Saturday, June 4, 2011

MARIA (3)


( sambil bikin laporan KP, malam minggu tidak bisa tidur, maka bikin cerita )
SABTU 4 JUNI 2011
MARIA
(3)

“ Kenapa ? kok kamu murung begitu ... ?” tanya ku padanya saat sesi istirahat job menyanyinya hari ini.
“ Ga papa, Bas. Aku lagi capek aja nih…” jawabnya malas.
“ Oh begitu… ini aku beliin kamu jus stroberi, diminum dulu yang … “ kata ku sekaligus menyodorkan gelas jus.
“ Iya, sayang . Terima kasih ya… kamu sudah minum ?” katanya sambil memasukkan sebatang sedotan kedalam gelas.
“ Iya aku sudah tadi di depan, ini buat kamu”.

Jadwal menyanyi dia di hari Sabtu adalah di sebuah Gelanggang Olah Raga di Bekasi Timur. Di dalam GOR ini terdapat kolam renang, fasilitas fitness, lapangan tenis, lapangan futsal, basket, bulu tangkis, pool biliar, hingga studio musik. Selain itu terdapat juga restoran dan kafe. Pada kafe ini lah dia bernyanyi bersama band pengiring. Dia penyanyi utama, diselingi dengan beberapa penyanyi lain. Aliran musiknya macam-macam, dari jazz yang merupakan spesialisasi nya hingga dangdut, musik yang paling dia hindari.

Susah Baaas… cengkok nya itu lho… aku gabisa teknik nyanyi cengkok. Katanya merajuk suatu kali waktu ada tantangan menyanyi sewaktu pernikagan kakak ku yang ketiga.
Iya ya? Tapi ini keluarga ku pengen banget denger kamu nyanyi dangdut. Hehe. gimana dong ?
Aaah, aku ga bisa, aku malu… bilangin ke bapak ibu mu dong yaa.

Akhirnya dia memang tidak menyanyi dangdut, tapi menyanyi suatu tembang kenangan yang tetap saja, membius para hadirin. Ibu ku yang menyanyi dangdut, tidak bagus sih, tapi seru sekali. Para hadirin hadirat sampai terpingkal-pingkal. Akhirnya dia bantu ibu ku dengan mengiringi beberapa bait. Mempelai di pelaminan tidak bisa menyembunyikan senyum senang. Momen pernikahan kakak ku itu adalah salah satu momen yang begitu aku ingat tentangnya.

Diakhir acara, dalam bis perjalanan pulang mengantarnya pulang ke rumah.
Kamu luar biasa tadi. Selalu yang aku kagumi. Kata ku tiba-tiba, membangunkan dia yang sedang tertidur di pundakku.
Apa sih… dasar bodoh. Kau masih saja menganggap ku begitu ?itu hanya lah satu hal biasa yang aku bisa lakukan untuk mu dan keluargamu… untuk kalian, aku hanyalah orang biasa, tolong bantu aku dengan menerima ku begitu ya… ? katanya sebal.
I just cant find a way… how it could be ?diantara banyak orang, kau memilih untuk datang pada ku. aku beruntung sekali bertemu dirimu.
Huff… bodo’ ah, sudah dua tahun Bas. Kau masih saja seperti itu. Dia tidak peduli, lalu dia tidur lagi di pundakku. Sampai tol Bekasi Timur.

“ Kamu mau makan apa ? “ tanya ku ketika kami sampai ke salah satu stand makanan di aula makan GOR.
“ Mmm, apa ya… ga usah deh Bas. Aku masih kenyang nih… “ katanya enggan.
“ Lho kok gitu ? kamu kan belum makan apa-apa daritadi ?”
“ Sudah kok, kan dapet snack kalo sebelum nyanyi”
“ Ah kamu ini, makan lah sama aku ya… “ kata ku aga kesal.
“ Tidak sayang … aku temani kamu makan saja ga papa kan ? “ katanya lembut. Itu satu kata sayang pertama dalam dua minggu ini. Ya sudah, aku menyerah. Saat ini, kamu tidak makan, kamu hanya mau menemani ku makan.
Kami lebih banyak makan dalam diam. Hanya sesekali kami benar-benar bisa untuk bicara sesuatu. Saat itu GOR sedang begitu ramai, banyak keluarga yang sedang bersama-sama berenang. Sepasang om dan tante sedang berlatih tenis di lapangan kecil disebelah tempat kami makan ini. Sekumpulan anak SMA sedang bermain basket. Pemain band juga sedang makan di salah satu stand.

Ada sesuatu yang tidak ada dalam dirinya hari ini. Apakah yang terjadi pada mu ? Apakah kau masih marah kejadian dua minggu lalu itu ?. Hari ini aku sudah datang untuk mu. Tidak bisa sajakah kita menghabiskan waktu mahal ini bersama ? Aku rindu, kamu juga rindu kan ?
“ mama papa sedang di rumah kan ya ? “ tanya ku padanya
“ iya, mereka sedang di rumah, nanti kamu juga kerumah kan ?” jawab nya.
“ tentu saja, sehabis kamu nyanyi nanti ya? Kita belikan apa buat mapa yang ? “ mapa adalah singkatan sayang kami untuk kedua orang tua nya. Singkatan dari mama papa.
“ nanti deh kita ke minimarket ya … ”
“ Bas … cepet makannya … sebentar lagi aku harus nyanyi lagi, kita belum solat.” Katanya lagi.
“ iya iya…”
“ Oh iya, mau ngelakuin satu hal buat ku ? “ pinta ku.
“ hah ? apa ? “ katanya terperanjat.
“ tiga suap saja, kamu mau ya makan ? aku suapin kamu.“
“ … … dasar jahat “ katanya. Biarin jahat.

Tiga suapan lagi sayang, tiga suapan. Hahaha. Kata ku menggoda.
Aaaah. Aku udah kenyang. Dasar jahaaat. Orang lagi ga mau makan! Riangnya sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Geleng-geleng kepala, rambut panjang ikalnya berombak kanan kiri.
Acara kita kan makan bareng, masa iya kamu ga makan. Kata guru ngaji, kalo makan ga diabisin, nanti nasi nya nangis lho.
Memang nya aku anak kecil didongengin begitu? Hihihi. Tapi sedikit sedikit yaah…
Iya, iya, mana mulutnya mana mulutnya ? kata ku dengan membawakan suapan sendok kearah mulutnya
Hihihi. Dasar gila! Aaaa ‘ dia membuka mulut lebar-lebar. Lucu sekali. Mapa geleng-geleng melihat kelakuan kami berdua.
Itu momen saat kami merayakan hari jadi kami yang kedua tahun. Saat itu kami di rumah mapa sedang masak bersama. Seru sekali. Yang kami makan adalah masakan mama. Kalau dia tidak pintar masak, rasa masakannya parah. Biasanya tidak ada yang mau makan masakannya. Kecuali dia merengek membujuk-bujuk aku. Tapi dia tidak tersinggung. Memang seharusnya semua orang tidak memiliki semua bakat kan ? Setelah itu papa minta aku iringi dengan gitar , papa bernyanyi lagu lawas, yang begitu fals, yang lalu kita protes rame-rame. Lalu, karena prihatin dengan suara papanya yang tidak kunjung membaik, dia pun meneruskan nyanyian papanya itu. Jauh lebih merdu. Mama papa tersenyum haru. Ternyata itu lagu kenangan mereka pacaran sewaktu di SMA 8.

Hari ini dia begitu berbeda. Kalaupun para penontonnya hari ini tetap terhibur seperti biasa, dia sendiri tampak tidak terhibur. Seperti ada awan mendung yang menggelayut diatas kepalanya. Dalam suaranya, tidak aku rasakan semangat dari keinginan menghibur. Dalam alunan reffrain nya tidak aku temukan passion, hasrat dari sebuah jalan hidup yang dipilih dengan kesungguhan hati. Hei... Ada apa dengan mu duhai hati yang sering merindu ?
" Kamu hari ini beda banget yang “ kata ku membuka pembicaraan. Saat itu sudah sekitar jam 8 malam, kami sedang di teras rumah mapa. Di meja terhidang semangkuk es krim yang kami beli di minimarket tadi. Tapi cuma aku yang tampaknya berminat dengan es krim malam ini. Sedari tadi dia hanya diam, tersenyum saat ditegur, lalu sibuk sendiri.
“ Beda gimana ? “ jawabnya setengah minat.
“ Kamu lebih banyak diam dan murung, saat menyanyi juga terasa bedanya. Aku yakin temen-temen band mu tadi juga ngerasain “ tanya ku dengan nada yang lebih tegas.
“ Aku ga papa Bas. Kan aku sudah bilang tadi. Aku cuma sedang tidak enak badan “
“ Aku tahu kamu. Kita sudah tiga tahun. Kamu berbohong “ aku mulai tidak dapat mengendalikan diri.
“ Bohong gimana ? “ nampaknya dia sudah mulai terpancing.
“ Seharian ini kamu cuma sibuk dengan pikiran mu sendiri. ”
“ Memangnya apa yang salah kalau memang begitu ? “
“ Aku sedang ada disini yang. Disebelah mu. “ situasi mulai memanas. Sekarang dia mulai menatap dalam-dalam mata ku.
“ Ada apa ini ? aku juga ada di sebelah mu sepanjang hari ini bukan ? “
“ Iya, tapi tidak dengan jiwa mu. Kamu pergi meninggalkan aku seharian ini ” kataku sekarang dengan suara yang meninggi.
“ Jangan berlebihan “
“ Tidak. Sama sekali. Bicaralah pada ku. Apa yang sedang kau pikirkan ? ”
“ Tidak terlalu penting buat mu, Bas “ kata nya acuh.
“ Maksud mu ? sejak kapan hal tentang mu tidak jadi penting buat ku ? “ kata ku menantang argumen nya.
“Sejak sekian lama, Bas “

Aku kemudian hanya bisa diam. Kami diam. Aku lihat wajahnya lekat-lekat. Matanya dalam-dalam. Dia balas menatap ku. Mata itu. Mata tentang sesuatu. Tentang apa ini semua ? mungkin kah ?
“ Kalau kamu sudah tidak mau es krim nya, nanti lumer. Aku masukkan ke kulkas saja ya ? kamu ingin minum sesuatu ? “ katanya tiba-tiba.
“ … … “ aku hanya bisa diam. Benar benar diam. Lalu dia masuk ke rumah. Setelah tiga tahun ini, sekarang kah saatnya itu ?

“ Bas … “ katanya lirih setelah kembali dari dalam rumah.
“ Iya ? … “ kata ku. Sekarang emosi sudah terkendali.
“ Kamu benar, maafin aku. Memang ada yang mengganggu pikiran ku hari ini. Bahkan hari-hari yang lalu, sudah sekian lama. Aku rasa aku akan bilang saja sekarang pada mu. “
“ … … “
“ … … “
Hanya diam. Diam yang jadi begitu lama.

“ Sudah begitu lama, sudah begitu banyak yang dilalui, sudah begitu banyak hal yang diberi dan diterima. Sudah terlalu banyak yang hilang. Datang dan pergi tanpa permisi. Aku, kamu, kita berdua telah jalani ini bersama, suka duka, sedih senang, murung gembira. Kadang kala aku marah dengan mu, kaupun boleh begitu. Kadang satu dua-orang ketiga datang, kita bisa tidak peduli. Didalam segala kekurangan, kita bisa saling mengajak tersenyum. Saat kau tidak lengkap, aku lengkapi dirimu. Saat ku merasa kurang, kau lebih kan diri ku. Saat aku bingung, kau jadikan dirimu tempat ku berpegang. Saat kau mulai hilang dalam gelap, aku akan cari kamu, membawakan lentera menyala-nyala. Tapi, Bas, cahayanya sekarang meredup, hanya lilin, hanya sebuah lilin kecil yang masih coba bertahan. Ditengah tiup angin kesepian, dan hela nafas kerinduan. Mecoba padamkan api lirihnya, yang sedang mendamba rindu dari mu, tersayang “
“ Aku adalah melodi hari-hari mu, Bas. Kau pun sudah jadi irama pengiring malam-malam ku. Dulu kita begitu. Kau adalah senyum untuk bibir ku, air untuk kangen ku, usapan lembut untuk peluh keringat dari hati yang lelah. Kau adalah kakak, kekasih, teman, pengiring musik, dan adik kecil yang menyebalkan. Dulu kita begitu. Tapi seperti seorang kakak, kau pun terus tumbuh. Seperti seorang teman, kau pun bisa datang dan pergi. Seperti seorang kekasih, kau selalu bisa menghibur ku dan buat aku tertawa. Dan seperti semua orang itu, ada saat nya kamu akan berubah Bas “
“ Kamu bertumbuh, Bas. Kamu terus berbuat banyak hal. Kamu telah menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang begitu berbeda. Kamu berubah, makin baik. Dan aku begitu senang akan hal itu. Tapi aku tidak siap… tidak siap dengan semua perubahan ini. Di tengah masa-masa sulit ini. Aku masih ingin kau yang dulu, yang begitu senang menggoda ku setiap siang di kantin sekolah. Yang senang sekali memainkan rambut ku di depan teman-teman. Yang menyembunyikan sepatu ku di kantor kepala sekolah. Yang mengajak ku membolos upacara untuk menonton festival musik. Yang mengajarkan aku PR biologi. Yang terdidur di konser musik jazz karena bosan. Yang aku marahi karena datang ke sekolah memakai celana sobek-sobek. Yang mengajak ku solat sebelum pulang. Yang mengantar aku ke jalan depan menunggu bis. Yang menjemput ku di terminal membawakan botol minum berisi sirup manis buatan mu sendiri. Yang rasanya selalu saja terlalu manis, tapi aku selalu saja suka. Yang mengajak ku mengenal dunia buku-buku. Yang cara makan nya berantakan. Yang menyuapiku tiga sendok setiap kali kita makan bersama. Yang mengiringi ku di band. Yang mengomentari suara ku ini itu. Yang selalu bersedia berkelahi untuk melindungi ku. Yang ada saja hadiahnya saat ulang tahun, atau hari jadi kita. Yang selalu saja lupa membawa korek api untuk menyalakan lilin. Yang mainkan aku lagu Youre Beautiful, agar aku selalu ingat kejadian saat kau begitu nekat menembak ku di lapangan sekolah siang itu. Saat itu kamu berkata, Aku sayang kamu, cantik. Bas, aku rindu kamu sayang … aku rindu … “
Saat itu, demi segala hal yang pernah aku lalui bersama, aku tidak akan kuat melihat nya menangis. Tapi terlambat. Air-air mata itu sudah begitu sesak ingin keluar. Perasaan ku hancur saat melihat itu terjadi.
“ kau sekarang adalah Basir yang baru. Mahasiswa Universitas Indonesia. Tempat harapan-harapan perjuangan dibalut dengan semangat muda. Kau belajar banyak hal baru, lingkungan baru, teman baru, keseharian baru. Kau pergi jelajahi alam. Mendaki tinggi gunung, menyelami dalam laut biru. Pikiran mu pun terbagi ke banyak hal itu, sesuai prioritas mu. Masih. Masih ada ku. Aku tidak tahu seberapa porsiku. Aku juga tidak akan mau minta banyak. Aku merasa tidak berhak. Aku hanya akan membatasi mu. Menghambat mu berkembang. Aku ingin kau jadi pribadi yang terbaik. Seperti aku mengenalmu sedari dulu. Aku pilih mengalah saja, walau sakit. Begitu perih hati ini. Tapi aku terima. Aku pun menyendiri dengan rasa rindu ku. Yang aku kunci rapat-rapat. Haus akan hadirmu seperti dulu aku tipu dengan lebih banyak bernyanyi, walau kosong hatiku. Aku minta kan kepada Tuhan, cabut saja rindu ini. Tapi tidak bisa. Aku juga kan manusia, sama seperti mu. Lalu waktu mu terus berkurang, hadirmu tidak lagi seperti dulu rasanya, lalu lama-lama aku hilang. Tidak lagi aku mengharapkan banyak hal seperti itu, karena sakit saja akhirnya. Lalu aku hampa. Seperti hari ini. Kalau tidak lagi aku berani mengharap mu, aku mulai menyimpulkan, dengan pikiran ku yang masih bisa bertahan, kalau kita … “
Bulir-bulir air matanya mengalir deras. Dan dia tidak berkenan sedikit pun aku menyekanya. Dia tidak pula rela menghapusnya. Demi melihat dia melakukan ini, aku baru saja merasa mati.
“ Sheilla… sayang… apapun yang kamu ingin katakan, itu adalah hal yang salah sayang… ini aku sekarang di depan mu, ini masih aku yang sama seperti dulu. Aku yang menyuapi kamu makan. Aku yang menggoda mu. Yang senang melihat mu tersenyum manis. Semester ini akan berakhir sebentar lagi… aku akan ada seperti dulu lagi… aku akan menemani kamu di masa-masa sulit ini… aku akan bantu kamu untuk masuk UI, biar kita bisa bareng lagi … jangan katakan itu… aku bodoh Sheilla… aku bodoh… tapi ini aku sekarang sudah di depan mu… “ aku berusaha keras membujuknya, jangan sampai dia mengucapkan hal itu.
“ Bukan itu hal-hal yang aku mau… bukan… Bas, apapun yang mau aku bilang ini, setelah itu kamu pulang ya… sekarang sudah malam. Nanti kamu kesulitan dapet bis pulang “ katanya. Lalu dia menarikku paksa ke arah luar, di depan gerbang rumah.

Di tempat itu, dia menghambur memelukku. Lalu menangis. Lagi.
“ Dasar bodoh … kamu mau bilang apa sih … jangan … ini aku sudah datang. Kondisinya pasti membaik… “
“ Biar bagaimanapun, banyak hal yang gak akan bisa kamu mengerti Bas… banyak hal sudah begitu terlambat… aku sudah begitu kesepian… tidak lagi aku bisa menerima ini semua… “
“ Kau tidak akan kesepian lagi setelah ini… “
“ Tapi dengan begitu ? aku akan membatasi hidup mu… sudah saatnya kau besar Bas… aku sadar selama ini aku lah yang terus menerus jadi batu sandungan mu…”
“ Siapa yang bilang itu ? justru kamu lah salah satu alasan ku untuk jadi makin baik terus yang … “
“ Kamu ga mau ngeliat aku begini setiap hari kan Bas… “
“ Kenapa kamu ga dengerin aku sih, yang ? “
“ Bas, pergi Bas pergi. Temukan orang lain di kampus mu. Orang lain yang membuat mu terus tumbuh “
“ Hei, kamu dengerin aku! Bukan itu! Bukan! “
“ Pergi lah Bas, dan jangan kembali pada ku lagi…”
“ Hei … aku mohon … jangan bodoh begitu … “
“ Kita tetap bisa jadi teman Bas … “
“Justru kita akan jadi pasangan yang lebih baik setelah ini. “
“ Itu hal yang percuma sekarang. Pulang BAS ! PULANG ! AKU TIDAK BISA MENERIMA INI LAGI ! PERGI ! KAU YANG TIDAK PERNAH MENDENGARKAN AKU SELAMA INI ! AKU MAU KITA PUTUS ! TIDAK BISA KAH KAU TERIMA KENYATAAN ITU SAJA ? “
“ … … “ sakit. Sakit sekali rasanya. Tapi aku tahu ini bahkan tidak sepersepuluh dari apa yang dia rasakan selama ini dan simpan dalam-dalam.
“ Aku sayang kamu … aku akan selalu begitu … tapi tidak bisa lagi aku nerima semua ini … Kita berdua sedang ada dalam masa-masa sulit Bas… dan kita tidak bisa melaluinya dengan bersama seperti ini … kita hanya, telah begitu jauh, dan berbeda satu sama lain … “
“ Aku juga sayang sama kamu … Maafin aku ya …“
“ Tidak ada kata maaf. Oke ?... terima lah saja kenyataan kita ini. Sungguh, tiga tahun bersama mu ini akan begitu sulit aku lupain. Bahkan setelah lama bertahun-tahun ke depan. “ tangis nya berhenti. Rasa sakit tentu telah membuat nya menjadi batu pualam. Keras. Teguh. Berkilau.
“ Rasanya aku juga akan begitu… “
“ Kamu janji satu hal pada ku “
“ Apa ? “
“ Untuk ku, segera lah cari pacar lagi. Aku tidak mau kamu hancur. Aku mau ada seseorang langsung mengisi hati mu yang baik itu “
“ … … “ kamu bodoh sekali … menurut mu akan semudah itu ? aku baru saja hancur, sama seperti mu. Haruskah sakit ini untuk orang lain juga setelah ini ?
“ Bas ? “
“ Biarlah semua terjadi sesuai waktunya Sheilla. Kamu juga ya … “
“ Haha, nanti kita lihat siapa yang duluan ya, ganteng “

“ Sekarang kamu pulang ya … sudah malam. Mapa pasti marah kalau melihat kita begini … “ katanya sambil menuntun ku ke arah jalan pulang.
Kamu bodoh Sheilla … aku sudah pulang … aku memilih pulang kepada mu setelah sekian lama … semester ku sebentar lagi berakhir … kita akan punya banyak waktu bersama lagi … itu sudah terlambat kah ? …
“ Terimakasih sudah mau main kesini ya … kamu pasti sedang banyak urusan … “
“ Iya Sheilla … sama-sama. Terimakasih juga ya udah sering main ke Depok selama ini “
“ Dada ganteng … terimakasih sudah mengisi hari-hari tiga tahun ini ya … “
“ Iya cantik … terimakasih sudah menemani ku selama ini ya … maafin aku “
Tidak ada sedih darinya lagi. Tidak pernah ada lagi buat ku. Dia tersenyum. Menatap ku lekat-lekat. Senyum manis yang terakhir. Tidak pernah lagi ada buat ku. Lalu dia berbalik badan. Meninggal kan ku sendiri. Benar-benar sendiri.
Di bawah langit tanpa bintang saat itu. Disaksikan angin malam. Kami berpisah. Setelah tiga tahun lebih lamanya.

… …
Aaaaa, turunan nya ngeri banget Baaas!
Iya seru kaan naik sepedanya. aku sudah bilang kan? Hehe. Nanti setelah kamu masuk UI, kita bisa main sepeda setiap sore.
Benar kah ? Aku mau masuk FE UI ! Lalu kita naik sepeda setiap sore ! hihihi
Tentu saja sayang ku. Tentu saja. Kamu akan jadi mahasiswi FE UI sebentar lagi.
Abas! Jalannya menanjak ! aku ga mau turun pokoknya ga mau !
Tidak usah sayang tidak usah. Duduklah manis disitu saja. Aku kuat. Untuk mu, keseribu kalinya.
Terima kasih ya, ganteng. Hehehe.
Aku kayuh kuat-kuat sepeda pinjaman dari teman ku itu. Di sebelah kiri kami saat itu adalah monumen Universitas Indonesia. Sebagai gerbang selamat datang ke kampus ini. Sampai tahun lalu, saat aku benar-benar bisa melupakan dia dan hidup lagi dengan orang lain, tidak pernah aku lihat ada nama Maysheila Chandra Sari Putri di fakultas mana pun.
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

4 comments:

Wendy Achmmad said...

Yah Bas, komenku disini beda ama yang di FB ... hahaha ... tapi aku apresiasi untuk kata-kata romantisnya, meskipun gak tahu itu asli atau karangan.:D

Unknown said...

what a drama!!

Abdul Basir said...

Mas bro wendy.. maaf ya belum sempet komen notes2 mu.. ini fakta, tentang kami berdua (alah) tapi ya jadi fiksi karena sudah diceritakan. Semoga jadi pelajaran untuk diri ku =)

Abdul Basir said...

Ade Abi yang tersayang ( alah )
wah, terima kasih bi kamu membaca tulisan2 saya ini, saya sudah follow blog mu juga lho. hehe. selamat berkarya kawan ku =)

Post a Comment