MENEMUKAN HATI DI
PULAU PARI
![]() |
| #NulisKilat by PlotPoint & Penerbit Bentang |
Nama ku Ryan dan aku tidak pernah mengalami malam minggu
yang sempurna.
Tahun lalu malam tahun baru ku dihabiskan di
tengah-tengah kemacetan menuju bundaran Hotel Indonesia. Berniat datang ke
Jakarta Night Festival (JNF) yang pertama kalinya diadakan, malah berakhir
dengan ngemper di pelataran Masjid
Istiqlal sampai Subuh. Detik-detik pergantian tahun ku habiskan dengan mencari
parkiran motor di sekitar Monas.
Lho kok Monas ?
Yep. Peristiwa bodoh itu berawal dari ke-soktahu-an teman
ku Yuan yang begitu ngototnya memaksa kami mempercayai bahwa Bundaran HI bisa
lebih cepat dicapai dan tidak terkena macet. Diperparah lagi dia baru sampai di
tempat kita janji ketemuan sekitar jam 10 malam.
Setelah melakukan perjalanan melewati jalanan yang begitu
macet, kami sampai di pintu masuk Monas bersama ribuan kendaraan lain yang
terjebak tak bisa bergerak. Akhirnya kami putus asa dan memarkir kendaraan di
sedapatnya tempat setelah menyadari bahwa Yuan SALAH TOTAL. Bundaran HI sama
sekali tidak dekat dari wilayah Monas yang sudah penuh sesak seperti ini.
Jangan kan bisa nonton aneka orkes di panggung hiburan, menemukan toilet saja
susahnya minta ampun, padahal sudah kebelet. Akhirnya kami bisa buang air kecil
di suatu tempat di sudut pelatara Masjid Istiqlal. Ah sudahlah itu tidak usah
kita bahas.
Dua tahun lalu setali tiga uang.
Waktu itu kami meniatkan untuk tahun baru-an di daerah
Puncak Bogor. Biar makin gaul, kami akan berkonvoi menggunakan motor dari
kampus kami di daerah Depok, Jawa Barat.
Setelah saling koordinasi, aku dan Doni, teman ku, sudah
bersiap untuk berangkat dari kosan kami. Motor, jaket, helm, sarung tangan,
penutup dada, semua sudah disiapkan untuk menempuh perjalanan panjang dan
dingin menuju kawasan Puncak. Total saat itu akan ada 6 motor dan 11 orang yang
setuju untuk ikut serta merayakan pergantian tahun di Puncak.
Sialnya, sekitar pukul 6 sore, setelah solat maghrib,
hujan mulai turun di kawasan Depok. Awalnya hujan rintik-rintik saja, lama
kelamaan melebat. Yep, aku yakin kamu sudah bisa menebak apa yang terjadi pada
kami.
Satu persatu teman-teman yang awalnya menyatakan diri
akan berangkat mengutarakan kekhawatirannya akan cuaca malam itu. Dengan jurus
beribu alasan, mulai dari izin orang tua yang jadi sulit, jalanan yang licin,
sampai baru sembuh dari sakit pilek dikeluarkan. Tujuan akhirnya satu, tidak
jadi berangkat ke Puncak dengan menembus hujan. Padahal menurutku, hujan saat
itu akan makin mereda.
Benar saja perkiraan ku, hujan makin reda.
Bersama dengan Doni, aku melakukan re-negosiasi kepada
teman-teman untuk menguatkan niat, membulatkan tekad untuk berangkat. Merayakan
malam tahun baru di Puncak. Sekarang alasan mereka berganti, hari sudah makin malam, bahaya kalau kita
berkendara malam-malam begini, apalagi habis hujan jalanan menjadi licin.
Oke sip.
Memang kenyataannya hujan malah makin deras menjelang
tengah malam. Entah aku harus senang atau sedih, membayangkan kalau kita jadi
berangkat toh semua akan kacau balau di perjalanan. Namun, yang jelas malam itu
berakhir dengan aku dan Doni yang menghabiskan detik-detik terakhir kami di
tahun 2012 dengan menonton film dari DVD bajakan di laptop.
Tidak usah lah ya aku ceritakan tahun-tahun lainnya ?
… … … … … … …
Tahun ini aku bertekad akan memiliki malam pergantian
tahun yang mengesankan dan sulit terlupa.
Lupakan tentang tahun baru penuh sesak di Monas dan
Bundaran HI.
Lupakan tentang menghabiskan waktu akhir tahun di dataran
tinggi Puncak, Bogor.
Lupakan tentang menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan
memburu barang diskon.
Tahun ini akan begitu seru, begitu seru, pasti seru
karena tahun ini akan sungguh berbeda.
Tahun ini aku akan merayakan pergantian tahun di salah
satu pulau di gugus Kepulauan Seribu.
Yep. Tahun ini bertemakan akhir tahun laut biru buat ku.
Dan aku yakin akan sukses. Segala keperluan, sarana dan prasarana, akomodasi,
transportasi, dan konsumsi, sudah aku persiapkan dari jauh hari dengan
teman-teman. Rute dan agenda sudah kami tetapkan mendetail. Kembang api, pesta
BBQ, Snorkeling di laut melihat terumbu karang, semua sudah di atur.
Hahaha. Tidak mungkin aku gagal lagi.
… … … … … …
Ternyata, aku (nyaris) gagal lagi.
Pagi hari tanggal 31 Desember 2013, hujan deras sudah
turun di kawasan Jakarta dan sekitarnya.
Laporan BMKG menyebutkan bahwa ombak di kawasan Kepulauan Seribu
mencapai 3 meter. Semua itu menghasilkan kesimpulan dengan 20 orang peserta
membatalkan diri untuk ikut serta. Tinggal 10 peserta termasuk aku yang
memutuskan untuk tetap melanjutkan acara. Itu pun dengan serangkaian perdebatan
salah satunya tentang biaya yang sudah kita bayarkan ke pihak penyelenggara
yang akan hangus, dan jumlahnya tidak sedikit.
Berbekal dengan restu orang tua yang dipaksakan, sehabis
solat subuh aku berangkat ke meeting
point kami, di Pelabuhan Muara Angke menggunakan taksi. Jika tidak ada
halangan, perahu yang kami sewa akan berangkat pukul 7 pagi.
Sesampainya di Muara Angke, aku bertemu dengan
teman-teman lain yang entah kenapa berwajah begitu murung. Setelah mengurus
administrasi dan meminta kepastian kapten kapal yang akan kami tumpangi tentang
keselamatan dan keamanan di perjalanan, maka kami pun naik kapal. Kapal ini
sesungguhnya menjadi terlalu besar jika hanya ditumpangi kami bersepuluh. Wajar
saja, seharusnya ada 30 orang di kapal ini kan ?
Ombak memang terasa cukup besar sepanjang perjalanan.
Beberapa dari kami merasa mual dan nyaris muntah di kapal. Kalau tidak berkat
keahlian kapten kapal dalam mengemudi, mungkin keadaan menjadi makin parah.
Lebih kurang kami mengalami 3 jam perjalanan
terombang-ambing sebelum sampai ke dermaga Pulau Pari. Turun dari kapal
beberapa dari kami muntah-muntah, padahal sudah minum obat anti mabuk. Hoeekk…
… … … … … … …
Setelah menuju penginapan dan berkemas, kami akan
mengikuti rangkaian acara. Rangkaian acara pertama kami adalah makan siang
dengan menu berbagai ikan laut yang disusun untuk porsi 30 orang. Jadilah kami
memaksa-maksakan diri untuk makan sebanyak mungkin. Tidak mau rugi karena sudah
bayar mahal.
Selanjutnya kami diajak bersnorkeling di kawasan yang
memiliki terumbu karang yang masih dalam keadaan baik. Kami bersyukur sekali
cuaca sudah cukup cerah menjelang siang.
Sebelum bersnorkeling ria, kami diajak berputar-putar ke
beberapa tempat menggunakan kapal. Pulau Pari merupakan daerah wisata di
Kepulauan Seribu yang tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan pulau lain
seperti pulau Tidung dan pulau Bidadari. Namun, hari ini pulau Pari tampak
cukup ramai.
Sejauh ini semua berjalan dengan baik. Hahahaha. Kami
posting beberapa foto kegiatan kami ke grup WhatsApp. Aku yakin teman-teman yang membatalkan pergi mereka akan menyesal.
… … … … …
Sekitar jam 2 siang kami sampai ke spot snorkeling. Tidak menunggu lama kami bersepuluh langsung
menceburkan diri ke laut. Beberapa masih menggunakan Life Vest . Langit cerah, laut bersih, ah ini sempurna sekali.
Hahaha.
Beberapa lama kami bersnorkeling ria, kami dikagetkan
dengan suatu jeritan panik minta tolong.
“ Tolong, tolong, aduh, aduh, gue kena bulu babi nih,
aduh,aduh “ ternyata itu jeritan Doni.
Beberapa teman ku yang dekat dengan posisi Doni berada
segera menghampiri. Tampaknya Doni kena Bulu Babi. Orang-orang yang snorkeling
di banyak daerah di Kepulauan Seribu memang sering diberitakan terkena bulu
babi. Hewan ini sesungguhnya tidak menyerang, namun duri-duri beracun nya
sering “tidak sengaja” mengenai orang-orang karena hewan tersebut yang
cenderung tersembunyi di celah batuan dan tidak terlihat.
Nelayan yang membawa kami ke lokasi ini menyarankan kami
untuk segera pulang untuk membawa Doni ke klinik yang ada di pulau. Luka yang
tampak di telapak kaki Doni tidak tampak seperi luka yang disebabkan oleh duru
Bulu Babi. Bapak nelayan khawatir luka itu disebabkan oleh ikan Lepu Batu.
Racun ikan Lepu Batu dikenal sangat berbahaya dan rasa sakit yang dihasilkan
sungguh menyiksa. Jika terlambat ditangani, dikhawatirkan keadaan Doni akan
semakin memburuk.
… … … … … …
Kami sedang duduk di ruang tunggu klinik sambil menunggu
Doni mendapatkan perawatan oleh dokter. Kami beruntung masih ada dokter di
malam tahun baru ini. Lebih beruntung lagi karena kami tidak terlambat datang
ke klinik sehingga racun dalam tubuh Doni dapat segera dikeluarkan sebelum
berakibat lebih fatal. Iya, Doni terkena racun Ikan Lepu Batu.
Walaupun berbahaya dan patut dihindari, ikan Lepu Batu
memang sering tidak terlihat karena tersamarkan dengan lingkungan di
sekelilingnya yang berupa pasir atau bebatuan. Kami bersyukur sekali Doni tidak
sampai mengalami hal yang tidak diinginkan. Kami tidak dapat membayangkan
pulang ke Jakarta dengan membawa kabar tentang Doni yang seandainya, tewas
terkena racun Lepu Batu.
… … … … … …
“ Ryan, lo mau ga ? “ kata Yuan tiba-tiba membangunkan
aku dari lamunan. Dia menawarkan bakso. Kami sedang duduk-duduk di depan
klinik. Beberapa teman sedang pulang ke penginapan untuk mengambil kembang api
dan petasan. Show must go on, kata
teman-teman. Lagipula, sebentar lagi Doni sudah bisa keluar dari klinik dan
bisa bergabung dengan kita. Tentu kita ingin membuat Doni bergembira setelah
kesusahannya dengan merayakan pergantian tahun sesuai rencana semula.
“ Terimakasih banyak, Bro. Tapi, gue masih kenyang “
jawab ku lesu.
“ Serius nih ga mau ? kapan lagi makan bakso ikan di
Pulau Pari ? hehe “ katanya sambil menarik kembali mangkok bakso yang disodorkan.
“ Iya gue serius masih kenyang, Bro” Sebenarnya aku makan
sedikit waktu makan malam tadi. Selera makan ku berkurang akibat peristiwa yang
menimpa Doni hari ini. Nampaknya teman-teman ku juga begitu. Masih banyak
makanan sisa makan malam ini yang akhirnya tidak termakan. Kami sepertinya jadi
tidak peduli bahwa kami membayar cukup mahal untuk makanan-makanan itu termasuk
seluruh paket wisata. Hanya Yuan yang tampaknya tidak terpengaruh dengan
kondisi yang terjadi pada Doni. Masih sempat jajan bakso pula.
“ Sudah lah jangan terlalu dipikirin, Bro. Toh Doni udah
bisa gabung sama kita sebentar lagi “ kata Yuan sambil memasukkan bakso ke
dalam mulutnya
“ Ngga, gue seneng kok dia ga kenapa-kenapa. Ga tahu nih,
gue cuma ngerasa acara tahun baruan gue ada aja perkaranya deh “ keluh ku.
“ Hahahaha. Lo mau ungkit-ungkit kejadian di Monas tahun
lalu nih ceritanya ? “ Yuan terbahak-bahak sambil memukul-mukul bahu bagian
belakang ku.
“ Yee. Emang itu kan lo biang kerok nya, lagian, jadi
orang sotoy banged “
“ Ya maap, lagian lo percaya aja sama orang kampung. Lha
kan gue dari Jember, mana tahu gue seluk beluk jalanan Jakarta “ Yuan
melancarkan jurus ngelesnya.
“ Koplak ! udah tau lo ga ngerti tetep aja sotoy ! hahaha.
Udik, udik “ aku membalas memukul-mukul bahu Yuan.
Dasar memang sudah berteman lama dan sudah saling
mengenal satu sama lain, Yuan pun akhirnya berhasil membawa ku larut dalam
obrolannya. Kami membicarakan banyak hal, mulai dari curhat soal gadis yang
sedang disukai, kegemasan soal dosen pembimbing skripsi yang susah sekali
diikuti kemauannya, hingga rencana-rencana karir pasca kampus.
Tidak beberapa lama, teman-teman kami yang lain ikut
bergabung. Mereka membawakan beraneka macam kembang api dan petasan. Mereka
juga ternyata cukup cerdas juga untuk membawakan beraneka cemilan, minuman
hangat sachet-an dan termos, seperti seharusnya. Kami pun larut dalam obrolan
dan gurauan. Salah seorang teman yang mahir memainkan gitar berhasil
menyemarakkan suasana.
Suasana di Pulau Pari malam ini secara umum cukup ramai.
Orang-orang yang berwisata di pulau ini pada akhir tahun ternyata banyak juga.
Orang-orang mulai keluar dari penginapan, sebagian besar menuju dermaga Pulau
Pari.Disana mereka menunggu detik-detik pergantian tahun dengan melakukan pesta
BBQ atau sekedar menyalakan petasan dan kembang api.
Pihak agen wisata datang kemudian membawakan alat
pemanggang, serta sejumlah kayu bakar untuk dibuat api unggun. Acara
selanjutnya adalah pesta BBQ sambil menunggu pergantian tahun. Sebenarnya
lokasi pesta BBQ nya sudah ditentukan oleh pihak agen wisata, namun karena kami
bersikeras untuk menunggui Doni dirawat, maka BBQ-an akan diadakan di pelataran
klinik. Tentunya perizinan sudah diurus oleh pihak agen wisata.
Kami bahu membahu mendirikan kayu bakar untuk api unggun
dan menyiapkan alat-alat BBQ. Beberapa menusukkan daging dan sayuran menjadi
sate yang selanjutnya akan di bakar. Yuan sibuk mencicipi dan membuka bungkus
cemilan-cemilan.
Sekitar jam setengah 12 malam, semua persiapan untuk
menyambut tahun baru sudah selesai. Makanan, hiburan, kembang api dan petasan,
serta tentu saja teman-teman. Semua sudah pada posisinya masing-masing.
… … … … … …
“ Ryan ayo, bro kita siap-siapin nyalain kembang api ! “
ajak salah seorang teman ku sambil membawa pemantik api di tangannya. Kami membawa
cukup banyak kembang api untuk mewarnai langit Pulau Pari malam ini. Aku
beranjak dari tempat ku duduk dan menyusul mereka. Beberapa memegang kembang
api di tangannya. Beberapa mendirikan kembang api-kembang api di pasir dibantu
pihak agen wisata untuk dinyalakan berturut-turut.
Beberapa menit lagi menjelang pergantian tahun.
“ Jangan mulai acara nya tanpa gue woi ! “ terdengar
seruan dari arah pintu klinik.
Itu teman kami Doni, dengan dibantu pak dokter berjalan
menghampiri kami.
“ Woiii Don ! Akhirnya keluar juga lo ! “
“ Gila Don ! gue sempet kepikiran lo ga bakalan bangun ! “
“ Don ! makanya kalo snorkeling-an sandal nya dipake, Bro
! kena paku kan lo jadinya ! “
“ Hahahah, bego lo bego. Lo kira anak kampung ngejar
layangan putus ! “
“ Don ayo Don, kesini gabung sama kita “ kata Yuan.
Doni pun bergabung bersama kami. Cara berjalannya belum sempurna,
Doni terlihat masih merasakan sakit di kakinya. Tampaknya dia berhasil memaksa
dokter untuk mengizinkannya bergabung bersama kami merayakan malam tahun baru.
Kami bersepuluh berdiri melingkar. Saling berangkulan.Beberapa
detik menjelang tahun baru 2014.
“ Bro, terimakasih tetap mau datang ke acara kita ini,
sumpah, ga ada lo semua gak akan rame “ kata salah seorang teman.
“ Thanks bro, udah ajak gue ke Pulau Pari, kesampean juga
gue snorkelingan”
“ ah dasar lo aja yang norak, masa mahasiswa Biologi
belum pernah snorkeling-an “
“ Hahahahah “
“ Don, sori bro soal kaki lo. Harusnya kita tanya-tanya
dulu kalo-kalo ada Ikan Lepu atau apa gitu di Pulau Pari “ kata ku.
“ Ah, santai aja Ryan. Buat pengalaman kita juga. Lagipula,
kalau ga karena lo semua cepat tanggap, bisa-bisa gue sekarang lagi gawat “
“ Lo bisa aja, Don. Jadi lo gak akan marah kan ?”
“ Marah soal apa ? ngga lah”
“ Tapi jatah daging BBQ lo udah gue makan nih, Bro “
sahut Yuan.
“ Yeeee ! emang lo nya aja rakus ! hahahaha “
Ah, tahun baru saya mungkin memang tidak pernah berjalan
dengan mulus lagi sempurna. Macet di Monas, hujan besar menuju Puncak, dan
tahun ini Ikan Lepu Batu jadi biang kerok. Tapi saya menyadari bahwa
sesungguhnya kita punya kuasa untuk mengatur apa yang kita rasakan dan
bagaimana kita akan merespon kondisi yang kita alami.
Dan, yang mungkin sering saya lupa syukuri, kenyataannya
saya selalu punya teman, keluarga, dan suasana yang saya butuhkan untuk membuat
malam pergantian baru meninggalkan kesan mendalam. Semua itu sudah ada, selalu
ada, hanya saja saya yang tidak bisa menerima dan mensyukuri keadaan yang ada
bersama kehadiran mereka.
Selamat tahun baru 2014, teman-teman.









0 comments:
Post a Comment