Monday, August 13, 2012

Hari-Hari Terakhir Kerajaan Duragonia. bagian 2.

Kejadian tersebut malah menjadi momentum munculnya Gerakan Perlawanan secara nasional di seantero wilayah kerajaan.  Pemberontakan itu terjadi di hampir seluruh provinsi, bahkan di ibukota kerajaan, Astium.  Perlawanan rakyat yang selalu dihadang tentara bersenjata ini membuat rakyat kemudian mempersenjatai diri.  Milisi-milisi di bentuk di berbagai wilayah perlawanan.  Senjata didapatkan dari pasar gelap atau negeri-negeri yang memang mengambil keuntungan dari konflik ini.  Gerakan Perlawanan pun berubah menjadi perang saudara. Aksi unjuk rasa berubah jadi medan pertempuran. 

Dalam setiap pertempuran yang terjadi, tentu saja terjadi korban jiwa dari kedua belah pihak.  Ketika korban jiwa mencapai angka ratusan ribu jiwa, berbagai kerajaan dan negeri di Bumi Gaia pun mulai bereaksi.  Ada pihak yang Kontra terhadap kerajaan karena responnya yang kejam dalam mengatasi gerakan rakyat ini.  Ada juga yang Pro yang beranggapan bahwa gerakan rakyat ini pasti ditunggangi oleh pihak asing yang ingin mengambil keuntungan dari konflik di Kerajaan Duragonia.  Yang jelas adalah, sebenarnya kedua belah pihak memilki berbagai kepentingan di dalam Kerajaan Duragonia. Itu adalah atas sumber daya alam utama negeri itu, minyak.

Konflik akan menyebabkan harga minyak dari Kerajaan Duragonia melambung tinggi.  Padahal Kerajaan Duragonia adalah pemasok utama minyak di Bumi Gaia.  Minyak adalah energi utama yang digunakan manusia di Bumi Gaia.  Kalau konflik berakhir dengan kemenangan pihak kerajaan, maka yang Pro akan mendapat keuntungan karena kontrak ladang minyaknya dipastikan aman.  Di sisi lain, kalau kemenangan di dapatkan pihak perlawanan, maka yang Kontra akan mendapatkan kesempatan untuk memajukan proposal pengelolaan minyak kepada pemerintahan baru yang terbentuk.  Itulah kenapa muncul dugaan bahwa pemasok senjata pada Gerakan Perlawanan adalah dari pihak yang Kontra.

Pihak yang Pro maupun Kontra toh tidak melakukan sesuatu yang berarti untuk mengubah keadaan.  Berbagai konferensi, sidang majelis tinggi, seminar para akademisi hanyalah omong kosong untuk sekedar menunjukkan keprihatinan.  Pengiriman pengawas perdamaian maupun tim pemantau Hak Asasi Manusia (HAM) sepertinya dilakukan atas dasar mempertinggi pamor negeri atau kerajaan masing-masing saja.  Korban jiwa tetap saja berjatuhan.
  
Raja Binsar tahu bahwa pihak-pihak ini tidak akan dapat berbuat apapun terhadap dirinya.  Hal ini membuat raja makin brutal untuk memberantas pemberontakan.  Raja Binsar terlalu berat untuk beranjak dari kursi tahtanya karena menjadi raja Kerajaan Duragonia memberinya begitu banyak kekayaan dan kemahsyuran.  Raja telah gelap mata karena tahta.
Apa yang perang beri
Sekarang, setelah setahun lebih pemberontakan berlangsung, Raja Binsar harus melakukan sesuatu.  Pemberontakan telah memakan tidak hanya korban jiwa yang besar namun juga dana yang tidak sedikit.  Belum lagi segala kerusakan yang terjadi.  Disaat pemberontakan tidak pernah surut, para loyalis kerajaan sudah nyaris putus asa dan merasa semakin berdosa.  Biar bagaimanapun, yang mereka perangi, yang mereka bunuhi, adalah juga rakyat mereka. Saudara-saudara mereka.

Beberapa minggu lalu, Dewan Agung Militer sudah menyetujui dekrit berisi diambilnya tindakan apapun oleh raja untuk menghentikan pemberontakan.  Tindakan apapun itu terbebas dari konstitusi yang berlaku maupun perjanjian internasional yang disepakati. Dengan kata lain, sekarang masa depan Kerajaan Duragonia ada di tangan Raja Binsar seorang. 

Bah, Jenderal-jenderal sialan. Cuci tangan sekarang kalian ? umpat raja dalam hati sehabis menandatangani dekrit.

Rakyat merespon berlakunya dekrit dengan melakukan serangan bersenjata di berbagai wilayah secara serentak. Kerajaan Duragonia semakin luluh lantak.  Kobaran api terjadi di berbagai wilayah. 
... … …

Notabene nya, Raja Binsar memang sekarang memerintah sendirian, karena Perdana Menteri Sarif sudah membelot jauh hari sebelumnya.  Karena itulah, tanpa dekrit pun segala keputusan pemerintahan ada di tangan raja seorang.

Segera setelah dekrit keluar, sisa-sisa tentara kerajaan dikerahkan menggempur wilayah-wilayah basis pemberontakan.  Didukung peralatan perang yang lebih maju,mereka bergerak dengan tujuan satu, membabat habis pemberontakan.

Entah berapa peluru, bom, roket yang ditembakkan.  Gedung-gedung luluh lantak.  Rumah-rumah rata dengan tanah.  Korban jiwa sudah tidak jelas apakah dari pihak Gerakan Perlawanan atau rakyat sipil biasa.  Bahkan pihak pemantau dari negeri luar dan para wartawan peliput perang turur menjadi korban.

Pada titik ini, atas dasar nilai-nilai kemanusiaan, Bumi Gaia akhirnya merespon dengan satu suara. Tidak ada lagi pihak Pro dan Kontra.  Tidak mungkin menjadi pendukung dari sebuah aksi pemusnahan missal manusia. Mereka kemudian memutuskan dengan suara bulat pembantaian di Kerajaan Duragonia harus dihentikan.  Raja Binsar harus dienyahkan.

Pasukan Gabungan antar negeri pun dibentuk. Jumlah dan persenjataannya tidak terkira.  Negeri-negeri tetangga Kerajaan Duragonia pun dengan mudah memberi akses masuk ke wilayah mereka.  Segera saja, Pasukan Gabungan membanjiri wilayah Kerajaan Duragonia untuk menyerang balik tentara kerajaan dan menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan dari kerajaan ini…

Satu persatu kota direbut kembali. Basis-basis militer kerajaan dihancurkan.  Tentara kerajaan lambat laun dipukul mundur, hingga tersudut di ibukota kerajaan.
… … … … …

Pada akhirnya, didukung oleh Pasukan Gabungan, Gerakan Perlawanan pun akhirnya berhasil menembus pertahanan istana.  Tujuan mereka adalah ruang tahta Raja Binsar.  Para penjaga istana yang melawan dibunuh, yang menyerah menjadi tawanan.  Memang lebih banyak tentara yang menyerah akhir-akhir ini. Tampaknya mereka tahu kemana angin kemenangan berhembus. Kerajaan Duragonia telah memasuki masa-masa kejatuhannya.

Gerakan Perlawanan terus merangsek masuk ke Istana, lantai demi lantai dikuasai. Teriakan-teriakan kemenangan di pekikkan, lagu-lagu kebebasan dinyanyikan.  Di dalam ruang tahta, Raja Binsar gemetar ketakutan.

Bahkan seorang tiran pun punya rasa takut.

Pintu ruang tahta digedor. Para pemburu tahu Raja Binsar sedang berada didalamnya.  Sang raja tiran tidak punya pilihan, dia tahu tidak ada pengadilan, tidak akan ada pengampunan dari para pemberontak ini.  Mereka akan senang hati menggantung nya dan menyeret jenazahnya keliling kerajaan.

Saat itulah, di detik-detik akhir kehidupannya, Raja Binsar membuat keputusan penting.  Daripada mati hina ditonton seluruh negeri Raja Binsar memilih akhir ceritannya sendiri, dia melompat dari balkon, dan mati dengan tubuh hancur di taman berpuluh meter dibawahnya.  Membawa hari-hari akhir Kerajaan Duragonia pergi bersamanya.
… … …

Hari itu, Kerajaan Duragonia resmi dibubarkan.  Republik Duragonia terbentuk sebulan kemudian dipimpin jenderal Arbad dan Sarif sebagai presiden dan perdana menteri pertama.  Namun, sumber daya alam negeri ini tetap saja dimiliki oleh negeri-negeri lain.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

1 comments:

Unknown said...

selamat berlebaran.. :)

Post a Comment