Saturday, September 1, 2012

Aku dan Kucing Kosan

Di usia yang ke 25 ini, aku adalah gambaran umum penduduk Indonesia usia produktif.
           
Lulus dari dunia kampus, seperti kebanyakan sarjana di negeri ini, aku pun menjadi bingung akan masa depan.  Kampus sudah menjadi zona nyaman bagi pemuda-pemuda seperti ku.  Kuliah, mengerjakan tugas, pulang ke kosan, makan, menerima kiriman uang, pacaran adalah rutinitas kami.

 Lalu cepat saja tahun berlalu dan masa-masa itu terlewati.  Skripsi dan wisuda menjelang, tapi kami mahasiswa tidak juga mengetahui apa yang akan ada setelah itu.  Kami dipaksa terjun ke dunia yang belum terlalu kami kenal.  Ternyata empat tahun pendidikan di kampus tidak memberi kami cukup bekal yang berarti !.
           
Dalam kondisi seperti itu, sebagian besar dari kami mengambil kesempatan terdekat, teraman, dan tercepat yang bisa diambil.  Potensi penghasilan dan iming-iming berbagai tunjangan menjadi mantra penggoda.  Akhirnya seorang sarjana pertanian tersasar bekerja di bank, atau sarjana ekonomi kepincut mencari nafkah di partai politik. Tidak heran swasembada pangan hanya akan jadi impian.  Tentu saja politik kita penuh dengan hitung-hitungan untung rugi.

Tidak ada itu idealisme atau segala tetek-bengek orasi yang kami dengungkan dan telan saat jadi mahasiswa. Yang ada adalah urusan perut dan lima sentimeter dibawahnya.  Cari makan lalu cari pasangan kawin lalu meninggal dunia.  Habis perkara.
           
Kondisi ku pun sebenarnya tidak berbeda jauh.  Bingung akan masa depan seorang lulusan departemen fisika, aku kalang kanbut melamar pekerjaan di berbagai tempat.  Mulai dari televisi swasta, bank-bank hingga perusahaan pemerintah, semua aku kirimi berkas lamaran.  Beberapa bahkan aku datangi secara langsung. Hasilnya nihil.  Televisi swasta ternyata tidak punya tempat untuk seorang lulusan fisika.. Mungkin kalau dia ganteng dan camera face bisa dipertimbangkan, tapi aku tidak ganteng. Bank-bank lebih menyukai merekrut sarjana pertanian, mereka lebih gampang diatur.  Lembaga pemerintah merekrut kroni-kroninya saja, kecuali dia punya koneksi atau sanggup bayar mahal.  Lembaga riset, tempat seharusnya seorang sarjana fisika berada, kembang kempis dan membayar murah ilmuwannya.  Masih ada ya yang mau dibayar murah dengan gombalan manis seperti pengabdian untuk kemajuan riset bangsa dan negara ? bah.
           
Atas ajakan seorang teman, aku pun mengajukan lamaran di sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel).  Tidak rumit prosesnya, tiga hari setelah mengajukan lamaran, aku langsung diterima sebagai pengajar.  Jadilah sejak itu aku mengajarkan fisika, ilmu yang aku pelajari selama empat tahun di kampus kepada siswa-siswa SMA ini.
           
Dalam segi bayaran, menjadi seorang pengajar bimbel sebenarnya cukup menguntungkan.  Kalkulasi ku seperti ini: jika seorang pengajar mengajar selama dua sesi sehari selama enam hari, maka bayaran yang dia dapatkan adalah Rp.2.400.000. Sebuah angka yang lumayan mengingat waktu yang diluangkan hanyalan selama 3-4 jam sehari.  Besaran Rp. 2.400.000 didapatkan dari tarif ku mengajar per sesi saat ini yaitu Rp.60.000.  Angka ini tentu bertambah ketika seseorang sudah menjadi pengajar yang lebih senior.  Tarif seorang pengajar senior bisa mencapai Rp.100.000 per sesi.
           
Kenapa ya tidak banyak yang memilih jadi pengajar bimbel saja ? tidak gengsi mungkin. Lebih mentereng kerja di televisi, bank, atau lembaga pemerintah.  Tapi tetap, sedikit sekali kebanggaan bekerja di lembaga riset negara ini selain niat tulus mengabdi. 
           
Angka Rp.2.400.000 itulah yang aku kantongi tiap bulan selama beberapa waktu ini.  Cukup lumayan untuk membiayai kehidupan di kota Depok.  Sisa waktu sehari setelah mengajar aku lakukan untuk bekerja yang lain, mulai menjual kaos dan kemeja batik, makanan dan minuman, hingga mengirimkan berbagai tulisan ku ke penerbit-penerbit.  Lambat laun aku bisa menabung cukup banyak.  Uang yang akan aku gunakan untuk memulai bisnis ku.  Biar bagaimanapun aku ingin berkeluarga juga.  Tidak mungkin aku nanti bisa membiayai hidup ku dan anak istri dengan mengajar saja. 
           
Selama fase hidup yang ini, aku punya teman setia yang selalu menemani.  Mereka adalah dua ekor kucing di kosan ku. Mereka adalah kucing generasi ketiga di kosan ku.  Empat tahun lalu waktu aku pertama kali ngekos disini, buyut dan nenek mereka sudah disini.  Lalu buyut mereka mati.  Kemudian diteruskan generasi kedua; nenek dan ibu mereka.  Sang jantan ? melakukan tabiat alaminya, setelah kawin ya kawin lagi.
           
Lucunya biar pun setiap kali sang induk melahirkan 3-4 anak nya, hanya satu yang dapat bertahan hidup sampai dewasa. Macam-macam penyebab kematian kucing-kucing ini, mulai dari dimangsa ayahnya sendiri hingga mati karena kedinginan saat tercebur ke selokan.  Sewaktu ibu dari dua orang kosan yang sekarang melahirkan empat orang anak, dua pun kemudian mati.  Jadilah kucing di kosan ini selalu berjumlah dua. Ketika dua orang anaknya beranjak dewasa, sang ibu kucing pun pergi, mungkin untuk kawin lagi, sama seperti jantannya.  Tabiat kucing memang dimana saja, jantan betina sama saja, senang sekali kawin. Berarti manusia yang gemar sekali kawin tidak jauh berbeda dengan kucing. 

Mereka bukanlah kucing dari ras yang istimewa.  Tidak mungkin mahal harga mereka.  Mereka hanya kucing kampung, yang kebetulan hidup di kosan di pinggir kampung ini.  Rambut mereka tidak lebat.  Wajah mereka juga tidak bulat.  Jauh dari menggemaskan. Yah, seperti layaknya kucing kampung, yang kita lihat di jalan atau pasar ikan.  Tapi mereka memang cukup lucu.

Kucing Kampung di Kosan Mu ?
Kucing-kucing kampug di kosan ku ini begitu setia.  Pola hubungan aku dan kucing-kucing ini sederhana, tidak ribet dan jauh dari stres. Ketika deru motor ku terdengar saat aku pulang ke kosan, mereka pun berdatangan menghampiri ku.  Mereka begitu untuk satu tujuan; berharap diberi makan.

Aku tidak memperlakukan mereka secara khusus.  Tidak aku mandikan apalagi bawa mereka ke salon.  Hanya memberi makan, itu pun bergantung akan keuangan ku.  Ada kalanya mereka tidak makan karena aku pun kekurangan makan di akhir bulan.  Tapi, mereka toh tidak protes. 

Pada awalnya aku memberikan sisa makanan ku pada mereka.  Kalau aku makan dengan lauk ayam, maka jadilah mereka makan tulang ayam.  Ketika aku makan dengan lauk ikan, maka menu makanan mereka adalah kepala ikan.  Walaupun makanan sisa, toh mereka tidak pernah protes.  Mereka makan dengan lahapnya. 

         Lambat laun, seiring dengan meningkatnya taraf hidup ku,  makanan mereka pun ikut meningkat kualitasnya.  Setelah sebelumnya hanya makan apa yang aku sisakan, sekarang aku beri mereka ikan yang dicampur nasi dari warung tegal.  Bukan makanan sisa, benar-benar nasi dan ikan yang baru.  Tampaknya mereka senang sekali. 

Suatu kali aku terpikir untuk memberikan mereka makanan yang lebih layak.  Atas saran seorang teman, aku belikan mereka biskuit kucing. Makanan sama yang dimakan kucing ningrat yang berambut lebat dan berwajah bulat itu.  Ketika diberikan makan, suara mereka saat mengunyah yang kriuk-kriuk itu asik sekali terdengarnya. Pasti mereka begitu menyukai makanan mereka yang mahal ini.

Sering mereka masuk ke kamar, menemani aku saat menulis atau memeriksa tugas para siswa. Yang mereka senangi adalah tidur di kasur saling bertumpuk berdua. Sungguh adik kakak yang kompak.  Mereka memang teman yang sangat mengerti kondisi ku. Tahu aku sering tidak bisa tidur di kasur, mereka membuat aku tidur di karpet. Sesekali aku bermain dengan mereka, sekedar menghilangkan penat. Waktu-waktu ku dikosan memang sebagian besar ditemani mereka.
           
Beberapa saat setelah diberi biskuit kucing, kedua ekor kucing ini terserang pilek berkepanjangan.  Penyakit ini juga menyebabkan nafsu mereka turun dan rambut mereka rontok.  Aku khawatir karena mereka sama sekali tidak ingin makan walaupun pernah aku ganti dengan makan awal mereka; ikan dan nasi campur ala warung tegal.         
           
Berbekal honor ku sebulan mengajar, aku bawa mereka ke dokter hewan.  Sungguh mahal sekali pengobatan mereka, mengalahkan biaya ku ke puskesmas saat sedang sakit.  Memang ada kalanya hewan lebih berharga daripada manusia.  Dokter hewan bilang aku sudah terlambat.  Mereka terserang infeksi saluran pencernaan.  Penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah biskuit kucing itu.  Mereka tidak terbiasa dengan makanan ini.  Memang sekalinya kucing kampung, akan tetap kucing kampung      

Aku seharusnya menyadari bahwa kodrat illahi mereka adalah kucing kampung.  Sedangkan kodrat biskuit kucing ini  tidak untuk kucing kampung.  Biar bagaimana pun aku telah menyangkal kodrat keduanya.  Aku sedih sekali. Ini bukan soal bagaimana mereka bisa meningkatkan diri menjadi kucing ningrat misalnya.  Mereka tidak seperti manusia, mereka tidak dikaruniai kemawasan diri seperti itu.  Mereka adalah makhluk yang diciptakan untuk makan, setia pada majikan dan kawin. Berarti manusia, yang tidak mau berusaha meningkatkan nilai dirinya tidak ada bedanya dengan kucing kampung.  Mereka hanya layak makan ikan campur nasi ala warung tegal lalu kawin.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment