Senin, 17 januari 2011
PULANG
Setiap kali ada suatu momen meninggal nya seseorang, sering kali kita dengar dua kalimat duka yang berbeda. Kalimat pertama biasanya berbunyi, “ Telah pergi meninggalkan kita,…”. Kalimat yang lain berbunyi, ”Telah berpulang ke rahmattullah,…”. Aku pribadi tidak mempermasalahkan kebenaran di antara keduanya, tapi buatku, seseorang yang meninggal dunia, sesuai kodrat dia diciptakan oleh Tuhan nya,berarti dia sedang pulang, pulang ke tempat dia berasal. Lalu kemudian dia pergi, pergi ke perjalanan selanjutnya. Betapa memusingkan. Wallahu’ alam bi sawab. Hanya Allah yang tahu.
Pernahkah kalian kawan, walau sesekali saja, memikirkan pertanyaan ini:
“ kalau nanti aku meninggal dunia, berapa banyak orang yang akan datang ke hari ku dimakamkan ?”. Pengalaman berharga ku hari ini, membuat pertanyaan itu menjadi sering terpikirkan.
Malam ini, seperti sering kali terjadi, aku tidak bisa tidur. Mungkin aku punya penyakit insomnia, atau malah amnesia, hingga aku lupa kapan saatnya tidur. Karena masih tidak bisa tidur, sudah selarut ini aku masih terjaga. Tentu saja. Setelah melakukan berbagai hal mulai dari menonton televisi, bermain game, membaca dan menulis hingga menghitung domba di pikiran, akhirnya rasa kantuk itu datang. Sebelum tidur, aku atur alarm di hape agar berbunyi pukul tiga nanti. Aku ingin menonton bola, dan kalau sedang ingat, solat tahajud. Aku pun tertidur.
Aku terbangun oleh jam alarm, atau aku kira begitu. Karena kenyataannya aku dibangunkan oleh ibuku pada pukul 2 pagi. Dengan tiba-tiba, membawa perasaan cemas, sedih, galau, dengan tergesa, ibu membawa kabar duka, bahwa bang Ijal, teman dan tetangga ku depan rumah, baru saja meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi roji’un.
Aku pun keluar kamar dengan tergesa, lalu membuka pintu rumah. Aku datang ke tetangga depan rumahku itu, yang juga rumah keluarga bapak ketua RT kampung kami. Disana sudah banyak tetangga yang datang. Terdengar juga isak tangis dari keluarga dan sanak saudara. Aku masuk ke kamar bang Ijal, tempat kerumunan orang itu. Disana, aku saksikan, bahwa bang Ijal, teman dan tetangga ku depan rumah, telah terbujur kaku. Meninggal dalam keadaan damai. Melepaskan rasa sakit dan kesabaran yang telah diujikan kepadanya oleh Tuhan sedemikian lama.
Tidak banyak yang bisa aku pikirkan saat itu. Dengan komando seorang tetua kampung, kami mengangkat jasad almarhum ke ruang keluarga, agar lebih mudah diurus katanya. Aku ikut mengangkat jasad teman ku itu.
Bang Ijal sudah sekitar setahun ini sakit. Sakit yang sebenarnya diawali kejadian yang begitu sepele mungkin. Kalau aku tidak salah, saat itu bang Ijal terserempet motor atau jatuh main futsal. Aku lupa. Yang jelas, saat itu kakinya keseleo. Kami pun membawa dia untuk mendapatkan pengobatan. Kalu tidak salah saat itu bang Ijal dibawa berobat ke Bogor. Tidak tahu aku berobat seperti apa. Karena tidak betah berobat inap, setelah beberapa minggu, bang Ijal perawatan di rumah. Aku dengar saat itu kondisinya sudah membaik. Aku lihat pada hari-hari iru, bang ijal sudah mulai belatih berjalan menggunakan tongkat setiap pagi.
Sampai 3-4 bulah setelah kejadian, aku dengar kondisinya jadi memburuk. Kaki kanan nya tidak bisa digerakkan, dan mengalami pembengkakkan. Langsung saja saat itu bang Ijal menjalani perawatan ( atau perawatan-perawatan lain ). Karena setahuku, sudah banyak perawatan dan pengobatan yang dilakukan pihak keluarga. Mulai pada saat-saat itu, praktis bang Ijal tidak pernah beranjak dari tempat tidur. Keluarga dan para tetangga pun merawatnya dari tempat tidur itu.
Kondisi bang Ijal berangsur-angsur malah makin parah. Setelah kaki kanan, kakai kirinya pun akhirnya mengalami pembengkakkan. Aku dengar dari bapak saat kaki kananya mulai membengkak, datang vonis dari dokter bahwa kaki bang Ijal harus di amputasi. Di potong. Tapi saat itu bang Ijal dan keluarga tidak setuju. Vonis amputasi pun ditolak. Pihak keluarga memutuskan mengambil berbagai pengobatan alternatif. Mulai dari kiai sampai tabib tradisional.
Pembengkakkan itu pada akhirnya menjalar sampai bagian perut dan dada. Sering kali saat malam hari, aku dengar rintihan kesakitan bang Ijal. Asma-asma Allah senantiasa di ucapkannya untuk melawan rasa sakit itu. Semenjak bulan-bulan itu, pengajian al-qur’an rutin dilakukan di rumahnya. Pernah aku dengar bang Ijal sudah pasrah dengan kondisinya saat itu, dan sedang menunggu Allah menjemputnya saja. Subhanallah.
Sejak saat itu, selain pengajian, hari-hari bang Ijal dihabiskan dengan berzikir, solat, membaca qur’an. Walau dengan kesakitannya, bang Ijal ini tetap orang humoris dengan orang-orang di sekitarnya. Saat aku menjenguknya, aku lihat bang Ijal tetap tegar walau diberikan cobaan seperti ini. Walau mungkin hari-harinya di dunia ini tidak akan begitu lama lagi.
Bang Ijal ini orang baik, setidaknya begitu kami orang kampung ini mengenalnya. Walu masih muda usianya, 24 tahun, namun dia bisa dibilang tokoh kampung kami. Kami akrab dengan suaranya saat azan dan iqamah solat. Lantunan ayat al-qur’an nya saat mengaji, dan bantuan-bantuan nya saat acara-acara kampung kami.
Kalau ada orang yang menikah, bang Ijal akan membantu mendirikan panggung dan pelaminannya. Saat ada orang yang hajatan sunatan dan menanggap orkes, bang Ijal tidak akan sungkan untuk berjoget bersama-sama. Bang Ijal akan mengangkat karpet, menggelar tikar, menyiapkan konsumsi, menjemput ustad pengajian, melakukan siskamling, berantem dengan maling, mengambilkan layangan yang nyangkut, ikut membantu memotongkan hewan kurban, membagikan hewan kurban, jadi penjaga TPS, ikut main kelereng, nyanyi sama-sama pedagang tempe, memasang bendera saat 17-an, ikut lomba balap karung, panjat pinang, jadi panitia pemilihan ketua RT, ikut ngobrolin Negara di teras rumahnya, dan masih banyak lagi. Begitu banyak.
Di pernikahan ketiga kakak tertua ku pun, bang Ijal datang memberikan bantuannya. Bahkan saat pernikahan kakak kedua ku, mbak Gunarti, bang Ijal sampai datang ke Pekalongan karena ingin membantu. Pernah ada momen yang begitu aku ingat saat bang Ijal menawarkan membeli petasan ala Betawi waktu bapak ibu ku pulang dari tanah suci.
“ Sir, gimana, boleh ga? Kita beli petasannya sekarang, nanti waktu bapak-ibu lo pulang biar rame kan. Pake petasan begitu. Pasti seru “ kata bang Ijal saat itu dengan semangat.
“ Tapi, bang, gue kan orang Jawa, kata kakak gue ga usah, bukan tradisi kita” kata ku saat itu lemas. Aku sakit tifus ajaib selama sebulan orang tua ku ke tanah suci. Benar-benar ajaib, karena begitu aku dengar lewat telpon bapak-ibu ku akan pulang dari tana suci, besoknya aku langsung sembuh. Padahal segala pengobatan tidak mampu menyembuhkan aku selama sebulan itu. Aku sayang dan rindu bapak ibu ku rupanya.
“ ah, justru itu, bukan tradisi lo. Tapi tradisi kampung ini, tradisi betawi, saban orang pulang haji ya pake petasan! ” kata bang Ijal lagi.
Aku lalu menurut saja. Akhirnya, seingat ku, kepulangan bapak ibu ku dari tanah suci ke rumah, diiringi ledakan petasan besar-besar. Untung bapak-ibu ku tidak punya penyakit jantung. Sehat wal afiat mereka berdua.
Begitu momen-momen yang aku ingat tentang mendiang. Saat itu aku ada didepan jasad ringkihnya. Jasad yang tergerogoti penyakit menahun. Jasad yang telah diuji oleh Allah SWT. Begitu disayang oleh-Nya. Jasad yang mengiringi keseharian kami di kampung ini. Jasad yang akan mengisi memori kai di hari-hari kedepan. Ah, aku menyesal tidak menjenguknya lebih sering.
Setelah mengangkat jenazahnya itu, aku pulang kerumah untuk solat subuh. Selepas solat aku berpikir, telah jadi apa aku di dunia ini. Sudahkah aku mampu, walau dengan segala kesederhanaan seperti bang Ijal, bermanfaat untuk masyarakat ku. Aku selama ini merasa tidak punya andil apa-apa untuk masyarakat ku. Lebih sering aku sibuk diluar. Tidak banyak lagi aku punya teman sebaya di kampung ku sekarang. Saat aku pulang dari kuliah, di akhir minggu, aku cuma di rumah, tidak pernah aku berusaha merangkul masyarakat ku. Sedih aku saat ini…
Aku juga berfikir, apakah saat aku mati nanti, akan ada orang yang datang ke hari pemakaman ku? Atau kah aku selama ini telah menyia-nyiakan kehidupan ku sehingga orang pun melihatnya begitu? Apakah telah aku tinggal kan sesuatu yang bermanfaat untuk dunia sehingga berkenan mengenang ku… Ya Allah… betapa kecilnya aku ini…
Belum lagi jika aku teringat tentang orang tua ku. Apakah bisa aku membahagiakan mereka sebelum wafat nanti? Bisa kah aku beri mereka senyum saat mereka dengar aku berhasil? Bisakah aku mengurusi jenazah mereka, memandikannya, menyolatkannya, mengajikannya, mengantarnya ke kubur? Ya Allah… jadikan lah aku, bantu lah aku, menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk dunia ini… Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis setelah solat subuh.
Setelah dimandikan, siang ini jenawah bang Ijal akan dimakamkan di pemakaman keluarga. Aku ikut datang saat almarhum di solatkan setelah solat zuhur berjamaah. Saat itu, suatu momen yang jarang ada di kampung kami terjadi. Jamaah salat zuhur memenuhi aula utama masjid. Ya Allah, betapa irinya aku pada orang ini. Bang, kalau ruh abang masih ada di sekitar kami saat itu bersama malaikat, apakah kau lihat juga hal ini? Sungguh, telah diciptakan satu orang baik di dunia ini oleh-Nya dalam dirimu bang. Aku iri kepadamu. Tapi bukan kah rasa iri dan berlomba-lomba dalam kebaikan itu dianjurkan?
Aku ikut mengangkat keranda jasad mu sampai ke masjid, lalu ke pekuburan. Aku ikut angkat jasad mu untuk masuk kedalam kubur, untuk berbaring selamanya. Fahrizal bin Muhammad Siddik, batu nisan mu telah ditancapkan. Kau telah pulang. Aku tidak tahu kapan akan menyusul seperti itu.
Kawan-kawan ku, saat nanti aku juga pulang, mau kan kalian datang ke hari pemakaman ku? Aku akan tunggu kalian datang.
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar… Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya… Dan kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar… (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “ Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali)
Terjemahan surat Al-Baqarah ayat 153-156.








0 comments:
Post a Comment