Bekasi. 5 Februari 2011
JANJI PERAHU KERTAS
Aku tidak percaya akan kebetulan.
Menurutku, walaupun memang begitu sok tahu, kebetulan adalah hasil dari suatu tindakan yang diiringi dengan perasaan dan pikiran yang positif tidak lupa pula ditambah doa. Hasil dari tindakan itu, seringkali bukan apa yang begitu inginkan, tapi apa yang saat itu sedang kita butuhkan. Ketika mendapat apa yang sebenarnya kita butuhkan itu, kita seringkali menyebutnya sebagai, suatu kebetulan.
Apa yang ku sebut diatas tentunya cuma teori iseng saja. Namun, dua hari ini, aku memperoleh pengalaman nyata tentang apa yang biasa kita sebut sebagai suatu “kebetulan”. Suatu “kebetulan” itu aku beri nama Janji Perahu Kertas.
Minggu lalu, di malam minggu yang tentunya sangat berbeda dengan malam minggu ini, aku solat maghrib di Masjid Ukhuwah Islamiyah (MUI). Masjid ini tentunya berlokasi di kampus ku. Waktu itu aku akan pergi makan dengan Hanum, karena belum solat maghrib, aku solat maghrib di MUI.
Sehabis solat maghrib berjamaah, aku sempatkan melihat-lihat buku di toko buku yang terletak dekat gerbang masjid. Toko buku itu namanya toko buku Yasmin. Buat kalian kawan, yang kuliah di UI dan sering solat di MUI tentu sudah tahu tentang toko buku ini. Yasmin menjual berbagai jenis buku, tidak melulu buku tentang Islam apalagi politik, kalian juga bisa mencari novel-novel bagus di Yasmin. Mulai dari Laskar Pelangi, The Kite Runner, hingga Deception point. Sungguh, aku tidak sedang promosi.
Aku melihat-lihat buku yang dipajang di etalasae bagian luar. Jemu dengan jenis-jenis buku yang itu-itu melulu terus saja, mataku terundang dengan suatu buku yang bergambar unik. Segera aku ambil buku itu untuk ku lihat-lihat lebih jelas. Sungguh hanya akan bisa melihat-lihat, karena uang ku tidak akan cukup malam itu kalau aku beli buku lalu aku makan, kecuali aku makan dengan Hanum saat itu di Warteg terdekat, yang tidak akan ku lakukan untuk Hanum. Hari itu memang sudah terhitung akhir bulan, hinga uang saku dari orang tua plus honor mengajar plus bayaran dan lain-lain tentu sudah lama menguap. Belum lagi selasa nanti aku akan pergi ke puncak bersama teman-teman ku. Sedih.
Aku mencintai buku. Seringkali aku mengorbankan uang jajan ku untuk membeli buku. Berbagai jenis buku. Aku tidak membatasi diriku membaca jenis bacaan tertentu saja. Membaca lebih banyak karya tulis dari berbagai macam tipe penulis buku membuat ku dapat mendalami alam pemikiran yang berbeda-beda dari berbagai pengarang itu. Membaca Ranah 3 Warna dan Cinta Dalam Gelas misalnya, membuatku memahami betapa uniknya masing-masing gaya tulisan sekaligus Ahmad Fuadi dengan Andrea Hirata. Membaca La Tahzan dan Grow and Thinking Rich membuatku mengerti betapa Dr. Aidh Al-Qarni dan Napoleon Hill memiliki sedikit kemiripan dari sisi mereka memandang dunia. Betapapun kayanya, dua penulis itu mewakili dua belahan dunia yang berbeda yang begitu merindukan kepuasan spiritual.
Namun, mengorbankan uang jajan tentu tidak bijak. Aku bakal sering kali tidak bisa makan kalau begitu terus. Uang dikasih orang tua senin, malam kamis aku sering sudah bingung mau makan apa. Karena itu, aku mulai cari tambahan dari sana-sini, biar tidak repot orang tua. Aku mengajar dan melakukan lain-lain profesi. Alhamdulillah hasilnya mencukupi, namanya juga tambahan. Sekarang setiap bulan setidaknya aku bisa membeli 2-3 buku.
Bulan ini pun begitu kondisinya. Bedanya aku sudah beli buku diawal bulan ini. Sehingga mala mini aku sudah tidak bisa membeli buku. Tapi, entah mengapa aku ingin sekali beli buku ini. Aku belum baca isinya sejujurnya, kan masih dibungkus plastik, kalau aku buka, nanti dikira mencuri. Sedih sekali nanti orangtua dan pacarku kalau aku ketahuan mencuri buku karena tidak punya uang untuk beli buku karena uangnya sudah dibelikan buku. Begitu rumit
Setelah membaca sinopsis Perahu Kertas, yang ternyata sebuah novel ini, aku lihat lagi bagian sampulnya. Ini kebiasaan ku dalam memilih buku yang ingin ku beli. Setelah melihat judul dan sampulnya, aku baca sinopsisnya, lalu ke sampul lagi, untuk melihat baik-baik nama pengarang buku dan penerbit. Novel Perahu Kertas ini ditulis oleh seorang bernama Dee. Aku ingat ingat nama itu adalah nama pena dari Dewi Lestari, pengarang novel Supernova. Berarti ini novel yang bagus. Begitu sok tahu aku ini. Hehe. Aku lihat nama penerbitnya adalah truedee (baca: terudi). Mungkin itu adalah penerbit yang didirikan sendiri oleh Dewi Lestari dan kawan-kawan. Dari sebuah buku yang aku baca, aku dapat informasi bahwa banyak penulis mulai menerbitkan sendiri karya-karyanya ketika menghadapi kendala penerbitan dari perusahaan penerbitan buku yang terlebih dulu sudah mapan. Kendala itu macam-maca, mulai dari naskah yang dibilang jelek oleh penerbit, tidak laku dipasar, hingga penerbit itu tidak memiliki divisi untuk menerbitkan genre tulisan dari sang penulis. Mana yang jadi alasan Dewi Lestari? Mana aku tahu, jangan tanya aku kalian.
Aku tanya diriku,apakah aku ingin beli novel ini? Aku jawab iya. Terang saja, menanya diri sendiri. Dasar aneh. Tapi bagaimana ya? Aku kan sedang tidak punya uang.
Aku putuskan untuk masuk ke dalam toko buku, bertemu dengan penjaga toko. Penjaga toko buku Yasmin ini, hari demi hari adalah seorak pria muda 20 tahunan berpakaian rapi, dan tipikal remaja masjid. Sekali lagi aku sok tahu.
“Kak, mau tanya, novel ini harganya berapa?” tanyaku.
“Emmm, coba saya liat dulu ya kak…” jawab penjaga toko itu. Lalu ia mengetik beberapa kata di keyboard komputer di ruang kerjanya itu. Mungkin sedang mencari info harga di database toko buku.
“Harganya itu 69 ribu, dengan diskon sepuluh persen jadi 62 ribu kak harganya” lanjut penjaga toko.
“Oh begitu… mmmm gimana ya….”
“Begini kak, saya sedang tidak punya uang, karena belum gajian, apalagi ini akhir bulan, boleh kalau saya titipkan novel ini sampai minggu depan ke kakak? Jangan dipajang di etalase dulu, nanti kotor lagi. Insya Allah minggu depan, tanggal 5 Februari saya kembali lagi kesini buat beli novel Perahu Kertas ini. Gimana mas? Boleh kan?” jelas ku.
“Oh, begitu. Boleh, yaudah kakak ambil aja satu yang di luar itu” kata penjaga toko lagi.
“iya sebentar ya kak….”
Aku keluar sebentar ke etalase luar, aku ambil satu novel Perahu Kertas itu. Saat itu memang ada dua novel tersebut, namun salah satunya sudah sedikit kotor, jadi aku pilih yang masih bagus tentu.
“ini kakak novelnya, tolong disimpan sampai minggu depan ya, yang satu itu saja sudah rusak kak, khawatir saya”
“Iya, Insya Allah akan saya jaga baik-baik…” katanya, sambil memindahkan Perahu Kertas ke rak buku dibelakangnya.
Kami pun lalu berjabat tangan.
Di luar ku tunggu Hanum yang saat itu belum selesai solat. Tidak lama kemudian dia pun datang.
“Num, ingetin aku ya, minggu depan tanggal 5 Februari, aku harus kesini untuk beli novel judulnya Perahu Kertas. Terus kalau terjadi apa-apa sama aku, tolong kamu yang beliin novel itu buatku ya yang…”
“?.... iya… oke” heran tentu dia.
………….
………….
Seminggu kemudian di BTA Nusantara.
“kak abas, kakak ada jadwal ngajar hari jumat ini di kelas XI IPA 3, terus untuk fee ngajarnya bisa diambil tanggal 7-12” itu sms yang aku terima hari ini dari kak Nike, manajer pendidikan di bimbel ku.
Hah? Gimana nih? Aku kan sudah janji untuk beli Perahu Kertas itu tanggal 5 ini.
Begitulah awal kegundahan yang terjadi kemarin itu. Aku sudah terlanjur janji, bagaimana nih, aku tidak akan bisa menepati janjiku? Duhh. Dengan perasaan itu, aku berangkat mengajar ke BTA 8 cabang jalan Nusantara Depok. Disingkat BTA Nusantara. Biar bagaimanapun, walau honor bulan lalu belum diberi pun, aku harus mengajar. Aku berangkat dari kampus, waktu itu ada persiapan pesta wisuda untuk keesokan harinya.
Sesampainya di BTA Nusantara.
“Hah? Aku gada jadwal ngajar hari ini nih? Tapi aku dapet SMS kok dari Kak Nike, hari ini aku ngajar di XI IPA 3” tanya ku penasaran. Kesal juga hari itu aku sudah buru-buru datang ke bimbel dari kampus karena hujan tidak reda-reda. Basah jadinya sekujur tubuh.
Aku berikan hape ku ke kak Nike, yang saat itu kebetulan ada disitu bersama beberapa pengajar lain. Aku buka kan pesan yang sejelasnya dia telah kirim.
“Oh iya ya, kok ada sms jadwal ngajar hari ini sih…? Hhuhuhu kak Abas, maaf ya… ini kayanya aku sms kcampur sama sms ke orang lain deh. Kakak itu ngajarnya minggu depan, kalo hari ini ada pengajarnya..” kata ka Nike prihatin. Luar biasa, canggih sekali teknologi hape saat ini, isi sms yang terkirim bisa tercampur-campur begitu.
“duh,, begitu ya.. terus gimana ya kakak.. aku sudah kesini pula hujan-hujanan begini…” kata ku tidak kalah prihatin, ditambah sedih.
“Ya gimana ya kak.. atau kakak langsung mengajar aja dikelas? Kebetulan pengajarnya memang belum dateng…”
“Engga ah kak Nike, kalau dia sudah dijalan ya biar dia saja yang mengajar, saya gapapa sudah kesini kok. Saya mau numpang solat ashar di atas dulu ya?,,,”
“Iya kakak… maaf ya sekali lagi…”
Aku pun naik kelantai dua, tempat musola berada. Setelah wudu aku lalu solat. Setelah solat itu aku berdoa, bagaimana agar Allah SWT bisa memberiku pertolongan untuk menepati janjiku kepada penjaga toko buku Yasmin.
“Ya Allah… minggu lalu hamba-Mu ini sudah berjanji dengan seorang penjaga toko buku…. Namun hari yang direncanakan ini ternyata hamba-Mu ini belum dapat menerima honornya mengajar…. Aku tinggal bisa memohon bantuan-Mu ya Allah.. Amin”
Setelah melafazkan doa permohonan ku itu, aku beranjak hendak pulang.
Di depan meja sekretariat, tempat aku bertemu kak Nike dan para pengajar lain itu, aku dihentikan saat sedang akan pulang. Saat itu hujan masih turun sedikit-sedikit.
“Kak Abas kak Abas… tunggu kak” panggil seorang di belakang. Oh, ternyata itu kak Nurul, manajer keuangan di BTA Nusantara ini.
“iya, ada apa kak?”
“Ini kak, honornya diambil…”
“Hah? Honor? Katanya tanggal tujuh baru bisa diambil?...”
“Ah gapapa, ini diambil saja. Kan sama aja kak. Hehe. dasar kak Nike tuh, orang udah bisa diambil sekarang juga bisa…” celoteh kak Nurul.
“Enak aja lo, kan niat gue baik, biar mereka ga repot-repot kesini akhir minggu” potong kak Nike protes.
“Oh gitu. Hehe. oke deh saya ambil sekarang kak Nurul ya…” kata ku.
“Iya kakak, sebentar ya…” kata kak Nurul sambil mengambil tumpukan amplop dan sebuah lembaran absen honor pengajar.
“Ini punya kak Abas… sekalian tanda tangan ya kakak…”
Aku terima amplop dari kak Nurul, berisi honor mengajar ku bulan lalu. Lalu ku tanda tangani absen tersebut. Ku jabat tangan kak Nurul, lalu semua orang yang ada disitu, termasuk anak murid yang baru datang basah kuyup dari luar. Terbengong-bengong dia. Pasti merasa aneh dengan aku ini. Aku tidak peduli, yang jelas aku sedang begit senang. Terima aksih Tuhan…
Aku pun beranjak ke parkiran motor, lalu beranjak ke kampus lagi. Hujan-hujan aku tidak peduli. Rahmat, rahmat. Ini rahmat mu Ya Allah.
…..
Setelah solat maghrib, bersama adik kelas ku Risya yang saat itu aku antar sekalian untuk mencetak spanduk pesta wisuda besok, aku pergi ke MUI lagi. Untuk menepati Janji Perahu Kertas ku. Saat it masjid dalam keadaan sepi. Aku pun pergi ke toko buku Yasmin, yang ternyata tutup.
Duh, bagaimana lagi ini? Kok malah tutup sih, biasanya kan habis Isya? Kataku dalam hati.
Aku tanya orang disekitar toko buku. Mereka jawab bahwa penjaga toko buku sedang buru-buru dan harus pulang segera sehingga toko ditutup lebih awal. Kata mereka, datang saja besok jam sembilan juga sudah buka toko bukunya.
Jam sembilan besok? Tapi kan aku punya janji hari ini! Kata ku gelisah dalam hati.
Sepertinya akan Isya sebentar lagi. Aku lihat jam di hape ku. Sudah jam tujuh lewat tapi belum azan. Tapi tunggu, aku lihat tanggal hari ini. Tanggal empat Februari 2011. Tunggu… minggu lalu itu aku punya janji beli novel itu minggu depannya tepat pada tanggal lima kan? Sekarang ini masih hari Jumat, sekarang ini masih tanggal empat! Kenapa aku ceroboh begini?
Hahahaha. Allah… Allah… seluruh janjiku ini ternyata Kau bakut erat-erat dengan kuasa-Mu. Kau tidak hanya memberi ku jalan untuk menepati janji, Kau bahkan membuat ku benar-benar menepati janji ku! Janji Perahu Kertas ku! Tanggal lima Februari! Subhanallah… betapa kecil sungguh aku ini di hadap-Mu. Tahu apa aku tentang menepati janji?
Aku segera menuju tempat parker, tempat ku meninggalkan Risya sendiri diatas motor. Menjaga motor maksudku, biar aku tidak perlu parkir dan membayar biaya parkir. Sungguh ini idenya, bukan ideku Setelah aku antar Risya ke percetakan spanduk yang dia mau, aku pun pulang.
…… keesokan harinya
Dan inilah aku kawan hari ini, di toko buku Yasmin tempat ku minggu lalu membuat janji. Tempat ku hari ini akan menepati janji itu. Sebuah janji yang sederhana, Janji Perahu Kertas, sebuah janji yang diawali oleh sebuah buku, dan di antara hari-hari penuh kerahasiaan dari Tuhan, yang sampai detik terakhirnya pun aku tidak tahu.
Sudah kan ku beritahu kamu kawan? Aku tidak percaya kebetulan. Kebetulan itu adalah hasil dari sebuah tindakan yang diiringi rasa dan pikir positif, disertai doa pada Tuhan yang selalu ada buat kita. Lalu biarlah, hasil dari semua itu selalu jadi rahasia buat kita. Tuhan yang tahu, apa yang sungguh sungguh kita butuhkan.
Terima kasih kawan, telah mau berbagi dengan ku. Sekarang aku undur diri. Aku punya janji dengan Perahu Kertas.








0 comments:
Post a Comment