Wednesday, August 1, 2012

Sahur Bersama Anak Kos Gang Mawar




            Terkadang aku melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini di Depok, jauh dari rumah dan keluarga ku. Waktu-waktu puasa aku habiskan di Laboratorium Biologi Kelautan Universitas Indonesia.  Sepanjang pagi hingga sore hari aku duduk di depan mikroskop, memegang alat counter dikiri dan alat tulis di kanan, menghitung sel fitoplankton dari sampel air laut yang aku ambil di Teluk Jakarta.  Tapi tidak usahlah kita risaukan perihal peneltian ku itu di tulisan ini.
            Berbuka puasa, seperti layaknya Anak Kos yang baik, aku lakukan di musala/masjid terdekat.  Menjelang Adzan Maghrib. bersama-sama Anak Kos yang lain, kami menuju musala/masjid terdekat.  Bisa juga aku melakukan hal itu bersama teman-teman di organisasi yang aku ikuti. Entah itu dengan Himpunan Mahasiswa Departemen, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan Klub Musik.  Hanya makanan/minuman ringan ala kadarnya untuk berbuka, namun itu selalu saja nikmat sekali.  Kebersamaan setelah sepanjang hari berpuasa.  Tentu saja berbuka dengan keluarga jauh lebih asik.
            Salat berjamaah’ Maghrib. Isya, dan Tarawih, biasanya aku lakukan di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Universitas Indonesia.  Terkadang saat iman ku sedang goyah-goyah nya, aku membolos salat Tarawih.  Biasanya ini terjadi ketika ada teman yang mengajak makan bersama.  Salat Tarawih pun aku lakukan di rumah/kosan saja. Kalau tidak ada halangan berarti, malas maksud ku.
            Waktu sahur umumnya aku lakukan di kosan.  Berbekal makanan ala warung Tegal yang aku beli malam sebelumnya, sahur sendirian di kosan menjadi kejadian yang umum terjadi.  Terkadang aku merasa kesepian sekali hanya ditemani tontonan DVD dari laptop dan kucing kosan yang tertidur di dalam kamar.  Sehingga kadang terbersit keinginan untuk sahur bersama teman-teman lain.  Kenapa aku tidak makan di warteg itu saja ? . karena aku sudah tahu, kalau makan disana, aku akan terfokus pada tayangan di televisi yang dinyalakan, tidak kepada orang-orang yang datang. Sama saja kan ? kita akan mengalami kesepian virtual.
            Maka hari ini, aku memutuskan untuk menginap di salah satu kosan teman ku di Biologi UI agar bisa sahur bersama mereka.  Aku menamakan teman-teman yang mengekos disini sebagai Anak Kos Gang Mawar, karena alamat kosan mereka di jalan Gang Mawar, margonda.  Tahukah kamu dimana gang mawar itu ?.  Gang mawar terletak di seberang pom bensin di jalan Margonda Raya.
            Pengalaman sahur bersama mereka hari ini seru sekali.  Tidak ada menu mewah ayam bakar dan jus alpukat, tidak pula telur balado dengan es teh manis ala warteg.  Sahur bersama mereka dini hari tadi kami lakukan dengan pengalaman penuh kekeluargaan dan kebersamaan.
            Yudi, salah satu teman ku Anak Kos Gang Mawar, adalah pemilik kamar dimana aku sering menginap.  Biasanya saat menginap disana, aku bermain game emulator di laptop atau pun menonton DVD.  Ketika tenggat waktu untuk mengumpulkan draft skripsi mendekat, waktu di kamar Yudi kami habiskan dengan menulis draft tersebut.
            Yudi adalah peranakan Jawa yang tumbuh besar di kota Medan.  Keluarga Yudi adalah peserta program transmigrasi.
Unik ketika mendengarkan Yudi berbicara Bahasa Jawa namun dengan logat Batak. Yudi masuk ke Biologi UI melalui jalur Kerja Sama Daerah dan Industri dari Pemerintah Daerah Labuhan Batu, Sumatera Utara.  Seluruh biaya kuliah Yudi ditanggung oleh pemda, namun untuk biaya hidup, Yudi mengandalkan kiriman dari orang tua.       
Selain Yudi ada Jamal.  Jamal dan Yudi menempati kamar yang sama.  Jadi ketika aku menginap di kamar mereka, kamar yang kecil itu kami tempati bertiga.  Jamal adalah mahasiswa Biologi UI yang berasal dari SMA Negeri 65 Jakarta Barat.  Tidak seperti Yudi yang menetap dan tentu saja jarang pulang ke rumah, beberapa kali Jamal harus pulang ke rumah untuk membantu ibunya dalam mengurusi warung keluarga.  Seperti malam itu Jamal tidak ada karena sedang membantu ibunya dirumah.
Selain Yudi dan Jamal, ada Yuan dan Anas di kamar terpisah.
Yuan adalah lulusan Pondok Pesantren Al-Zaytun.  Tak heran di antara kami berlima, Yuan adalah orang yang paling baik pemahaman agamanya. Mengaji nya pun paling bagus.  Yuan menempati kamarnya sendiri.  Sama seperti Anas.
Anas adalah teman ku dari SMA Semesta Semarang.  Dia adalah salah satu fungsionaris BEM UI 2012 sekarang. Dia menjabat sebagai ketua Departemen Olahraga BEM UI.  Diantara teman-teman ku yang berasal dari daerah, Anas adalah salah satu orang yang masih kental logat Jawanya dalam bicara. Ngomong-ngomong soal olahraga, diantara kami berlima, hanya aku yang tidak bisa main futsal.  Tapi kami semua suka menonton tayangan sepakbola di televisi walau mendukung tim yang berbeda.  Menonton sepakbola juga adalah salah satu alasan kami berkumpul bersama di Kosan Gang Mawar ini.
… … …
Bersama Anak Kos Gang Mawar di GBK

Malam itu Yudi bercerita kondisi keuangannya.  Uang bulanan nya belum ditransfer karena bapak dan ibunya belum sempat.  Jadilah dia khawatir bagaimana soal sahur nanti, terlebih ada aku disana.
Bukan kebetulan juga aku sedang tidak memiliki uang banyak.  Sebelumnya aku habis makan malam dengan teman ku Eru di tempat yang cukup menguras uang.  Eru sedang ngambek waktu itu sehingga minta ditemani makan.  Sisa uang ku malam itu ? cukup untuk sahur tapi tidak cukup untuk hari berikutnya. Sangat Anak Kos.
Diantara kami yang ada saat itu, Anas merupakan yang paling berada. Terlebih sehabis dia menjadi wakil ketua pelaksana SIMAK-UI 2012 yang lalu. Aku dengar bayarannya cukup besar.  Tapi meminjam ke Anas tidak menjadi opsi kami saat itu.
Yuan sedang bepergian keluar dan belum pulang hingga larut malam. Lucunya Yuan malah menelpon Yudi untuk titip membelikan empat butir telur ayam.  Uang dari mana Yuan ? dasar kau.
Jadilah kemudian aku dan Yudi menyusun siasat.  Opsi terdekat dan termurah yang bisa kami lakukan adalah makan sahur nanti dengan mi goring/rebus dengan telur.  Untuk  membelinya tentu tidak memerlukan biaya yang banyak.  Aku tidak apa-apa sisa uang ku ini digunakan saja.  Bukan kah saat-saat seperti ini lah ujian untuk pertemanan kita ?.
Maka jadilah kami lalu turun untuk menuju warung terdekat.  Anak Kos Gang Mawar menempati lantai dua dari Kosan Gang Mawar.  Warung terdekat di Kosan Gang Mawar adalah satu-satunya warung dalam radius 100 meter.  Memang susah untuk mencari makan di Kosan Gang Mawar. Satu-satunya tempat makan terdekat dari Kosan Gang Mawar adalah warung tenda nasi goreng yang terletak di depan warung.
Warung itu empit sekali karena penuh dengan berbagai dagangan disana-sini.  Untuk masuk dan bertransaksi dengan sang penjual kita harus siap memipihkan badan.  Lebih sulit lagi kalau sudah ada pembeli lain di dalam warung.  Makin lebih sulit lagi ketika sang pembeli membuka lemari pendingin untuk membeli minuman.  Kondisi-kondisi ini membuatku ingin sekali menamakan warung ini degan Warung Sempit Gang Mawar.
Warung Sempit Gang Mawar menjual berbagai hal.  Mulai dari telur ayam hingga kerupuk udang.  Mulai dari beras hingga minuman soda. Warung Sempit Gang Mawar sudah sedemikian lama menjadi satu-satunya pilihan untuk Anak Kos Gang Mawar dalam membeli kebutuhan sehari-hari
Di Warung Sempit Gang Mawar aku dan Yudi membeli empat bungkus mie goreng rasa rendang dan empat butir telur ayam. Idenya adalah memakan nasi dicampur mie goreng da telur yang direbus.  Semua dimasak dengan rice cooker yang sama.  Sungguh praktis dan efisien hidup Anak Kos itu.
… … …

Kami bangun untuk sahur pukul setengah empat pagi.  Sayangnya ketika itu nasi yang ditanak Yudi di Rice Cooker belum matang, sehingga mie goreng dan telur reubs pun belum bisa dimasak.  Kami pun menunggu cukup lama hingga menjelang waktu imsak.
Akhirnya, sambil menunggu nasi tanak, kami memasak telur dan mie tersebut dengan menggunakan ceret listrik yang Anas punya. Anas dan Yuan memutuskan untuk ikut bergabung dengan ritual sahur menggunakan nasi-mie goreng dan telur rebus ini. Jadilah kami harus membagi rata mie goreng yang ada.
Kami baru bisa melaksanakan sahur 10 menit menjelang azan subuh.  Kami makan dengan buru-buru namun lahap sekali.  Tidak ada daging ayam atau irisan rendang.  Menunya sederhana, hanya mie goreng dan telur rebus. Dimakan berempat pula.  Setelah itu kami solat subuh berjamaah di masjid yang terletak di depan Kosan Gang Mawar.
Kebersamaan ini begitu mendekatkan.  Saat-saat kami kekurangan, yang sedang dalam keadaan lebih membantu yang kurang.  Ketika semua dalam keadaan kurang, maka kami pun berpatungan.  Saling pinjam barang maupun uang menjadi biasa untuk menolong satu sama lain.
Kadang ketika sendirian di kosan, aku jadi merasa begitu kesepian kalau teringat hari-hari ku bersama Anak Kos Gang Mawar.  Apalagi kebersamaan kami ini hanya tinggal menunggu minggu menjelang kelulusan kami.  Semoga ketika menjadi orang sukses masing-masing nanti, kami masih bisa melakukan kebersamaan seperti ini.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment