Sunday, August 4, 2013

Mudik 2013. Bagian 1


(gambar-gambar yang dicantumkan disini adalah hasil pencarian di google)

Well, awalnya saya ingin pulang ke Pekalongan sendiri, naik bus seperti biasa. Tapi, setelah melihat berapa harga tiket bus menjelang hari raya ini, plus berbagai laporan kemacetan arus mudik yang saya ketahui dari berbagai sumber, akhirnya saya memutuskan untuk pulang bersama keluarga. Tidak terbayang bagaimana rasanya terjebak berjam-jam dalam bus yang melaju segan di jalur pantura.

Yang saya belum ketahui, orangtua ternyata telah mengajak dua orang saudara untuk ikut serta mudik, sehingga mobil pribadi, yang tadinya lebih luang, menjadi penuh terisi. Saya, kedua orang tua, kakak, adik, sopir, dan kedua saudara. Plus berbagai kardus, tas, dan koper barang bawaan. Ah, ini bagian yang selalu saya tidak suka dalam kegiatan mudik; bepergian jauh berjam-jam dalam keadaan macet dan terhimpit barang-barang.

Saya tidak bisa (tidak mau) protes tentu saja. Ini juga salah saya, karena awalnya saya bilang tidak ingin ikut mudik bersama dengan keluarga menggunakan mobil pribadi. Saya beralasan ingin mengurus administrasi wisuda di kampus, yang awalnya saya prediksi baru selesai pada tanggal 5 Juli 2013. Keputusan ikut mudik dengan keluarga baru saya berikan ke bapak pada siang hari sebelum berangkat. Tapi, yang saya sedikit kecewa, orang tua saat itu tidak memberi kabar bahwa mereka sudah mengajak dua orang saudara. Mungkin saat itu, orang tua sudah terlanjur mengajak saudara dan tidak enak jika harus dibatalkan. Posisi yang dilematis.

Keberangkatan mudik dilakukan setelah salat tarawih. Sebelum ikut bergabung dengan ribuan kendaraan lain di arus mudik pantai utara, kami menjemput kakak saya terlebih dahulu di daerah Jati Bening, Bekasi. Kepadatan kendaraan sudah terlihat di sepanjang tol Bekasi Timur dan Kalimalang. Arus mudik bercampur hilir-mudik kendaraan yang masuk-keluar mall dan pusat perbelanjaan. Menjelang hari raya Idul Fitri, memang sudah bisa diduga, bahwa mall dan pusat perbelanjaan sedang ramai-ramainya sedangkan masjid dan musala sedang sepi-sepinya pengunjung.


Kami menghabiskan waktu setidaknya satu jam melaju pelan di jalan Kalimalang untuk dapat masuk ke tol, menuju Cikampek lalu Pantura. Motor, mobil, dan berbagai kendaraan lain memenuhi jalan menggambarkan dengan jelas euforia mudik. Saya sebetulnya lebih banyak tertidur ketika perjalanan, entah dengan kendaraan apapun (kecuali motor tentu saja). Menurut saya ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus saya syukuri, karena dengan ini, perjalanan menjadi lebih santai.

Saya terbangun dari tidur saya, yang entah berapa jam, ketika mobil kami terlihat berbelok ke arah lain menjauhi arus utama kendaraan. Bersama dengan banyak kendaraan lain di belakang kami, mobil yang kami tumpangi dibelokkan ke arah lain ketika di depan kami tampak arus mudik tidak bergerak sama sekali. Tampaknya sedang ada pengalihan arus untuk mengurangi jumlah kendaraan yang melaju di Pantura.

Setelah itu, singkat saja, saya tertidur lagi.

Saya terbangun menjelang waktu sahur, ketika mobil kami berhenti di suatu rumah makan Padang. Kami akan sahur di rumah makan ini. Setelah keluar dari mobil, dari plang nama yang saya baca, ternyata kami sedang berada di daerah Purwakarta. Saya tidak tahu apakah ini lazim atau tidak, tapi seingat saya, kami tidak pernah melewati Purwakarta ketika mudik.

Kami pun makan sahur dengan menu yang tersisa di rumah makan tersebut, tampaknya pengalihan arus ke arah ini menjadi berkah tersendiri untuk rumah makan.

Yang bisa saya ceritakan tentang Purwakarta di perjalanan kami ini adalah keunikan kotanya yang memasang lampion (lentera) di berbagai gedung dan bangunan. Sayang sekali saat perjalanan mudik ini saya tidak sedang memegang kamera digital seperti biasa karena saya menempatkannya di koper di bagasi belakang. Lentera-lentera tersebut, yang ada di atas kami sepanjang perjalanan kami melintasi Purwakarta, menjadi daya tarik tersendiri dalam perjalanan tidak disengaja ini.

Setelah melewati Purwakarta, kami melintasi lembah, kalau tidak salah namanya Winayasa, yang berkelok-kelok jalannya. Selain itu, daerah ini tidak memiliki penerangan yang cukup, sehingga kami mengandalkan cahaya lampu dari sesama kendaraan untuk memberi penerangan. Satu kejadian lucu terjadi disini ketika salah satu penumpang mobil kami “kebelet” untuk buang air kecil. Tentu saja di daerah Winayasa ini tidak tampak rest area atau masjid untuk disinggahi, sehingga saat itu, sekitar jam empat pagi, kami berhenti pada salah satu sisi jalan yang ditumbuhi pepohonan untuk membantu yang bersangkutan melaksanakan hajat.

Menjelang waktu salat subuh, kami menepi di suatu musala, bersama kendaraan lain yang terlebih dulu tiba. Setelah salat subuh, kami memutuskan untuk berhenti beberapa jam untuk memberi kesempatan bapak sopir beristirahat karena perjalanan masih jauh sekali, bahkan belum sampai setengah jarak.

Kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul tujuh pagi. Kendaraan yang melintasi jalur ini makin banyak saja, sehingga kami hanya bisa melaju perlahan. Karena bosan (atau karena kebiasaan) tidak berapa lama, saya tertidur lagi. Ok, saya tahu ini adalah bagian yang menyebalkan untuk pembaca tulisan ini.

Terbangun dalam keadaan pusing, kami sudah sampai di Sumedang. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya saya singgah di kota/kabupaten ini. Sumedang selama ini hanya saya kenal dari makanan tahu nya yang melegenda saja. Tapi saat ini kami tidak membeli tahu, walaupun di sepanjang perjalanan banyak yang menjajakan tahu di depan rumahnya.


Dalam suatu jalan yang menanjak, mobil kami, yang adalah mobil matic, tidak mampu melanjutkan perjalanan. Seluruh penumpang lalu harus turun dan memberikan dorongan. Saya jadi ingat perjalanan ke dataran tinggi Dieng tahun lalu dimana mobil kami mengalami hal yang sama dan kami harus mendorong mobil melewati tanjakan yang nyaris 90 derajat.
  
Setelah berjibaku bahu membahu mendorong mobil, kami melanjutkan perjalanan. Matahari baru saja tampak di sela-sela pepohonan. Kami melaju menuju arah matahari yang membuat kami harus menutupi wajah. Melaju menuju Subang, masuk jalur Pantura.

(bersambung ke bagian 2)
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment