Kakak
Ku Seorang Guru:
Teladan Pendidik di Sekolah dan Keluarga
![]() |
| Ibu Asih dan Anak Sulungnya |
Dari empat orang kakak yang saya punya, saya
punya dua orang kakak perempuan. Salah satunya berprofesi sebagai guru. Kakak saya yang ini, Ibu Asih, merupakan salah
satu teladan saya dalam keluarga dan kehidupan ini. Beliau adalah pendidik sejati tidak hanya di
sekolah tapi juga dikeluarga.
Ibu Asih merupakan lulusan jurusan pendidikan
salah satu universitas di Yogyakarta.
Selepas kuliah, beliau langsung bekerja sebagai guru, mulai dari guru
tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Ibu Asih mengajar di sekolah agama Islam
(Tsanawiyah dan Aliyah). Berbeda dari
kebanyakan guru yang saya kenal, tidak hanya memberikan pendidikan umum, dalam
menyampaikan materinya, Ibu Asih berusaha menyisipkan nilai-nilai pendidikan
rohani kepada para murid. Sebagai contoh
saat membahas tema “ Hidup Bermasyarakat “ dalam pelajaran Kewarganegaraan, Ibu
Asih akan menceritakan bagaimana Islam sangat mengedepankan konsep silaturahmi
dan musyawarah dalam masyarakat. Maklum
lah, kakak saya yang satu ini menghabiskan waktu 12 tahun di sekolah islam dan
pesantren.
Ibu Asih tidak hanya pengajar, namun juga
pendidik. Tidak hanya mengajarkan ilmu, Ibu
Asih menanam kan budi pekerti dalam mata pelajaran yang diampunya. Entah seberapa sering saya dengar ucapan
terimakasih dan kagum disampaikan untuk Ibu Asih tentang keberhasilan nya
mendidik siswa dari berbagai latar belakang di sekolah menjadi anak-anak yang
berbudi pekerti baik. Yah, memang masih
ada saja diantara mereka yang nakal dan membandel, tapi masih dalam batas-batas
yang wajar. Bukan kah anak usia puber dan remaja memang begitu ?
Ibu Asih baru saja melahirkan anak
keduanya. Sebagai seorang ibu yang juga
pendidik, Ibu Asih berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk kedua buah
hatinya. Sedari kecil, anak sudah
diajarkan mengaji dan salat lima waktu, tak lupa juga beragam doa sehari-hari. Ibu Asih mencontohkan dan menuntun langsung
anaknya untuk melakukan. Sang anak pun
jadi terbiasa untuk salat dan berdoa sebelum melakukan aktivitas sedari usia
dini. Dalam hal membaca Al-Qur’an, sang
anak sudah lancar membaca huruf hijaiyah di buku Iqra dalam usia dua tahun. Sekarang,
diusianya yang ketiga, dalam suatu lomba membaca Al-Qur’an surat pendek tingkat
kota, sang anak sulung itu menjadi salah satu dari tiga juara.
![]() |
| Kalista Saat Umur Satu Tahun |
Sebelum makan atau tidur, Ibu Asih mengajak
suami dan anaknya untuk berdoa bersama.
Lama kelamaan, sang anak malah menyenangi kegiatan berdoa sebelum
melakukan aktivitas. Pernah saya dengar
cerita Ibu Asih, di “play group “ sang anak, pernah ada kejadian lucu ketika
sang anak mengingatkan guru di kelasnya yang lupa berdoa sebelum memulai kelas.
Ibu Asih bersama suami tercinta, melakukan semua hal itu sendiri atas dasar keinginan untuk menjadi sebaik-baiknya orang tua untuk kedua malaikat kecilnya. Di masa sekarang, jumlah orang tua seperti ini semakin berkurang saja tampaknya. Sekedar untuk mengajari mengaji atau salat saja, banyak orang tua,sekarang dengan alasan kesibukkan, lalu memanggilkan guru agama ke rumah. Memang bukan hal yang salah, apalagi ketika tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga harus dipenuhi. Namun menurut saya pribadi, tetap saja pendidikan yang utama harus mulai diberikan oleh dan dari orang tua.
Ibu Asih bersama suami tercinta, melakukan semua hal itu sendiri atas dasar keinginan untuk menjadi sebaik-baiknya orang tua untuk kedua malaikat kecilnya. Di masa sekarang, jumlah orang tua seperti ini semakin berkurang saja tampaknya. Sekedar untuk mengajari mengaji atau salat saja, banyak orang tua,sekarang dengan alasan kesibukkan, lalu memanggilkan guru agama ke rumah. Memang bukan hal yang salah, apalagi ketika tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga harus dipenuhi. Namun menurut saya pribadi, tetap saja pendidikan yang utama harus mulai diberikan oleh dan dari orang tua.
Itulah sedikit cerita tentang kakak saya, Ibu
Asih, seorang ibu yang mendidik dan membimbing anak tidak hanya pintar untuk
kebutuhan dunia, namun juga bijak untuk keperluan akhirat nanti.










0 comments:
Post a Comment