(gambar-gambar yang dicantumkan disini adalah hasil pencarian di google)
Well,
awalnya saya ingin pulang ke Pekalongan sendiri, naik bus seperti biasa. Tapi,
setelah melihat berapa harga tiket bus menjelang hari raya ini, plus berbagai
laporan kemacetan arus mudik yang saya ketahui dari berbagai sumber, akhirnya
saya memutuskan untuk pulang bersama keluarga. Tidak terbayang bagaimana
rasanya terjebak berjam-jam dalam bus yang melaju segan di jalur pantura.
Yang saya belum ketahui, orangtua
ternyata telah mengajak dua orang saudara untuk ikut serta mudik, sehingga mobil
pribadi, yang tadinya lebih luang, menjadi penuh terisi. Saya, kedua orang tua,
kakak, adik, sopir, dan kedua saudara. Plus berbagai kardus, tas, dan koper
barang bawaan. Ah, ini bagian yang selalu saya tidak suka dalam kegiatan mudik;
bepergian jauh berjam-jam dalam keadaan macet dan terhimpit barang-barang.
Saya tidak bisa (tidak mau) protes
tentu saja. Ini juga salah saya, karena awalnya saya bilang tidak ingin ikut
mudik bersama dengan keluarga menggunakan mobil pribadi. Saya beralasan ingin
mengurus administrasi wisuda di kampus, yang awalnya saya prediksi baru selesai
pada tanggal 5 Juli 2013. Keputusan ikut mudik dengan keluarga baru saya
berikan ke bapak pada siang hari sebelum berangkat. Tapi, yang saya sedikit
kecewa, orang tua saat itu tidak memberi kabar bahwa mereka sudah mengajak dua
orang saudara. Mungkin saat itu, orang tua sudah terlanjur mengajak saudara dan
tidak enak jika harus dibatalkan. Posisi yang dilematis.
Keberangkatan mudik dilakukan
setelah salat tarawih. Sebelum ikut bergabung dengan ribuan kendaraan lain di
arus mudik pantai utara, kami menjemput kakak saya terlebih dahulu di daerah
Jati Bening, Bekasi. Kepadatan kendaraan sudah terlihat di sepanjang tol Bekasi
Timur dan Kalimalang. Arus mudik bercampur hilir-mudik kendaraan yang
masuk-keluar mall dan pusat perbelanjaan. Menjelang hari raya Idul Fitri,
memang sudah bisa diduga, bahwa mall dan pusat perbelanjaan sedang
ramai-ramainya sedangkan masjid dan musala sedang sepi-sepinya pengunjung.
Kami menghabiskan waktu setidaknya
satu jam melaju pelan di jalan Kalimalang untuk dapat masuk ke tol, menuju
Cikampek lalu Pantura. Motor, mobil, dan berbagai kendaraan lain memenuhi jalan
menggambarkan dengan jelas euforia mudik. Saya sebetulnya lebih banyak tertidur
ketika perjalanan, entah dengan kendaraan apapun (kecuali motor tentu saja).
Menurut saya ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus saya syukuri, karena
dengan ini, perjalanan menjadi lebih santai.
Saya terbangun dari tidur saya, yang
entah berapa jam, ketika mobil kami terlihat berbelok ke arah lain menjauhi
arus utama kendaraan. Bersama dengan banyak kendaraan lain di belakang kami,
mobil yang kami tumpangi dibelokkan ke arah lain ketika di depan kami tampak
arus mudik tidak bergerak sama sekali. Tampaknya sedang ada pengalihan arus
untuk mengurangi jumlah kendaraan yang melaju di Pantura.
Setelah itu, singkat saja, saya
tertidur lagi.
Saya terbangun menjelang waktu
sahur, ketika mobil kami berhenti di suatu rumah makan Padang. Kami akan sahur
di rumah makan ini. Setelah keluar dari mobil, dari plang nama yang saya baca,
ternyata kami sedang berada di daerah Purwakarta. Saya tidak tahu apakah ini
lazim atau tidak, tapi seingat saya, kami tidak pernah melewati Purwakarta
ketika mudik.
Kami pun makan sahur dengan menu
yang tersisa di rumah makan tersebut, tampaknya pengalihan arus ke arah ini
menjadi berkah tersendiri untuk rumah makan.
Yang bisa saya ceritakan tentang
Purwakarta di perjalanan kami ini adalah keunikan kotanya yang memasang lampion
(lentera) di berbagai gedung dan bangunan. Sayang sekali saat perjalanan mudik
ini saya tidak sedang memegang kamera digital seperti biasa karena saya
menempatkannya di koper di bagasi belakang. Lentera-lentera tersebut, yang ada
di atas kami sepanjang perjalanan kami melintasi Purwakarta, menjadi daya tarik
tersendiri dalam perjalanan tidak disengaja ini.
Setelah melewati Purwakarta, kami
melintasi lembah, kalau tidak salah namanya Winayasa, yang berkelok-kelok
jalannya. Selain itu, daerah ini tidak memiliki penerangan yang cukup, sehingga
kami mengandalkan cahaya lampu dari sesama kendaraan untuk memberi penerangan.
Satu kejadian lucu terjadi disini ketika salah satu penumpang mobil kami
“kebelet” untuk buang air kecil. Tentu saja di daerah Winayasa ini tidak tampak
rest area atau masjid untuk disinggahi, sehingga saat itu, sekitar jam empat
pagi, kami berhenti pada salah satu sisi jalan yang ditumbuhi pepohonan untuk
membantu yang bersangkutan melaksanakan hajat.
Menjelang waktu salat subuh, kami
menepi di suatu musala, bersama kendaraan lain yang terlebih dulu tiba. Setelah
salat subuh, kami memutuskan untuk berhenti beberapa jam untuk memberi
kesempatan bapak sopir beristirahat karena perjalanan masih jauh sekali, bahkan
belum sampai setengah jarak.
Kami melanjutkan perjalanan sekitar
pukul tujuh pagi. Kendaraan yang melintasi jalur ini makin banyak saja,
sehingga kami hanya bisa melaju perlahan. Karena bosan (atau karena kebiasaan)
tidak berapa lama, saya tertidur lagi. Ok, saya tahu ini adalah bagian yang
menyebalkan untuk pembaca tulisan ini.
Terbangun dalam keadaan pusing, kami
sudah sampai di Sumedang. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya saya singgah
di kota/kabupaten ini. Sumedang selama ini hanya saya kenal dari makanan tahu
nya yang melegenda saja. Tapi saat ini kami tidak membeli tahu, walaupun di
sepanjang perjalanan banyak yang menjajakan tahu di depan rumahnya.
Dalam suatu jalan yang menanjak,
mobil kami, yang adalah mobil matic, tidak mampu melanjutkan perjalanan.
Seluruh penumpang lalu harus turun dan memberikan dorongan. Saya jadi ingat
perjalanan ke dataran tinggi Dieng tahun lalu dimana mobil kami mengalami hal
yang sama dan kami harus mendorong mobil melewati tanjakan yang nyaris 90
derajat.
Setelah berjibaku bahu membahu
mendorong mobil, kami melanjutkan perjalanan. Matahari baru saja tampak di
sela-sela pepohonan. Kami melaju menuju arah matahari yang membuat kami harus
menutupi wajah. Melaju menuju Subang, masuk jalur Pantura.
(bersambung ke bagian 2)
(bersambung ke bagian 2)










0 comments:
Post a Comment