
SERIAL MASA KECIL YANG MENYENANGKAN - 1
Sepakbola Atap Pasar
“ Woi, Sir! Jangan melamun! “ teriak teman ku Moerdiono dari arah gawang lawan. Membuyarkan lamunan ku. Parah sekali. Sedang jadi kiper melamun.
“ Hah ?! Oh iya, iya. “ kata ku panik.
Penyerang tim lawan sudah mendekati gawang kami. Teman-teman satu tim ku masih dalam formasi serang, tidak siap akan serangan balik yang sedang terjadi. Skema serangan kami baru saja di patahkan dengan sigap. Bola berpindah ke tim lawan dengan begitu cepat. Tahu-tahu lima orang pemain lawan sudah mengepung sang penjaga gawang musuh. Aku. Pada keadaan begini, kelima orang teman ku malah tidak ada yang mau repot-repot mengejar bola lagi, membiarkan aku sendiri di lini belakang. Teganya.
Imam, salah satu pemain lawan, dengan cepat mengoperkan bola pendek ke teman yang berlari di sisinya, si gembul Rifa’i. Rifa’I berlari pendek-pendek berusaha mengecoh ku untuk maju dari garis gawang. Aku terkecoh. Saat aku berusaha merebut bola dengan sodoran kaki ku dengan menjatuhkan diri, Rifa’i melambungkan bola kearah Dimas yang sudah berlari menuju depan gawang. Hanya dengan sebuah sundulan kecil, bola berbelok arah masuk ke gawang kami. Gol. Satu kosong untuk tim lawan.
“ Goooooool ! ….”
“ Goooooooooool ! “
“Wahahahaha, keren, keren lo!....”
“ Yeeeeeh!” Dimas loncat dan mengepalkan tinjunya puas. Lalu dia menghampiri teman-temannya. Merayakan gol perdana pertandingan ini.
“ Arrgh, lo gimana sih Sir ! Melamun begitu! “ Murdiono menyalahkan.
“ Gimana si lo ? kan bisa tadi lo ambil lebih cepet tuh bola! “ Pasha memanaskan suasana.
“ Bisa ga sih lo jadi kiper ? kan lo yang tadi minta jadi kiper ! “ Royani memperburuk suasana. Mengajak berkelahi kali ini orang satu.
“ ah e’e lo semua ! gada yang mau mundur tadi ? mana lo semua di depan aja gitu tadi, pontang-panting sendirian gini gue ! “ balas ku kesal. Aku memperkeruh suasana.
Di sisi seberang, lawan kami masih bersorak sorai merayakan gol barusan.
“ Ah, udah gue aja yang jadi kiper, lo main depan aja sana. Yang bener lo ! “ lantang Royani.
“ Iye, iye. Lo rasain diri dah tuh jadi kiper “ kataku mengejek.
“ Ambil Sir bolanya “ perintah Murdiono tiba-tiba.
“ Hah ? apaan lo, gue pula yang ngambil bola sekarang ? “ kataku sewot.
“ Heeeh, udah sepakat tadi pan kita ? urutan ambil bolanya kan dari kiper. Hahaha “ kata seorang teman ku yang lain. Sape’i kami memanggilnya.
“ e’e lo semua, lain kali kita ubah urutannya, kiper ambil terakhir ! “ kata ku masih sewot.
“ Hahahaha, udah ambil sana lo Sir ! masih bisa main nih kita. Jangan lama-lama! Hahahaha “ teman-teman ku di tim lawan ikut menimpali.
“ Udah, udah, ambil sana ambil Sir, lo sekalian beli es mambo di bawah yak ? “ kata Pasha menyuruh seenaknya.
“ Apaan lo ? “ balas ku sambil mengacungkan jari menantangnya.
Aku pasrah saja dikerjai teman-teman ku. Lihat saja nanti pasti ku balas kalian.
Aku ambil sandal ku di pojok gawang. Disebelah tong sampah yang kami gunakan sebagai penanda tiang gawang. Gawang kami hanyalah batas antara dua tong sampah itu. Tanpa ukuran resmi. Hanya kesepakatan antara pemain berapa jarak antar tong itu. Kalau ingin permainan lebih menantang, jarak tiang gawang diperkecil. Mempersulit pemain manapun yang ingin mencetak gol
Tidak ada jala di gawang pada permainan bola kami. Jala gawang ada didalam setiap pikiran imajinasi kami. Saat ada yang mencetak gol, pikiran kami lah yang membentuk bayang imaji tentang jala yang bergetar. Pada kenyataannya, bola meluncur bebas masuk gawang tanpa benar-benar ada yang menahannya. Ketika bola yang masuk datang dari tendangan yang melambung tinggi, maka bola itu akan melaju deras, melewati tembok pembatas, jatuh dari ketinggian empat lantai, jatuh dari atap pasar menuju jalan di bawah sana.
Iya kawan ku ! kami bermain bola di atap pasar !.
Aku ingat jelas sejak kapan sepakbola atap pasar kami ini bermula. Saat itu kami sedang bosan bermain layang-layang di atap pasar. Walaupun angin di ketinggian ini begitu bagus untuk layangan dapat terbang, namun terlalu banyak kabel listrik dekat atap pasar ini. Maklum, ini kan di lantai empat.
Layang-layang yang kami terbangkan seringkali menyangkut di kabel-kabel listrik. Kalau tidak begitu, layang-layang dari lawan yang kami kalahkan di udara, hanya akan jatuh ke jalan di bawah sana. Kemudian diambil anak-anak kampung. Rugi besar kami kalau begitu kan ?.
“ gue bawain bola nih “ kata Murdiono saat itu. Kami sedang bosan-bosannya.
“ hah ? buat apaan ? “ tanya beberapa dari kami.
“ yah, dasar cungkring ! yah main bola lah ! “ timpal Murdiono.
“ dimana ? disini ? “ tanya ku.
“ iya disini. Belom pernah kan lo pada main bola di atap pasar ? nah kita main nih dari sekarang “
“ emang boleh sama yang jaga nih pasar ? kita maen layangan aja sering diuber-uber “ kata Pasha khawatir.
“ santai aja, gue udah bikin kesepakatan sama mas Tarjo. Asal tiap kita main bola lo pada patungan beliin dia rokok “ terang Murdiono.
Jadilah sejak sore itu kami bermain sepakbola atap pasar. Enam lawan enam. Saat itu tidak seperti sekarang yang sudah dikenal istilah futsal. Itu pun lima lawan lima. Berarti kami ber dua belas ini baru saja menemukan jenis permainan baru. Yah, disebut saja sepak bola atap pasar ya ?. peraturannya sederhana, kita bermain bola denga peraturan seperti biasa, hanya tidak ada gawang yang sesungguhnya. Sehingga jika terjadi gol, maka bola dapat saja jatuh ke jalan dibawah sana.
Setiap pemain yang mencetak gol kemudian dapat menentukan siapa pemain lawan yang mengambil bola. Bisa juga disepakati sebelum permainan bagaimana urutan mengambil bolanya. Pemain yang mengambil bola memang apes. Turun dari lantai empat, mengambil bola di bawah, apalagi jika bola terus meluncur hingga ke jalan raya depan pasar. Pasti menyulitkan (dan membahayakan) mengambil bola di tengah keramain arus lalu lintas. Sialnya, jika bola kita menimpa seseorang dibawah sana, dan kemudian dia kesal, bola plastik kami itu kemudian akan dibelah jadi dua dengan pisau. Kejam sekali. Saat itu biasanya permainan kita hentikan sampai ada yang mau suka rela membelikan bola lagi. Seperti Murdiono ini.
Murdiono adalah teman kami yang memang sering berperan menjadi pemimpin ketika kami sedang bermain di area pasar. Dia anak kecil berkulit keling dan kurus. Wajahnya tirus dengan alis tebal yang membentuk pola anak nakal pada umumnya. Dia orang Jawa. Orang tuanya adalah pedagang ikan di pasar ini. Karena itu lah mungkin dia mengenal banyak orang di area pasar ini. Mulai dari penjual sayuran, penjual mi ayam, petugas parkir, hingga penjaga pasar. Dari dia juga kami dapat berbagain informasi mengenai ruang dan jalan rahasia di seantero pasar. Jalan seperti itu mampu menyelamatkan kita setiap dikejar penjaga pasar karena bermain di atap. Seru sekali. Diujung jalan itu menembus ke Mbak Sumi, penjual es kelapa muda. Lelah bermain sepanjang sore, kami minum es kelapa sambil mengunyah rempeyek kacang. Nikmat sekali.
Aku, Murdiono, Dimas, Pasha, Imam, Royani, Rifa’i, Sape’i, Indra, Baihaqi, Sapto, dan Riki adalah teman satu sekolah dasar. Maaf, sebenarnya sih bukan sekolah dasar. Tapi sekolah setingkat sekolah dasar yang disebut Madrasah Ibtiadiyah (MI). Sekolah kami hanyalah sekolah kecil di daerah Mampang ini, ditengah hiruk pikuk Jakarta, sekolah kami tidak pernah terdengar.
Banyak hal yang biasa kami lakukan selain bermain bola dan layangan atap pasar. Memanjat pohon mangga,Kami sering juga bermain ding dong di pasar minggu. Memancing sapu-sapu di empang, berenang di kali saat banjir. Atau saling menginap di rumah teman. Masih banyak hal lain yang bergitu menyenangkan.
Dengan langkah malas, aku pun pergi mengambil bola, turun ke lantai dasar pasar, dari atap pasar lantai empat.
Lantai ketiga adalah lantai tempat penjual barang elektronik dikumpulkan. Asli, aspal, hingga benar-benar palsu. Kipas angin, televisi, radio, jimbot, playstation, kulkas, mesin cuci, dijual disana sini. Kalu disini, tidak ada tawar menawar, semua harga pas.Di salah satu kios dibuka tempat permainan dingdong. Banyak anak-anak seusia ku sedang bermain. Di sudutnya banyak pasang muda-mudi pacaran memojok. Sedang apa ya mereka ? kok senang pojok-pojokkan begitu ? kan sempit. Mendingan di tempat lega kan ? ah, begitu banyak hal yang tidak aku mengerti.
Lantai kedua adalah lantai tempat kios-kios penjual perhiasan, jam tangan, peralatan sekolah, perlengkapan kosmetik, baju-baju, pakaian dalam. Kios perhiasan dan jam tangan didominasi saudara-saudara Tionghoa kita.
Yu cek lah di toko sebelah ! memang Ai jual sudah paling murah itu arloji ! kalo yu olang ngga mau, jangan lama-lama nawar lah, haiyaa. Kata salah seorang koko di kios arloji. Pembelinya, seorang pribumi Jawa, pasang wajah datar tidak tertarik. Menunggu harga arloji tersebut turun sedikit lagi. Lumayan, selisih harganya bisa buat makan mi ayam.
Kios peralatan sekolah, yang merupakan langganan Bapak membelikan aku buku dan baju setiap tahun, dimiliki keluarga Haji Idris turun temurun. Penjual baju, pakaian dalam, kosmetik adalah pedagang yang paling agresif menawarkan dagangannya. Mungkin karena jumlah mereka paling banyak, hingga memperketat persaingan. Lucu sekali, di seberang kios Haji Idris berada tepat di depan kios celana dalam. Pasti penjualnya tidak pernah belajar PPKN sewaktu SD.
Saat itu sudah sore, banyak pedagang sudah merapikan dagangannya. Kios penjual sayur di lantai dasar sudah dibersihkan. Tumpukan sampah sayuran ditumpuk di pojok jalan. Menunggu di angkut mobil petugas kebersihan. Kuli-kuli panggul pasar berkerumun di warung kopi, melepas penat lelah dengan berbagi cerita, dalam setiap seruput cangkir kopi. Pengemis tua duduk memelas dibawah tangga, menunggu belas kasihan para pengunjung pasar. Seorang ibu tambun sedang mematut-matut kan daster di salah satu kios penjual pakaian. Kentara sekali noraknya daster itu untuk sang ibu, mana kekecilan pula. Namun tampaknya sang ibu sudah mabuk kepayang terayu penjual dengan di bilang tampak lebih langsing mengenakan daster itu. Ibu tambun pun membayar kontan itu daster. Pulang dengan perasaan senang, membawa dua plastik hitam besar berisi sawi sayuran dan bumbu dapur di tangan satu serta bermacam daster di tangan yang lain.
Bola kami yang jatuh itu meluncur ke pelataran parkir pasar. Untunglah aku tidak harus mengambilnya di jalan raya. Aku pernah punya pengalaman buruk saat itu. Bola yang meluncur ke jalan raya terlindas sebuah motor yang melaju cepat. Motor itu pun jatuh bersama pengendaranya. Beruntung lalu lintas sedang sepi sehingga keadaan tidak memburuk. Namun, setelah itu aku dimarahi habis-habisan oleh pengendara yang memang sedikit terluka dan beberapa orang pasar yang ada di sekitar. Setelah bola aku bawa ke atap pasar, tidak ada yang berniat melanjutkan bermain demi melihat aku berwajah sembab.
Bola pun aku ambil diantara dua motor yang terparkir. Ketika aku ingin naik keatas, aku bertemu bang Toni, petugas parkir shift sore.
“ Woi, Sir ? anak-anak masih pada main diatas ? “ tanya bang Toni. Tidak lupa ia kembangkan senyum gigi ompong kirinya yang khas.
“ Iya Bang ! kita baru aja mulai kok “ jawab ku kepada bang Toni.
“ Oke oke, nanti abang ikut main ya ? sebentar lagi selesai jaga parkirnya nih “ kata Bang Toni bersemangat.
“ Iya, Bang. Naik aja ya ? “
“ Oh iya, ini buat temen temen “ kata bang Toni. Ia keluarkan seplastik besar berwarna hitam. Waktu aku buka, isinya adalah 12 batang es mambo dan entah berapa bungkus berbagai makanan kecil.
“ Wah Bang! Ini buat kita ya ? Waaah ! terima kasih bang ! “ seru ku senang.
“ Iya, itu buat kalian semua. Sudah sana dibawa keatas. Nanti abang kesana “
“ Woi, Siiiir ! sini lo buruan naik, jangan lo makan sendiri tuh ! “ beberapa teman ku berteriak dari atap pasar. Kalau soal begini saja, cepat deh mereka.
Bang Toni adalah pemuda tanggung putus sekolah. Kalau tidak salah terakhir dia sekolah kelas 2 SMP. Karena orang tua tidak punya biaya untuk membiayai sekolah, maka bang Toni pun berhenti. Dia pernah menjadi pengamen, kuli panggul, penyapu jalan, hingga sekarang penajga parkir. Sewaktu jadi penjaga parkir inilah kami bertemu dia. Bola ayng sering jatuh dari atap pasar ternyata menarik perhatian bang Toni. Singkat kata, suatu kali dia ambil bola yang jatuh itu, lalu dia bawakan bola itu keatap pasar. Awalnya kami takut melihat perawakan bang Toni yang seperti preman pada umumnya. Namun setelah dia tersenyum, senyum gigi ompong kirinya yang khas itu, terkuak lah kehangatan dan ramah tamah bang Toni. Sejak saat itu kami saling berteman dekat. Tidak hanya bang Toni, namun juga petugas parkir, penjaga pasar, beberapa pemilik kiosm dan kuli panggul. Semua dimulai dari bang Toni. Sungguh, kawan ku, hidup keras di Jakarta tidak melulu membuat pribadi mu ikut keras juga.
Dengan semangat riang aku naiki cepat tiap lantai pasar menuju atap. Bungkusan palstik hitam ini benar-beanr oleh-oleh tidak terduga. Teman-teman lain apsti sudah tidak sabar menunggu membuka bungkusan itu.
Benar saja, ketika sampai ke atap, aku sudah dirubung kesebelas teman ku. Mereka berebutan mengambil masing-masing es mambo dan berbagai makanan kecil. Aku pun tidak mau ketinggalan, aku rebut sebanyak mungkin makanan dengan genggaman tangan ku. Seru sekali. Kami makan dengan riang, menyambiti teman dengan kulit kacang, makan es sampai ingusan, memelorotkan celana teman yang sedang tidak sigap, bergulat tumpuk-tumpukan.
Seringkali benar-beanr terjadi perkelahian, ya kami berkelahi saja. Sampai ada yang mengalah atau menangis kalah. Saling bela, saling menyalahkan. Setelah itu sudah, kami akan berbaikan, kami jadi teman lagi. Bermain lagi. Bermain sepak bola atap pasar.
TAMAT .








0 comments:
Post a Comment