Analisis
Hasil Pilkada DKI Jakarta ala Anak Kos (Saya)
Bagian 1
Hari rabu, 11 Juli yang lalu warga
Jakarta ( yang terdaftar serta yang mendapat undangan dari panitia TPS )
merayakan pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta periode
2012-2017. Ada enam pasang calon yang
bisa dan boleh dipilih. Saya pun walau lebih sering menghabiskan waktu di kota
depok, sebagai warga Jakarta yang baik ( juga terdaftar serta juga mendapat
undangan dari panitia TPS) ingin menggunakan hak pilih saya. Maka hari rabu itu pun saya pulang ke
Mampang, Jakarta Selatan. Kebetulan juga
kampus UI memang diliburkan.
Setelah melewati rintangan banyak
nya jalan yang ditutup karena didirikan TPS diatasnya, maklum tinggal di
perkampungan, akhirnya saya sampai ke TPS tempat saya terdaftar sebagai
pemilih. Kebetuan bapak saya adalah
ketua TPS tersebut. Entah kenapa bapak
senang sekali meihat saya datang. Sepertinya karena kita memang satu suara
calon gubernur kali ini. Belum bisa
dibuktikan, sih. Hehe.
Tidak sampai 2 menit saya di dalam
bilik suara, karena saya sejak ama memang sudah menentukan pilihan. Saat itu
sudah pukul setengah satu siang lewat.
Pukul satu pemungutan suara akan ditutup. Mau tahu siapa ? aduh, nanti
dulu dong. Jadi tidak seru nanti.
Ditemani hujan yang tiba-tiba
mendera, sekitar pukul setengah dua penghitungan suara pun dimuai. Mendung ini, angin ini, hujan ini, pertanda
apa kah gerangan ?
Perlahan tapi pasti, sejumlah 347
surat suara dihitung oleh panitia TPS.
Dikomandoi bapak saya dengan pengeras suara. Menyatakan sah tidak sahnya suatu surat suara
berdasarkan aturan KPUD Jakarta. Meihat
bapak seperti itu, yang sudah tua, yang saban tahun di TPS berseragam batik,
yang ditemani panitia TPS yang itu-itu saja saban tahun, saya bangga sekaligus
sedih. Bangga betapa berpengaruhnya
bapak di kampung ini, Rt 6 Rw 6 Kelurahan Tegal Parang Kecamatan Mampang
Prapatan. Betapa diandalkannya bapak.
Betapa dipercayai nya bapak. Sedih
karena saya menyadari betapa gagalnya bapak atau tokoh lain kampung ini
melakukan kaderisasi. Entah karena bapak
tidak percaya orang lain yang lebih muda, atau memang yang lebih muda itu tidak
bisa dipercaya. Atau terbentuk semacam
kesepahaman sosial antara panitia TPS saban tahun ini bahwa TPS tidak akan
berjalan tanpa diri mereka. Entahlah .
Kembali ke masalah perhitungan surat
suara. Pasangan nomor 1 yang identiik
dengan BERKUMIS dan pasangan nomor 3 yang identik dengan KOTAK-KOTAK bersaing
dengan ketat. Atau lebih tepatnya
bersaing dengan tepat pada awalnya.
Karena kemudian pasangan KOTAK-KOTAK ini lalu unggul jauh dari
pasangan-pasangan lainnya.
Pasangan yang identik dengan imej
KOTAK-KOTAK ini tidak lain dan tidak bukan adalah pasangan Jokowi-Ahok. Pasangan yang identik dengan BERKUMIS tidak
lain adalah Foke-Nara. Saya sebut kedua pasang
seperti itu saja tidak apa-apa kan ya ?
Kemenangan Jokowi di TPS kampung
kami cukup mengejutkan juga. Diprediksi pasangan nomor 1 menang mudah, diikuti
pasangan nomor 4. Tapi hasil berkata lain.
Lebih mengejutkan lagi kemenangan pasangan nomor 3 itu ternyata juga
terjadi di kampung-kampung lain yang saya kunjungi TPS nya. Makin mengejutkan
lagi ketika di televisi saya mengetahui bahwa pasangan nomor 3, Jokowi-Ahok ini
memimpin perolehan suara sementara pilkada DKI JAKARTA!. Tentu saja masih hasil
hitung cepat….
Tapi, kaget juga. Walau saya juga
memilih Jokowi-Ahok. Yah akhirnya ketahuan, iya saya memilih Jokowi-Ahok si
pasangan kemeja kotak-kotak itu. Hehe.
Analisis pun dilakukan oleh banyak
pihak. Hasil di DKI mengejutkan sekali
karena hasil banyak lembaga survei dua minggu lalu masih menempatkan pasangan
nomor satu menjadi pasangan favorit yang akan di pilih sebagian besar warga.
Tapi kenyataannya lain. Dibayar ni yaaaa ? ups. Hehe
Nahh. Di edisi tulisan kosan kali
ini saya akan melakukan analisis hasil putaran pertama pilkada DKI
Jakarta. Tentu saja ala anak kosan dan
ala saya. Hehe. Walau tidak baik untuk dijadikan rujukan untuk alasan apapun,
ini adalah analisis dari perspektif yang berbeda dan pasti menarik !!. hehe.
Oke, analisis saya dimulai.
Pertama dari kejadian dipilihnya
Jokowi sebagai salah satu bakal calon gubernur.
Beliau merupakan salah satu kader dari PDI Perjuangan, yang sampai saat
ini masih menjabat sebagai walikota solo.
Saat itu, ketika gegap gempita Pilkada DKI baru saja akan bermula,
Partai sepertinya kelabakan juga untuk menyiapkan calon. Partai lain, kuning
dan biru dan hijau sudah menyiapkan calon masing-masing, calon yang cukup kuat
dan mentereng figurnya. Partai merah ini
kemudian, dengan mekanisme yang berjalan didalam pimpinan partai, menunjuk
Jokowi untuk datang ke Jakarta dan ikut bergabung dalam konstelasi
pertarungan…..
Sebenarnya partai putih juga
tampaknya agak panik hingga menunjuk figur nasional sekelas Hidayat Nur Wahid,
yang juga idola saya untuk mencalonkan diri menggantikan calon muda mereka yang
sebelumnya ramai dibicarakan. Tapi kita tidak akan fokus ke partai putih di
tulisan ini. Maaf yaaa.
Pak Jokowi pun datang lah ke
ibukota, merespon panggilan ibu Megawati Soekarno Putrid an partai yang
mengharapkannya. Untuk dipilihnya Jokowi
ini, saya beranggapan bahwa Jokowi ditarik ke Jakarta juga dengan maksud untuk
tidak mengganggu kondisi di Jawa Tengah.
Perseteruan (sedikit) nya tentang penggusuran pabrik es bersejarah di kota
Solo dengan bapak Bibit Waluyo cukup mengganggu stabilitas partai di kawasan.
Karena keduanya dalam satu partai, bu Mega pasti lebih ingin kalau keduanya
akur. Jadi karena notabenenya pak Jokowi adalah “bawahan” dari pak Gubernur
Jawa Tengah itu, daripada saling ribut sebaiknya pak Jokowi dijauhkan dulu.
Begitu… alasan lainnya, ini ada suara dari arus bawah Partai, yang masih kuat
ideologi dan gerakannya untuk mengajukan Jokowi, dan tidak calon lain untuk
memimpin Jakarta. Maka resmilah Jokowi lalu menjadi bakal calon gubernur.
Kemudian siapa wakilnya ?... partai
merah tentu punya stok pemimpin-pemimpin muda atau tua yang berkualitas dan
berpengalaman. Tapi yang dipilih mendampingi malah mantan bupati Belitung
Timur, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, yang juga mendapat julukan bupati
Laskar Pelangi. Kenapa yaa…
Analisis saya seperti ini, pertama
dengan rekam jejak pak Jokowi, diperlukan pendamping yang mirip-mirip
karakternya sekaligus saling melengkapi.
Tentu bukan kebetulan juga karena Ahok cukup berhasil dan punya nama
setelah pernah menjabat sebagai bupati Belitung Timur. Keduanya punya pola kerja yang mirip, lebih
sering turun ke jalan bertemu dan menyapa rakyatnya secara langsung. Ahok pun dibilang cukup berhasil dengan
dijadikannya beliau sebagai salah satu tokoh perubahan di Indonesia oleh suatu
kelompok media. Keduanya juga terkenal
bersih dan transparan. Lengkap lah sudah segala alasan untuk menyandingkan
Jokowi dengan Ahok. Belum lagi dengan
dukugan dari Partai Gerindra yang kemudian ikut bergabung. Wuih… . miris juga
sih, pak Ahok kemudian dipecat dari partai sebelumnya karena mengajukan diri
sebagai wakil gubernur. Yah, biar saja,
partai nya itu toh tidak bisa berbuat banyak calon jagoannya babak belur dalam
perolehan suara. Padahal partai kuning ini partai yang sudah kuat sistemnya lho.
Selain karena faktor individual kedua
figur tersebut, saya juga menganalisis kecerdasan pak Jokowi secara khusus
dalam membangun merek mereka ( brand image).
Pak Jokowi tentu terhitung sangat
mendadak untuk ikut dalam pertarungan Pilkada DKI ini, tanpa banyak persiapan,
beliau harus sudah memikirkan langkah-langkah cepat pemenangan. Entah dimana, mungkin dalam perjalanan
Solo-Jakarta, saya rasa pak Jokowi ini pasti memikirkan sesuatu yang unik yang
harus menjadi merek mereka. Melihat
trend yang sedang berkembang mengenai kemeja kotak-kotak, pak Jokowi pun
menajadikan kemeja kotak-kotak ini sebagai brand image pasangan Jokowi-Ahok.
Saat itu, Jokowi belum sekalipun
bertemu dengan pasangannya, dalam perjalanan, didorong juga mungkin karena
tidak membawa baju ganti, Jokowi menyempatkan diri mengunjungi Mal Ambasador di
kawasan Rasuna Said, Jakarta Sealtan.
Disana beliau membeli sepasang kemeja kotak-kotak yang khas untuk
dirinya dan Ahok, yang kemudian menjadi brand image pasangan Jokowi-Ahok.
Keputusan yang terbukti tepat dan mujarab sekali. Tidak hanya menjadi brand
image yang kuat untuk pasangan, kemeja kotak-kotak malah mampu menggerakan tim
sukses dan masyarakat di arus bawah untuk mempromosikan pasangan ini. Bahkan, secara sadar mereka membeli kemeja
kotak-kotak Jokowi-Ahok yang dijual tim sukses yang keuntungannya digunakan
sebagai dana kampanye. Kreatif sekaligus
inovatif bukan ?. di saat calon dari partai lainnya menghabiskan dana jor-joran
untuk kampanye, yang entah darimana saja sumebr uang itu, Jokowi-Ahok malah
mengajak masyarakat ikut berperan serta secara aktif mendukung kandidat ini.












0 comments:
Post a Comment