Ini
suatu tulisan yang aga telat sesungguhnya. Tapi ide untuk menulis ini terus
bersliweran di kepala saya semenjak malam tahun baru. Disiplin menulis (dan
disiplin-disiplin lainnya) memang masih menjadi pekerjaan rumah yang berat buat
saya.
Oh iya,
malam tahun baru saya dihabiskan di rumah sakit. Bukan untuk dirawat atas suatu
penyakit, tapi saya meluangkan waktu untuk menemani gadis yang tersayang di
rumah sakit. Ah, ia akhirnya tumbang juga setelah berhari-hari pergi-pulang
kampus-rumah.
Malam
itu, saya merenung, tentang beberapa hal, salah satunya soal resolusi.
Resolusi
biasa kita buat menjelang masuk tahun yang baru. Ketika itu pun saya terpikir
untuk melakukan hal yang sama. Di salah satu detik saya akan menyusun resolusi,
saya lalu berpikir. Bukan kah resolusi sering kali justru membebani ?
Resolusi
yang kita susun memang kebanyakan hanya membebani. Iya ga sih ?
Resolusi
untuk kurus misalnya, akan membuat stress karena kita tidak menyukai meluangkan
waktu untuk menjalani proses nya, seperti lari pagi, atau mengurangi makanan
berlemak. Hari pertama dan kedua kita masih bisa melakukannya. Hari ketiga kita
sudah menyerah.
Resolusi
yang kita susun untuk tahun baru tersebut kebanyakan hanya berjalan tiga hari.
Resolusi
untuk tembus jurusan favorit di perguruan tinggi negeri lain lagi ceritanya.
Target yang kita tetapkan pasti tinggi. Tapi prosesnya ? Kita seharusnya
meluangkan waktu untuk belajar lebih lama, latihan soal lebih banyak, dan
mengurangi waktu bermain dan utak-atik gadget. Alih-alih menjalani proses, kita
sudah kembali ke rutinitas lama yang mungkin tidak sedikit pun mendekatkan kita
pada tujuan yang kita tetapkan.
Mungkin
kah proses-proses seperti itu tidak kita bayangkan waktu kita menyusun resolusi
tahun yang baru ?
Hal tersebut
mengganggu saya malam itu. Saya yakin saya pun mengalami saat-saat itu, ketika
resolusi kita hanya menjadi sebuah angan-angan.
Di
antara kilatan kembang api di langit malam, saya merenung dalam.
Saya
ingin terjadi perubahan besar di hidup saya. Saya semakin tua, belum tentu
makin dewasa. Saya bersyukur dengan segala hal yang sudah terjadi di hidup saya
pada tahun 2013 lalu. Tapi saya merasa belum cukup. Mungkin sedikit narsis,
saya merasa bahwa saya bisa meraih lebih banyak hal dengan sedikit tambahan disiplin.
Entah
berapa tahun saya menyusun resolusi untuk menerbitkan buku tulisan saya. Entah
itu berupa novel. Tapi bertahun-tahun hal tersebut tidak terwujud. Alih-alih
novel, saya hanya bisa menerbitkan tulisan di media elektronik. Sama seperti
orang lain, saya merasa berat sekali menjalani proses, mencintai proses yang
harus dilalui.
Lalu
saya berpikir, apakah ini tidak karena resolusi yang besar cenderung membebani
psikologis kita sehingga tubuh pun merasa berat mejnjalani nya ?
Kalau
begitu, kenapa tidak memulai dengan resolusi kecil saja ?
Saya
tahu menulis sebuah novel memberatkan untuk saya yang sebagai sanguinis cenderung
cepat bosan. Menulis novel perlu konsistensi dan persistensi yang
berkesinambungan. Saya sadar bahwa kemampuan disiplin saya belum bisa menerima
kedua hal tersebut. Karena itu, kenapa tidak memulai dari hal yang lebih kecil
dulu ? Antologi cerpen misalnya.
Antologi
cerpen terdengar lebih sederhana untuk diri saya. Dan saya merasakan bahwa
pikiran saya dengan senang hati menyerap ide tersebut. Antologi cerpen yang
saya susun bisa berisi 12-15 cerpen. Hal tersebut jauh lebih tidak sulit
dilakukan dalam jangka waktu satu tahun bukan ?
Lewat
ide “ Resolusi Kecil “ itu, pikiran saya ternyata terpacu untuk memikirkan
cara-cara saya bisa mencapai target. Ide tentang menulis 15 menit sehari, 1
cerita pendek setiap minggu, menulis blog, membaca buku-buku kemudian
terlintas. Itu begitu menyenangkan ! Menulis 15 menit sehari tidak mungkin
tidak bisa saya lakukan !
Kemudian
saya coba menyusun Resolusi Kecil saya yang lain untuk tahun 2014.
Saya
berencana untuk khatam Al-Qur’an untuk tahun 2014 ini. Satu kali saja khatam
Al-Qur’an. Itu menjadi tidak terlalu sulit. Pikiran saya pun menyusun rencana
untuk rutin membaca Al-Qur’an dua lembar per halaman secara rutin setelah solat
isya dan solat dhuha.
Oh iya,
dan soal solat dhuha itu, awalnya saya memaksakan diri untuk bisa sola dhuha 12
rakaat setiap hari. Tapi ternyata saya sering terlupa. Solat dhuha 12 rakaat
setiap hari ternyata “memberatkan” saya.
Dengan
konsep Resolusi Kecil, agenda rutin solat dhuha saya sesuaikan menjadi 4 rakaat
untuk tahun ini. Empat rakaat untuk dilakukan setiap hari menjadi ringan.
Perlahan tinggal meningkatkannya menjadi 8 rakaat lalu 12 rakaat. Saya tinggal
menambah rakaat solat dhuha ketika waktu saya lebih luang. Misalnya pada saat
hari libur.
Banyak
hal kemudian saya rencanakan di Resolusi Kecil saya untuk tahun 2014. Mulai
dari olahraga pagi setiap Senin, Rabu, dan Sabtu ( itu karena hari libur saya
bekerja ), membaca 50 buku pada tahun 2014 dengan rutinitas setidaknya 30 menit
membaca buku setiap hari, dan memulai usaha ber- cashflow harian untuk perlahan mendapatkan penghasilan 10 juta per
bulan.
Resolusi
Kecil menjadi lebih menyenangkan !
Tapi
apakah semua resolusi saya kemudian menjadi “ kecil-kecil ? “
Tidak
begitu juga, Resolusi Kecil bukanlah soal resolusi yang “ kecil “ . Menurut
saya , konsep Resolusi Kecil lebih kepada menyesuaikan pencapaian target sesuai
dengan disiplin dalam proses-proses yang bisa kita lakukan secara rutin.
Nantinya saya yakin Resolusi Kecil setiap orang akan berkembang semakin besar
karena kita makin terbiasa menjalani proses-proses yang diperlukan.
Di
antara Resolusi Kecil yang saya susun untuk tahun 2014, ada juga resolusi yang
mungkin aga lebih besar.
Resolusi
itu adalah menikah,
Ya, di
tahun 2014 ini Insha Allah saya akan menikah, Dan tentu saja menikah bukan hal
yang kecil. Hehe. Mohon doanya ya.








2 comments:
g155g8fdejh992 cheap sex toys,dildos,male sex toys,bulk sex dolls,wholesale sex toys,penis pumps,dog dildo,black dildos,double dildos u815v3dspbb161
pg455 Cheap Jerseys free shipping,nfl shop,wholesale jerseys,nfl shop,Cheap Jerseys china,wholesale nfl jerseys,wholesale nfl jerseys,nfl jerseys,wholesale jerseys ae373
Post a Comment