Analisis
Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya)
Bagian 2.
Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, analisis tentang kemenangan sementara pasangan Jokowi-Ahok di putaran pertama Pilkada DKI Jakarta...
Analisis
keberhasilan selanjutnya adalah dari cara pasangan Jokowi-Ahok
berkampanye. Setahu dan seingat saya,
pasangan ini hanya satu kali melakukan pengerahan massa. Waktu itu di Gelora Bung Karno, itu pun tidak
di lapangan sepakbola utamanya, tempat kebanyakan kampanye massa
dilakukan. Alasan pak Jokowi, biar hemat
dan tidak merusak rumput. Tuh kan ?
dalam waktu seperti ini saja pak Jokowi masih memikirkan hal lain, hal yang
mungkin kecil baginya namun tidak untuk suatu pihak tertentu. PSSI dan timnas
Indonesia sebagai ccntoh. Kalau rumput
rusak, pihak yang mengurus perawatan rumput stadion pasti harus segera
melakukan perbaikan. Diinjaki ribuan
orang, rumput itu pasti banyak rusaknya kan ? wong kalau pas main bola Cuma
diinjak 22 orang saja sering rusak. Nah,
pak Jokowi tidak mau itu terjadi. Akhirnya kampanye diadakan di bagian luar.
Sungguh keputusan yang arif.
Dalam kampanye itu, pak Prabowo Subianto
juga hadir sebagai orator. Beliau juga
mengenakan kemeja kotak-kotak Jokowi – Ahok.
Kampanye ini memang dihadiri banyak massa, namun hanya sekali ini.
Selebihnya Jokowi-Ahok dan tim sukses lebih sering ada di jalan, di
kampung-kampung, di rumah-rumah warga, di pertokoan, di tempat-tempat kumuh,
membagikan VCD pengenalan dan koran Jakarta Baru. Mereka berinteraksi dengan warga, bercanda,
saling sapa, berkenalan, saling diskusi, makan diwarteg, minum kopi bersama. Mereka bersama rakyat yang akan
dipimpinnya. Saban hari dalam masa
kampanye dan berjanji akan terus melakukan ini saat jadi pemimpin Jakarta. Adakah alasan calon yang seperti ini kemudian
tidak dipilih sebagian besar warga Jakarta ?
Tapi, datang ke warga dalam waktu
kampanye yang sempit ini memang perlu strategi khusus, nah… menurut berbagai sumber
yang say abaca atau dengar, dalam masa 2 minggu itu Jokowi-Ahok tidak sembarang
saja menentukan warga yang akan didatangi.
Mereka mendatangi lokasi dimana banyak kelas menengah, dimana banyak
orang jawa, Madura, sunda atau cina, dimana kantong-kantong orang miskin, para
seniman, pemain musik berpengaruh, dan dimana tempat-tempat pemilih
mengambang. Kelompok-kelompok inilah
yang meroketkan perolehan suara Jokowi-Ahok.
Dari segi sarana publikasi, menurut saya
dibandingkan calon dari partai lainnya, Jokowi-Ahok adalah yang paling sedikit
memiliki sarana publikasi, baik berupa iklan di televisi, baliho, spanduk,
brosur, poster, leaflet, bill board hingga majlis ta’lim. Bisa dibilang Jokowi-Ahok sangat kurang sekali.
Karena masalah dana kah ? padahal kan dari partai juga ya. Tapi ya itu, merek Jokowi-Ahok yang sudah
terbangun kuat dengan prestasi, citra, mesin partai, dan tentu saja kemeja
kotak-kotak sangat terekam di benak para calon pemilih. Sehingga ketika, sebagai contoh sekali saja,
dalam waktu yang sangat tepat, iklan Jokowi-Ahok muncul di televisi, image
pasangan tersebut seakan menempel terus di segala benak para pemirsah.
Hal-hal yang saya paparkan diatas adalah
hasil analisis saya sebagai anak kosan yang ikut mencoblos beliau. Saya mendapatkannya dari banyak sumber,
koran, televisi, dan beragam diskusi.
Itu adalah analisis dari sisi internal pasangan Jokowi-Ahok, bagaimana
dari sisi eksternal ?
Menurut saya, pasangan lainnya, terutama
yang dari partai tidak berhasil membangun merek yang kuat. Citra BERKUMIS, yang dibangun oleh pasangan
nomor 1 sebenarnya menjadi bahan serangan yang menguntungkan pasangan lainnya,
ketika pasangan calon nomor 2 yang Independen; Hendardji Supandji – Riza Patria
menjadikan BERKUMIS menjadi kependekan dari “ BERantakan KUmuh dan MISkin
“. Begitu hal ini terlontarkan dalam
suatu acara debat di televisi, saya rasa citra BERKUMIS malah menjadi tidak
menguntungkan. Selain itu, pasangan nomor
1 ini tampak nya terlalu percaya diri dengan memasang kepdean “ 1 PUTARAN “ nya
di segala bentuk publikasi kampanye.
Saya rasa yang membaca, yang memang bukan fanatik BERKUMIS akan kesal,
gemes, marah, atau apapun sehingga malah tidk mau memilih pasangan nomor 1. Memang sterlalu kepedean bisa
menyebalkan.
Apalagi yaa..
Menurut saya dengan sangat banyak nya
publikasi yang dilakukan; spanduk, billboard, koran, hingga iklan di televisi
menjadi tidak menguntungkan. Masyarakat
tentu akan jadi punya pemikiran, “ ini duit darimana ya buat bikin iklan ?? “
masyarakat kan sudah cerdas lho. Belum lagi ditambah citra partai biru yang
mengusung beliau. Runyam lah sudah kalau tidak bisa ditemukan penawarnya.
Calon partai yang lain juga tampaknya
sama, walau saya cukup kaget juga pak Hidayat Nur Wahid hanya mendapatkan 11 %
lebih suara dari pemilihnya yang kemungkinan besar dari PKS. PKS itu solid. Kemungkinan besar massa PKS
juga terbelah ke pasangan nomor 1 dan 3 atas dasar berbagai faktor.
Calon nomor 6 ? duh. Saya tidak mau
membahas, mesin partai Golkar dan PPP pasti sedang tidak berjalan lancar.
Perolehan suara pasangan mereka bahkan mampu dikalahkan paangan independen
nomor 5; Faisal Basri – Biem Benjamin.
Pasangan independen ini termasuk salah satu fenomena dalam pilkada ini. Bagaimana kemudian akhirnya calon Independen
bisa mengalahkan calon dari partai, partai kuning dan hijau pula. Ini adalah
bukti Independen punya tempat tersendiri di hati para warga. Merea sudah bosan juga dengan CALON DARI
PARTAI. Makanya mereka memilih CALONNYA WARGA.
Well… begitulah analisis hasil (hitung cepat)
Pilkada DKI Jakarta ala saya kali ini. Seperti yang anda ketahui urutan
perolehan suara adalah nomor 3 – nomor 1 – nomor 4 – nomor 5 – nomor 6 – nomor
2. Pilkada pun akan berjalan dua putaran
dengan mempertarungkan pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Romli dengan pasangan
Jokowi – Ahok. Alhamdulillah, puji
syukur selama masa pelaksanaan pemilu kemarin berjalan aman damai dan
tenteram. Warga memang sudah cerdas,
sehingga tahu mana yang baik mana yang tidak, dan tidak usah bikin ribut.
Sekedar tambahan, saya ingin
mengomentari tentang dorongan isu SARA dalam kecenderungan memilih. Isu SARA juga digunakan untuk mencegah suatu
calon dipilih. Menurut saya ini sudah
bukan masanya lagi. Ketika suatu
pasangan mengedepankan isu SARA tertentu untuk dirinya lalu menggunakan isu
SARA lain untuk menjatuhkan pasangan lain, hal ini malah akan menghancurkan
suara pasanagn calon yang melontarkan.
Belum lagi juga turut ikut mencederai demokrasi. Masihkah hal ini terjadi ? masih, masih. Saya
menyaksiannya sendiri ketika suatu calon terus menggembor-gemborkan isu SARA
tertentu untuk kepentingan dirinya dan lalu menyerang pasangan lain. Perolehan pasangan lain itu malah jadi
melebihi pasangan yang menjelek-jelekkan. Karena apa ? karena setiap elemen
dalam SARA yang dijadikan senjata untuk menjatuhkan malah bahu-membahu untuk
menjatuhkan balik pihak yang bermain kotor itu.
Sudah saatnya isu SARA dikeluarkan dari
politik dan demokrasi. Kita harus
memilih pemimpin atau partai yang paling baik buat kita, yang menrut kita bisa
memberdayakan dan mensejahterakan kita semua. Sekali lagi selamat untuk Jokowi-Ahok.
Salam demokrasi. Salam anak kos kampus
UI.
note:
Pada akhirnya, hasil rekapitulasi suara KPUD DKI Jakarta menghasilkan perolehan suara pasanagn Jokowi-Ahok yang paling banyak. Pasanagn Jokowi-Ahok melaju ke putaran kedua bersama dengan pasangan Foke-Nara.
note:
Pada akhirnya, hasil rekapitulasi suara KPUD DKI Jakarta menghasilkan perolehan suara pasanagn Jokowi-Ahok yang paling banyak. Pasanagn Jokowi-Ahok melaju ke putaran kedua bersama dengan pasangan Foke-Nara.












0 comments:
Post a Comment