Penting:
Susu Yang Halal dan Baik
Malam minggu lalu, tanggal 3 Juli
2012, keluarga saya bertambah. Satu bayi
cantik telah terlahir di dunia, menjadi anggota baru keluarga besar kami. Nama bayi cantik itu, Tsabita Alluna. Dia anak kedua dari kakak ketiga saya, cucu
ke tujuh dari orang tua saya, dan tentu saja keponakan saya.
Tsabita Alluna dilahirkan dengan
cara operasi Caesar. Dengan alasan kesehatan kedua pihak, ibu dan anak. Padahal mbak Asih, kakak ketiga saya itu, ingin
sekali melahirkan secara normal setelah anak pertamanya sudah dilahirkan dengan
cara operasi. Tapi, biar bagaimana pun
cara seorang bayi dilahirkan, seperti kata ibu saya “ Seng Penting Waras “ yang
berarti, yang penting sehat.
Ngomong-ngomong soal sehat, menurut saya
si Bita, begitu saya memanggilnuya, sehat sekali. Tangisannya kencang sekali. Belum lagi saat dia menyusu ke ibunya, begitu
semangat, dan lama berhentinya. Berat
badannya juga terhitung besar untu kseorang bayi Indonesia, 3.5 kilogram. Tapi, konon saya dengar bayi Indonesia
sekarang itu besar-besar lho. Di bangsal
sebelah kakak saya ini bahkan ada bayi yang beratnya 3,8 kilogram. Dia pun terlahir dengan cara operasi.
Saya pernah menanyakan hal ini ke
ibu saya, ibu bilang “ Lha zaman sekarang dikit-dikit susu ini, susu itu,
vitamin ini, vitamin itu, jangan ini, jangan itu, ribet. Terang saja bayi zaman
sekarang jadi besar. Lha wong kalo zaman
mamak dulu mah ga diribet-ribetin amat waktu mau punya anak. “ Begitu jawab
ibu.
Bener ga sih fenomena bayi besar
Indonesia ini karena konsumsi susu ?
Berangkat dari momen kelahiran Bita
itulah, ketika saya melihat pengumuman tentang adanya lomba blogdetik
bertemakan #SusuHalal saya langsung tertarik untuk isayat. Walau ketika saya mulai menulis ini batas
waktu pengiriman tulisan sudah tinggal 5 jamlagi. Semoga saya masih sempat.
… …
Menurut saya, tidak ada salahnya
seorang ibu mengkonsumsi jenis atau ragam susu tertentu untuk bayi yang sedang
dikandungnya. Itu adalah hak seorang ibu
dan suami yang mendampinginya. Hak
tersebut termasuk menentukan susu pilihan yang akan dikonsumsi buah hati ketika
sudah lahir nanti dan selama pertumbuhannya.
Walaupun saya secara pribadi termasuk yang isayat menyarankan pemberian
Air Susu Ibu (ASI) untuk buah hati selama selang waktu tertentu. Air Susu Ibu adalah nutrisi terbaik untuk
bayi. Sekali lagi, itu pendapat saya
lho.
Tapi soal pemberian ASI ini, memang
tidak bisa murni disalahkan kepada ibu atau kepada keduanya (ayah dan ibu) jika
tidak memberikan ASI ke buah hatinya.
Tentu ada faktor yang menjadi pertimbangan. Mungkin pasangan sudah sepakat untuk tidak
memberi ASI agar menjaga bentuk tubuh ibu. Memangya akan tetap seksi ya ?
Mungkin ayah saja yang takut ga kebagian. Hehe.
Tapi, bisa juga atas dasar faktor tidak keluarnya ASI atau faktor lain
seperti kesehatan ASI yang dimiliki ibu.
Kembali ke kamar bersalin kakak saya
mbak Asih. Di sebelah kamar bersalin
kami, selain pasangan pemilik bayi 3,8 kilogram itu, ada satu pasangan lagi.
Pasangan muda dari etnis tionghoa ini juga melahirkan bayi pada hari yang sama
dengan kakak saya. Dalam suatu waktu
ketika mendampingi kakak saya beberapa hari setelah melahirkan, saya berkesempatan
menyaksikan momen yang menarik dan begitu menyentuh.
Setelah bayi dilahirkan, bayi dibawa
ke ruang inkubasi untuk ditempatkan disana selama beberapa hari. Kemudian, pada waktu-waktu tertentu, yang
jujur saya tidak tahu dengan pertimbangan apa, bayi akan dikeluarkan dan dibawa
keluar ke ibu masing-masing untuk disusui.
Bita tentu saja, seperti yang sudah saya utarakan di awal, menyusu
dengan semangat ketika sudah dapat mengenali caranya. Bayi 3,8 kilogram juga tidak mau kalah. Mereka berdua langsung berhenti menangis dan
menyusu dengan semangat. Namun, bayi
pasangan Tionghoa ini entah kenapa terus saja menangis. Buka saya rasa bayi ini menjerit protes
kepada ibunya. Sang Ibu pun tak lama
menangis sesugukan, dan saya lihat sang ayah pun menatap kedua belahan jiwa nya
dengan tatapan haru. Saya, mbak Asih dan
suaminya pun termenung. Walaupun saya
sebagai laki-laki tidak akan pernah tahu, saya merasakan betapa sedihnya sang
ibu Tionghoa tidak dapat menyusui bayinya.
Lalu apa pilihan pasangan Tionghoa
ini ? Hal yang saya ketahui dari percakapan dengan perawat yang kemudian datang
ke kamar mereka, perawat akan memberikan susu formula kepada sang bayi. Lalu, ibu Tionghoa disarankan untuk
menjalankan pemeriksaan di ruang lain karena sudah beberapa hari ini ASI tidak
bisa keluar.
Setelah kejadian itu, saya tidak
tahu lagi kabar pasangan muda Tionghoa dan bayinya karena saya tidak setiap
hari mendampingi mbak Asih di rumah sakit. Namun, malam ini, ketika melihat
pengumuman di twitter mengenai lomba blogdetik bertemakan #SusuHalal , saya
terpikir beberapa hal yang kemudian saya tuliskan disini.
Saya, dari kacamata orang awam,
merasa bahwa pemberian susu formula sejak dini kepada seorang bayi akan membuat
bayi tersebut “ terbiasa “. Saking terbiasanya
sang bayi pasti tidak lagi ingin minum ASI.
Padahal banyakn kandungan dalam ASI itu yang tidak akan ditemui dalam
susu formula, kolostrum misalnya, yang penting dalam perkembangan otak bayi. Hal ini terjadi pada adik saya sendiri, yang
mana kata ibu, hanya minum ASI selama 3 hari untuk kemudian digantikan susu
formula. Waktu kelahiran adik saya itu, ibu tidak bisa lagi mengeluarkan banyak
ASI, mungkin sudah kering diminum ke lima anaknya sebelumnya. Hehe.
Apakah
ada perbedaan adik saya karena pemberian susu formula sejak dini itu ? . Secara
fisik sih tidak ada. Namun, secara
intelejensia, adik saya ini ternyata tidak terlalu baik. Walaupun tentu banyak
faktor penyebabnya. Tapi keponakan-keponakan saya semuanya minum ASI lho, dan
balita-balita ini berkembang menjadi balita yang ceria, cerdas, dan lucu
sekali.
Ketika pilihan meminum susu formula
diambil, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk buah
hatinnya. Pasti orang tua memerhatikan
mengenai kandungan gizi, harga menjadi pertimbangan kesekian. Asupan gizi ini
lah yang kemudian begitu berperan dalam setiap masa tumbuh kembang anak. Tidak hanya untuk fisik jasmani sang anak,
namun juga perkembangan otaknya. Saya belum tahu, betapa takaran gizi optimal
bayi secara umum, dan apa aja yang harus ada di dalam susu tersebut. Namun, yang pasti saya meyakini bahwa
kandungan gizi yang kurang maupun berlebih untuk bayi pasti menghasilkan efek
yang tidak baik.
Tempo hari saya melihat sebuah
tayangan iklan di televisi soal anjuran dari Ikaran Dokter Indonesia (IDI)
untuk tidak mengkonsumsi susu formula yang menggunakan gula tambahan. Dikhawatirkan efek dari adanya gula tambahan
ini menyebabkan karies gigi hingga obesitas, yang tentu tidak dinginkan orang
tua.
Saya kagum dengan iklan salah satu
produk susu formula. Produk ini menekankan ketepatan kandungan gizi yang
dimiliki. Produk itu menggunakan kata “
presisi “. Walaupun saya belum mengecek
kebenarannya, produk ini pasti sudah di uji secara klinis untuk memastikan
ke-presisi-an nya.
Kandungan gizi sudah, takarannya
sudah, lalu kenapa susu formula HARUS,
HALAL ?
Kalau Anda menyimak tulisan ini
dengan baik, pasti membaca kalimat saya yang berbunyi “Tidak hanya untuk fisik
jasmani sang anak, namun juga perkembangan otaknya “ . Disini susu formula yang
dipilih sudah memenuhi dua kriteria, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak.
Namun, bagaimana dengan perkembangan batiniah nya ? jiwa nya ?.
Saya percaya, sesuai dengan
keyakinan agama yang saya anut bahwa apa yang kita makan atau minum untuk tubuh
kita ikut menentukan seperti apa kita hidup.
Apabila yang kita makan atau minum itu jelek, itu haram, maka kualitas
diri dan hidup kita pasti ikut menjadi jelek. Pasti. Coba saja itu lihat orang-orang yang korupsi.
Karena mereka makan harta korupsi, dan terbiasa makan harta korupsi, maka jelek
dan makin jeleklah kehidupan mereka.
Makin tidak tahu malu dan makin tidak beradab. Makin sering tidak jujur
dan menipu sana-sini. Jangan sampai kita
masuk ke golongan seperti mereka. Karena itu, pastikan lah apa yang kita asup
untuk tubuh kita itu yang baik-baik dan halal. Dimulai dari diri dan keluarga
kita.
Tentu kita tidak ingin anak kita
tumbuh dan bekembang nanti menjadi orang yang bertabiat memalukan dan
berkualitas rendah seperti para koruptor dan penipu itu. Saya yakin kita akan memberikan contoh
terbaik mengenai perilaku-perilaku terpuji kepada anak. Saya yakin kita
memastikan anak mendapatkan pendidikan yang terbaik dari kita dan lembaga
pendidikan yang ada. Namun, pastikan
juga bahwa kita dan anak-anak kita ini makan dan minum sesuatu yang baik dan
halal, mulai dari cara memperolehnya, apa kandungan didalamnya, dan bagaimana
cara mengkonsumsinya. Itu bisa dimulai
sejak dini, salah satunya sejak memilihkan susu formula untuk buah hati. Dan
seterusnya seiring tumbuh kembangnya sang anak, pilihkan hanya makanan dan
minuman halal, susu halal, untuk anak dan keluarga kita.
Banyak pihak yang meramalkan, bahwa
negara adidaya selanjutnya sebenarnya bukan lah China atau Brazil, namun
Indonesia. Bangsa kita sudah tertempa
dengan berbagai krisis dan bencana alam.
Bangsa kita pasti akan menjadi bangsa yang unggul dalam berbagai bidang.
Mari kita membantu terwujudnya hal itu dengan menciptakan sumber daya manusia
yang unggul jasmani dan rohani salah satunyda dengan memakan dan meminum hanya
yang halal dan baik untuk kita dan keluarga kita.
Semoga bermanfaat.
Tapi, ASI tetap lah konsumsi terbaik
untuk si buah hati lho, Halal dan Baik ! =D









0 comments:
Post a Comment