Menjadi Pendidik:
Pengalaman Luar Biasa Mengajar di Bimbingan Belajar
“ Kak terimakasih ya atas bimbingan nya selama ini, Alhamdulillah nilai Biologi ku 91 kak di raport “
Itu adalah isi pesan singkat dari salah satu murid yang aku ajar di bimbingan belajar, Dinda namanya. Lebih kurang selama 1 semester ini aku mengajar Dinda mata pelajaran Biologi. Dinda adalah seorang pelajar dari salah satu SMA Negeri di Kota Depok.
Aku berusaha merendah, walau tersirat rasa senang tak terkira atas apa yang diraih Dinda ini.
“ Ah, Dinda. Itu kan karena kamu rajin dan tekun belajar. Saya cuma membantu kamu sedikit saja “ begitu isi balasan ku.
“ Yee, kakak mah. Memang karena kakak yang sudah banyak bantu aku !. Akhirnya aku bisa dapat nilai yang bagus di rapot begini. Pokok nya aku berterimakasih banyak atas bantuan kakak selama ini. Semoga aku bisa membalas nya suatu saat ya kak ? “
Aku tidak balas lagi pesan Dinda. Aku kemudian berpikir, betul kah itu semua karena ku ?
… … … … …
Sudah lebih dari dua tahun aku mengajar di bimbingan belajar ( bimbel). Tidak terasa, profesi yang awalnya aku jalani dengan terpaksa karena butuh uang lebih untuk di kampus, telah membawa ku sampai ke tahap ini. Sudah tiga generasi anak SMP atau SMA aku ajar. Membantu mereka naik kelas, atau masuk ke jurusan di kampus yang mereka inginkan.
Begitulah, di sela-sela perkuliahan dan kesibukan ku di kampus, aku meluangkan waktu mengajar di bimbingan belajar itu. Bermodal kan apa yang aku pelajari di kampus, dan buku-buku soal yang masih aku simpan sejak SMA, aku pun memasuki dunia pendidikan. Tidak usahlah perlu ku sebut nama bimbel tersebut. Awalnya aku gugup sekali dalam mengajar para siswa. Entah apa sebabnya namun segala materi yang sudah aku siapkan untuk disampaikan, selalu menguap di dalam kelas. Sekali-dua kali aku masih begitu, hingga seringkali aku mengajar akhirnya kemampuan ku meningkat setahap demi setahap. Aku beruntung karena manajemen bimbel ku memberi kesempatan yang luas kepada para pengajar baru untuk menemukan cara mengajarnya sendiri melalui serangkaian program pelatihan dan pengawasan oleh pengajar-pengajar yang senior.
Lambat laun, dengan semakin tingginya jam mengajar ku, selain meningkatnya kemampuan mengajar, intensitas ku berinteraksi dengan murid pun jadi semakin baik. Kami pun jadi lebih dekat. Kedekatan yang menyenangkan yang mungkin hanya akan terjadi di bimbingan belajar, tidak di sekolah umum.
Hubungan antara pendidik dan para siswa bisa sedemikian cair di bimbingan belajar, mungkin karena beda usia yang tidak terlalu jauh. Kami bisa berbicara banyak hal, sebagai teman. Tidak hanya soal materi pelajaran, kami berbincang tentang hasil pertandingan sepakbola, film yang sedang ramai di bioskop, hingga hubungan percintaan salah seorang murid.
Karena kedekatan itu pun, aku jadi bisa mengenal latar belakang dan watak para siswa. Ada siswa yang begitu rajin di awal namun menjadi malas pada akhirnya. Ada juga siswa yang pada awalnya begitu malas, namun semangat belajarnya sedemikian tinggi pada akhirnya, menjelang saat-saat ujian. Ada siswa yang jarang sekali muncul, hingga sering kami tidak ingat namanya. Siswa seperti ini pasti masuk bimbel karena didorong-dorong orang tua akibat nilai di sekolah nya yang jelek. Sang orang tua nampaknya terlalu sibuk dengan pekerjaan atau bisnisnya sehingga lepas tangan begitu saja. Ada juga tipe siswa yang frekuensi masuk bimbel mua berbanding lurus dengan frekuensi siswa lain, biasanya lawan jenisnya. Tipe siswa ini adalah tipe kasmaran. Ada siswa yang masuk bimbel kalau geng nya masuk bimbel juga. Ada juga siswa yang masuk kalau pengajar nya saat itu yang dia suka.
Menjelang ujian semester sekolah maupun ujian masuk perguruan tinggi, biasanya para siswa menjadi lebih semangat belajar. Lebih banyak mereka yang datang dan lebih rutin juga. Entah mengapa, menurut ku, siswa di bimbel umumnya memiliki kecenderungan membolos. Ini sudah tipikal sekali. Mungkin mereka lelah atau bosan untuk masuk bimbel karena sebelumnya sudah belajar sepanjang hari di sekolah.
Seperti apa pun tipe siswa, kalau mereka jarang masuk bimbel, menurutku itu sangat disayang kan. Salah satunya dalam hal biaya. Setahu ku, bimbel ku ini mematok biaya yang cukup besar untuk siswa ikut programnya selama setahun. Nilainya lebih dari 3 x bayaran semester ku dikampus. Angka yang luar biasa.
Menurut ku para siswa yang masuk ke bimbel ini adalah anak dari orang tua yang berada. Orang tua yang tidak berada pasti memasukkan anaknya ke bimbel lain, yang lebih murah, sama seperti orang tua ku dulu. Iya, dulu aku juga bimbel waktu SMA, tidak terlalu mahal biayanya. Namun, satu kelas ku dulu bisa diisi hingga tiga puluh orang lebih. Sebagai bandingan, di bimbel ku mengajar ini, maksimal diisi lima belas orang.
Sebenarnya dalam hal pengajaran, setiap bimbel tidak banyak berbeda. Entah mereka mengaku memiliki sistem atau metode khusus tersendiri. Tetap saja, penentunya adalah para pengajar di dalam kelas, bukan sistem atau metode tersebut. Di bimbel ku dulu itu, aku juga memiliki banyak pengajar yang berkualitas, begitu juga di bimbel tempat ku mengajar sekarang. Apakah aku salah seorang pengajar berkualitas ? ah, biarlah para siswa saja yang memberi nilai.
Unik juga bagaimana aku bertransformasi dari seorang yang diajar menjadi pengajar. Sedikit banyak aku juga belajar cara mengajar dari para guru yang mengajar ku. Entah itu, pengajar di bimbel ku dulu, para guru di sekolah, ataupun dosen di kampus. Setiap pengajar memang memiliki cara masing-masing. Dan itu lah yang aku lakukan dalam mengajar. Alih-alih mengajar seperti orang lain, aku menjadi diriku sendiri, dan itu membuat aku dan para siswa menjadi lebih baik.
Menjadi guru bimbel mungkin tidak seberat menjadi guru di sekolah. Kita tidak menerangkan suatu materi dari awal sampai akhir, kita hanya memandu para siswa mendalami materi dengan lebih baik, entah lewat rangkuman atau serangkaian latihan soal. Namun, tetap saja menurut ku para guru di bimbel harus menguasai keterampilan dalam mengajar.
Metode mengajar ku dimulai dengan memberi para siswa perntanyaan. Misalnya
“ Apa menurut kalian, kita ini memang berasal dari monyet ? seperti apa yang kalian ketahui dari teori evolusi ? “ begitu kata ku ketika membuka suatu kelas.
Komentar para siswa pun beragam, kelas menjadi sedemikian ramai. Ribut mungkin, namun ribut yang konstruktif. Dalam hal evolusi itu, ada yang kontra, ada yang pro. Mereka saling berpendapat, menyampaikan argumen dan dalil masing-masing. Dari situ, aku mengetahui seluas apa wawasan yang telah para siswa punya.
Setelah serangkaian hal yang disampaikan para siswa, aku pun melanjutkan kelas dengan bercerita mengenai materi tersebut. Tentang teori evolusi, aku sampaikan pada mereka, apa yang sebenarnya Charles Darwin tulis dalam bukunya. Bahwa beliau tidak pernah berkata bahwa manusia adalah berasal dari monyet. Bagaimana kemudian teori evolusi berkembang seiring kemajua ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu, aku sampaikan pada mereka bukti-bukti dan pendapat yang dimiliki oleh para ahli baik yang pro maupun kontra.
Kelas kemudian berjalan dengan tanya jawab. Beberapa materi, seperti evolusi dan reproduksi selalu menarik minat tinggi siswa untuk belajar. Beberapa materi lain, umumnya yang berkaitan dengan sistem tubuh, dapat menjadi begitu membosankan untuk siswa. Disinilah para guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mengajar. Bagaimana menjadikan materi yang sedemikian rumit dan dianggap menjemukan dapat lebih menarik. Setidaknya para siswa tetap ingin belajar walaupun tidak sampai menguasai.
Di penghujung waktu, kelas biasanya aku sudahi dengan memberi mereka latihan soal sesuai materi yang barusan diajarkan. Ini aku lakukan untuk mendapatkan evaluasi tidak hanya siswa tapi juga diriku sebagai pengajar.
Umum nya mereka adalah para siswa yang belum mengetahui banyak hal, yang sesungguhnya mereka perlu tahu. Apakah ini penyebab sistem pembelajaran di sekolah ? aku tidak tahu. Aku sering prihatin karena mereka, terlebih di pelajaran Biologi ini sudah terlanjur terdidik untuk menghapal dan menghapal. Padahal seharusnya tidak begitu, siswa perlu dituntun untuk memiliki pemahaman holistik, dan mendapat pengetahuan akan penerapan ilmu yang mereka pelajari. Sudah kah pendidikan kita memberikan itu ?
Di bimbel ku, kelas di bagi dalam kelas regular dan kelas khusus. Keals regular diisi hingga lima belas orang bahkan lebih. Sedangkan kelas khusus maksimal diisi tujuh orang. Tentu saja kelas khusus memiliki tarif yang lebih mahal. Namun, menurut ku sebagai pengajar, tidak ada banyak perbedaan dari segi kepitaran atau kerajinan dari siswa-siswa di kedua kelas itu. Mereka tetap saja bisa rajin atau malas di waktu-waktu tertentu. Namanya juga siswa. Pengajar nya yang tidak boleh malas bukan ?.
Bimbingan belajar memiliki tuntutan untuk menaikkan prestasi dan nilai siswa yang ada didalamnya. Para orang tua mendaftarkan anaknya di bimbel, dengan biaya mahal pula tentu punya harapan yang besar bahwa bimbel yang bersangkutan dapat meningkatkan nilai anaknya disekolah. Juga agar para siswa dapat masuk ke jurusan-jurusan favorit di perguruan tinggi.
… … … … …
Kepuasan utama seorang pengajar itu bukan bayarannya. Terdengar klise ya ?. Awalnya aku pun mengira begitu. Aku mengajar di bimbel ini pun tertarik dengan bayarannya yang cukup besar. Hingga aku berusaha mengajar sesering mungkin, sebanyak mungkin. Hingga kemudian, pada suatu waktu, padahal memiliki gaji per bulan yang cuukup besar, aku merasa kehilangan motivasi dalam mengajar.
“ Uang ? hanya uang kah yang membuat ku ingin mengajar disini ? mengajar mereka ? “ tanya ku saat itu.
Siswa-siswa seperti Dinda lah, yang kemudian membukakan mata hati ku. Ada perasaan bahagia tak terperi, saat mereka mengirimi aku pesan, saat mereka bilang terima kasih kakak, berkat kakak nilai saya jadi bagus. Berkat kakak aku bisa naik kelas. Berkat kakak saya bisa masuk ke jurusan kedokteran. Berkat kakak, akhirnya saya bisa masuk ke Universitas Indonesia. Dan segala macam hal seperti itu diucapkan mereka. Bagaimana bisa aku tidak bahagia ?
Sering sudah aku dengar tentang betapa mulianya profesi guru iru. Tentang pahlawan tanda jasa. Tentang amal jariah. Tentang pahala yang terus mengalir. Tentang mendidik generasi penerus bangsa. Aku dulu hanya merasa itu adalah jargon-jargon kuno penutup borok sistem pendidikan dan kesejahteraan guru di Indonesia. Tapi, begitu ada didalamnya, walaupun naïf rasanya membandingkan diriku dengan para guru-guru yang sungguh mulia, saya dapat merasakan semua klise itu ada benarnya.
Adalah benar kalau guru pahlawan tanpa tanda jasa. Guru membebaskan suatu generasi dari penjajah bernama kebodohan dan kegelapan ilmu. Tidak pernah ada bintang jasa atau anugerah anumerta karena hal itu bukan ?
Adalah benar bahwa seorang guru memiliki amal jariah sepanjang masa. Bahkan ketika jasad telah dikebumikan, pahala itu terus mengalir ketika ilmu yang diajarkan terus diamalkan dan bermanfaat. Aku yakin guru akan mudah sekali saat dihisab amal nya di padang mahsyar nanti. Mereka pasti masuk surga dengan mudah.
Adalah benar bahwa suatu bangsa akan meraih kemajuan, akan menjadi unggul, akan menjadi bermartabat akibat peran serta para guru. Orang-orang mulia ini. Bangsa-bangsa maju pasti dididik oleh guru-guru yang luar biasa pada awalnya banga itu berdiri.
Atas segala hal yang ada di dalam profesi guru, tidak heran kalau kita lihat di televisi ada guru yang bahkan untuk mengajar harus menaiki perahu selama berjam-jam atau melewati bukit dan lembah.
Salah kah ketika kemudian seorang guru menuntut kesejahteraan ?, tentu saja tidak. Atas segala perannya, guru seharusnya adalah salah satu profesi yang dihargai paling mahal, selain ilmuwan dan para abdi negara di perbatasan. Bukannya malah para politikus dan pejabat negara itu. Makan uang rakyat pula. Korupsi.
Aku bangga sekali, saat ku mahasiswa, aku mendapat kesempatan untuk merasakan menjadi seorang guru. Manis dan getirnya. Aku bangga sekali, walau kecil sekali peran ku, ikut berperan dalam mendidik generasi bangsa. Aku tidak ingin dibandingkan, sungguh tidak layak aku dibandingkan, dengan guru-guru yang bertahun-tahun telah mengajar anak-anak negeri ini. Guru-guru yang ikut membangun martabat bangsa. Guru-guru yang mencerdaskan masyarakat di pedalaman sana. Yang menyebrangi jembatan gantung, atau masuk hutan rimba hanya untuk mengajar ? Mana bisa aku dibandingkan dengan mereka ini ? Tolong jangan.
Namun, tentu saja aku akan bahagia sekali, sungguh bahagia, ketika Biologi, yang aku ajarkan kepada para siswa ini, dapat menjadi amal jariah ku sepanjang masa. Semoga saja. Aku ingin terus mengajar, selama aku masih bisa.












7 comments:
Wohaahaha ... sip, jangan lupa ajarin gue juga Bas.
blogwalking :)
senang ya rasanya bisa mengajar anak Indonesia :)
mas wendy, nanti saya ajarkan apa yang tidak bisa di Biologi, hehe.
Lagi mau ikut ujian apa nih ? SIMAK UI atau SNMPTN ? =p
Salam kenal Nabil, =D
Oh iya, soal pendidik dan pengajar, setelah membaca komen kamu ini, saya penasaran dengan definisi keduanya. saya aga salah nih, saya rasanya belum pantas disebut pendidik, masih pengajar. Karena rasanya, saya belum memberikan cukup nnilai budi pekerti selayaknya seorang pendidik. begitu,.. hehe.
Jadi, sekarang saya masih pengajar yaa. mengajar anak Indonesia. kamu betul sekali. Terimakasih koreksiannya =) * walau ga sengaja * hehe
oh yaampun gak maksud loh padahal kak hehe
iya sama-sama kak :)
main-main ke blog aku ya hehe :D
wah,,,, saya malah sudah ikut blog kamu... hehe. Kamu ikut lomba SSE juga tohh..
Bagus tulisannyaaa =)
oh iya ya hehe gak sadar sih ka :)
iya kak iseng aja ikut, pengen cari pengalaman :D
wahwah masih dalam tahap belajar ko kak ^^
Post a Comment