Monday, January 21, 2013

Pengamen, Warteg, dan Sedekah


Malam itu sepulang saya mengajar bimbel saya makan malam di warteg langganan.  Selama lebih kurang 4 tahun saya menjalani kehidupan sebagai seorang anak kos, warteg ini adalah salah satu bagian dari hari-hari saya.

Saya suka makan di warteg ini karena selain masakannya yang (lumayan) enak, pelayanannya yang ramah.. dan boleh ngutang.  Satu faktor yang sangat menjadi pertimbangan bagi anak kos dimanapun.  Selain itu, saya cukup mengenal dekat orang-orang yang ada di warteg ini. Pelayannya, tukang masaknya, dan tentu saja teman-teman saya mahasiswa yang juga sering makan di warteg ini.  Warteg ini adalah refleksi sosial, budaya, dan ekonomi seorang anak kos dan masyarakatnya.

Malam itu saya memesan menu yang umum; nasi, telur, sayur, dan es teh manis. Menu senilai Rp. 8.000. Nasinya setengah, sesuai kebiasaan saya belakangan ini yang mengurangi konsumsi karbohidrat.  Sekaligus sebagai upaya pengurangan konsumsi beras nasional. Sedikit-banyak, saya ingin berperan juga dalam program ketahanan pangan pemerintah Indonesia. Hehe.

Tidak lama, saat saya sedang menikmati makanan saya, datang dua orang pengamen. Saya taksir, mereka seumuran anak SMP kebanyakan. Penampilannya lumayan, yah.. maksud saya, walaupun tidak sangat baik, setidaknya meerka rapi dan tidak tampak beringasan walau mengenakan berbagai macam atribut khas anak jalanan. Yah, namanya tempat makan pinggir jalan, hiburan kami yang makan jelas bukan band akustik bervokalis gadis cantik. Hiburan kami adalah pengamen jalanan yang mencari rezeki dengan bermain musik dan bernyanyi di tempat-tempat makan yang disinggahi.

Setelah bersopan santun dan mengucapkan salam pembuka, mereka berdua pun mulai bernyanyi. Suatu lagu  Melayu-an saya rasa. Saya tidak tahu apa judulnya dan siapa penyanyi aslinya, tapi saya sering mendengar lagu ini dinyanyikan.  Lagu-lagu seperti ini yang kalau dikalangan teman saya masuk kategori lagu alay dan sangat mas-mas.

Selepas satu lagu, mereka pun mengakhiri dengan salam dan ucapan maaf serta terimakasih. Sejujurnya sudah jarang saya melihat pengamen yang menyanyikan satu lagu sampai habis, biasanya mereka bernyanyi beberapa bait, lantas mengedarkan bungkus permen atau gelas air mineral bekas untuk pendengar yang tergerak untuk memberikan uang. Hampir semua yang makan di warteg malam itu memberikan uang kedalam gelas air mineral bekas yang diedarkan.  Lima ratus, seribu, atau dua ribu, bervariasi jumlah uang yang diberikan. Selepas menerima uang dari para pelanggan warteg, kedua orang pengamen tersebut mengucapkan kata syukur dan mendoakan para pemberi derma. Hal yang selanjutnya dilakukan kedua orang pengamen tersebut membuat saya sungguh tersentuh...

Mereka membagi dua uang yang diterima barusan.  Saya pikir mereka membagi dua uang ini untuk mereka berdua, namun ternyata saya salah.  Satu bagian hasil tersebut, kemudian dimasukkan semua kedalam kotak amal yang ada di dalam warteg tersebut... Kedua orang pengamen itu pun berterimakasih sekali lagi kepada kami semua yang ada di warteg, lalu pamit undur diri, mengamen lagi di tempat-tempat makan yang lain.

Sungguh, saat itu saya tersentuh, mungkin semua yang ada di dalam warteg saat itu juga tersentuh.  Saya tidak menyangka, bahwa diantara keterbatasan mereka mencari rezeki dengan mengamen, mereka masih sempat-sempatnya menyisihkan rezekinya untuk beramal, bersedekah untuk sesama.  Bersedekah untuk pemberdayaan fakir miskin dan anak terlantar, seperti yang tertera pada kotak amal tempat mereka menyisihkan uang mereka.

Ya Allah, sudahkah saya seperti itu ? sudahkah kami menjadi umat yang seperti itu ? Jangan kan saat berkekurangan, saat berkecukupan pun belum tentu kami ingat lagi peduli bersedekah, apalagi menyisihkan separuh rezeki kami dijalan mu ?

Malam itu, di warteg itu, saya belajar lebih banyak lagi; tentang kehidupan, tentang keikhlasan beramal, dan semangat bekerja keras untuk mengubah nasib.  Saya dan banyak teman mahasiswa dan anak kos lain sungguh masih beruntung. Masih bisa menjalani hidup dengan cukup, walau terkadang harus beririt ria, namun kami tidak akan pernah merasakan kekurangan yang begitu menjerat seperti halnya fakir miskin dan para anak-anak terlantar ini, para pengamen jalanan ini..

Selesai makan dan beranjak pulang saya masih sempat melihat mereka berdua, menyusuri sepanjang jalan Palakali malam ini. Singgah dari satu tempat ke tempat lain, menjemput janji Allah tentang rezeki dengan doa, ikhtiar, dan sedekah.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment