Monday, July 30, 2012

Kakak Ku Seorang Guru. Bagian 2

Kakak Ku Seorang Guru:
 Teladan Pendidik di Sekolah dan Keluarga

Ibu Asih dan Anak Sulungnya
Dari empat orang kakak yang saya punya, saya punya dua orang kakak perempuan. Salah satunya berprofesi sebagai guru.  Kakak saya yang ini, Ibu Asih, merupakan salah satu teladan saya dalam keluarga dan kehidupan ini.  Beliau adalah pendidik sejati tidak hanya di sekolah tapi juga dikeluarga.
Ibu Asih merupakan lulusan jurusan pendidikan salah satu universitas di Yogyakarta.  Selepas kuliah, beliau langsung bekerja sebagai guru, mulai dari guru tingkat pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.  Ibu Asih mengajar di sekolah agama Islam (Tsanawiyah dan Aliyah).  Berbeda dari kebanyakan guru yang saya kenal, tidak hanya memberikan pendidikan umum, dalam menyampaikan materinya, Ibu Asih berusaha menyisipkan nilai-nilai pendidikan rohani kepada para murid.  Sebagai contoh saat membahas tema “ Hidup Bermasyarakat “ dalam pelajaran Kewarganegaraan, Ibu Asih akan menceritakan bagaimana Islam sangat mengedepankan konsep silaturahmi dan musyawarah dalam masyarakat.  Maklum lah, kakak saya yang satu ini menghabiskan waktu 12 tahun di sekolah islam dan pesantren.
Ibu Asih tidak hanya pengajar, namun juga pendidik.  Tidak hanya mengajarkan ilmu, Ibu Asih menanam kan budi pekerti dalam mata pelajaran yang diampunya.  Entah seberapa sering saya dengar ucapan terimakasih dan kagum disampaikan untuk Ibu Asih tentang keberhasilan nya mendidik siswa dari berbagai latar belakang di sekolah menjadi anak-anak yang berbudi pekerti baik.  Yah, memang masih ada saja diantara mereka yang nakal dan membandel, tapi masih dalam batas-batas yang wajar. Bukan kah anak usia puber dan remaja memang begitu ?
Ibu Asih baru saja melahirkan anak keduanya.  Sebagai seorang ibu yang juga pendidik, Ibu Asih berusaha memberikan pendidikan terbaik untuk kedua buah hatinya.  Sedari kecil, anak sudah diajarkan mengaji dan salat lima waktu, tak lupa juga beragam doa sehari-hari.  Ibu Asih mencontohkan dan menuntun langsung anaknya untuk melakukan.  Sang anak pun jadi terbiasa untuk salat dan berdoa sebelum melakukan aktivitas sedari usia dini.  Dalam hal membaca Al-Qur’an, sang anak sudah lancar membaca huruf hijaiyah di buku Iqra dalam usia dua tahun. Sekarang, diusianya yang ketiga, dalam suatu lomba membaca Al-Qur’an surat pendek tingkat kota, sang anak sulung itu menjadi salah satu dari tiga juara.
Kalista Saat Umur Satu Tahun
Sebelum makan atau tidur, Ibu Asih mengajak suami dan anaknya untuk berdoa bersama.  Lama kelamaan, sang anak malah menyenangi kegiatan berdoa sebelum melakukan aktivitas.  Pernah saya dengar cerita Ibu Asih, di “play group “ sang anak, pernah ada kejadian lucu ketika sang anak mengingatkan guru di kelasnya yang lupa berdoa sebelum memulai kelas. 
Ibu Asih bersama suami tercinta, melakukan semua hal itu sendiri atas dasar keinginan untuk menjadi sebaik-baiknya orang tua untuk kedua malaikat kecilnya.  Di masa sekarang, jumlah orang tua seperti ini semakin berkurang saja tampaknya. Sekedar untuk mengajari mengaji atau salat saja, banyak orang tua,sekarang dengan alasan kesibukkan, lalu memanggilkan guru agama ke rumah.  Memang bukan hal yang salah, apalagi ketika tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga harus dipenuhi. Namun menurut saya pribadi, tetap saja pendidikan yang utama harus mulai diberikan oleh  dan dari orang tua.
Itulah sedikit cerita tentang kakak saya, Ibu Asih, seorang ibu yang mendidik dan membimbing anak tidak hanya pintar untuk kebutuhan dunia, namun juga bijak untuk keperluan akhirat nanti.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment