Thursday, August 8, 2013

(Kalau) Ditinggal Para Pendatang, Kota Depok Bisa Sepi Juga Ternyata



Di sela meramaikan malam takbiran di kampung halaman saya si Pekalongan, saya menyempatkan diri menggunakan Blackberry melihat salah satu web berita favorit saya; Republika Online. Saya membaca beberapa artikel yang ada di laman tersebut hingga terhenti di salah satu artikel yang menarik perhatian. Artikel itu berjudul “ Ditinggal Mudik Warganya, Depok Sepi pada Malam Takbiran “.

Saya seorang (mantan) mahasiswa Universitas Indonesia (UI) jurusan Biologi. Beberapa minggu lagi saya akan di wisuda. Kampus Depok Universitas Indonesia adalah salah satu landmark kota belimbing. Namun jika orang-orang ditanya apalagi yang mereka ingat dari kota Depok selain buah belimbing dan kampus UI adalah kemacetan di ruas-ruas jalan utamanya, seperti jalan Margonda, jalan Juanda, dan jalan Siliwangi yang menyangi kemacetan di ibukota.

Kemacetan di tiga jalan utama kota Depok ini bisa dibilang dapat terjadi sepanjang hari. Selain volume kendaraan yang memang cukup besar, salah satu sebab lain adalah banyaknya arus kendaraan masuk dan keluar mal dan pusat perbelanjaan. Depok memang terkenal memiliki cukup banyak mal dan pusat perbelanjaan. Tiga yang terkenal antara lain Margo City, Depok Town Square, dan ITC Depok.

Menjelang sore hingga malam hari, apalagi di akhir Minggu, jalan-jalan di Depok dapat dipastikan sedang mengalami kemacetan kendaraan yang cukup menjemukan. Saya jadi ingat kelakar teman saya bahwa bepergian di Depok, apalagi ke pusat-pusat perbelanjaan pada saat malam Minggu adalah ide buruk, karena alih-alih kita dapat berekreasi dan menghilangkan penat, kita bakal terlanjur tua dijalan.

Mengetahui bahwa kota Depok menjadi lebih sepi pada malam takbiran menyadarkan saya bahwa kota Depok, sebagai bagian dari wilayah Jabodetabek, adalah kota yang sebagian besar hiruk-pikuk nya “disebabkan” oleh aktivitas para pendatang. Sebagai contoh adalah di lingkungan kampus Universitas Indonesia, tempat saya menuntut ilmu. Sebagian besar teman saya adalah mahasiswa pendatang dari luar Jabodetabek. Tidak hanya itu, bahkan para pedagang makanan dan pedagang-pedagang lain yang biasanya berinteraksi dengan kehidupan mahasiswa adalah pendatang.

Ketika memasuki masa libur bulan Ramadhan, banyak mahasiswa akan mudik ke kampung halaman masing-masing, yang pada akhirnya akan diikuti oleh para pedagang yang notabene konsumen utamanya adalah mahasiswa. Cepat saja, Depok pun menjadi lebih sepi dari biasanya. Ketika para pendatang ini mudik ke kampung halaman, maka segala hiruk-pikuk pun dibawa dari kota-kota ini menuju jalur Pantura, atau jalur mudik lainnya. Saya jadi ingat salah satu kelakar tweet teman saya yang warga asli Jakarta “Lebaran adalah satu-satunya solusi kemacetan kota ini, sayang nya lebaran tidak datang tiap hari :’D”

Sebagian besar orang mungkin lega karena akhirnya bisa juga ada waktu saat tidak ada kegilaan kemacetan dirasakan. Namun, lama kelamaan toh saya percaya bahwa hiruk-pikuk itu nantinya akan dirindukan. Hiruk-pikuk yang menggerakkan ekonomi dan aktivitas sosial yang menjadi denyut nadi kota Depok, dan kota-kota lainnya.

Ah, saya juga nanti “pulang” ke Depok.
            
Sumber berita asli di Republika Online:


 

  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment