri itu, begitu sexy, berpakaian minim, mudah terlihat, dan ketat sekali. Masih pagi padahal. Aku tepat di sebelah mereka, mengalihkan pandangan. Takut memikirkan yang tidak-tidak. Padahal sudah. Tapi apa itu jadi salahku? Tidak kan? Membela diri aku, kawan.
Ya Allah, kalau begini, hamba kan jadi serba salah. Ingin hati ku tegur mas-mas itu, tapi cari ribut itu namanya. Tau apa aku tentang menghargai hak orang lain untuk tidak merokok di tempat umum? Mereka juga pasti bilang punya hak untuk merokok di tempat umum seperti ini. Kan namanya tempat umum? Cuma hati dan budi pekerti yang bisa menghentikan mereka merokok sepertinya. Terus anak anak gadis itu, duwh… gapapa deh belum bisa berjilbab, tapi ya jangan jualan gitu dong, kan jadi banyak yang pengen nantinya. Tapi mereka kan, ga sepenuhnya salah, wong yang mereka tonton sehari-hari isinya juga yang begitu, orang terkenal pula, cantik pula, mulus pula, jadi pake celana pendek sepaha pun makin terlihat mulus. Niru-niru deh mereka. Duh, Ya Allah, aku bingung kalinat doanya kalau begini jadinya… tapi ya Allah, apapun yang akan kau putuskan nanti, aku tahu itu adalah yang terbaik untuk bangsa dan masyarakat kami. Amiin.
Bis berjalan, bukan, bis berlari,cepat sekali! Kernet dan sopir tertawa-tawa senang. Mereka sedang berbalap dengan bis lain satu jurusan. Ini pasti soal kejar-kejaran setoran lagi! Parah, dikiranya kita sayuran dari pasar induk Kramat Jati barangkali! Atau baju murah Pasar Grosir Cililitan! Hahaha. Tak berdaya kami. Hanya dengan uang dua ribu rupiah, pantaslah kalau kalau kami percayakan nyawa ke bapak sopir dan kernet. Gila. Ya Allah, semoga rem metromini ini ga blong.
Sampai di pasar minggu, aku turun berganti angkot. Lalu turun di seberang bimbel. Tidak mau bapak sopir aku kasih seribu untuk jarak yang sedekat ini. Bapak sopir ankot minta dua ribu, seperti harga biasa. Aku mengalah saja, aku berikan dua ribu. Memang susah cari uang zaman sekarang. Semoga istri dan anak bapak sopir angkot makan dengan baik lewat uang-uang kami ini. Anaknya kuliah sampai sarjana. Anaknya cukup dua saja, biar tidak tambah banyak orang miskin negeri ini. Amin ya Allah.
Menyeberang lewat jalan yang ada, dengan undakan tangga, menuju jalur yang terpotong rel kereta! Gila, kemana palang pintu, atau setidaknya rambu-rambu? Di depan ku baru saja dua kereta lewat. Dua berturut-turut, tanpa ada peringatan! Bagaimana kalau ada yang tertabrak? Hancur terburai-burai barangkali. Bukan, maksudku mana tanggung jawab pemerintah, dan masyarakat, kalau ada yang tertabrak? Ya Allah, semoga pemerintah, atau setidaknya orang yang punya uang, terpanggil ya, untuk memperbanyak pintu di jalur perlintasan kereta kaya begini. Sekalian kalau bisa, keretanya diperbagus, diperbanyak juga. Biar ga sempit-sempitan di dalam kereta begitu.
Sudah sampai aku di bimbel, tempat aku mencari uang tambahan untuk hidup dengan baik di kampus, tidak terlalau merepotkan orang tua plus mengabdikan ilmu mendidik generasi penerus. Ya Allah, setelah solat zuhur ku ini, sebelum aku masuk ruang kelas, ku panjatkan doa-doa ku sepanjang hari tadi. Ya Allah, jadikan pula aku, dan teman-teman lain sesame pengajar, senantiasa memiliki ketulusan hati, mendidik adik-adik kami, ilmu-ilmu yang kami beri, yang kami dapatkan dari Engkau dan guru-guru kami. Supaya dengan ilmu-ilmu itu, adik-adik kami bisa lebih tertarik belajar, menjadi insan-insan terbaik bangsa ini, dan agama-Mu. Ya Allah, semoga bisa pula kami berikan mereka budi pekerti dan pribadi luhur, tentu saja dengan diawali dari diri kami ini. Amiin ya Allah.
Aku masuk ke ruang kelas.

N.B:
Ya Allah, berkenanlah pula jika Kau gerakkan hati manajer-manajer bimbel kami untuk menaikkan honor mengajar kami. Supaya bertambah semangat kami dalam mengajar. Amin.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment