Di sela
meramaikan malam takbiran di kampung halaman saya si Pekalongan, saya
menyempatkan diri menggunakan Blackberry
melihat salah satu web berita favorit saya; Republika Online. Saya membaca
beberapa artikel yang ada di laman tersebut hingga terhenti di salah satu
artikel yang menarik perhatian. Artikel itu berjudul “ Ditinggal Mudik Warganya, Depok Sepi pada Malam Takbiran “.
Saya
seorang (mantan) mahasiswa Universitas Indonesia (UI) jurusan Biologi. Beberapa
minggu lagi saya akan di wisuda. Kampus Depok Universitas Indonesia adalah
salah satu landmark kota belimbing.
Namun jika orang-orang ditanya apalagi yang mereka ingat dari kota Depok selain
buah belimbing dan kampus UI adalah kemacetan di ruas-ruas jalan utamanya,
seperti jalan Margonda, jalan Juanda, dan jalan Siliwangi yang menyangi
kemacetan di ibukota.
Kemacetan
di tiga jalan utama kota Depok ini bisa dibilang dapat terjadi sepanjang hari.
Selain volume kendaraan yang memang cukup besar, salah satu sebab lain adalah
banyaknya arus kendaraan masuk dan keluar mal dan pusat perbelanjaan. Depok
memang terkenal memiliki cukup banyak mal dan pusat perbelanjaan. Tiga yang
terkenal antara lain Margo City, Depok Town Square, dan ITC Depok.
Menjelang
sore hingga malam hari, apalagi di akhir Minggu, jalan-jalan di Depok dapat
dipastikan sedang mengalami kemacetan kendaraan yang cukup menjemukan. Saya
jadi ingat kelakar teman saya bahwa bepergian di Depok, apalagi ke pusat-pusat
perbelanjaan pada saat malam Minggu adalah ide buruk, karena alih-alih kita
dapat berekreasi dan menghilangkan penat, kita bakal terlanjur tua dijalan.
Mengetahui
bahwa kota Depok menjadi lebih sepi pada malam takbiran menyadarkan saya bahwa
kota Depok, sebagai bagian dari wilayah Jabodetabek, adalah kota yang sebagian
besar hiruk-pikuk nya “disebabkan” oleh aktivitas para pendatang. Sebagai
contoh adalah di lingkungan kampus Universitas Indonesia, tempat saya menuntut
ilmu. Sebagian besar teman saya adalah mahasiswa pendatang dari luar
Jabodetabek. Tidak hanya itu, bahkan para pedagang makanan dan
pedagang-pedagang lain yang biasanya berinteraksi dengan kehidupan mahasiswa
adalah pendatang.
Ketika
memasuki masa libur bulan Ramadhan, banyak mahasiswa akan mudik ke kampung
halaman masing-masing, yang pada akhirnya akan diikuti oleh para pedagang yang
notabene konsumen utamanya adalah mahasiswa. Cepat saja, Depok pun menjadi
lebih sepi dari biasanya. Ketika para pendatang ini mudik ke kampung halaman,
maka segala hiruk-pikuk pun dibawa dari kota-kota ini menuju jalur Pantura,
atau jalur mudik lainnya. Saya jadi ingat salah satu kelakar tweet teman saya yang warga asli Jakarta
“Lebaran adalah satu-satunya solusi
kemacetan kota ini, sayang nya lebaran tidak datang tiap hari :’D”
Sebagian besar
orang mungkin lega karena akhirnya bisa juga ada waktu saat tidak ada kegilaan
kemacetan dirasakan. Namun, lama kelamaan toh saya percaya bahwa hiruk-pikuk
itu nantinya akan dirindukan. Hiruk-pikuk yang menggerakkan ekonomi dan
aktivitas sosial yang menjadi denyut nadi kota Depok, dan kota-kota lainnya.
Ah, saya juga
nanti “pulang” ke Depok.
Sumber berita asli di Republika Online:









0 comments:
Post a Comment