Sunday, March 27, 2011

TIGA ORANG MURID. bagian 1

AULIA PRASETIO Dapatkah kita menjalani beberapa hidup sekaligus?
Aku tidak tahu pasti, yang jelas, kalau kita berhitung dengan benar, dalam 24 jam hati kita saja, kita bisa menjalani beberapa hidup sekaligus kalau kita mau.
Tidak percaya? Mungkin cerita ku ini bisa membantumu untuk percaya.
Hari ini, sesuai rutinitas baru ku, aku mengajar di bimbel. Dalam seminggu, aku mengajar 7-10 sesi atau kalau di konversikan ke jam, sekitar 10-15 jam seminggu. Bisa juga dibilang, dalam seminggu, atau tujuh hari, aku gunakan waktu ku selama sekitar setengah hari, untuk mengajarkan ilmu ku ke anak sekolah, sekaligus mencari nafkah.
Di luar itu, ada beberapa kegiatan lagi yang aku lakukan.
Selama seminggu, aku menghabiskan waktu untuk berkuliah, sekitar lebih kurang 20 jam. Lalu, menulis selama 2 jam sehari, atau sekitar 14 jam seminggu, Meluangkan hobi ku bermusik dan membaca sekitar 5-6 jam dalam seminggu, belajar selama 7 jam dalam seminggu, beribadah selama 5 jam dalam seminggu, dan untuk beristirahat selama 21 jam dalam seminggu.
Sekarang ayo kita konversikan sedikit. Tujuh hari bisa kita konversikan menjadi 24 jam x 7 atau sama dengan 168 jam. Seluruh bilangan jam di paragraf sebelumnya jika dijumlahkan bernilai 82-88 jam. Kalau kita bulatkan keatas, aku punya sekitar 80 jam dalam seminggu yang belum bernilai apa-apa, kawan ku! Mungkin aku dalam perjalanan, aku melamun, aku ngobrol, aku ke kamar mandi, aku duduk melamun lagi dan lain lain, misal aku habiskan 10 jam, tetap saja, ada sekitar 70 jam yang hilang entah kemana. Jam-jam yang mungkin bisa membuat kita jadi siapa pun yang kita mau dan sanggupi. Luar biasa, aku tidak tahu bagaimana dengan hitung-hitungan dirimu.
Berarti apa lalu semua itu di tulisan ini untuk mu? Mohon sabar kawan, biar aku selesaikan dulu cerita ku.
Di dua kelas XII IPA yang aku ajar hari ini, aku temukan suatu hal yang berkesan dari anak-anak didik ku.
… … … … … … … …
“ pada kemana yang lain ? baru lo sendiri aja, Ul “ tanya ku pada salah seorang murid di kelas XII IPA 3 yang aku ajar. Namanya Aulia Prasetyo. Aku panggil dia Aul, dia panggil Kak Abas. Lalu kita berdua saling ber lo gue Tidak pada banyak murid aku gunakan panggilan-panggilan seperti itu. Aul salah satunya, entah mengapa, kami hanya merasa cocok begitu saja dengan saling bicara dengan seperti itu. Lain kombinasi adalah aku-kamu , saya-kamu, dan kakak-ade. Belum. Belum pernah ada tuh yang inyong-sampean atau kulo-panjenengan. Hehe
“ ah lembek mah mereka, baru ujian sekolah aja, udah pada males masuk les Kak! “ kata Aul nyolot.
“ Oh, gitu. Nah lo kok masuk Ul? “ tanya ku lagi.
“ Cielah, cuma ujian sekolah gitu. Bercanda doang. Gue Bahasa Indonesia aja cuma setengah jam “ katanya lagi, tetap nyolot.
“ jago juga lo, Ul, lo dapet kebetan ? “ sindir ku.
“ kagak bos, nah tuh guru gimana, kasih kisi-kisi soal, pas di ujian keluar cuma pindah pilihan hurufnya doang. Nah gue sampe apal jawabannya, baru soalnya aja gue udah tau jawabannya “ kata Aul merepet.
Aku salah, ternyata dia tidak jago. Gurunya lebih jago lagi, bikin kisi-kisi apa niat kasih tahu soal ujian, toh bapak/ibu ini ?
“ Oh, gitu, yaudah. Ayo kita mulai, udah setengah lima. Lo dateng juga uda telat lama Ul, haha “
“ sial, tapi kan mendingan gue dateng, Kak! “ balasnya.
“ iye, iye… yo kita berdoa dulu sebelum mulai pelajaran…”
Setelah berdoa.
“ Kita bahas yang mana, Kak ?” tanya Aul.
“ Yang ini, modul UAN nomor 2, lo bawa kan ? “ jawab ku sambil menunjukkan lembaran modul lepas pelajaran Biologi bersampul kuning. Masing-masing modul lepasan seperti ini berisi 40-50 soal, tergantung mata pelajaran terkait.
“ bawa gue…” katanya sambil mengeluarkan modul miliknya dari dalam tas.
“ Lo kerjain dulu dah, per sepuluh soal kita bahasnya”
Aul membuka lembaran-lembaran soal, dan mulai menjawab soal-soal tersebut.
Sret. Sret. Sret. Cepat saja sepuluh soal sudah terjawab.
“ ni soal begini-begini aja, Kak. Sampe bosen “ katanya, sekarang songong.
Aul terhitung anak yang “ cerdas “. Cerdas dengan tanda kutip karena nyatanya dia cerdas ditambah nyolot dan songong. Hehe. Dia adalah pelajar SMA N 49. Suatu SMA Negeri di bilangan Jagakarsa. Cabang bimbel yang sekarang aku ajar adalah cabang jalan Siliwangi, distrik Depok 2. Cukup jauh jarak dari Jagakarsa sana ke Siliwangi. Entah mengapa dia tidak mau ikut bimbel ini di cabang Pasar Minggu saja yang lebih dekat.
Aulia Prasetio begitu menyukai aktivitas lapangan, terutama naik gunung. Seringkali dia meceritakan pengalamannya yang telah mendaki berbagai gunung di pulau jawa. Bagaimana dia dikejar-kejar babi hutan, memakan anggrek tanah, begonia, buah-buah butan, mempupus dahan rotan untuk diambil dagingnya, membuat bivak perapian, memanjat tebing-tebing, hingga tidur di tengah hutan gelap. Bahkan mahasiswa Biologi yan gkukenal saja tidak banyak yang seperti Aul ini. Akhir bulan April nanti kami berdua merencanakan naik gunung Gede. Sampai ke puncak Pandan Wangi, untuk kemudian terdiam terpesona ditengah padang Edelweis nya.
“ sotoy lo… kita bahas dulu, kita lihat lo bener berapa “ kata ku menantang.
Kami berdua (saja) pun mulai membahas soal-soal Biologi di modul itu. Kelas sudah berjalan setengah sesi lebih, tidak ada lagi siswa yang datang. Mungkin benar kata Aul ,yang lain lagi lembek gara-gara ujian sekolah. Padahal masih ada ujian nasional dan berbagai ujian ke perguruan tinggi.
“ Bos, lo bisa main gitar ga ? ” tanya si Aul di saat kita rehat mengerjakan modul.
“ bisa “ jawab ku apa adanya.
“ bikin ben yo “ katany lagi
“ hah? Apaan ben ? “
“ iya ayo kita bikin ben di BTA sini, lo yang main gitar, terus kita ajak kak Agung buat main gitar juga “
“ oh, kak Agung juga bisa main gitar ? “ kata ku merujuk pada salah satu pengajar lain. Kalau tidak salah, kak Agung itu mengajar mata pelajaran Matematika.
“ Wuiih, jago dia, Bos. Melintir-melintir main gitarnya. Apalagi kalo lo minta dia main klasik, wuuiiiih mantap, Bos. Waktu itu gue nginep rumahnya gue liat dia main gitar “ katanya panjang lebar promosi.
“ oh iya ? kalo gue si gitu-gitu aja main gitarnya…” kata ku berusaha merendah, padahal memang cuma begitu-begitu saja.
“ kalo lo main nya potlot-potlotan gitu ya? Hahahaha “ katanya senang sambil menyebut kawasan dimana aku habiskan masa SMA ku dan mendalami musik disana.
“ sial lo, emang gimana pula tuh potlot-potlotan ? “ kata ku kesal.
“ yang kaya musik Slank-Slank gitu…” katanya sekarang menyebut suatu band legendaris Indonesia yang bertumbuh dan berkembang dari gang Potlot.
“ eh, Bos, terus gue main Bass bos ye ? “ katanya lagi.
“ terserah lo dah, emang lo bener mau bikin BTA band ?”
“ beneran bos, nanti pas training motivasi kita bisa tampil tuh… nanti kita ajak kak Qosim buat jadi vokalis, sekalian dia bisa mimpin baca alfatihah, doa tolak bala, dan salawatan sebelum kita tampil. Hahahaha. Terus kalo udah selesai manggung, kak Qosim nya tutup pake doa penutup majelis! Hahahaha” kata Aul dengan seru tergeli-geli sambil memegang perutnya.
“ parah lo… hahahaha “ kata ku ikut seru.
“ terus Bos, gue udah ada calon drummernya “ kata Aul setelah itu.
“ hah? Pengajar mana lagi yang bisa main drum gitu ? “ tanya ku penasaran.
“ bukan Bos, bukan pengajar. Dia siswa juga, anak IPS, masa lo belum tau “ katanya menantang.
“ hah belum tau gue, pan gue disini baru beberapa bulan “ kata ku kesal. Untuk cabang siliwangi ini, aku praktis baru mengajar selama lebih kurang dua bulan.
“ ya si Bos, yang ini beda… udah terkenal soalnya, masa lo belum tau, Jenny Asla namanya! “
“ hah siapa tuh ? belum kenal gue. Emang dia terkenal kenapa ?”
“ drummer cilik musik jazz, bos. Udah terkenal dia, kalo di Java Jazz aja dia rutin ngisi terus “ katanya mempromosikan
“ hah ? serius. Hebat dong. Itu kan internasional “ kata ku terkagum-kagum kepada orang ini.
“ Ah, lo kuper si kak. Katanya lo suka nonton JGTC. haha “ katanya. Ini anak kadang ngeselin.
“ gue nonton juga kan karena bagus-bagus musiknya, yang main sih gue belum tentu kenal. Eh certain lagi tentang si Jenny Asla “ pinta ku.
“ iya dia anak bimbel sini, sekarang juga masuk. Nanti lo gue kenali dah kak. Bentar lagi kan kita selesai. “
Tanpa terasa sudah diakhir sesi satu mengajar. Waktu istirahat pun datang ditandai dengan bunyi panjang bel yang ditekan Kak Qosim. Alhamdulillah, walau sambil bicarain hal lain, modul selesai dibahas.Sekedar info, bel ini teletak di bagian dapur kantor bimbel cabang siliwangi ini. Entah mengapa dibuat begitu.
Ingin sekali kukenal, Jenny Asla itu.
bersambung
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment