BAGIAN 1
Pada suatu pagi, Raja Binsar sedang
duduk termenung di kursi malas kesayangannya.
Menatap indah taman istana berpuluh meter dari balkon ruang tahta. Kopi dan nasi goreng yang menjadi sarapannya
sama sekali tidak tersentuh. Raja Binsar
tampak sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
Sudah lebih dari setahun
pemberontakkan di Kerajaan Duragonia berlangsung. Rakyat Kerajaan Duragonia
dari berbagai propinsi terus melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Raja
Binsar. Entah sudah berapa medan perang
digelar di berbagai wilayah yang bergolak.
Sudah ribuan tentara dikerahkan dan jutaan peluru ditembakkan, dan entah
sudah berapa banyak nyawa melayang, rakyat maupun tentara, namun pemberontakkan
tidak juga surut. Raja menyebutnya
pemberontakkan, untuk rakyat ini adalah Gerakan Perlawanan.
Ratusan orang pemimpin
pemberontakkan sudah dipenjarakan sebagai tahanan politik. Hampir semua penjara di Kerajaan Duragonia
sekarang dipenuhi oleh para pemberontak, bukan lagi penjahat kriminal
biasa. Namun, entah mengapa untuk setiap
satu orang yang dipenjarakan, selalu muncul dua orang pemimpin pemberontakkan
yang baru.
Raja Binsar menangani pemberontakkan
ini dengan cara yang bisa dibilang kelewat kejam. Tidak ada pemisahan antara sipil maupun
milisi, selama mereka mendukung Gerakan Perlawanan terhadap raja, maka akan
diberantas. Kalaupun seseorang itu
netral, dia bisa saja ikut menjadi korban dalam suatu serangan yang
dilakukan. Tidak ada bedanya entah dia
anak-anak, dewasa, orang tua, wanita maupun lansia, rakyat yang melawan akan
diberantas. Tidak ada waktu tertentu
dalam pemberantasan pemberontakan ini, bahkan serangan oleh tentara kerajaan
juga dilakukan pada saat rakyat melakukan ibadah atau saat sedang tidur
terlelap.
Akibat kekejaman itu pulalah
kemudian beberapa pembesar Kerajaan Duragonia yang masih memiliki nurani
membelot dari Raja Binsar. Yang paling
terkini, pemimpin besar angkatan udara Kerajaan Duragonia, Arbad, bersama
dengan sebagian tentara angkatan udara yang setia padanya, melakukan
pembelotan.
Hal
ini terjadi ketika perintah Raja Binsar untuk melakukan pengeboman ke suatu
wilayah pemberontak ditugaskan kepada angkatan udara kerajaan. Arbad mengetahui bahwa wilayah yang menjadi
target pengeboman hanyalah sebuah wilayah miskin yang dihuni oleh kaum pekerja
dan pensiunan. Tidak pernah ada bukti
bahwa di wilayah itu ada kaum pemberontak.
Arbad pun menyampaikan ini kepada Raja Binsar. Namun, Raja Binsar tidak berkenan sedikitpun
untuk mendengarkan penjelasan Arbad.
Keputusan raja tidak bisa diubah.
Maka
terjadilah, pada suatu malam, satu skuadron kecil pesawat tempur yang dipimpin
langsung oleh Arbad menuju wilayah target.
Namun, bukannya melakukan pengeboman di wilayah yang dimaksud, Arbad
bersama skuadronnya malah menuju arah negeri tetangga, Libera. Diketahuilah kemudian bahwa Arbad sudah
merencanakan pembelotan ketika Raja Binsar memutuskan untuk melakukan
pengeboman. Arbad lewat jaringan yang
dimilikinya menghubungi Republik Libera untuk menyusun siasat pembelotan.
Republik
Libera adalah salah satu kerajaan di Bumi Gaia ini yang mengecam keras
kebrutalan Raja Binsar memimpin Kerajaan Duragonia. Konon malah, Kerajaan Libera ikut memasok
senjata dan logistik untuk Gerakan Perlawanan.
Sikap kerajaan-kerajaan di Bumi Gaia
berbeda-beda dalam menyikapi apa yang terjadi di Kerajaan Duragonia. Yang menentang, seperti Kerajaan Libera,
menuntut Raja Binsar segera turun tahta dan menyelenggarakan pemilihan pemimpin
baru secara demokratis, dan menghapuskan sistem kerajaan. Raja Binsar mewarisi tahta dari ayahnya, Raja
Akinsa.
Sama
seperti Raja Binsar, Raja Akinsa juga memimpin Kerajaan Duragonia dalam waktu
yang sangat lama. Hampir setengah abad Raja Akinsa bertahta. Raja Akinsa juga memimpin dengan tangan
besi. Pada masanya, Raja Akinsa berhasil
menjadikan Kerajaan Duragonia menjadi negeri yang kaya makmur dan aman
sentosa. Rakyat memang tercukupi kebutuhan
hidupnya, namun tidak pernah ada kebebasan berpendapat apalagi demokrasi. Segala hal berjalan sesuai pendapat Raja
Akinsa.
Rakyat
pada masa itu tidak berani melawan karena hukuman untuk rakyat yang melakukan
itu sangat lah berat. Sebagai contoh,
pernah ada seseorang yang menulis di surat kabar tentang dugaan Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dikalangan keluarga kerajaan dalam penguasaan
bidang bidang bisnis tertentu. Tidak
berapa lama kemudian, sang penulis dan satu-persatu keluarganya diberitakan
tewas secara tidak wajar karena kecelakaan tragis, kebakaran, hingga gantung
diri.
![]() |
| Semua Salah Kapitalisme ? |
Yang
tidak banyak diketahui khalayak adalah segala kemakmuran Kerajaan Duragonia
saat itu berasal dari berbagai mekanisme
hutang berbagai pihak dari luar negeri.
Entah berapa macam lembaga yang berkedok lembaga donor, lembaga
kebudayaan, hingga negeri sahabat menawarkan berbagai macam skema “ kerjasama “
. Sesungguhnya yang terjadi adalah lembaga-lembaga maupun negeri-negeri
tersebut kemudian mencengkeram Kerajaan Duragonia dari berbagai aspek. Ekonomi, sosial, politik, keamanan, budaya,
pendidikan, hingga olahraga diatur oleh mereka.
Sebagian
besar sumber daya alam Kerajaan Duragonia sudah dikelola (baca: dimiliki) oleh
pihak asing. Tidak terhitung berapa
perusahaan asing yang menguasai hajat-hajat hidup orang banyak tersebut. Kerajaan Duragonia hanya mendapatkan sebagian
kecil sekali dari kekayaan alamnya ini.
Sebagian kecil yang memang cukup untuk membiayai kehidupan dalam taraf “
makmur “ . Padahal, jika saja semua orang mengetahui, sungguh betapa besar
keuntungan berlipat-lipat yang didapatkan berbagai pihak asing ini dari “
menguasai” Kerajaan Duragonia.
Setelah
mangkat, Raja Akinsa segera digantikan oleh anaknya, Raja Binsar. Tidak banyak kondisi yang berubah saat itu,
hanya saja, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, jauh lebih mudah
untuk setiap orang mendapatkan akses berbagai informasi. Lewat berbagai situs di internet, rakyat
belajar dan mengetahui lebih banyak hal.
Berbagai –isme –isme kemudian sampai ke pemikiran rakyat. Sekarang rakyat mengetahui bahwa ada sistem
pemerintahan selain kerajaan. Mereka
mengetahui bahwa ada negeri di laut seberang barat bernama Amadea penganut
–isme liberalisme yang dapat menjadi negeri yang maju luar biasa. Ada juga negeri di Benua Besar, Xian, penganut
sosialisme yang menjadi negeri makmur.
Dari
internet pula rakyat Kerajaan Duragonia mengetahui sejarah bangsanya dari
berbagai sumber yang berbeda, tidak dari pihak kerajaan. Diketahui lah apa yang terjadi di masa-masa
Kerajaan Duragonia dulu, tentang berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia,
tentang perilaku korup anggota kerajaan, tentang besaran hutang yang ditanggung
rakyat, dan tentang penguasaan sumber daya alam kerajaan yang hanya dinikmati
segelintir orang.
Lambat laun, terjadi akumulasi
kekecewaan, amarah, dan frustasi pada diri rakyat Kerajaan Duragonia. Mulanya di
berbagai kampus, diawali oleh orasi-orasi mahasiswa, mulai ada unjuk rasa
daalam skala kecil memprotes pihak kerajaan.
Skalanya yang kecil membuat unjuk rasa seperti in dapat dengan mudah di
bubarkan paksa tentara kerajaan. Namun, respon kerajaan membuat lebih banyak
rakyat yang sadar bahwa sesuatu telah terjadi di kerajaan ini. Sebelumnya memang tidak pernah sekali pun
para mahasiswa turun ke jalan seperti ini.
Kabar
pun menyebar, di pasar-pasar, di kampung-kampung, di masjid,di gereja, di kuil
sesembahan, di kantor-kantor, bahkan di kalangan kerajaan. Mengetahui hal ini, Raja Binsar mengeluarkan
dekrit raja yang berisi pengaturan arus informasi di Kerajaan Duragonia yang
lebih ketat dan selektif. Berbagai situs
di tutup. Aktivitas-aktivitas warga yang
sedang berkumpul di bubarkan karena khawatir menyebar isu tentang kerajaan. Belum lagi, penggunaan televisi swasta dan
pemerintah secara paksa untuk menyiarkan berbagai klarifikasi tentang isu yang
beredar disisipkan dengan kebohongan keberhasilan dan kebaikan Raja Binsar.
Namun,
sepertinya apa yang dilakukan raja sudah terlambat, ekskalasi massa malah membesar. Terlebih setelah gerakan-gerakan perlawanan
rakyat di negeri-negeri tetangga telah berhasil menggulingkan penguasa
lalim. Makin menggeloralah Gerakan
Perlawanan di Kerajaan Duragonia. Unjuk rasa yang berlangsung makin diikuti
lebih banyak orang. Tidak hanya
mahasiswa yang sekarang turun ke jalan, ada pedagang, ada para buruh, ada para
penganggur, para professional, petani, nelayan, semua kalangan ada dalam massa
protes. Hanya anggota kerajaan dan tentara yang setia pada mereka yang tidak
turut serta. Tuntutan gerakan ini
adalah: turun tahtanya Raja Binsar dan bubarnya sistem kerajaan.
Merespon
hal ini, Raja Binsar menurunkan lebih banyak tentara, didukung berbagai
peralatan berat; panser, tank, bulldozer… dalam suatu aksi unjuk rasa, saat
massa menjadi sedemikian tidak terkendali, terjadilah bentrokan antara tentara
dan rakyat. Korban jiwa pun tak
terelakkan. Tentara menggunakan peluru
tajam, tank dan bulldozer meratakan bangunan-bangunan… dan berbagai altileri
ditembakkan, dari darat dan udara.
... ... ... Bersambung










0 comments:
Post a Comment