Sunday, August 4, 2013

Mudik 2013. Bagian 2.



(lihat juga bagian 1)

Di kanan kiri kami, tampak hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning. Aku tidak ingat bagaimana siklus tanam-panen padi, tapi kalau padi di Subang sudah menguning, berarti begitu pula sawah bapak di belakang rumah di Pekalongan. Tempat kami sering menghabiskan sore hari bersama.
      
Tampaknya sedang panen nanas di Subang ini, di kiri-kanan, di kios maupun teras rumah, nanas-nanas digantungkan dan dijual. Tampak segar sekali. Subang sepertinya merupakan salah satu daerah sentra panghasil nanas. Satu informasi berharga lain yang saya dapatkan.



Jalan raya tampak makin besar dan arus kendaraan dapat melaju dengan lebih lancar. Tampaknya kami sedang memasuki jalur mudik utama. Ah, mungkin beberapa jam tidur akan menyenangkan.

Memasuki waktu Zuhur, kami berhenti di salah satu masjid, saat itu di daerah Cirebon, dan makin banyak saja kendaraan yang memadati jalan. Pelataran parkir masjid tampak dipenuhi motor dan mobil yang singgah. Orang-orang banyak berbaring di teras masjid melepas penat dan bosan perjalanan. Banyak yang tampak sedang berbuka puasa menikmati es teh dan mi instan. Lho kok ? Buka puasa ?.            Melakukan perjalanan mudik menjelang hari raya, diisi dengan macet dan ditemani terik panas matahari diatas, adalah cobaan besar bagi para wajib puasa Ramadhan.

Saya menjama’ salat zuhur dan ashar. Setelah itu ikut mengantri kamar mandi untuk buang air kecil. Kami memutuskan untuk beristirahat siang terik ini, saya pun ikut bergabung dengan jama’ah yang berbaring di teras masjid. Ah, masjid dimana-mana sama, memberikan kesejukan yang menentramkan.
   
Perjalanan menuju Pekalongan dilanjutkan pukul dua siang. Baru keluar dari area parkir masjid, kami sudah disambut dengan kemacetan. Kendaraan-kendaraan melaju pelan-pelan. Terus begitu hingga berjam-jam.

Mendengarkan radio untuk memperoleh laporan arus mudik menurut saya adalah tidak bijak. Itu membuat kita menjadi panik berlebihan. Padahal tanpa mendengarkan siaran kemacetan, melihat kemacetan itu sendiri saja sudah mengkhawatirkan, apalagi ditambah melihat.

Entah berapa kali saya tidur-terbangun di sepanjang kemacetan ini. Sewaktu bangun kami sudah sampai di pintu keluar tol Pejagan. Kami sudah bisa tenang karena Pekalongan semakin dekat saja. Brebes-Tegal-Pemalang, lalu Pekalongan.

Daerah-daerah ini sangat saya kenali, saya selalu melewatinya ketika ingin pulang ke Pekalongan. Jajakan bawang merah dan telur asin di sepanjang Brebes, Tegal yang sedang berusaha menjadi kota metropolitan, dan hamparan sawah Pemalang. Yang saat ini tidak saya kenali adalah banyaknya wajah-wajah terpampang di baliho, spanduk, dan poster-poster pinggir jalan yang tersenyum sumringah dengan segala ucapan yang tertera di sekitarnya. Oh, ternyata ini wajah-wajah para caleg, yang memampang sederetan gelar dan penghargaan yang diraihnya di media publikasi, dengan harapan cukup mentereng untuk para warga pemilih.
  
Saya sampai sekarang termasuk orang yang ragu kalau caleg-caleg ini, yang nanti terpilih menjadi anggota DPR/DPRD, akan ingat dengan rakyatnya atau terlebih memenuhi janjinya. Kalaupun benar ada caleg yang tidak seperti itu, saya yakin jumlahnya tidak sampai setengahnya. Untuk modal masuk birokrasi saja mereka sudah ratusan juta atau miliaran, mana mungkin sempat memikirkan masayarakat diatas memikirkan proyek-proyek balik modal. Bah, pokoknya saya tidak percaya. Mau dari partai apapun sama saja. Apapun jualannya, sama pokoknya sama.

Di sesaki pemandangan wajah-wajah caleg sepanjang jalan Brebes-Pekalongan, akhirnya kami memasuki wilayah Pekalongan. Deretan kendaraan tampak sudah mengular. Yang kami perlukan sekarang adalah kesabaran lebih, melebihi kesabaran dua puluh jam perjalanan toh sebentar lagi kami akan sampai kampung halaman.

Diantara lentera, dan kelok lembah Wanayasa, kearifan lokal tahu dan panen nanas, dan senyum penuh arti calon legislatif di spanduk terpampang, sekali lagi perjalanan ke Pekalongan di mudik tahun ini memiliki warnanya tersendiri.



  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment