Friday, July 13, 2012

Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya). Bagian 2



Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya)
Bagian 2.


Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, analisis tentang kemenangan sementara pasangan Jokowi-Ahok di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta...

Analisis keberhasilan selanjutnya adalah dari cara pasangan Jokowi-Ahok berkampanye.  Setahu dan seingat saya, pasangan ini hanya satu kali melakukan pengerahan massa.  Waktu itu di Gelora Bung Karno, itu pun tidak di lapangan sepakbola utamanya, tempat kebanyakan kampanye massa dilakukan.  Alasan pak Jokowi, biar hemat dan tidak merusak rumput.  Tuh kan ? dalam waktu seperti ini saja pak Jokowi masih memikirkan hal lain, hal yang mungkin kecil baginya namun tidak untuk suatu pihak tertentu. PSSI dan timnas Indonesia sebagai ccntoh.  Kalau rumput rusak, pihak yang mengurus perawatan rumput stadion pasti harus segera melakukan perbaikan.  Diinjaki ribuan orang, rumput itu pasti banyak rusaknya kan ? wong kalau pas main bola Cuma diinjak 22 orang saja sering rusak.  Nah, pak Jokowi tidak mau itu terjadi. Akhirnya kampanye diadakan di bagian luar. Sungguh keputusan yang arif.
Dalam kampanye itu, pak Prabowo Subianto juga hadir sebagai orator.  Beliau juga mengenakan kemeja kotak-kotak Jokowi – Ahok.  Kampanye ini memang dihadiri banyak massa, namun hanya sekali ini. Selebihnya Jokowi-Ahok dan tim sukses lebih sering ada di jalan, di kampung-kampung, di rumah-rumah warga, di pertokoan, di tempat-tempat kumuh, membagikan VCD pengenalan dan koran Jakarta Baru.  Mereka berinteraksi dengan warga, bercanda, saling sapa, berkenalan, saling diskusi, makan diwarteg, minum kopi bersama.  Mereka bersama rakyat yang akan dipimpinnya.  Saban hari dalam masa kampanye dan berjanji akan terus melakukan ini saat jadi pemimpin Jakarta.  Adakah alasan calon yang seperti ini kemudian tidak dipilih sebagian besar warga Jakarta ?
Tapi, datang ke warga dalam waktu kampanye yang sempit ini memang perlu strategi khusus, nah… menurut berbagai sumber yang say abaca atau dengar, dalam masa 2 minggu itu Jokowi-Ahok tidak sembarang saja menentukan warga yang akan didatangi.  Mereka mendatangi lokasi dimana banyak kelas menengah, dimana banyak orang jawa, Madura, sunda atau cina, dimana kantong-kantong orang miskin, para seniman, pemain musik berpengaruh, dan dimana tempat-tempat pemilih mengambang.  Kelompok-kelompok inilah yang meroketkan perolehan suara Jokowi-Ahok.
Dari segi sarana publikasi, menurut saya dibandingkan calon dari partai lainnya, Jokowi-Ahok adalah yang paling sedikit memiliki sarana publikasi, baik berupa iklan di televisi, baliho, spanduk, brosur, poster, leaflet, bill board hingga majlis ta’lim.  Bisa dibilang Jokowi-Ahok sangat kurang sekali. Karena masalah dana kah ? padahal kan dari partai juga ya.  Tapi ya itu, merek Jokowi-Ahok yang sudah terbangun kuat dengan prestasi, citra, mesin partai, dan tentu saja kemeja kotak-kotak sangat terekam di benak para calon pemilih.  Sehingga ketika, sebagai contoh sekali saja, dalam waktu yang sangat tepat, iklan Jokowi-Ahok muncul di televisi, image pasangan tersebut seakan menempel terus di segala benak para pemirsah.
Hal-hal yang saya paparkan diatas adalah hasil analisis saya sebagai anak kosan yang ikut mencoblos beliau.  Saya mendapatkannya dari banyak sumber, koran, televisi, dan beragam diskusi.  Itu adalah analisis dari sisi internal pasangan Jokowi-Ahok, bagaimana dari sisi eksternal ?
Menurut saya, pasangan lainnya, terutama yang dari partai tidak berhasil membangun merek yang kuat.  Citra BERKUMIS, yang dibangun oleh pasangan nomor 1 sebenarnya menjadi bahan serangan yang menguntungkan pasangan lainnya, ketika pasangan calon nomor 2 yang Independen; Hendardji Supandji – Riza Patria menjadikan BERKUMIS menjadi kependekan dari “ BERantakan KUmuh dan MISkin “.  Begitu hal ini terlontarkan dalam suatu acara debat di televisi, saya rasa citra BERKUMIS malah menjadi tidak menguntungkan.  Selain itu, pasangan nomor 1 ini tampak nya terlalu percaya diri dengan memasang kepdean “ 1 PUTARAN “ nya di segala bentuk publikasi kampanye.  Saya rasa yang membaca, yang memang bukan fanatik BERKUMIS akan kesal, gemes, marah, atau apapun sehingga malah tidk mau memilih pasangan nomor 1.  Memang sterlalu kepedean bisa menyebalkan. 
Apalagi yaa..
Menurut saya dengan sangat banyak nya publikasi yang dilakukan; spanduk, billboard, koran, hingga iklan di televisi menjadi tidak menguntungkan.  Masyarakat tentu akan jadi punya pemikiran, “ ini duit darimana ya buat bikin iklan ?? “ masyarakat kan sudah cerdas lho. Belum lagi ditambah citra partai biru yang mengusung beliau. Runyam lah sudah kalau tidak bisa ditemukan penawarnya.
Calon partai yang lain juga tampaknya sama, walau saya cukup kaget juga pak Hidayat Nur Wahid hanya mendapatkan 11 % lebih suara dari pemilihnya yang kemungkinan besar dari PKS.  PKS itu solid. Kemungkinan besar massa PKS juga terbelah ke pasangan nomor 1 dan 3 atas dasar berbagai faktor.
Calon nomor 6 ? duh. Saya tidak mau membahas, mesin partai Golkar dan PPP pasti sedang tidak berjalan lancar. Perolehan suara pasangan mereka bahkan mampu dikalahkan paangan independen nomor 5; Faisal Basri – Biem Benjamin.  Pasangan independen ini termasuk salah satu fenomena dalam pilkada ini.  Bagaimana kemudian akhirnya calon Independen bisa mengalahkan calon dari partai, partai kuning dan hijau pula. Ini adalah bukti Independen punya tempat tersendiri di hati para warga.  Merea sudah bosan juga dengan CALON DARI PARTAI. Makanya mereka memilih CALONNYA WARGA.
Well… begitulah analisis hasil (hitung cepat) Pilkada DKI Jakarta ala saya kali ini. Seperti yang anda ketahui urutan perolehan suara adalah nomor 3 – nomor 1 – nomor 4 – nomor 5 – nomor 6 – nomor 2.  Pilkada pun akan berjalan dua putaran dengan mempertarungkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Romli dengan pasangan Jokowi – Ahok.  Alhamdulillah, puji syukur selama masa pelaksanaan pemilu kemarin berjalan aman damai dan tenteram.  Warga memang sudah cerdas, sehingga tahu mana yang baik mana yang tidak, dan tidak usah bikin ribut.
Sekedar tambahan, saya ingin mengomentari tentang dorongan isu SARA dalam kecenderungan memilih.  Isu SARA juga digunakan untuk mencegah suatu calon dipilih.  Menurut saya ini sudah bukan masanya lagi.  Ketika suatu pasangan mengedepankan isu SARA tertentu untuk dirinya lalu menggunakan isu SARA lain untuk menjatuhkan pasangan lain, hal ini malah akan menghancurkan suara pasanagn calon yang melontarkan.  Belum lagi juga turut ikut mencederai demokrasi.  Masihkah hal ini terjadi ? masih, masih. Saya menyaksiannya sendiri ketika suatu calon terus menggembor-gemborkan isu SARA tertentu untuk kepentingan dirinya dan lalu menyerang pasangan lain.  Perolehan pasangan lain itu malah jadi melebihi pasangan yang menjelek-jelekkan. Karena apa ? karena setiap elemen dalam SARA yang dijadikan senjata untuk menjatuhkan malah bahu-membahu untuk menjatuhkan balik pihak yang bermain kotor itu.
Sudah saatnya isu SARA dikeluarkan dari politik dan demokrasi.  Kita harus memilih pemimpin atau partai yang paling baik buat kita, yang menrut kita bisa memberdayakan dan mensejahterakan kita semua. Sekali lagi selamat untuk Jokowi-Ahok.
Salam demokrasi. Salam anak kos kampus UI.

note: 
Pada akhirnya, hasil rekapitulasi suara KPUD DKI Jakarta menghasilkan perolehan suara pasanagn Jokowi-Ahok yang paling banyak.  Pasanagn Jokowi-Ahok melaju ke putaran kedua bersama dengan pasangan Foke-Nara.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment