Saturday, August 11, 2012

Hari-Hari Terakhir Kerajaan Duragonia

BAGIAN 1

            Pada suatu pagi, Raja Binsar sedang duduk termenung di kursi malas kesayangannya.  Menatap indah taman istana berpuluh meter dari balkon ruang tahta.  Kopi dan nasi goreng yang menjadi sarapannya sama sekali tidak tersentuh.  Raja Binsar tampak sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit.
            Sudah lebih dari setahun pemberontakkan di Kerajaan Duragonia berlangsung. Rakyat Kerajaan Duragonia dari berbagai propinsi terus melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Raja Binsar.  Entah sudah berapa medan perang digelar di berbagai wilayah yang bergolak.  Sudah ribuan tentara dikerahkan dan jutaan peluru ditembakkan, dan entah sudah berapa banyak nyawa melayang, rakyat maupun tentara, namun pemberontakkan tidak juga surut.  Raja menyebutnya pemberontakkan, untuk rakyat ini adalah Gerakan Perlawanan.
            Ratusan orang pemimpin pemberontakkan sudah dipenjarakan sebagai tahanan politik.  Hampir semua penjara di Kerajaan Duragonia sekarang dipenuhi oleh para pemberontak, bukan lagi penjahat kriminal biasa.  Namun, entah mengapa untuk setiap satu orang yang dipenjarakan, selalu muncul dua orang pemimpin pemberontakkan yang baru.
            Raja Binsar menangani pemberontakkan ini dengan cara yang bisa dibilang kelewat kejam.  Tidak ada pemisahan antara sipil maupun milisi, selama mereka mendukung Gerakan Perlawanan terhadap raja, maka akan diberantas.  Kalaupun seseorang itu netral, dia bisa saja ikut menjadi korban dalam suatu serangan yang dilakukan.  Tidak ada bedanya entah dia anak-anak, dewasa, orang tua, wanita maupun lansia, rakyat yang melawan akan diberantas.  Tidak ada waktu tertentu dalam pemberantasan pemberontakan ini, bahkan serangan oleh tentara kerajaan juga dilakukan pada saat rakyat melakukan ibadah atau saat sedang tidur terlelap.    
            Akibat kekejaman itu pulalah kemudian beberapa pembesar Kerajaan Duragonia yang masih memiliki nurani membelot dari Raja Binsar.  Yang paling terkini, pemimpin besar angkatan udara Kerajaan Duragonia, Arbad, bersama dengan sebagian tentara angkatan udara yang setia padanya, melakukan pembelotan. 
Hal ini terjadi ketika perintah Raja Binsar untuk melakukan pengeboman ke suatu wilayah pemberontak ditugaskan kepada angkatan udara kerajaan.  Arbad mengetahui bahwa wilayah yang menjadi target pengeboman hanyalah sebuah wilayah miskin yang dihuni oleh kaum pekerja dan pensiunan.  Tidak pernah ada bukti bahwa di wilayah itu ada kaum pemberontak.  Arbad pun menyampaikan ini kepada Raja Binsar.  Namun, Raja Binsar tidak berkenan sedikitpun untuk mendengarkan penjelasan Arbad.  Keputusan raja tidak bisa diubah.
Maka terjadilah, pada suatu malam, satu skuadron kecil pesawat tempur yang dipimpin langsung oleh Arbad menuju wilayah target.  Namun, bukannya melakukan pengeboman di wilayah yang dimaksud, Arbad bersama skuadronnya malah menuju arah negeri tetangga, Libera.  Diketahuilah kemudian bahwa Arbad sudah merencanakan pembelotan ketika Raja Binsar memutuskan untuk melakukan pengeboman.  Arbad lewat jaringan yang dimilikinya menghubungi Republik Libera untuk menyusun siasat pembelotan. 
Republik Libera adalah salah satu kerajaan di Bumi Gaia ini yang mengecam keras kebrutalan Raja Binsar memimpin Kerajaan Duragonia.  Konon malah, Kerajaan Libera ikut memasok senjata dan logistik untuk Gerakan Perlawanan.
            Sikap kerajaan-kerajaan di Bumi Gaia berbeda-beda dalam menyikapi apa yang terjadi di Kerajaan Duragonia.  Yang menentang, seperti Kerajaan Libera, menuntut Raja Binsar segera turun tahta dan menyelenggarakan pemilihan pemimpin baru secara demokratis, dan menghapuskan sistem kerajaan.  Raja Binsar mewarisi tahta dari ayahnya, Raja Akinsa.
Sama seperti Raja Binsar, Raja Akinsa juga memimpin Kerajaan Duragonia dalam waktu yang sangat lama. Hampir setengah abad Raja Akinsa bertahta.  Raja Akinsa juga memimpin dengan tangan besi.  Pada masanya, Raja Akinsa berhasil menjadikan Kerajaan Duragonia menjadi negeri yang kaya makmur dan aman sentosa.  Rakyat memang tercukupi kebutuhan hidupnya, namun tidak pernah ada kebebasan berpendapat apalagi demokrasi.  Segala hal berjalan sesuai pendapat Raja Akinsa. 
Rakyat pada masa itu tidak berani melawan karena hukuman untuk rakyat yang melakukan itu sangat lah berat.  Sebagai contoh, pernah ada seseorang yang menulis di surat kabar tentang dugaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dikalangan keluarga kerajaan dalam penguasaan bidang bidang bisnis tertentu.  Tidak berapa lama kemudian, sang penulis dan satu-persatu keluarganya diberitakan tewas secara tidak wajar karena kecelakaan tragis, kebakaran, hingga gantung diri.
Semua Salah Kapitalisme ?
            Yang tidak banyak diketahui khalayak adalah segala kemakmuran Kerajaan Duragonia saat itu berasal dari  berbagai mekanisme hutang berbagai pihak dari luar negeri.  Entah berapa macam lembaga yang berkedok lembaga donor, lembaga kebudayaan, hingga negeri sahabat menawarkan berbagai macam skema “ kerjasama “ . Sesungguhnya yang terjadi adalah lembaga-lembaga maupun negeri-negeri tersebut kemudian mencengkeram Kerajaan Duragonia dari berbagai aspek.  Ekonomi, sosial, politik, keamanan, budaya, pendidikan, hingga olahraga diatur oleh mereka.
Sebagian besar sumber daya alam Kerajaan Duragonia sudah dikelola (baca: dimiliki) oleh pihak asing.  Tidak terhitung berapa perusahaan asing yang menguasai hajat-hajat hidup orang banyak tersebut.  Kerajaan Duragonia hanya mendapatkan sebagian kecil sekali dari kekayaan alamnya ini.  Sebagian kecil yang memang cukup untuk membiayai kehidupan dalam taraf “ makmur “ . Padahal, jika saja semua orang mengetahui, sungguh betapa besar keuntungan berlipat-lipat yang didapatkan berbagai pihak asing ini dari “ menguasai” Kerajaan Duragonia.
Setelah mangkat, Raja Akinsa segera digantikan oleh anaknya, Raja Binsar.  Tidak banyak kondisi yang berubah saat itu, hanya saja, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, jauh lebih mudah untuk setiap orang mendapatkan akses berbagai informasi.  Lewat berbagai situs di internet, rakyat belajar dan mengetahui lebih banyak hal.  Berbagai –isme –isme kemudian sampai ke pemikiran rakyat.  Sekarang rakyat mengetahui bahwa ada sistem pemerintahan selain kerajaan.  Mereka mengetahui bahwa ada negeri di laut seberang barat bernama Amadea penganut –isme liberalisme yang dapat menjadi negeri yang maju luar biasa.  Ada juga negeri di Benua Besar, Xian, penganut sosialisme yang menjadi negeri makmur.
Dari internet pula rakyat Kerajaan Duragonia mengetahui sejarah bangsanya dari berbagai sumber yang berbeda, tidak dari pihak kerajaan.  Diketahui lah apa yang terjadi di masa-masa Kerajaan Duragonia dulu, tentang berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia, tentang perilaku korup anggota kerajaan, tentang besaran hutang yang ditanggung rakyat, dan tentang penguasaan sumber daya alam kerajaan yang hanya dinikmati segelintir orang.
            Lambat laun, terjadi akumulasi kekecewaan, amarah, dan frustasi pada diri rakyat Kerajaan Duragonia. Mulanya di berbagai kampus, diawali oleh orasi-orasi mahasiswa, mulai ada unjuk rasa daalam skala kecil memprotes pihak kerajaan.  Skalanya yang kecil membuat unjuk rasa seperti in dapat dengan mudah di bubarkan paksa tentara kerajaan. Namun, respon kerajaan membuat lebih banyak rakyat yang sadar bahwa sesuatu telah terjadi di kerajaan ini.  Sebelumnya memang tidak pernah sekali pun para mahasiswa turun ke jalan seperti ini.
Kabar pun menyebar, di pasar-pasar, di kampung-kampung, di masjid,di gereja, di kuil sesembahan, di kantor-kantor, bahkan di kalangan kerajaan.  Mengetahui hal ini, Raja Binsar mengeluarkan dekrit raja yang berisi pengaturan arus informasi di Kerajaan Duragonia yang lebih ketat dan selektif.  Berbagai situs di tutup.  Aktivitas-aktivitas warga yang sedang berkumpul di bubarkan karena khawatir menyebar isu tentang kerajaan.  Belum lagi, penggunaan televisi swasta dan pemerintah secara paksa untuk menyiarkan berbagai klarifikasi tentang isu yang beredar disisipkan dengan kebohongan keberhasilan dan kebaikan Raja Binsar.
Namun, sepertinya apa yang dilakukan raja sudah terlambat, ekskalasi massa malah membesar.  Terlebih setelah gerakan-gerakan perlawanan rakyat di negeri-negeri tetangga telah berhasil menggulingkan penguasa lalim.  Makin menggeloralah Gerakan Perlawanan di Kerajaan Duragonia. Unjuk rasa yang berlangsung makin diikuti lebih banyak orang.  Tidak hanya mahasiswa yang sekarang turun ke jalan, ada pedagang, ada para buruh, ada para penganggur, para professional, petani, nelayan, semua kalangan ada dalam massa protes. Hanya anggota kerajaan dan tentara yang setia pada mereka yang tidak turut serta.  Tuntutan gerakan ini adalah: turun tahtanya Raja Binsar dan bubarnya sistem kerajaan.
  Merespon hal ini, Raja Binsar menurunkan lebih banyak tentara, didukung berbagai peralatan berat; panser, tank, bulldozer… dalam suatu aksi unjuk rasa, saat massa menjadi sedemikian tidak terkendali, terjadilah bentrokan antara tentara dan rakyat.  Korban jiwa pun tak terelakkan.  Tentara menggunakan peluru tajam, tank dan bulldozer meratakan bangunan-bangunan… dan berbagai altileri ditembakkan, dari darat dan udara. 
 ... ... ... Bersambung
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment