Saturday, February 5, 2011

“Terima Kasih, Ya Nak?”

Bekasi, 6 Februari 2011

“Terima Kasih, Ya Nak?”

Bersyukur dan senang dapat dorongan menulis justru disaat-saat gue dirudung sedikit masalah ini. Hehe. Sekarang, di tulisan gue ini, gue mau nyoba pendekatan baru sekalian belajar menulis lagi. Menulis cerita dari penceritaan orang lain, dan dari sudut pandang orang pertama! Hehehe. Ini sebuah tantangan baru buat gue.
Terima kasih juga buat Joni yang terus saja menemani gue dengan setia, walau seringkali gue lupain kalau lagi menulis serius. Hehe. terima kasih Bro. Kawan-kawan ku, kita semua punya Joni dalam diri masing-masing, tempat kita berkeluh kesah dan berkelahi untuk menginstropeksi diri. Peliharalah Joni-Joni dalam diri kalian. Untuk kalian, mungkin namanya Jean, Morgan, Asep, Iskandar, Sunaryo, atau Pangaribuan, apapun namanya, sesungguhnya kita mendengar nurani yang sama. Saat kita akan berbuat baik, nurani itu akan tersenyum manis buat kita. Sebaliknya saat akan berbuat suatu kejahatan, nurani itu akan cemberut protes mengetuk-ngetuk pintu hati. Jadi nurani manakah yang akan kau dengarkan kawan?
( Iya, Bas. Sama-sama, hehe. terima kasih juga novel perahu kertasnya Bas, sungguh menghibur diri ini Bas )
[ iya, iya, seneng kalo lo juga su ka ]
Oke, “Terima Kasih, Ya Nak?” ini tentang kisah seru yang diceritain kakak ketiga gue pagi ini. Untuk pengenalan bagi temen-temen ku sekalian yang belum kenal, nama kakak gue ini lengkapnya adalah Gunarsih. Kalau ditambah dengan gelar yang dia peroleh dari pendidikan sarjananya, namanya jadi Gunarsih, S.Pd.Gelar S.Pd itu singkatan dari sarjana pendidikan.
Kakak ketiga gue ini berprofesi sebagai guru, mengabdi kepada nusa, bangsa, dan agama untuk mencerdaskan generasi penerus Indonesia. Namun, sedihnya, pemerintah kita ini belum bisa membalas budi orang-orang seperti kakak gue ini dengan baik. Maksud orang-orang seperti ini adalah orang yang sudah bertahun-tahun menasbihkan dirinya untuk profesi guru namun belum juga dapat terloloskan ujian CPNS. Apalagi kalau kementerian tempat dia sering menggantungkan nasibnya ini namanya kementrian Agama. Aku dengar kementrian ini malah jadi sarang besar praktek KKN. Salah satunya ya soal CPNS kementrian itu, kalau tidak punya koneksi atau tidak ber-KKN, rasanya sulit sekali masuk sebagai PNS lewat kementrian ini.
( Iya, tuh. Gue juga serind denger begitu Bas. Semoga kondisi ini bisa diperbaiki oleh pemimpin yang benar-benar amanah ya? Masa iya, kementrian agama gitu jadi sarang KKN? )
Doa dan harap aku dan sekeluarga menyertai kakak ku satu yang baik ini. Semua kakak ku baik. Namun yang dalam cerita ini aku ceritakan dulu kakak S.Pd ku ini. Kakak Drg. dan kakak ST / SE ku nanti pun akan ku bagi sedikit ceritanya ke kalian.
Cerita “Terima Kasih, Ya Nak?” ini adalah tentang kejadian suatu hari kakak ku pergi ke daerah Tambun di Bekasi Selatan untuk mencari rumah. Rumah baru. Kabarnya kakakku ingin pindah dari rumah yang sekarang dia tempati ini, rumah orangtua ku, karena ingin mandiri. Alasan lainnya aku kurang tahu.
Baiklah kawan, akan aku coba ceritakan ke kalian, dari sudut pandang orang pertama.
… … … … … … …
Hari ini, sesuai yang sudah ku rencanakan masak-masak sedari kemarin, aku akan lihat rumah di Tambun itu. Jarak kesana dua puluh menit perjalanan naik motor. Aku sempat berangkat pagi-pagi setelah beres-beres rumah, sarapan, dan mengurus anakku Kallista. Namun, soal anakku ini? Bagaimana kalau dia tidak mau ditinggal seperti biasa?
Aku yakin dia pasti rewel. Sedikit-sedikit di rumah saja dia minta gendong dan ini-itu. Tapi, kalaupun aku jadi ajak dia, aku malah tidak akan tega. Perjalanan naik motor ini pasti melelahkan buat dia. Belum lagi nanti udara panas dan debu beterbangan yang akan ada di sepanjang jalan. Mana tega toh Mama, Nduk…
Bangun pagi ini saja dia sudah rewel. Badannya aga panas, kemarin malam dia susah sekali tidur. Aku sendiri malah sampai tidak sempat makan sehari penuh kemarin. Mau makan malam tadi aku sudah terlalu lelah dan mengantuk.
Disaat-saat suami belum pulang seperti ini, aku memiliki segudang perasaan yang sulit terungkapkan. Aku rindu suami ku itu. Kalau ada dia, rasanya lengkap sekali keluarga kami. Si Kallista ini pun lengket sekali kalau sudah ada Bapak nya. Menyanyi lagu anak-anak bersama, gendong sana-sini, suap-suapi makanan si rewel, belanja ke supermarket sama-sama, lalu tidur bersama berpelukan bertiga. Saat itu aku merasa begitu bahagia. Kebersamaan itu baru kami bisa rasakan saat suami pulang dari pekerjaan kerasnya sepanjang minggu. Diakhir minggu itu lah sang pujaan hati pulang kerumah, memberi curahan rasa sayang dan rindunya untuk kami berdua, aku dan anak kami. Sang ayah harus begitu, karena profesinya yang mengharuskan ia begitu. Untuk menfkahi kami, untuk ku sang istri tercinta dan anak rewel buah hati kami ini. Belahan jiwa dan segenap rasa cinta dunia. Rasanya mungkin tidak sempurna, tapi aku merasa lengkap. Karena kami begitu saling melengkapi. Keluarga ini, bersama dengan agama, dan orangtua ku, begitu aku cintai. Illah, Illah, Illah, mohon persatukan kami dalam tali erat pernikahan cinta penuh kasih ini selamanya.
Sesuai rencana yang tidak tertulis, aku akan ke calon rumah baru kami itu naik motor, bersama kakak ku. Dia anak sulung orang tua ku. Sudah seminggu ini menginap disini sewaktu pulang dari pekerjaannya.
Namun, rencana ini nampaknya sedikit berubah, sedikit bertambah sebenarnya, karena Kallista ini benar-benar tidak mai ditinggal. Sedari pagi dia merengek-rengek minta ikut. Akhirnya aku mengalah saja, demi anak, apa yang tidak ku berikan?
Akhirnya penambahan rencana ini berjalan sedikit terlambat. Kami berangkat baru sekitar jam 10. Memandikan dan menyuapi anakku ini seperti biasa memakan waktu lama. Karena aku harus mengiringinya dengan menyetel video film kartun lewat DVD, lagu anak-anak lewat MP3 player di komputer, hingga serangkaian mainan anak yang harus digelar di lantai. Anak ku, anak abad 21, anak teknologi terkini. Dulu saja aku kalau main masih congklak dan bola bekel, itu juga berkelahi dulu, rebutan sama kakak perempuan ku, malah jadi lebih seru.
Kami menaiki motor dengan posisi mas Gun, kakak sulung kami itu, didepan mengemudikan motor, Kallista ditengah sambil aku gendong,lalu aku dibelakang. Perjalanan ini pasti akan jadi lebih merepotkn dengan bawaan balita ini, namun kami tidak urungkan niat. Jalan raya panas berdebu, rumah baru, sambut kami ini datang.
Jalan raya Kalimalang yang kami lalui saat itu, seperti biasa, seperti saat-saat yang lain, padat merayap. Beruntung pemerintah kota sudah memperbaiki jalan ini. Dulu dikala-kala musim hujan seperti ini, jalanan akan banjir dan becek. Di suatu tempat malah ada kubangan besar seperti empang. Suatu hari ada demo disitu, ada yang menanam padi dan melepas bebek sebagai tanda protes. Lucu bukan? namun jalanan juga tidak diperbaiki segera. Jalanan itu baru diperbaiki seingatku saat menjelang pilkada pemilihan pemerintah bekasi yang sekarang. Sungguh politis.
Perjalanan kami pun sampai lah sudah di suatu jalan kearah Tambun. Dari kejauhan lampu merah diperempatan menunjuk warna kuning, namun kakak ku yang mengendalikan motor ini tidak melambatkan lajunya. Keputusan tampaknya sudah final, menerobos lampu merah!. Padahal sungguh, diseberang jalan sana aku melihat ada pos polisi lalu lintas lengkap dengan polisi yang sedang berjaga-jaga.
Tidak lama, aku lihat di belakang seorang dari polisi yang berjaga-jaga itu ternyata menghampiri kami. Panik, kami pasrah, ya sudah, habis sudah kami nanti akan ditilang.
“De Asih, kamu bawa uang ngga?” kata kakak ku yang sudah mulai panik. Dasar, salah sendiri, nekat kali menerobos lampu merah.
“Ada sih Mas Gun, ya tapi cuma lima puluh ribu. Mau ga ya dikasih?” kata ku ikhlas. Lima puluh ribu yang rencananya ku pakai nanti buat makan siang, kan kami berikan saja ke bapak polisi kalau nanti bisa damai. Jadilah, bapak polisi nanti bisa dapat uang makan siang gratis.
“ Ya sudah, kita coba dulu saja de. Ikhtiar” cetusnya. Dasar, sudah begini baru bilang ikhtiar. Seharusnya tidak kau terobos itu lampu merah, baru namanya ikhtiar.
Motor dicegat oleh bapak polisi lalu lintas itu. Setelah memberi hormat ala angkatan, bapak polisi ucapkan kata-kata pamungkas itu.
“Maaf, bisa ke pinggir sebentar?” kata bapak polisi setelah mencegat kami berjalan lebih jauh agar tidak kabur. Kami pun menepi ke arah trotoar. Anakku sedari tadi sudah menangis kejer. Bingung aku bagaimana membujuknya agar tidak merengek-rengek disaat seperti ini.
“Boleh lihat kelengkapan surat-suratnya?” kata bapak polisi lalu lintas lagi.
“Iya, bapak… sebentar ya…” kata Mas Gun sambil merogoh saku-sakunya mecaru dimana dia menaruh dompet.
Belum lagi Mas Gun mengeluarkan SIM nya dan STNK motor ini, Kallista menangis menjerit-jerit. Diantara keramaian lalu lintas ini. Panik aku, dengan segala macam bujuk aku rayu dia agar berhenti menangis. Tangisnya menambah sulit situasi ini.
“Maaf, Ibu. Anaknya kenapa rewel begitu? Lagi sakit ya?” kata bapak polisi lalu lintas yang ternyata ikut cemas.
Namanya juga balita, pak. Ya memang begini, mana aku tahu kenapa, jangan-jangan malah karena takut sama bapak, siapa tahu? Kata ku dalam hati. Tapi dari tangisnya ini, aku mendapat ide.
“Iya, Pak. Memang dia begini kalau lagi sakit. Rewelnya nambah-nambahi. Baru sembuh dari demam, Pak” kata ku memberi penjelasan, berusaha tidak bohong, Kallista ini memang baru sembuh dari sakit kan?.
“Oh, begitu ya? Bapak-Ibu lagi buru-buru mau ke RSUD disana itu ya? Ya sudah, bapak ibu langsung jalan saja, kasihan anaknya. Pantas lampu merah diterobos begitu. Lain kali jangan begini ya Bapak-Ibu?” bapak polisi lalu lintas berkata bijak. Hah? Kami diampuni nih jadinya? Terima kasih Bapak polisi lalu lintas baik hati. Kata ku dalam hati.
“Iya, bapak. Sama-sama, maaf ya pak sudah menyusahkan bapak, kami langsung jalan ya pak?” kata Mas Gun. Aku tahu dia tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya dari situasi ini.
Kami pun melanjutkan perjalanan. Dan ajaibnya Kallista berhenti menangis setelah kami berjalan lagi. Jangan-jangan memang dia takut akan bapak polisi itu. Hehehe. Aku tertawa geli dalam hati.
“Terima kasih ya, Nak…” kata ku lembut penuh sayang kepada Kallista. Tanpa dia merengek-rengek ikut hari ini, kejadian tadi pasti bisa jauh lebih buruk.
Yang aku tidak tahu, diatas sana Allah mungkin telah merencanakan semua ini.

Nb:
Sampai di rumah di Tambun itu, dede Itanya Abas menangis lagi Kayanya pertanda dia gak akan betah di rumah itu. Selain itu kata kakak nya Abas itu, air di daerah itu rasanya asin, jadi batal deh membeli rumah itu. Buat temen-temen, yang mungkin punya koneksi rumah sederhada yang masih dalam kondisi baik, terawat, dan nyaman plus aman untuk nyaman untuk ditinggali keluarga kecil, suami istri plus satu bayi, bisa mengirim pesan ke Abas. Kisaran harga nya antara 1-35 juta ya. Mana ada rumah dijual satu juta? Hehe.
Terima kasih semua atas bantuan dan perhatiannya. Wassalammualaikum. Semoga selamat senantiasa ada atas mu pula.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment