(lihat juga bagian 1)
Di kanan kiri kami, tampak hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning. Aku tidak ingat bagaimana siklus tanam-panen padi, tapi kalau padi di Subang sudah menguning, berarti begitu pula sawah bapak di belakang rumah di Pekalongan. Tempat kami sering menghabiskan sore hari bersama.
Di kanan kiri kami, tampak hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning. Aku tidak ingat bagaimana siklus tanam-panen padi, tapi kalau padi di Subang sudah menguning, berarti begitu pula sawah bapak di belakang rumah di Pekalongan. Tempat kami sering menghabiskan sore hari bersama.
Tampaknya sedang panen nanas di
Subang ini, di kiri-kanan, di kios maupun teras rumah, nanas-nanas digantungkan
dan dijual. Tampak segar sekali. Subang sepertinya merupakan salah satu daerah
sentra panghasil nanas. Satu informasi berharga lain yang saya dapatkan.
Jalan raya tampak makin besar dan
arus kendaraan dapat melaju dengan lebih lancar. Tampaknya kami sedang memasuki
jalur mudik utama. Ah, mungkin beberapa jam tidur akan menyenangkan.
Memasuki waktu Zuhur, kami berhenti
di salah satu masjid, saat itu di daerah Cirebon, dan makin banyak saja kendaraan
yang memadati jalan. Pelataran parkir masjid tampak dipenuhi motor dan mobil
yang singgah. Orang-orang banyak berbaring di teras masjid melepas penat dan
bosan perjalanan. Banyak yang tampak sedang berbuka puasa menikmati es teh dan
mi instan. Lho kok ? Buka puasa ?. Melakukan
perjalanan mudik menjelang hari raya, diisi dengan macet dan ditemani terik
panas matahari diatas, adalah cobaan besar bagi para wajib puasa Ramadhan.
Saya menjama’ salat zuhur dan ashar.
Setelah itu ikut mengantri kamar mandi untuk buang air kecil. Kami memutuskan
untuk beristirahat siang terik ini, saya pun ikut bergabung dengan jama’ah yang
berbaring di teras masjid. Ah, masjid dimana-mana sama, memberikan kesejukan
yang menentramkan.
Perjalanan menuju Pekalongan
dilanjutkan pukul dua siang. Baru keluar dari area parkir masjid, kami sudah
disambut dengan kemacetan. Kendaraan-kendaraan melaju pelan-pelan. Terus begitu
hingga berjam-jam.
Mendengarkan radio untuk memperoleh
laporan arus mudik menurut saya adalah tidak bijak. Itu membuat kita menjadi
panik berlebihan. Padahal tanpa mendengarkan siaran kemacetan, melihat
kemacetan itu sendiri saja sudah mengkhawatirkan, apalagi ditambah melihat.
Entah berapa kali saya
tidur-terbangun di sepanjang kemacetan ini. Sewaktu bangun kami sudah sampai di
pintu keluar tol Pejagan. Kami sudah bisa tenang karena Pekalongan semakin
dekat saja. Brebes-Tegal-Pemalang, lalu Pekalongan.
Daerah-daerah ini sangat saya
kenali, saya selalu melewatinya ketika ingin pulang ke Pekalongan. Jajakan bawang
merah dan telur asin di sepanjang Brebes, Tegal yang sedang berusaha menjadi
kota metropolitan, dan hamparan sawah Pemalang. Yang saat ini tidak saya kenali
adalah banyaknya wajah-wajah terpampang di baliho, spanduk, dan poster-poster
pinggir jalan yang tersenyum sumringah dengan segala ucapan yang tertera di
sekitarnya. Oh, ternyata ini wajah-wajah para caleg, yang memampang sederetan
gelar dan penghargaan yang diraihnya di media publikasi, dengan harapan cukup
mentereng untuk para warga pemilih.
Saya sampai sekarang termasuk orang
yang ragu kalau caleg-caleg ini, yang nanti terpilih menjadi anggota DPR/DPRD,
akan ingat dengan rakyatnya atau terlebih memenuhi janjinya. Kalaupun benar ada
caleg yang tidak seperti itu, saya yakin jumlahnya tidak sampai setengahnya.
Untuk modal masuk birokrasi saja mereka sudah ratusan juta atau miliaran, mana
mungkin sempat memikirkan masayarakat diatas memikirkan proyek-proyek balik
modal. Bah, pokoknya saya tidak percaya. Mau dari partai apapun sama saja.
Apapun jualannya, sama pokoknya sama.
Di sesaki pemandangan wajah-wajah
caleg sepanjang jalan Brebes-Pekalongan, akhirnya kami memasuki wilayah
Pekalongan. Deretan kendaraan tampak sudah mengular. Yang kami perlukan
sekarang adalah kesabaran lebih, melebihi kesabaran dua puluh jam perjalanan toh sebentar lagi kami akan sampai kampung
halaman.
Diantara lentera, dan kelok lembah
Wanayasa, kearifan lokal tahu dan panen nanas, dan senyum penuh arti calon
legislatif di spanduk terpampang, sekali lagi perjalanan ke Pekalongan di mudik
tahun ini memiliki warnanya tersendiri.










0 comments:
Post a Comment