Friday, July 13, 2012

Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya) . Bagian 1


Analisis Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya)
Bagian 1




            Hari rabu, 11 Juli yang lalu warga Jakarta ( yang terdaftar serta yang mendapat undangan dari panitia TPS ) merayakan pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.  Ada enam pasang calon yang bisa dan boleh dipilih. Saya pun walau lebih sering menghabiskan waktu di kota depok, sebagai warga Jakarta yang baik ( juga terdaftar serta juga mendapat undangan dari panitia TPS) ingin menggunakan hak pilih saya.  Maka hari rabu itu pun saya pulang ke Mampang, Jakarta Selatan.  Kebetulan juga kampus UI memang diliburkan.
            Setelah melewati rintangan banyak nya jalan yang ditutup karena didirikan TPS diatasnya, maklum tinggal di perkampungan, akhirnya saya sampai ke TPS tempat saya terdaftar sebagai pemilih.  Kebetuan bapak saya adalah ketua TPS tersebut.  Entah kenapa bapak senang sekali meihat saya datang. Sepertinya karena kita memang satu suara calon gubernur kali ini.  Belum bisa dibuktikan, sih. Hehe.
            Tidak sampai 2 menit saya di dalam bilik suara, karena saya sejak ama memang sudah menentukan pilihan. Saat itu sudah pukul setengah satu siang lewat.  Pukul satu pemungutan suara akan ditutup. Mau tahu siapa ? aduh, nanti dulu dong. Jadi tidak seru nanti.
            Ditemani hujan yang tiba-tiba mendera, sekitar pukul setengah dua penghitungan suara pun dimuai.  Mendung ini, angin ini, hujan ini, pertanda apa kah gerangan ?
            Perlahan tapi pasti, sejumlah 347 surat suara dihitung oleh panitia TPS.  Dikomandoi bapak saya dengan pengeras suara.  Menyatakan sah tidak sahnya suatu surat suara berdasarkan aturan KPUD Jakarta.  Meihat bapak seperti itu, yang sudah tua, yang saban tahun di TPS berseragam batik, yang ditemani panitia TPS yang itu-itu saja saban tahun, saya bangga sekaligus sedih.  Bangga betapa berpengaruhnya bapak di kampung ini, Rt 6 Rw 6 Kelurahan Tegal Parang Kecamatan Mampang Prapatan.  Betapa diandalkannya bapak. Betapa dipercayai nya bapak.  Sedih karena saya menyadari betapa gagalnya bapak atau tokoh lain kampung ini melakukan kaderisasi.  Entah karena bapak tidak percaya orang lain yang lebih muda, atau memang yang lebih muda itu tidak bisa dipercaya.  Atau terbentuk semacam kesepahaman sosial antara panitia TPS saban tahun ini bahwa TPS tidak akan berjalan tanpa diri mereka. Entahlah .
            Kembali ke masalah perhitungan surat suara.  Pasangan nomor 1 yang identiik dengan BERKUMIS dan pasangan nomor 3 yang identik dengan KOTAK-KOTAK bersaing dengan ketat.  Atau lebih tepatnya bersaing dengan tepat pada awalnya.  Karena kemudian pasangan KOTAK-KOTAK ini lalu unggul jauh dari pasangan-pasangan lainnya.
            Pasangan yang identik dengan imej KOTAK-KOTAK ini tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan Jokowi-Ahok.  Pasangan yang identik dengan BERKUMIS tidak lain adalah Foke-Nara.  Saya sebut kedua pasang seperti itu saja tidak apa-apa kan ya ?
            Kemenangan Jokowi di TPS kampung kami cukup mengejutkan juga. Diprediksi pasangan nomor 1 menang mudah, diikuti pasangan nomor 4. Tapi hasil berkata lain.  Lebih mengejutkan lagi kemenangan pasangan nomor 3 itu ternyata juga terjadi di kampung-kampung lain yang saya kunjungi TPS nya. Makin mengejutkan lagi ketika di televisi saya mengetahui bahwa pasangan nomor 3, Jokowi-Ahok ini memimpin perolehan suara sementara pilkada DKI JAKARTA!. Tentu saja masih hasil hitung cepat….
            Tapi, kaget juga. Walau saya juga memilih Jokowi-Ahok. Yah akhirnya ketahuan, iya saya memilih Jokowi-Ahok si pasangan kemeja kotak-kotak itu. Hehe. 
            Analisis pun dilakukan oleh banyak pihak.  Hasil di DKI mengejutkan sekali karena hasil banyak lembaga survei dua minggu lalu masih menempatkan pasangan nomor satu menjadi pasangan favorit yang akan di pilih sebagian besar warga. Tapi kenyataannya lain. Dibayar ni yaaaa ? ups. Hehe
            Nahh. Di edisi tulisan kosan kali ini saya akan melakukan analisis hasil putaran pertama pilkada DKI Jakarta.  Tentu saja ala anak kosan dan ala saya. Hehe. Walau tidak baik untuk dijadikan rujukan untuk alasan apapun, ini adalah analisis dari perspektif yang berbeda dan pasti menarik !!. hehe.
            Oke, analisis saya dimulai.
            Pertama dari kejadian dipilihnya Jokowi sebagai salah satu bakal calon gubernur.  Beliau merupakan salah satu kader dari PDI Perjuangan, yang sampai saat ini masih menjabat sebagai walikota solo.  Saat itu, ketika gegap gempita Pilkada DKI baru saja akan bermula, Partai sepertinya kelabakan juga untuk menyiapkan calon. Partai lain, kuning dan biru dan hijau sudah menyiapkan calon masing-masing, calon yang cukup kuat dan mentereng figurnya.  Partai merah ini kemudian, dengan mekanisme yang berjalan didalam pimpinan partai, menunjuk Jokowi untuk datang ke Jakarta dan ikut bergabung dalam konstelasi pertarungan…..
            Sebenarnya partai putih juga tampaknya agak panik hingga menunjuk figur nasional sekelas Hidayat Nur Wahid, yang juga idola saya untuk mencalonkan diri menggantikan calon muda mereka yang sebelumnya ramai dibicarakan. Tapi kita tidak akan fokus ke partai putih di tulisan ini. Maaf yaaa.
            Pak Jokowi pun datang lah ke ibukota, merespon panggilan ibu Megawati Soekarno Putrid an partai yang mengharapkannya.  Untuk dipilihnya Jokowi ini, saya beranggapan bahwa Jokowi ditarik ke Jakarta juga dengan maksud untuk tidak mengganggu kondisi di Jawa Tengah.  Perseteruan (sedikit) nya tentang penggusuran pabrik es bersejarah di kota Solo dengan bapak Bibit Waluyo cukup mengganggu stabilitas partai di kawasan. Karena keduanya dalam satu partai, bu Mega pasti lebih ingin kalau keduanya akur. Jadi karena notabenenya pak Jokowi adalah “bawahan” dari pak Gubernur Jawa Tengah itu, daripada saling ribut sebaiknya pak Jokowi dijauhkan dulu. Begitu… alasan lainnya, ini ada suara dari arus bawah Partai, yang masih kuat ideologi dan gerakannya untuk mengajukan Jokowi, dan tidak calon lain untuk memimpin Jakarta. Maka resmilah Jokowi lalu menjadi bakal calon gubernur.
            Kemudian siapa wakilnya ?... partai merah tentu punya stok pemimpin-pemimpin muda atau tua yang berkualitas dan berpengalaman. Tapi yang dipilih mendampingi malah mantan bupati Belitung Timur, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, yang juga mendapat julukan bupati Laskar Pelangi. Kenapa yaa…
            Analisis saya seperti ini, pertama dengan rekam jejak pak Jokowi, diperlukan pendamping yang mirip-mirip karakternya sekaligus saling melengkapi.  Tentu bukan kebetulan juga karena Ahok cukup berhasil dan punya nama setelah pernah menjabat sebagai bupati Belitung Timur.  Keduanya punya pola kerja yang mirip, lebih sering turun ke jalan bertemu dan menyapa rakyatnya secara langsung.  Ahok pun dibilang cukup berhasil dengan dijadikannya beliau sebagai salah satu tokoh perubahan di Indonesia oleh suatu kelompok media.  Keduanya juga terkenal bersih dan transparan. Lengkap lah sudah segala alasan untuk menyandingkan Jokowi dengan Ahok.  Belum lagi dengan dukugan dari Partai Gerindra yang kemudian ikut bergabung. Wuih… . miris juga sih, pak Ahok kemudian dipecat dari partai sebelumnya karena mengajukan diri sebagai wakil gubernur.  Yah, biar saja, partai nya itu toh tidak bisa berbuat banyak calon jagoannya babak belur dalam perolehan suara. Padahal partai kuning ini partai yang sudah kuat sistemnya lho.
            Selain karena faktor individual kedua figur tersebut, saya juga menganalisis kecerdasan pak Jokowi secara khusus dalam membangun merek mereka ( brand image).
            Pak Jokowi tentu terhitung sangat mendadak untuk ikut dalam pertarungan Pilkada DKI ini, tanpa banyak persiapan, beliau harus sudah memikirkan langkah-langkah cepat pemenangan.  Entah dimana, mungkin dalam perjalanan Solo-Jakarta, saya rasa pak Jokowi ini pasti memikirkan sesuatu yang unik yang harus menjadi merek mereka.  Melihat trend yang sedang berkembang mengenai kemeja kotak-kotak, pak Jokowi pun menajadikan kemeja kotak-kotak ini sebagai brand image pasangan Jokowi-Ahok.
            Saat itu, Jokowi belum sekalipun bertemu dengan pasangannya, dalam perjalanan, didorong juga mungkin karena tidak membawa baju ganti, Jokowi menyempatkan diri mengunjungi Mal Ambasador di kawasan Rasuna Said, Jakarta Sealtan.  Disana beliau membeli sepasang kemeja kotak-kotak yang khas untuk dirinya dan Ahok, yang kemudian menjadi brand image pasangan Jokowi-Ahok. Keputusan yang terbukti tepat dan mujarab sekali. Tidak hanya menjadi brand image yang kuat untuk pasangan, kemeja kotak-kotak malah mampu menggerakan tim sukses dan masyarakat di arus bawah untuk mempromosikan pasangan ini.  Bahkan, secara sadar mereka membeli kemeja kotak-kotak Jokowi-Ahok yang dijual tim sukses yang keuntungannya digunakan sebagai dana kampanye.  Kreatif sekaligus inovatif bukan ?. di saat calon dari partai lainnya menghabiskan dana jor-joran untuk kampanye, yang entah darimana saja sumebr uang itu, Jokowi-Ahok malah mengajak masyarakat ikut berperan serta secara aktif mendukung kandidat ini.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment