Sekarang kak Sigit bekerja sebagai
manager pemasaran suatu hotel di daerah Bogor. Sudah hampir setahun kak Sigit
bekerja disana. Yah suatu pekerjaan yang
tidak berhubungan dengan pendidikannya di Biologi UI. Namun, penghasilannya
lumayan, dan sepertinya kak Sigit betah bekerja disana.
Aku pikir tidak adil, ketika kita menggembar-gemborkan kebebasan dan toleransi beragama serta pluralitas, hal-hal seperti jenggot dan celana cingkrang menjadi masalah. Terlebih kemudian menjadi Stereotype dari terorisme. Para teroris tidak adil karena melakukan gerakannya dengan mengatasnamakan dan menggunakan atribut-atribut agama, masyarakat pun tidak adil dengan melabel-labelkan orang tertentu.
Ilmu agama Islam ku mungkin tidak seluas kak Sigit, tapi aku tahu bahwa jenggot, cambang, bersiwak, bercelana cingkrang, dan lain-lain adalah juga sunnah Rasulullah SAW. Sunnah nabi tidak hanya tentang poligami, beristri banyak!. Untuk orang-orang yang ingin meneladani nabinya, menjalankan sunnah-sunnah nya, melakukan hal ini tentu tidak salah. Memang masyarakat pun punya anggapan bahwa orang-orang yang menjalankan sunnah-sunnah tersebut terkesan tidak rapi atau tidak elok, tapi sekali lagi itu adalah Stereotype. Menurut ku, Stereotype itu terbangun tidak hanya atas dasar oknum-oknum terorisme, tapi juga peran serta media yang begitu sering menyiarkan tayangan yang negatif tentang dunia Islam.
Seperti halnya perbedaan dalam jumlah rakaat Tarawih, kita pun juga harus menerima perbedaan orang-orang dalam menjalankan hal tertentu agamanya. Selama itu tidak mengingkari syariat. Biar bagaimanapun, kita ini bersaudara dalam Islam, dalam keimanan kepada Allah SWT. Dengan begitu, hal-hal seperti saling curiga dan konflik sosial yang mungkin terjadi bisa kita hindari. Inilah pluralisme itu!
…
… …
Kembali
ke masjid Fatahillah, bergabung bersama jamaah, aku dan kak Sigit melakukan lalu
salat Isya. Masjid Fatahillah terdiri
dari dua lantai. Jamaah pria ada di bawah, di aula utama masjid. Jamaah wanita
dan anak-anak berada di lantai dua.
Imam membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan begitu lembut dan syahdu. Belum pernah sebelumnya aku mendengar seseorang membaca Al-Qur’an sebagus dan sefasih ini. Dalam beberapa ayat yang dibacakan, aku mendengar imam menangis sesugukan menahan haru. Entah apa arti surat yang dibacakan itu, tapi mendengar imam sesugukan, aku pun ikut menahan haru. Sungguh, apabila seseorang sudah sedemikian mencintai agamanya, kitab sucinya, hatinya akan menjadi sedemikian lembut, sedemikan merindu Allah dan Rasul nya.
Selepas salat Isya, seorang khatib kemudian maju kemimbar untuk menyampaikan khutbahnya. Sebenarnya bukan mimbar seperti umum kita lihat di masjid-masjid, “mimbar” di masjid Fatahillah ini adalah sebuah kursi dan meja kantor yang diletakkan di depan para jaamah, disebelah imam. Entah mengapa, aku jadi merasa sedih dengan kondisi jamaah disini. Masjid Fatahillah memang sesungguhnya bukan masjid…
Khatib menyampaikan materi yang berkaitan dengan pendidikan anak. Khatib menyampaikan bahwa betapa saat ini orang tua bisa sedemikian kehilangan kendali atas anaknya. Bagaimana pada zaman sekarang seorang anak dapat mengatur apa yang harus dijalani orang tuanya. Bagaimana seorang anak bisa sedemikian tidak hormat kepada orang tuanya. Bagaimana kemudian dengan alasan memberikan kasih sayang, sang orang tua malah memanjakan anak sedemikian rupa hingga anak menjadi terlena. Dan, khatib menyampaikan bahwa kondisi seperti ini, ketika orang tua bisa menjadi “ pelayan “ untuk anaknya, adalah salah satu tanda akhir zaman.... Baru kali ini aku mendengar khutbah yang sedemikian keras dan terus terang.
Sehabis khutbah, akan dilaksanakan salat Tarawih dan Witir berjamaah 11 rakaat. Para jamaah pun merapikan shaf salatnya.
Sekali lagi, aku dengar bacaan Al-Qur’an imam yang sedemikian merdu itu. Ayat-demi ayat dalam setiap rakaat. Bagus sekali. Entah berapa ayat yang disampaikan setiap satu rakaat salat, namun salat dua rakaat Tarawih berlangsung selama 15 menit.
Masuk ke dua rakaat selanjutnya, beberapa jamaah, terutama yang sudah lanjut usia melanjutkan salat sambil duduk. Berdiri sedemikian lama pasti menguji ketahanan fisik bapak-bapak ini. Memang setiap selesai dua rakaat, ada jeda istirahat yang cukup lama. Aku pribadi juga pada akhirnya merasa sedikit capek. Aku memang belum pernah menjalani dua rakaat Tarawih selama ini.
Di rakaat-rakaat selanjutnya, fisik dan keimanan ku sungguh diuji. Beberapa kali aku terpikir untuk melanjutkan salat sambil duduk saja, tapi kalau melihat seorang jamaah di sebelah ku, seorang bapak tua yang masih sanggup salat sambil berdiri, aku menjadi tidak enak. Tidak enak bercampur kagum. Di usia senja nya, bapak tua ini menjalani ibadah Tarawih yang cukup berat seperti ini. Aku yakin, bapak tua ini selalu datang ke masjid ini setiap malam untuk menjalankan Tarawih yang begitu berat. Ah, tapi mungkin hanya aku saja yang merasa berat, tidak dengan bapak tua itu. Masa aku kalah sih ?
Maka aku pun melanjutkan salat. Tiap rakaatnya adalah sebuah perjuangan dan ujian kesabaran. Kaki ku sampai gemetaran. Aku mampu bertahan hingga rakaat terakhir salat Witir yang doa Qunut nya saja selama 5 menit. Di akhir salat telapak kaki dan urat-urat kaki ku ini rasanya tak karuan.
Selesai salat, rasanya lega sekali. Sungguh nikmat. Aku sungguh kagum pada jamaah yang menjalani ini setiap malam Ramadhan. Aku saja yang masih muda akhirnya kecapekan. Sedangkan mereka tampaknya begitu terbiasa dengan salat Tarawih seperti ini ini.
Selepas memanjatkan doa-doa, aku beranjak keluar masjid untuk pulang. Saat bertemu kak Sigit di parkiran motor, dia malah cengar-cengir. Kak Sigit pasti senang bisa memberi aku pengalaman tak terlupakan.
Pulang ke kosan, kami membeli susu kedelai dan jus buah dalam perjalanan. Enak sekali waktu meminumnya. Kak Sigit sempat menawari ku untuk salat lagi esok hari. Aku bilang aku akan salat tarawih lagi disini, tapi bukan besok. Kak Sigit hanya tersenyum.
… … … …
Malam itu aku belajar banyak tidak hanya tentang agama Islam, agama yang aku anut selama ini, tapi juga tentang saling menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan itu kalau disikapi dengan sikap bijjak dan arif, malah akan menjadi penguat dan pemersatu kita sebagai bangsa Indonesia dan umat Islam. Namun, perbedaan bisa jadi sumbu-sumbu perpecahan dan pertikaian, ketika dijadikan alasan untuk saling serang atau merasa paling benar sendiri.
Malam itu aku belajar banyak tidak hanya tentang agama Islam, agama yang aku anut selama ini, tapi juga tentang saling menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan itu kalau disikapi dengan sikap bijjak dan arif, malah akan menjadi penguat dan pemersatu kita sebagai bangsa Indonesia dan umat Islam. Namun, perbedaan bisa jadi sumbu-sumbu perpecahan dan pertikaian, ketika dijadikan alasan untuk saling serang atau merasa paling benar sendiri.
Kak Sigit, kakak kelas ku di Biologi, telah mengajari ku cara saling mengenal dan menghargai. Tidak dengan paksaan atau saling menyalahkan, namun dengan merangkul dan saling pengertian.
Tahun ini, aku belajar
satu hikmah lagi dari bulan Ramadhan.










1 comments:
www.asibayi.com
www.aqiqahjakarta.com
Post a Comment