Friday, July 6, 2012

Penting: Susu Yang Halal dan Baik


Penting: Susu Yang Halal dan Baik

            Malam minggu lalu, tanggal 3 Juli 2012, keluarga saya bertambah.  Satu bayi cantik telah terlahir di dunia, menjadi anggota baru keluarga besar kami.  Nama bayi cantik itu, Tsabita Alluna.  Dia anak kedua dari kakak ketiga saya, cucu ke tujuh dari orang tua saya, dan tentu saja keponakan saya.

            Tsabita Alluna dilahirkan dengan cara operasi Caesar. Dengan alasan kesehatan kedua pihak, ibu dan anak.  Padahal mbak Asih, kakak ketiga saya itu, ingin sekali melahirkan secara normal setelah anak pertamanya sudah dilahirkan dengan cara operasi.  Tapi, biar bagaimana pun cara seorang bayi dilahirkan, seperti kata ibu saya “ Seng Penting Waras  yang berarti, yang penting sehat.

            Ngomong-ngomong soal sehat, menurut saya si Bita, begitu saya memanggilnuya, sehat sekali.  Tangisannya kencang sekali.  Belum lagi saat dia menyusu ke ibunya, begitu semangat, dan lama berhentinya.  Berat badannya juga terhitung besar untu kseorang bayi Indonesia, 3.5 kilogram.  Tapi, konon saya dengar bayi Indonesia sekarang itu besar-besar lho.  Di bangsal sebelah kakak saya ini bahkan ada bayi yang beratnya 3,8 kilogram.  Dia pun terlahir dengan cara operasi.

            Kenapa ya kebanyakan bayi Indonesia sekarang bisa besar-besar begitu ?

            Saya pernah menanyakan hal ini ke ibu saya, ibu bilang “ Lha zaman sekarang dikit-dikit susu ini, susu itu, vitamin ini, vitamin itu, jangan ini, jangan itu, ribet. Terang saja bayi zaman sekarang jadi besar.  Lha wong kalo zaman mamak dulu mah ga diribet-ribetin amat waktu mau punya anak. “ Begitu jawab ibu.

            Bener ga sih fenomena bayi besar Indonesia ini karena konsumsi susu ?

            Berangkat dari momen kelahiran Bita itulah, ketika saya melihat pengumuman tentang adanya lomba blogdetik bertemakan #SusuHalal saya langsung tertarik untuk isayat.  Walau ketika saya mulai menulis ini batas waktu pengiriman tulisan sudah tinggal 5 jamlagi. Semoga saya masih sempat.

            … …
            Menurut saya, tidak ada salahnya seorang ibu mengkonsumsi jenis atau ragam susu tertentu untuk bayi yang sedang dikandungnya.  Itu adalah hak seorang ibu dan suami yang mendampinginya.  Hak tersebut termasuk menentukan susu pilihan yang akan dikonsumsi buah hati ketika sudah lahir nanti dan selama pertumbuhannya.  Walaupun saya secara pribadi termasuk yang isayat menyarankan pemberian Air Susu Ibu (ASI) untuk buah hati selama selang waktu tertentu.  Air Susu Ibu adalah nutrisi terbaik untuk bayi.  Sekali lagi, itu pendapat saya lho.

            Tapi soal pemberian ASI ini, memang tidak bisa murni disalahkan kepada ibu atau kepada keduanya (ayah dan ibu) jika tidak memberikan ASI ke buah hatinya.  Tentu ada faktor yang menjadi pertimbangan.  Mungkin pasangan sudah sepakat untuk tidak memberi ASI agar menjaga bentuk tubuh ibu. Memangya akan tetap seksi ya ? Mungkin ayah saja yang takut ga kebagian. Hehe.  Tapi, bisa juga atas dasar faktor tidak keluarnya ASI atau faktor lain seperti kesehatan ASI yang dimiliki ibu.

            Kembali ke kamar bersalin kakak saya mbak Asih.  Di sebelah kamar bersalin kami, selain pasangan pemilik bayi 3,8 kilogram itu, ada satu pasangan lagi. Pasangan muda dari etnis tionghoa ini juga melahirkan bayi pada hari yang sama dengan kakak saya.  Dalam suatu waktu ketika mendampingi kakak saya beberapa hari setelah melahirkan, saya berkesempatan menyaksikan momen yang menarik dan begitu menyentuh. 

            Setelah bayi dilahirkan, bayi dibawa ke ruang inkubasi untuk ditempatkan disana selama beberapa hari.  Kemudian, pada waktu-waktu tertentu, yang jujur saya tidak tahu dengan pertimbangan apa, bayi akan dikeluarkan dan dibawa keluar ke ibu masing-masing untuk disusui.  Bita tentu saja, seperti yang sudah saya utarakan di awal, menyusu dengan semangat ketika sudah dapat mengenali caranya.  Bayi 3,8 kilogram juga tidak mau kalah.  Mereka berdua langsung berhenti menangis dan menyusu dengan semangat.  Namun, bayi pasangan Tionghoa ini entah kenapa terus saja menangis.  Buka saya rasa bayi ini menjerit protes kepada ibunya.  Sang Ibu pun tak lama menangis sesugukan, dan saya lihat sang ayah pun menatap kedua belahan jiwa nya dengan tatapan haru.  Saya, mbak Asih dan suaminya pun termenung.  Walaupun saya sebagai laki-laki tidak akan pernah tahu, saya merasakan betapa sedihnya sang ibu Tionghoa tidak dapat menyusui bayinya.

            Lalu apa pilihan pasangan Tionghoa ini ? Hal yang saya ketahui dari percakapan dengan perawat yang kemudian datang ke kamar mereka, perawat akan memberikan susu formula kepada sang bayi.  Lalu, ibu Tionghoa disarankan untuk menjalankan pemeriksaan di ruang lain karena sudah beberapa hari ini ASI tidak bisa keluar.

            Setelah kejadian itu, saya tidak tahu lagi kabar pasangan muda Tionghoa dan bayinya karena saya tidak setiap hari mendampingi mbak Asih di rumah sakit. Namun, malam ini, ketika melihat pengumuman di twitter mengenai lomba blogdetik bertemakan #SusuHalal , saya terpikir beberapa hal yang kemudian saya tuliskan disini.

            Saya, dari kacamata orang awam, merasa bahwa pemberian susu formula sejak dini kepada seorang bayi akan membuat bayi tersebut “ terbiasa “.  Saking terbiasanya sang bayi pasti tidak lagi ingin minum ASI.  Padahal banyakn kandungan dalam ASI itu yang tidak akan ditemui dalam susu formula, kolostrum misalnya, yang penting dalam perkembangan otak bayi.  Hal ini terjadi pada adik saya sendiri, yang mana kata ibu, hanya minum ASI selama 3 hari untuk kemudian digantikan susu formula. Waktu kelahiran adik saya itu, ibu tidak bisa lagi mengeluarkan banyak ASI, mungkin sudah kering diminum ke lima anaknya sebelumnya. Hehe. 

             Apakah ada perbedaan adik saya karena pemberian susu formula sejak dini itu ? . Secara fisik sih tidak ada.  Namun, secara intelejensia, adik saya ini ternyata tidak terlalu baik. Walaupun tentu banyak faktor penyebabnya. Tapi keponakan-keponakan saya semuanya minum ASI lho, dan balita-balita ini berkembang menjadi balita yang ceria, cerdas, dan lucu sekali.

            Ketika pilihan meminum susu formula diambil, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk buah hatinnya.  Pasti orang tua memerhatikan mengenai kandungan gizi, harga menjadi pertimbangan kesekian. Asupan gizi ini lah yang kemudian begitu berperan dalam setiap masa tumbuh kembang anak.  Tidak hanya untuk fisik jasmani sang anak, namun juga perkembangan otaknya. Saya belum tahu, betapa takaran gizi optimal bayi secara umum, dan apa aja yang harus ada di dalam susu tersebut.  Namun, yang pasti saya meyakini bahwa kandungan gizi yang kurang maupun berlebih untuk bayi pasti menghasilkan efek yang tidak baik.

            Tempo hari saya melihat sebuah tayangan iklan di televisi soal anjuran dari Ikaran Dokter Indonesia (IDI) untuk tidak mengkonsumsi susu formula yang menggunakan gula tambahan.  Dikhawatirkan efek dari adanya gula tambahan ini menyebabkan karies gigi hingga obesitas, yang tentu tidak dinginkan orang tua.

            Saya kagum dengan iklan salah satu produk susu formula. Produk ini menekankan ketepatan kandungan gizi yang dimiliki.  Produk itu menggunakan kata “ presisi “.  Walaupun saya belum mengecek kebenarannya, produk ini pasti sudah di uji secara klinis untuk memastikan ke-presisi-an nya.

            Kandungan gizi sudah, takarannya sudah, lalu kenapa susu formula HARUS,  HALAL ?

            Kalau Anda menyimak tulisan ini dengan baik, pasti membaca kalimat saya yang berbunyi “Tidak hanya untuk fisik jasmani sang anak, namun juga perkembangan otaknya “ . Disini susu formula yang dipilih sudah memenuhi dua kriteria, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Namun, bagaimana dengan perkembangan batiniah nya ? jiwa nya ?.

            Saya percaya, sesuai dengan keyakinan agama yang saya anut bahwa apa yang kita makan atau minum untuk tubuh kita ikut menentukan seperti apa kita hidup.  Apabila yang kita makan atau minum itu jelek, itu haram, maka kualitas diri dan hidup kita pasti ikut menjadi jelek. Pasti.  Coba saja itu lihat orang-orang yang korupsi. Karena mereka makan harta korupsi, dan terbiasa makan harta korupsi, maka jelek dan makin jeleklah kehidupan mereka.  Makin tidak tahu malu dan makin tidak beradab. Makin sering tidak jujur dan menipu sana-sini.  Jangan sampai kita masuk ke golongan seperti mereka. Karena itu, pastikan lah apa yang kita asup untuk tubuh kita itu yang baik-baik dan halal. Dimulai dari diri dan keluarga kita.

            Tentu kita tidak ingin anak kita tumbuh dan bekembang nanti menjadi orang yang bertabiat memalukan dan berkualitas rendah seperti para koruptor dan penipu itu.  Saya yakin kita akan memberikan contoh terbaik mengenai perilaku-perilaku terpuji kepada anak. Saya yakin kita memastikan anak mendapatkan pendidikan yang terbaik dari kita dan lembaga pendidikan yang ada.  Namun, pastikan juga bahwa kita dan anak-anak kita ini makan dan minum sesuatu yang baik dan halal, mulai dari cara memperolehnya, apa kandungan didalamnya, dan bagaimana cara mengkonsumsinya.  Itu bisa dimulai sejak dini, salah satunya sejak memilihkan susu formula untuk buah hati. Dan seterusnya seiring tumbuh kembangnya sang anak, pilihkan hanya makanan dan minuman halal, susu halal, untuk anak dan keluarga kita.

            Banyak pihak yang meramalkan, bahwa negara adidaya selanjutnya sebenarnya bukan lah China atau Brazil, namun Indonesia.  Bangsa kita sudah tertempa dengan berbagai krisis dan bencana alam.  Bangsa kita pasti akan menjadi bangsa yang unggul dalam berbagai bidang. Mari kita membantu terwujudnya hal itu dengan menciptakan sumber daya manusia yang unggul jasmani dan rohani salah satunyda dengan memakan dan meminum hanya yang halal dan baik untuk kita dan keluarga kita.

            Semoga bermanfaat. 

            Tapi, ASI tetap lah konsumsi terbaik untuk si buah hati lho, Halal dan Baik ! =D
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment