7 FEBRUARI 2011
ROMANTISME AGIANDA
Jalan Kemang Dalam VI blok C nomor 16.
setahun yang lalu, dan hari ini…
“Sebelum kita bisa mulai, kita kenalan dulu ya… nama ku Abdul Basir, di bimbel aku biasa dipanggil kak Abas. Aku pengajar Biologi, kalau kamu siapa namanya?”
“Nama ku Habibah Zahra Putri Agianda, kakak. Aku biasa dipanggil Habibah”
“Oh, begitu, nama yang bagus. Habibah... Sudah tahukah kamu arti namamu itu adalah sang kekasih?” sejujurnya dari serangkaian panjang namanya itu, aku cuma ingat saat dia menyebut Habibah saja. Selebihnya aku tidak jelas, bahkan sampai setahun kemudian aku baru tahu nama lengkapnya.
“Iya, kakak. Mama dan papa pernah kasih tahu arti nama ku itu” katanya sambil tersipu malu.
“Mama papa mu memberi mu nama yang terbaik, Habibah…,Baiklah, bisa kita langsung mulai belajar? Hari ini kita akan belajar IPA, boleh saya lihat buku mu saja untuk belajar?”
“Iya kakak, sebentar…” katanya lirih sambil mengambil sebuah buku dari tas sekolahnya. Sebuah buku yang cukup tebal, judulnya Kumpulan Soal Masuk … aku tidak dapat ingat jelas judul buku saat itu. Sepertinya nama sekolah swasta favorit di Rawamangun sana.
Aku bentangkan buku itu diatas meja tempat kami belajar berdua ini. Aku buka bagian soal Ilmu Pengetahuan Alam, tempat dua puluh soal biologi bercampur dengan dua puluh soal fisika.
“Oke Habibah, kita mulai belajar ya… Semoga saya bisa membantumu masuk sekolah ini… bismillah…”
... … … … … … …
Momen itu terjadi kurang lebih setahun yang lalu, saat aku datang kerumah salah satu murid privat ku Habibah untuk memberikan layanan pengajaran. Aku cuma dua kali mengajar Habibah, setelah itu aku tak tahu bagaimana kabarnya. Hal lain yang aku ingat, pulang dari mengajar Habibah, aku pulang menembus hujan dengan motorku. Entah mengapa momen kecil itu tidak hilang dari ingatanku saja bahkan hingga satu tahun. Hari ini aku tahu kenapa satu ingatan itu berdiam diri selama itu dipikiran ku.
Kenangan adalah hantu yang bersembunyi di salah satu sudut pikiran kita, itu salah satu kalimat yang begitu ku ingat di buku yang sedang aku baca. Sebuah novel berjudul Perahu Kertas. Iya, kawanku. Begitulah kenangan bersifat didalam pikiran kita. Dia seperti hantu. Dan karena dia hantu, maka dia akan menghantui. Menghantui dirimu.
Kenangan akan suatu momen dapat membahagiakan atau menyakitkan dalam hidup kita. Dia akan muncul begitu saja tanpa permisi. Saat misalnya kau lewat suatu tempat dengan tidak sengaja, tiba-tiba hantu itu muncul. Dia mengingatkan mu bahwa di tempat itu dimasa lalu kau pernah bersuap makan siang berdua dengan pacarmu. Lalu apa yang terjadi pada mu saat ini? Tersenyum getir kah kau akan kenyataan yang kau punya sekarang? Atau kah kau malah sedang menertawakan kenangan itu? Menertawakan kebodohanmu sendiri?
Momen seperti bersama Habibah itu mungkin saja sebegitu kecil seperti serangkaian kejadian sekelebat yang lewat di hidup kita. Tapi tahukah kau, kawan? Atau kau malah pernah merasakan? Bahwa serangkaian beberapa momen kecil hidupmu itu bisa jadi suatu romantisme yang menyunggingkan senyum? Aku beritahu kau kawan, di Arsy sana, Tuhan kita itu ternyata begitu puitis. Tidak hanya merangkai firman-firman indah di kitab suci, dia merangkai kejadian hidup manusia manapun pilihannya, menjadi satu untaian manik-manik mutiara romantisme.
Tidak percaya? Aku bagikan pada kalian catatan ku ini.
… … … …
… … … …
Setahun itu waktu yang lama atau waktu yang sebentar ya? Aku juga sudah lupa. Aku sudah lupa seberapa lama atau seberapa sebentar satu tahun itu semenjak tidak lagi aku lihat kalender untuk pengingat tanggal. Dulu, sewaktu aku masih melihat kalender untuk melihat tanggal, aku menandai setiap tanggal yang telah dilewati. Aku tandai dengan coretan berwarna merah. Berantakan tentu. Di kalender pula aku menandai suatu tanggal dengan lingkaran berwarna merah, tanda suatu tanggal penting. Mulai dari hari ulang tahun seseorang, hari saat aku akan pergi dengan pacarku, hingga hari penting lain. Pernah aku menandai tanggal di kalender dimana saat hari itu aku akan dikhitan. Di sunat. Makin dekat tanggal itu, makin panik diriku. Atau kalian memiliki kalender yang dirobek setiap hari setiap tanggal hari itu telah lewat?, menyenangkan sekali merobeknya setiap hari, hingga bilangan 365.
Sekarang kemana ya kebiasaan itu pergi? Sekarang aku melihat tanggal di kalender elektronik di hape. Kebiasaan memberi tanda dikalender pun jadi hilang, digantikan alarm yang kita setel hape kita berbunyi saat tanggal itu datang. Seiring perkembangan teknologi, memang banyak yang hilang dari kita ya? Masihkah ada dari kalian yang menulis diary? Lebih gampang meng-update status di fesbuk bukan? Sekali tulis, sebar ke orang lain, rasanya lepas beban di hati. Bahkan cerita tersedih yang kita simpan pun bisa jadi obrolan bersama yang begitu menarik. Pertanyaannya adalah apakah setelah itu lalu kau merasa telah melakukan hal yang benar?
Mungkin karena itu pula setahun itupun rasanya menjadi begitu cepat buatku. Tahu-tahu sudah satu tahun. Tahu-tahu sudah semester baru saja hari ini, rasanya baru kemarin masuk kampus ini. Terus kenapa aku hitung hari ini sebagai tanda satu tahun sudah lewat? Tunggulah sabar kawan, aku bahkan belum mulai cerita.
Aku dapat jadwal mengajar privat dua hari, hari ini dan besok, alamatnya dimana? Betul sekali, jalan Kemang Dalam VI blok C nomor 16. Kalian kan sudah baca awalan catatan ku ini. Tapi aku yang siang tadi, belum menyadari dimanakah alamat itu sesungguhnya pernah aku singgahi.
Aku pun berangkat kesana, setelah kuliah jam kedua. Perkiraan waktu akan sampai dalam satu jam. Sekarang masih jam tiga, masih ada dua jam sebelum mengajar. Aku niatkan pergi ke kantor bimbel untuk mengambil sekalian honor mengajarku bulan lalu.
Sesampainya di kantor bimbel ku di daerah Bambu Suling, Pasar Minggu sana, aku langsung izin ke manajemen untuk solat ashar. Setelah solat ashar itu, aku keluarkan hape, hendak menuliskan alamat yang dikirim ke hape ku ke buku catatan kecil. Jalan Kemang Dalam VI blok C nomor 16. Rasanya alamat ini tidak asing buat ku? Aku sepertinya sudah tahu dimana lokasi tempat mengajarku sore ini. Tapi aku lupa diantara sedikit ingat itu.
“Kak, rasanya aku tahu alamat ini, tapi aku lupa begitu, tapi sungguh, aku punya perasaan aku tahu alamat ini kak” kata ku kepada beberapa teman mengajar yang hadir di kantor bimbel saat itu.
“Iya kak? Wah aku juga kurang tahu kakak. Mungkin dulu kakak pernah punya teman disana, terus alamatnya deket-deket alamat itu?” sahut kak Nia, salah satu yang hadir saat itu. Dia manajer keuangan cabang bimbel ini.
Sekilas, sekelebat, muncul bayangan-bayangan itu dari pikiran ku.. Hantu yang bersembunyi di sudut pikiran. Seperti sebuah kilasan peristiwa, hantu-hantu itu berseliweran. Beberapa rangkai kejadian terlintas di pikiran. Bersembunyi begitu lama, rasanya mereka begitu senang akhirnya dapat keluar. Akhirnya aku tahu, alamat siapa ini. Ini rumah Habibah yang itu!
“Ah aku ingat, ini alamat rumahnya Habibah kak, dulu aku pernah ngajar disitu. Kalo ngga ya alamat ini deket-deket rumah itu” kata ku sumringah.
“iya kak? Habibah yang privat waktu kelas 6 itu? Tapi yang sekarang kan kakak privat anak SMP mau masuk SMA, masa iya si Habibah yang itu udah SMA aja… hehe” kak Nia berceloteh riang.
Iya juga ya, berarti bukan si Habibah. Tapi entah mengapa aku yakin sekali aku tahu alamat ini.
“Yaudah deh kakak, aku pamit berangkat ya…”
Aku pun berangkat menuju alamat itu. Tujuan pertama adalah menuju daerah Kemang. Sekitar lima belas menit aku sudah sampai. Lalu di lampu merah McDonalds Kemag Raya itu, aku mengambil jalan ke arah gedung Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Saat ketemu petunjuk jalan arah Hero kemang, aku akan belok disitu, sampai daerah Kemang Dalam. Sungguh aku tahu daerah ini. Bahkan aku masih begitu ingat seluk-beluk jalanan ini setelah begitu lama. Aku ingat dimana didalam kompleks Kemang Dalam VI itu aku harus belok, mencari blok C. Setelah pos RW, setelah melewati jembatan dengan sungai kecil dibawahnya. Aku tahu dimana rumah ini. Sungguh aku tahu. Aku tahu perjalanan sore ini akan sampai di tujuan di rumah itu. Rumah yang berfungsi sekaligus sebagai taman bermain, playgroup, pada pagi hari. Rumah berwarna jingga berhiaskan berbagai macam gambar dunia bayi dan balita. Rumah yang di teras depannya ada taman bermain anak-anak. Rumah bernomor 16 di blok C Kemang Dalam VI ini adalah rumah Habibah yang itu. Aku benar. Sungguh aku benar. Ini rumah tahun lalu itu.
Aku masuk ke garasi yang sedang lengang. Hanya sebuah sedan merah terparkir disitu. Kondisi rumah sekaligus playgroup ini juga tampak lengang. Aku ucapkan salam, ada seorang lelaki keluar. Mungkin penjaga rumah ini. Darinya aku mendapat informasi bahwa yang empunya rumah sedang menjemput anaknya pulang sekolah. Aku diminta menunggu di depan.
Terbersit pertanyaan dalam diriku, ini rumah Habibah tempat ku mengajar tahun lalu. Saat itu Habibah baru kelas 6 SD, baru akan masuk SMP. Lalu siapa yang aku ajar sebentar lagi ini? Apa Habibah selama satu tahun ini ikut kelas akselerasi mengebut sampai kelas 9 SMP? Itu sangat tidak mungkin. Apa ada sekolah yang tega begitu? Atau Habibah mungkin punya kakak, yang belum aku tahu? Ah, kesimpulan ini kan lebih masuk akal! Bodohnya aku. Berarti yang aku ajar sebentar lagi adalah kakaknya Habibah yang sedang persiapan masuk SMA.
Lama menunggu, setelah beberapa bab novel Perahu Kertas aku baca, sebuah mobil pun berhenti didepan gerbang rumah ini. Penjaga rumah datang keluar setelah mendengar beberapa kali klakson mobil dibunyikan. Penjaga rumah membukakan gerbang, sebuah mobil Kijang pun masuk ke garasi, menjadi penghuninya bersama dengan sedan merah tadi dan motor ku didepannya.
Seorang remaja laki-laki tanggung, anak SMP, keluar dari mobil yang terparkir. Di kursi kemudi tampak seorang wanita, dari informasi yang aku dapat, namanya ibu Indri, ibunya Habibah. Dan itu Habibah yang sudah aku kenal, sedang duduk di kursi bagian tengah.
“Kakak, maaf ya menunggu sudah lama ya? Padahal kita janjian jam lima tadi ya… maaf hari ini macet sekali kak” kata Ibu mereka dengan wajah tulus memohon maaf.
“Iya ibu, gapapa, saya juga cuma menunggu sebentar kok…, ini anak ibu yang nanti saya ajar?”
“Iya, namanya Fariz kak… dia anak pertama saya… Fariz, salim nak sama kak…?
“Abas bu…”
“Salam kenal kak Abas” kata anak lelaki itu, Fariz, sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat. Lalu menundukkan kepala hendak mengecup punggungan tangan ku, yang aku tolak dengan halus.
“Berarti dia kakak nya Habibah ya bu?” tanya ku pada sang Ibu.
“Iya, lho kok kakak kenal sama Habibah” tanya bu Indri heran.
“Iya ibu, mungkin ibu lupa, tapi saya pernah mengajar Habibah. Dulu dia masih kelas 6 SD”
“Oh, iya? Wah. Sudah lama sekali ya? Itu kan setahun yang lalu ya?.... Habibah… turun sini Nak, kamu masih ingat sama kak Abas ga naaak? Tahun lalu kak Abas yang ikut mengajar kamu buat masuk Labschool nak”. Kata bu Indri riang kepada anaknya, Habibah, yang memang belum keluar dari mobil.
Terdengar suara pintu mobil yang dibuka lalu ditutup kembali. Yang dipanggil akhirnya keluar dari mobil.
“Iya, Maa.. aku ingat sama kak Abas…” jawab Habibah. Ia pun menghampiri kami bertiga. Berusaha berjabat tangan, tapi aku tahu dia tidak mau. Kami pun hanya saling menangkupkan tangan untuk alasan Syar’I yang keluarga ini jaga. Aku tidak tahu sejujurnya, tapi perasaan ku bilang keluarga ini begitu. Jilbab yang dipakai anak dan ibu ini, suasana rumah ini, dan sopan santun mereka yang halus yang menggambarkan itu buatku.
“Waah, Habibah, sudah lama ya? Sekarang kamu SMP dimana?” tanya ku pada Habibah.
“Iya kak Abas, dia bisa masuk Labschool, terima kasih juga buat kak Abas dan tim pengajar BTA 8 Pasar Minggu. Karena itu pula makanya si Fariz ini saya privatkan saja juga ke BTA 8. Fariz ingin saya masukkan saja SMA nya ke Labschool” jawab bu Indri yang sebenarnya tidak ditanya, dengan panjang.
“Oh begitu bu? Alhamdulillah, bersyukur saya kalau saya ikut membantu Habibah masuk Labschool. Semoga saya juga bisa membantu Fariz masuk SMA Labschool ya bu” kata ku. Aku tidak dapat menyembunyikan perasaan senangku. Rasanya baru kali ini aku mendapat kesempatan langsung melihat hasil apa yang selama ini aku lakukan, walau disela-sela waktu. Ini semua diluar materi. Ini tentang kepuasan batin, walau apa yang aku beri cuma setitik air dalam pikirannya,aku ikut menyemai bibit dalam jiwa seseorang. Lama aku tinggal pergi tanpa sempat melihat biji itu berkecambah. Sekarang dia ada di depan ku, telah tumbuh, dan masih terus tumbuh. Kelak dia akan berbunga, dan menyebarkan pesonanya kedunia. Saat itu aku berharap, masih ada setitik air itu didalam dirinya.
“Ya sudah, ayo sana Nak masuk kedalam, belajar yang rajin ya, nanti mama jemput kamu ya?” kata bu Indri penuh sayang pada anaknya Fariz.
Tidak lama, mobil yang dikendarai ibu Indri dengan Habibah didalamnya beranjak dari rumah ini. Lalu melaju ke suatu tempat. Aku dan Fariz masuk kerumah, seperti pengalaman tahun lalu aku bersama Habibah, belajar diruang yang sama. Belajar untuk tujuan yang sama, masuk ke sekolah yang sama.
… … … …
Setelah mengerjakan berpuluh soal Biologi, Fariz tampak bosan. Aku mengajaknya ngobrol untuk memberinya jeda sebentar. Si Fariz ini memang pendiam sekali. Habibah juga tahun lalu begini. Kalau aku tidak ajak mereka ngobrol, bisa-bisa aku ketiduran. Kejadian yang mirip ini, dipisahkan waktu selama satu tahun. Waskita kata orang Jawa. De javu kata orang asing. Tidak tahu aku dari bahasa mana kata de javu itu berasal.
“Fariz, kamu kenapa mau masuk Labs? Tidak mau ke SMA negeri saja?” tanya ku memulai perbincangan.
“Mmmm, aku ga mau aja kakak… kata Mama, pergaulannya ga baik” jawabnya singkat.
“Oh, begitu, memang sih, banyak SMA berlabel negeri itu malah tidak mencerminkan pergaulan siswanya yang baik…, tapi kan ada juga yang tidak?”
“Iya kakak, aku juga nyiapin SMA negeri cadangan kok kak. Aku mau coba ikut tes masuk SMA 8 atau SMA 28 kak kalo ga keterima di Labs”
“Oh begitu…” aku kaget sejujurnya, baru kali ini aku ketemu siswa yang menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan alternative, pilihan cadangan. Dua-duanya SMA favorit pula.
“Eh iya, aku boleh tanya sesuatu ngga?” sambungku tiba-tiba.
“Iya kak boleh… ada apa?”
“Dari tadi saya cuma kenal nama kamu Fariz saja. Boleh saya tahu nama lengkap mu?” tanya ku penuh minat.
“Oh iya kakak… Nama lengkap ku Abdurrahman Fariz Agianda” jawabnya.
“Hmmm, kalau ade mu, Habibah, siapa nama lengkapnya?”
“Habibah itu nama lengkapnya Habibah Zahra Putri Agianda kak …” jawabnya lagi. Sudah kan aku beritahu kamu kawan? Tahun lalu itu Habibah sudah perkenalkan nama lengkapnya, tapi aku tidak lengkap jelas mendengarnya. Sekarang, setahun kemudian, baru aku tahu nama lengkap Habibah itu. Bahkan, seorang manusia butuh satu tahun untuk tahu nama lengkap orang lain, kawan. Dua nama Agianda, dipisahkan waktu satu tahun lamanya.
“Kok di nama kamu, ngga ada Putra nya?” tanya ku lebih lanjut.
“Dulu ada kakak, aku juga lupa sejak kapan tidak tertulis Putra dinama ku…”
Terdengar sayup-sayup azan dikejauhan. Kami pun memutuskan untuk rehat sejenak. Kami akan solat berjamaah di ruangan ini.
Setelah mengambil wudu masing-masing, kami hamparkan sepasang sejadah di pojok ruangan. Aku sering solat berjamaah dengan para siswaku. Sepertinya tidak banyak lagi profesi yang bisa sekaligus mendekatkan sesama manusia serta sesama manusia dengan Tuhan nya. Guru bimbel adalah salah satunya.
“Siapa kak yang jadi imam?” tanya Fariz sebelum kami solat.
“Ini rumah mu, kamu tuan rumah disini. Baiknya kamu yang jadi imam buat saya. Besok kita gantian tapi ya?” kata ku mantap.
Kami pun solat. Alunan merdu bacaan surat panjang yang dilantunkan Fariz begitu membelai udara sekitar. Hangat. Aku tanya kau satu hal kawan. Mungkin kau sudah sedikit banyak mengenal pribadi siswa ku ini. Masih kah banyak anak lelaki seperti si Fariz ini? Setelah solat, kami melanjutkan belajar bersama. Bersama, karena sesungguhnya aku juga belajar banyak darinya hari ini.
Di luar, hujan turun disertai angin kencang. Menahan aku untuk pulang tepat waktu. Kecuali aku, nekat menembus hujan. Berbasah kuyup badan. Sama seperti kejadian setahun yang lalu. Sungguh sebuah romantisme.
…. … …
Temen-temen maaf ya ganggu.
Gue seneng banget tulisan gue dibaca, apalagi dikomentari atau diperbaiki isinya disana sini. Maaf ya, ada beberapa temen yang sering nanya kok mereka jarang di taggin, Gue memang ngetaggin nya acak. Sering kali yang gue inget taggin adalah orang yang kasih komen di notes sebelumnya. Atau orang yang sms gue setelah baca notes itu, entah ngasi komentar atau minta dikirimin notes lain-lainnya. Gue sangat berterima kasih =’) (terharu, hehe). bisa juga yang lama ga muncul komennya, ya ga gue kirim lagi. Prasangka baik, mungkin kalian ga suka tulisan gue yang emang ga bagus ini.
Menulis kegiatan gue mengisi waktu, selain baca dan main gitar (dan main games juga =p). Apalagi kalo lagi ga bisa tidur. Jadi dah, catatan-catatan ini dikirimkan dan mengganggu kalian. Hehe. Tapi kalo memang tulisan gue jelek dan kalian ga mau baca, gapapa kawan, gue udah seneng bisa berbagi. Kalo ada yang mau baca lebih banyak tulisan gue lagi (kalo memang ada yang begitu, hehe). kalian bisa tuh ketik di google, pake keyword masabas.no1, itu judul blog gue yang (narsis) jayus. Hehe.
Gue belum terpanggil buat merapikan blog gue, lebih suka menulis di notes. Mungkin secepatnya. =) terima kasih semua. Ingin ku baca juga catatanmu. Ayo kita mulai berbagi.
Wassalammualaikum. Semoga keselamatan tercurahkan senantiasa atasmu, kawan ku.








1 comments:
Gue kenal nih sm org yg di dlm itu yg lo sebut
Post a Comment