Di
usia yang ke 25 ini, aku adalah gambaran umum penduduk Indonesia usia produktif.
Lulus
dari dunia kampus, seperti kebanyakan sarjana di negeri ini, aku pun menjadi
bingung akan masa depan. Kampus sudah menjadi
zona nyaman bagi pemuda-pemuda seperti ku.
Kuliah, mengerjakan tugas, pulang ke kosan, makan, menerima kiriman uang,
pacaran adalah rutinitas kami.
Lalu cepat saja tahun berlalu dan masa-masa
itu terlewati. Skripsi dan wisuda
menjelang, tapi kami mahasiswa tidak juga mengetahui apa yang akan ada setelah
itu. Kami dipaksa terjun ke dunia yang
belum terlalu kami kenal. Ternyata empat
tahun pendidikan di kampus tidak memberi kami cukup bekal yang berarti !.
Dalam
kondisi seperti itu, sebagian besar dari kami mengambil kesempatan terdekat,
teraman, dan tercepat yang bisa diambil.
Potensi penghasilan dan iming-iming berbagai tunjangan menjadi mantra penggoda. Akhirnya seorang sarjana pertanian tersasar
bekerja di bank, atau sarjana ekonomi kepincut mencari nafkah di partai
politik. Tidak heran swasembada pangan hanya akan jadi impian. Tentu saja politik kita penuh dengan hitung-hitungan
untung rugi.
Tidak
ada itu idealisme atau segala tetek-bengek orasi yang kami dengungkan dan telan
saat jadi mahasiswa. Yang ada adalah urusan perut dan lima sentimeter
dibawahnya. Cari makan lalu cari
pasangan kawin lalu meninggal dunia.
Habis perkara.
Kondisi
ku pun sebenarnya tidak berbeda jauh.
Bingung akan masa depan seorang lulusan departemen fisika, aku kalang
kanbut melamar pekerjaan di berbagai tempat.
Mulai dari televisi swasta, bank-bank hingga perusahaan pemerintah, semua
aku kirimi berkas lamaran. Beberapa
bahkan aku datangi secara langsung. Hasilnya nihil. Televisi swasta ternyata tidak punya tempat
untuk seorang lulusan fisika.. Mungkin kalau dia ganteng dan camera face bisa dipertimbangkan, tapi
aku tidak ganteng. Bank-bank lebih menyukai merekrut sarjana pertanian, mereka
lebih gampang diatur. Lembaga pemerintah
merekrut kroni-kroninya saja, kecuali dia punya koneksi atau sanggup bayar
mahal. Lembaga riset, tempat seharusnya
seorang sarjana fisika berada, kembang kempis dan membayar murah ilmuwannya. Masih ada ya yang mau dibayar murah dengan
gombalan manis seperti pengabdian untuk kemajuan riset bangsa dan negara ? bah.
Atas
ajakan seorang teman, aku pun mengajukan lamaran di sebuah lembaga bimbingan
belajar (bimbel). Tidak rumit prosesnya,
tiga hari setelah mengajukan lamaran, aku langsung diterima sebagai
pengajar. Jadilah sejak itu aku
mengajarkan fisika, ilmu yang aku pelajari selama empat tahun di kampus kepada
siswa-siswa SMA ini.
Dalam
segi bayaran, menjadi seorang pengajar bimbel sebenarnya cukup
menguntungkan. Kalkulasi ku seperti ini:
jika seorang pengajar mengajar selama dua sesi sehari selama enam hari, maka
bayaran yang dia dapatkan adalah Rp.2.400.000. Sebuah angka yang lumayan
mengingat waktu yang diluangkan hanyalan selama 3-4 jam sehari. Besaran Rp. 2.400.000 didapatkan dari tarif ku
mengajar per sesi saat ini yaitu Rp.60.000.
Angka ini tentu bertambah ketika seseorang sudah menjadi pengajar yang
lebih senior. Tarif seorang pengajar
senior bisa mencapai Rp.100.000 per sesi.
Kenapa
ya tidak banyak yang memilih jadi pengajar bimbel saja ? tidak gengsi mungkin.
Lebih mentereng kerja di televisi, bank, atau lembaga pemerintah. Tapi tetap, sedikit sekali kebanggaan bekerja
di lembaga riset negara ini selain niat tulus mengabdi.
Angka
Rp.2.400.000 itulah yang aku kantongi tiap bulan selama beberapa waktu
ini. Cukup lumayan untuk membiayai
kehidupan di kota Depok. Sisa waktu
sehari setelah mengajar aku lakukan untuk bekerja yang lain, mulai menjual kaos
dan kemeja batik, makanan dan minuman, hingga mengirimkan berbagai tulisan ku ke
penerbit-penerbit. Lambat laun aku bisa
menabung cukup banyak. Uang yang akan
aku gunakan untuk memulai bisnis ku. Biar
bagaimanapun aku ingin berkeluarga juga.
Tidak mungkin aku nanti bisa membiayai hidup ku dan anak istri dengan
mengajar saja.
Selama
fase hidup yang ini, aku punya teman setia yang selalu menemani. Mereka adalah dua ekor kucing di kosan ku. Mereka
adalah kucing generasi ketiga di kosan ku.
Empat tahun lalu waktu aku pertama kali ngekos disini, buyut dan nenek
mereka sudah disini. Lalu buyut mereka
mati. Kemudian diteruskan generasi
kedua; nenek dan ibu mereka. Sang jantan
? melakukan tabiat alaminya, setelah kawin ya kawin lagi.
Lucunya
biar pun setiap kali sang induk melahirkan 3-4 anak nya, hanya satu yang dapat
bertahan hidup sampai dewasa. Macam-macam penyebab kematian kucing-kucing ini,
mulai dari dimangsa ayahnya sendiri hingga mati karena kedinginan saat tercebur
ke selokan. Sewaktu ibu dari dua orang
kosan yang sekarang melahirkan empat orang anak, dua pun kemudian mati. Jadilah kucing di kosan ini selalu berjumlah
dua. Ketika dua orang anaknya beranjak dewasa, sang ibu kucing pun pergi,
mungkin untuk kawin lagi, sama seperti jantannya. Tabiat kucing memang dimana saja, jantan
betina sama saja, senang sekali kawin. Berarti manusia yang gemar sekali kawin
tidak jauh berbeda dengan kucing.
Mereka
bukanlah kucing dari ras yang istimewa.
Tidak mungkin mahal harga mereka.
Mereka hanya kucing kampung, yang kebetulan hidup di kosan di pinggir
kampung ini. Rambut mereka tidak
lebat. Wajah mereka juga tidak
bulat. Jauh dari menggemaskan. Yah,
seperti layaknya kucing kampung, yang kita lihat di jalan atau pasar ikan. Tapi mereka memang cukup lucu.
| Kucing Kampung di Kosan Mu ? |
Kucing-kucing
kampug di kosan ku ini begitu setia.
Pola hubungan aku dan kucing-kucing ini sederhana, tidak ribet dan jauh
dari stres. Ketika deru motor ku terdengar saat aku pulang ke kosan, mereka pun
berdatangan menghampiri ku. Mereka
begitu untuk satu tujuan; berharap diberi makan.
Aku
tidak memperlakukan mereka secara khusus.
Tidak aku mandikan apalagi bawa mereka ke salon. Hanya memberi makan, itu pun bergantung akan
keuangan ku. Ada kalanya mereka tidak
makan karena aku pun kekurangan makan di akhir bulan. Tapi, mereka toh tidak protes.
Pada
awalnya aku memberikan sisa makanan ku pada mereka. Kalau aku makan dengan lauk ayam, maka
jadilah mereka makan tulang ayam. Ketika
aku makan dengan lauk ikan, maka menu makanan mereka adalah kepala ikan. Walaupun makanan sisa, toh mereka tidak
pernah protes. Mereka makan dengan
lahapnya.
Lambat
laun, seiring dengan meningkatnya taraf hidup ku, makanan mereka pun ikut meningkat
kualitasnya. Setelah sebelumnya hanya
makan apa yang aku sisakan, sekarang aku beri mereka ikan yang dicampur nasi
dari warung tegal. Bukan makanan sisa,
benar-benar nasi dan ikan yang baru. Tampaknya
mereka senang sekali.
Suatu
kali aku terpikir untuk memberikan mereka makanan yang lebih layak. Atas saran seorang teman, aku belikan mereka
biskuit kucing. Makanan sama yang dimakan kucing ningrat yang berambut lebat
dan berwajah bulat itu. Ketika diberikan
makan, suara mereka saat mengunyah yang kriuk-kriuk itu asik sekali
terdengarnya. Pasti mereka begitu menyukai makanan mereka yang mahal ini.
Sering
mereka masuk ke kamar, menemani aku saat menulis atau memeriksa tugas para
siswa. Yang mereka senangi adalah tidur di kasur saling bertumpuk berdua. Sungguh
adik kakak yang kompak. Mereka memang
teman yang sangat mengerti kondisi ku. Tahu aku sering tidak bisa tidur di
kasur, mereka membuat aku tidur di karpet. Sesekali aku bermain dengan mereka,
sekedar menghilangkan penat. Waktu-waktu ku dikosan memang sebagian besar
ditemani mereka.
Beberapa
saat setelah diberi biskuit kucing, kedua ekor kucing ini terserang pilek
berkepanjangan. Penyakit ini juga
menyebabkan nafsu mereka turun dan rambut mereka rontok. Aku khawatir karena mereka sama sekali tidak
ingin makan walaupun pernah aku ganti dengan makan awal mereka; ikan dan nasi
campur ala warung tegal.
Berbekal
honor ku sebulan mengajar, aku bawa mereka ke dokter hewan. Sungguh mahal sekali pengobatan mereka,
mengalahkan biaya ku ke puskesmas saat sedang sakit. Memang ada kalanya hewan lebih berharga
daripada manusia. Dokter hewan bilang
aku sudah terlambat. Mereka terserang
infeksi saluran pencernaan. Penyebabnya
tidak lain tidak bukan adalah biskuit kucing itu. Mereka tidak terbiasa dengan makanan
ini. Memang sekalinya kucing kampung,
akan tetap kucing kampung
Aku
seharusnya menyadari bahwa kodrat illahi mereka adalah kucing kampung. Sedangkan kodrat biskuit kucing ini tidak untuk kucing kampung. Biar bagaimana pun aku telah menyangkal
kodrat keduanya. Aku sedih sekali. Ini
bukan soal bagaimana mereka bisa meningkatkan diri menjadi kucing ningrat
misalnya. Mereka tidak seperti manusia,
mereka tidak dikaruniai kemawasan diri seperti itu. Mereka adalah makhluk yang diciptakan untuk
makan, setia pada majikan dan kawin. Berarti manusia, yang tidak mau berusaha
meningkatkan nilai dirinya tidak ada bedanya dengan kucing kampung. Mereka hanya layak makan ikan campur nasi ala
warung tegal lalu kawin.








0 comments:
Post a Comment