( tulisan dilombakan pada )
![]() |
| Kisah Seru Keluarga Nissin Wafers |
Kalau
diingat-ingat ternyata Nissin Wafer sudah menjadi bagian dari kehidupan saya
dan keluarga. Saya adalah seorang mahasiswa tingkat akhir. Saya juga merupakan
anak ke 5 dari 6 bersaudara.
Nissin Wafer adalah kudapan favorit saya
dikala mengerjakan tugas kuliah atau skripsi.
Seringkali saya harus bergadang hingga dini
hari. Nissin Wafer dan segelas kopi mocca
membantu saya untuk terjaga melewati malam. Ah, iya, mencelupkan Nissin Wafer
ke kopi mocca adalah cara favorit saya menikmati Nissin Wafer. Resapan rasa kopi mocca ke
renyah Nissin Wafer rasa coklat yang lalu menjadi aga basah membuat berlembar
tugas maupun halaman skripsi makin lebih menyenangkan untuk dikerjakan.
Nissin Wafer menjadi teman terbaik saya
saat menghabiskan waktu dengan membaca buku.
Ah, ya, banyak waktu luang saya dihabiskan membaca
buku, mulai buku-buku kuliah hingga novel-novel. Saya tidak mendeskripsikan diri sebagai
seorang kutu buku, tapi saya suka sekali membaca buku. Duduk di kursi favorit
di kamar, dengan Nissin Wafer dan seglas kopi di samping kanan. Kombinasi buku bagus dan Nissin Wafer akan
membuat waktu saya kedepan berjalan tanpa terasa.
Nissin
Wafer adalah penghilang rasa bosa saat menunggu.
Ah, ya, menunggu itu tidak enak. Banyak sekali orang
tidak juga mengerti bahwa konstanta waktu bukan hanya miliknya seorang.
Menikmati Nissin Wafer sambil membuat catatan-catatan di buku kecil, atau
membaca buku, membuat kegundahan menunggu sejenak dilupakan. Yang ditunggu biasanya
baru akan datang setengah jam kedepan.
Nissin Wafer adalah pemeriah yang
sempurna saat bersama teman-teman menonton tayangan sepakbola.
Goool ! . Timnas Indonesia mencetak gol lagi ke
gawang Malaysia. Irfan Bachdim pencetaknya. Waktu itu pertandingan di babak
grup piala AFC yang disiarkan di salah satu televisi swasta. Saya dan
teman-teman adalah suporter sejati timnas Indonesia. Tidak jarang kami menonton langsung timnas di
Gelora Bung Karno. Namun, kami juga sering menonton bersama di rumah seorang teman-teman,
ditemani kacang kulit, soda dan Nissin Wafer berbungkus-bungkus. Sungguh sayang
kebersamaan kami tidak bisa membantu timnas memenangkan Piala AFC yang sudah
begitu didambakan. Timnas kalah dari negeri jiran yang membalas di partai
puncak.
Nissin Wafer adalah bagian keluarga kami
saat menghabiskan waktu liburan bersama.
Karena merupakan kejadian langka, berlibur bersama
keluarga adalah saat yang ditunggu-tunggu.
Biasanya kami berlibur bersama ke kebun binatang kota, beberapa kali
juga ke pantai. Tidak rumit liburan
kami, hanya pergi ke tempat itu, sambil membawa karpet dan bekal makanan. Setelah makan bersama, kami akan bertukar
cerita, diselingi canda dan suara renyah Nissin Wafer yang dikunyah. “
Bagaimana kuliah mu ? Apakah kamu sudah nyaman dengan pekerjaan mu ? Rumah mu
sudah selesai direnovasi ? Anak mu jadi kan dikhitan bulan ini ? “ adalah
pertanyaan-pertanyaan yang kemudian saling dilontarkan sesama kami. Ah,
waktu-waktu yang sangat berkualitas.
Nissin
Wafer adalah sajian yang begitu disukai para tamu saat berkunjung. Kami biasa menyediakan Nissin Wafer di meja
ruang tamu sebagai kudapan untuk yang berkunjung apalagi saat hari raya. Kami
memindahkan isi dari bungkus Nissin Wafer kedalam toples. Di temani secangkir teh manis hangat, diselingi
tanya kabar dan gurauan, perjamuan tamu menjadi lebih akrab dan berkesan dengan
Nissin Wafer.
Nissin
Wafer kesukaan saya dan keluarga adalah yang rasa coklat.
Nissin Wafer favorit saya dan keluarga adaah yang
rasa cokelat, walau belakangan, para keponakan juga menyukai yang rasa
stroberi, saling berebutan walau sebebarnya ada cukup untuk semua, khas anak
kecil. Sekarang sudah ada lebih banyak varian rasa dari Nissin Wafer; coffee
mocca, milk, peanut, raisin, melon, coconut, banana, dan lemon. Ah, seperti nya
kami juga harus mencobanya.
Tanpa
Nissin Wafer, mungkin momen-momen itu tidak berjalan dengan semestinya. Tugas
aka dikerjakan dengan penuh kepenatan, menonton siaran bola akan jadi tidak
seru, kumpul keluarga pun mungkin menjadi pertemuan penuh canggung. Ah, sudah sepatutnya saya mengucapkan
terimakasih.. Nissin Wafer, terimakasih, terimakasih telah hadir dan mengi
sela-sela hidup kami selama ini.









0 comments:
Post a Comment