Senin, 19 Januari 2011
RINDU KUE LABA-LABA
` Mengantar adik ke sekolah udah jadi rutinitas yang gue lakuin setiap pagi, selama liburan. Baik itu hujan di luar, bermacet-macet, belum sarapan, maupun dalam keadaan malas, gue harus senantiasa setia mengantar ade gue
( Hahaha, kasian lo Bas, ni sekalian jadi latihan lo biar bangun tidur ga kebanyakan nontonin spongebob! )
[ Jon, lo salah,sekarang spongebob udah jarang gue tonton, episode nya di ulang-ulang terus, lama-lama bosen gue, mending lo ikut gue sekalian nonton berita, makin aneh aja negeri kita ni. Kalo Gayus ujung-ujungnya bebas, gue gak kan mau bayar pajak! Kecuali pintu gue digedor-gedor dep kolektor! hahahaha ]
Pagi ini pun secara resmi gue mulai dengan mengantar adik, walau aga kesiangan karena dia seperti biasa ngerengek mau naik motor sendiri, yang tentunya gak akan gue kasih!. Sekalinya dikasih, baru pulang malem nanti dia. Kalo lagi gad ague, biasanya bapak yang nganter, atau abang ojek. Jadi gue, secara de facto, mewakili peran bapak gue dan pekerjaan abang ojek. Sungguh mulia gue ini. Pamrih. Hehe.
Okei, perjalanan mengantar adik berlangsung.
Sekolah ade gue, secara matematis, ga jauh jaraknya. 10 menit bisa bolak-balik. Itu kalau orang se-Jakarta selatan dan sekitarnya kesiangan jadi pada ga bisa berangkat ngantor, sekolah, atau dagang, lewat perempatan mampang prapatan yang maikn semrawut ini. Jadi karena perhitungan matematis gue itu gak akan pernah berlaku di kota Jakarta ini, perjalanan mengantar ade gue itu pun berlangsung bersih selama 30 menit! Tiga kali lipat! Coba saudara bayangkan sama-sama. Pejamkan mata Anda. Jangan, jangan tertidur! Anda kan lagi baca tulisan saya ini! T T
Biasanya gue belum sarapan waktu kegiatan mengantar ade ke sekolah ini. Pengalaman ini, membuat gue, teringat begitu banyak momen berharga dalam hidup ini. Ah…
( Abas mulai serius ni, Abas mulai serius! Hihihi )
Di perjalanan pulang mengantar ade, aku bertemu orang itu. Di tepi jalan, yang tak bisa ku sebut sebagai trotoar. Karena memang bukan. Sudah lama tidak ada trotoar di jalan-jalan kota. Semua tepi jalan sudah direnggut oleh pengguna motor.
Dia pun begitu, seperti gerobaknya yang tertelan tepi jalan. Pekerjaannya pun sebentar-sebentar, perlahan lamat-lamat, akan tergerus tepi jaman. Oh, dia, tidak lain dan tidak bukan, bapak penjual kue laba-laba. Dia yang sudah bertahun-tahun di tepi jalan ini, setia menunggu, patuh pada nasib yang ditunjuk untuknya, memegang peran penting dalam peradaban dunia, pelestari budaya, setidaknya di negeri ku Indonesia. Sang penjual kue laba-laba.
…………………………………………………………………
Betapa ku rindu kue laba-laba.
Beberapa tahun lalu, setidaknya sampai kelas 3 SMA. Aku sering menunda waktu sekolah ku untuk sejenak menikmati cita rasa kue laba-laba ini. Oiya, sebelumnya, sudah kah kau tahu, merasakan, atau setidaknya oernah melihat kue laba-laba? Sayang sekali jika kalian belu pernah merasakan cita rasa yang satu ini. Kenapa disebut laba-laba? Bentuknya mirip dengan laba-laba kawan. Atau setidaknya kami, para penikmat kue laba-laba, menyebutnya begitu.
Aku kurang tahu apa saja bahan bakunya, tapi tampak nya seperti tepung kue cair, yang dimasak di pemanas mini, berbentuk aneka rupa. Kadang kala adonan itu, tidak dibentuk terurai-urai menjadi laba-laba, namun sesuai cetakannya. Yang paling mudah dikenali bentuknya adalah ikan. Ada juga yang bentuknya bulat, tapi aku juga kurang tahu apa itu, bentuk telur ikan barang kali.
Baik aku ulangi lagi.
Beberapa tahun lalu, setidaknya sampai kelas 3 SMA. Aku sering menunda waktu sekolah ku untuk sejenak menikmati cita rasa kue laba-laba ini. Aku dulu berangkat ke sekolah sering kali naik bis, jadi selama menunggu bis datang, aku beli kue laba-laba, 1 atau dua biji. Dulu, abang kue laba-laba ini mangkalnya dekat dengan tempat ku menunggu bis.
Oh, kue laba-laba. Ku rasakan dalam dalam rasa adonan mu di lidah ku. Apalagi jika kau di buat setengah matang. Aku mampu rasakan adonan mu melumer perlahan, tidak tergesa-gesa, dengan lembut, di lidahku. Manis. Itu gigitan kue yang pertama. Kue yang kedua, aku coba tambahkan cita rasa dengan meminta abang kue laba-laba mengoleskan susu cokelat di atas kue laba-laba kedua ku ini. Segala cita rasa yang setelah ku sebutkan diatas tadi, bertambah lagi dengan betapa manis dan liatnya susu cokelat ini. Kalau di makan sambil pejamkan mata, tentu aku akan tertinggal bis dan terlambat ke sekolah. Bukan, bukan. Maksudku, kalau dimakan sambil pejamkan mata, selain semua rasa enak yang menyenangkan ini, percayalah kawan-kawan ku, akan muncul, perasaan syukur…
Oh, Illah… Tuhan ku, Alhamdulillah. Puji syukur kau lahirkan aku dari rahim seorang Indonesia. Kau telah tumbuhkan aku dengan segala nikmat dari tanah dan air Indonesia. Kalau tidak, dimana lagi aku merasakan nikmat seperti ini? Memang Kau Maha Adil, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pemberi Pertolongan. Allahu Akbar..
Kawan ku, untuk mu, mungkin cerita ini akan lain judulnya.
Untuk kawan ku Labibah Qotrunnada, walau kau dari Sidoarjo sana, aku yakin kau akan merindukan lontong balap dan rujak cingurmu. Kenapa disebut lontong balap? Siapa yang dulu balapan makan lontong itu? Bung Tomo kah? Mungki waktu 10 November dulu itu, beliau harus makan lontong buru-buru, kalau tidak, mati di tembak tentara sekutu kayanya.
Begitu juga kau, hei Yuan, masih banyak makan kah kau? Rindukah kau akan sambel pecel kampungmu itu? Apakah kau punya soto, seperti halnya ada soto Lamongan?
Hanum, kapan kita akan ke Sumedang,sayang? Ke tempat ayah mu. Kau bilang rasa tahu Sumedang disana paling enak se dunia. Aku ingin coba, berdua dengan mu tentu.
Zulfa Hanif,dan Teuku Uzer kawan ku, terima kasih telah bangsa Aceh ciptakan mie Aceh yang penuh cita rasa rempah itu. Walau buat lidah Jawa ku terlalu pedas, tapi aku menikmatinya. Kalian tidak akan memerdekakan diri kan?
Dan kau si kembar Noto dan Tono, serta Nicholas Wijoyo, dan tak lupa juga Natasia di Amerika sana, apakah Gudeg Jogja masih jadi makanan sehari-hari kalian? Aku setuju kalau sultan kalian lansung jadi gubernur saja. Orang baik beliau.
Teman Mampang ku, O’im dan Sony, tolong jaga kerak telor kalian buat kita semua ya? Aku janji, kalau salah satu dari kalian jadi Gubernur DKI Jakarta nanti, atau setidaknya walikota Jakarta Pusat, pastikan saat Pekan Raya Jakarta di Kemayoran nanti, kerak telor akan ditempat kan di etalase utama, tidak lagi di pinggir jalan raya.
Dayu Sinca dan kawan-kawan, aku akan kembali ke Bali. Aku rindu Ayam Betutu. Apa itu betutu? Bahasa Bali untuk “berwarna kuning dan enak” kah?
Alvin dan Jane Sarah, makanan apa saja yang kalian bawa dari negeri seberang sana? Aku suka cap cay dan kwetiau. Kita harus sama-sama tahu, bangsa kalian telah begitu banyak mewarnai negeri ini. Terima kasih ya. Tapi kau Alvin, tak boleh aku makan babi, dilarang agamaku itu, jadi jangan kau tawari aku babi lagi ya? Lebih baik kita makan nasi uduk belakang rumah mu saja. Nanti aku kesana lagi.
Hei Yudi, Seyla, Horas!. Aku kurang tahu, tapi makanan apa yang bangsa Batak bawa? Di Lenteng Agung sana ku lihat ada yang jual soto Batak. Betul kah ada soto di Batak sana? Dan, hei, apa itu Lapo? Betapa inginnya aku ke tempat kalian, sudah tahukah kalian ada museum Batak yang baru diresmikan presiden itu? Kabarnya itu museum terbesar di Asia. Ada di pinggir danau Toba. Luar biasa. Betapa indahnya. Tapi, Hei Yudi! Kau ni aslinya orang Jawa kan?
Rithami, nasi kapau, rendang, dan sambal hijau mu luar biasa. Edis, coto Makassar dari Makassar, apa makanan dari Kendari? Puthe, Savit, Icha, aku suka sambal dan lalapan Sunda. Dan, Maya, kenapa disebut pempek kapal selam ya? Apakah masyarakat Sumatera Selatan itu jago berenang seperti marinir begitu ya?
Oh,mas Gun, mbak Atik, dan mbak Nuk, aku juga rindu sego megono dan tauto dari pekalongan. Libur ini, aku pasti sempatkan pulang kesana.
Belum lagi ketoprak, karedok, toge asep, soto tengkleng, bakpia, lumpia, martabak terang bulan, rengginang, sayur krecek, ikan cakalang, dan banyak lagi. Dan, siapa yang masih ingat tentang kue imut berisi gula merah bernama Klepon?
Betapa indahnya negeri Indonesia. Saatnya kita berbuat, untuk Indonesia yang makin baik.
……………………………………………………………………………………………………..
Pagi ini, di tepi jalan ini, di sekeliling kemacetan kota, sambil mengobrol dengan Joni, aku makan kue laba-laba.
Info: Di sekitar UI, penjual kue laba-laba dapat kita temui di jalan kecil stasiun Kober kearah Margonda.








0 comments:
Post a Comment