Terkadang aku melaksanakan ibadah
puasa di bulan Ramadhan ini di Depok, jauh dari rumah dan keluarga ku.
Waktu-waktu puasa aku habiskan di Laboratorium Biologi Kelautan Universitas
Indonesia. Sepanjang pagi hingga sore
hari aku duduk di depan mikroskop, memegang alat counter dikiri dan alat tulis
di kanan, menghitung sel fitoplankton dari sampel air laut yang aku ambil di
Teluk Jakarta. Tapi tidak usahlah kita
risaukan perihal peneltian ku itu di tulisan ini.
Berbuka puasa, seperti layaknya Anak
Kos yang baik, aku lakukan di musala/masjid terdekat. Menjelang Adzan Maghrib. bersama-sama Anak
Kos yang lain, kami menuju musala/masjid terdekat. Bisa juga aku melakukan hal itu bersama
teman-teman di organisasi yang aku ikuti. Entah itu dengan Himpunan Mahasiswa
Departemen, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan Klub Musik. Hanya makanan/minuman ringan ala kadarnya
untuk berbuka, namun itu selalu saja nikmat sekali. Kebersamaan setelah sepanjang hari
berpuasa. Tentu saja berbuka dengan
keluarga jauh lebih asik.
Salat berjamaah’ Maghrib. Isya, dan
Tarawih, biasanya aku lakukan di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Universitas
Indonesia. Terkadang saat iman ku sedang
goyah-goyah nya, aku membolos salat Tarawih.
Biasanya ini terjadi ketika ada teman yang mengajak makan bersama. Salat Tarawih pun aku lakukan di rumah/kosan
saja. Kalau tidak ada halangan berarti, malas maksud ku.
Waktu sahur umumnya aku lakukan di
kosan. Berbekal makanan ala warung Tegal
yang aku beli malam sebelumnya, sahur sendirian di kosan menjadi kejadian yang
umum terjadi. Terkadang aku merasa
kesepian sekali hanya ditemani tontonan DVD dari laptop dan kucing kosan yang
tertidur di dalam kamar. Sehingga kadang
terbersit keinginan untuk sahur bersama teman-teman lain. Kenapa aku tidak makan di warteg itu saja ? .
karena aku sudah tahu, kalau makan disana, aku akan terfokus pada tayangan di
televisi yang dinyalakan, tidak kepada orang-orang yang datang. Sama saja kan ?
kita akan mengalami kesepian virtual.
Maka hari ini, aku memutuskan untuk
menginap di salah satu kosan teman ku di Biologi UI agar bisa sahur bersama
mereka. Aku menamakan teman-teman yang
mengekos disini sebagai Anak Kos Gang Mawar, karena alamat kosan mereka di
jalan Gang Mawar, margonda. Tahukah kamu
dimana gang mawar itu ?. Gang mawar
terletak di seberang pom bensin di jalan Margonda Raya.
Pengalaman sahur bersama mereka hari
ini seru sekali. Tidak ada menu mewah
ayam bakar dan jus alpukat, tidak pula telur balado dengan es teh manis ala
warteg. Sahur bersama mereka dini hari
tadi kami lakukan dengan pengalaman penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
Yudi, salah satu teman ku Anak Kos
Gang Mawar, adalah pemilik kamar dimana aku sering menginap. Biasanya saat menginap disana, aku bermain
game emulator di laptop atau pun menonton DVD.
Ketika tenggat waktu untuk mengumpulkan draft skripsi mendekat, waktu di
kamar Yudi kami habiskan dengan menulis draft tersebut.
Yudi adalah peranakan Jawa yang
tumbuh besar di kota Medan. Keluarga
Yudi adalah peserta program transmigrasi.
Unik
ketika mendengarkan Yudi berbicara Bahasa Jawa namun dengan logat Batak. Yudi masuk
ke Biologi UI melalui jalur Kerja Sama Daerah dan Industri dari Pemerintah
Daerah Labuhan Batu, Sumatera Utara.
Seluruh biaya kuliah Yudi ditanggung oleh pemda, namun untuk biaya
hidup, Yudi mengandalkan kiriman dari orang tua.
Selain
Yudi ada Jamal. Jamal dan Yudi menempati
kamar yang sama. Jadi ketika aku
menginap di kamar mereka, kamar yang kecil itu kami tempati bertiga. Jamal adalah mahasiswa Biologi UI yang
berasal dari SMA Negeri 65 Jakarta Barat.
Tidak seperti Yudi yang menetap dan tentu saja jarang pulang ke rumah,
beberapa kali Jamal harus pulang ke rumah untuk membantu ibunya dalam mengurusi
warung keluarga. Seperti malam itu Jamal
tidak ada karena sedang membantu ibunya dirumah.
Selain
Yudi dan Jamal, ada Yuan dan Anas di kamar terpisah.
Yuan
adalah lulusan Pondok Pesantren Al-Zaytun.
Tak heran di antara kami berlima, Yuan adalah orang yang paling baik
pemahaman agamanya. Mengaji nya pun paling bagus. Yuan menempati kamarnya sendiri. Sama seperti Anas.
Anas
adalah teman ku dari SMA Semesta Semarang.
Dia adalah salah satu fungsionaris BEM UI 2012 sekarang. Dia menjabat
sebagai ketua Departemen Olahraga BEM UI.
Diantara teman-teman ku yang berasal dari daerah, Anas adalah salah satu
orang yang masih kental logat Jawanya dalam bicara. Ngomong-ngomong soal
olahraga, diantara kami berlima, hanya aku yang tidak bisa main futsal. Tapi kami semua suka menonton tayangan
sepakbola di televisi walau mendukung tim yang berbeda. Menonton sepakbola juga adalah salah satu
alasan kami berkumpul bersama di Kosan Gang Mawar ini.
…
… …
![]() |
| Bersama Anak Kos Gang Mawar di GBK |
Malam
itu Yudi bercerita kondisi keuangannya.
Uang bulanan nya belum ditransfer karena bapak dan ibunya belum
sempat. Jadilah dia khawatir bagaimana
soal sahur nanti, terlebih ada aku disana.
Bukan
kebetulan juga aku sedang tidak memiliki uang banyak. Sebelumnya aku habis makan malam dengan teman
ku Eru di tempat yang cukup menguras uang.
Eru sedang ngambek waktu itu sehingga minta ditemani makan. Sisa uang ku malam itu ? cukup untuk sahur
tapi tidak cukup untuk hari berikutnya. Sangat Anak Kos.
Diantara
kami yang ada saat itu, Anas merupakan yang paling berada. Terlebih sehabis dia
menjadi wakil ketua pelaksana SIMAK-UI 2012 yang lalu. Aku dengar bayarannya
cukup besar. Tapi meminjam ke Anas tidak
menjadi opsi kami saat itu.
Yuan
sedang bepergian keluar dan belum pulang hingga larut malam. Lucunya Yuan malah
menelpon Yudi untuk titip membelikan empat butir telur ayam. Uang dari mana Yuan ? dasar kau.
Jadilah
kemudian aku dan Yudi menyusun siasat.
Opsi terdekat dan termurah yang bisa kami lakukan adalah makan sahur
nanti dengan mi goring/rebus dengan telur.
Untuk membelinya tentu tidak
memerlukan biaya yang banyak. Aku tidak
apa-apa sisa uang ku ini digunakan saja.
Bukan kah saat-saat seperti ini lah ujian untuk pertemanan kita ?.
Maka
jadilah kami lalu turun untuk menuju warung terdekat. Anak Kos Gang Mawar menempati lantai dua dari
Kosan Gang Mawar. Warung terdekat di
Kosan Gang Mawar adalah satu-satunya warung dalam radius 100 meter. Memang susah untuk mencari makan di Kosan
Gang Mawar. Satu-satunya tempat makan terdekat dari Kosan Gang Mawar adalah warung
tenda nasi goreng yang terletak di depan warung.
Warung
itu empit sekali karena penuh dengan berbagai dagangan disana-sini. Untuk masuk dan bertransaksi dengan sang
penjual kita harus siap memipihkan badan.
Lebih sulit lagi kalau sudah ada pembeli lain di dalam warung. Makin lebih sulit lagi ketika sang pembeli
membuka lemari pendingin untuk membeli minuman.
Kondisi-kondisi ini membuatku ingin sekali menamakan warung ini degan
Warung Sempit Gang Mawar.
Warung
Sempit Gang Mawar menjual berbagai hal.
Mulai dari telur ayam hingga kerupuk udang. Mulai dari beras hingga minuman soda. Warung
Sempit Gang Mawar sudah sedemikian lama menjadi satu-satunya pilihan untuk Anak
Kos Gang Mawar dalam membeli kebutuhan sehari-hari
Di
Warung Sempit Gang Mawar aku dan Yudi membeli empat bungkus mie goreng rasa rendang
dan empat butir telur ayam. Idenya adalah memakan nasi dicampur mie goreng da
telur yang direbus. Semua dimasak dengan
rice cooker yang sama. Sungguh praktis
dan efisien hidup Anak Kos itu.
…
… …
Kami
bangun untuk sahur pukul setengah empat pagi.
Sayangnya ketika itu nasi yang ditanak Yudi di Rice Cooker belum matang,
sehingga mie goreng dan telur reubs pun belum bisa dimasak. Kami pun menunggu cukup lama hingga menjelang
waktu imsak.
Akhirnya,
sambil menunggu nasi tanak, kami memasak telur dan mie tersebut dengan
menggunakan ceret listrik yang Anas punya. Anas dan Yuan memutuskan untuk ikut
bergabung dengan ritual sahur menggunakan nasi-mie goreng dan telur rebus ini.
Jadilah kami harus membagi rata mie goreng yang ada.
Kami
baru bisa melaksanakan sahur 10 menit menjelang azan subuh. Kami makan dengan buru-buru namun lahap
sekali. Tidak ada daging ayam atau
irisan rendang. Menunya sederhana, hanya
mie goreng dan telur rebus. Dimakan berempat pula. Setelah itu kami solat subuh berjamaah di
masjid yang terletak di depan Kosan Gang Mawar.
Kebersamaan
ini begitu mendekatkan. Saat-saat kami
kekurangan, yang sedang dalam keadaan lebih membantu yang kurang. Ketika semua dalam keadaan kurang, maka kami
pun berpatungan. Saling pinjam barang
maupun uang menjadi biasa untuk menolong satu sama lain.
Kadang
ketika sendirian di kosan, aku jadi merasa begitu kesepian kalau teringat
hari-hari ku bersama Anak Kos Gang Mawar.
Apalagi kebersamaan kami ini hanya tinggal menunggu minggu menjelang
kelulusan kami. Semoga ketika menjadi
orang sukses masing-masing nanti, kami masih bisa melakukan kebersamaan seperti
ini.









0 comments:
Post a Comment