Saturday, October 27, 2012

Senja di Halaman Belakang

Senja di Halaman Belakang

Sudah menjelang sore, pekerjaan ku di laboratorium belum selesai.  Masih cukup banyak sel yang harus aku hitung.  Rasanya lama sekali, padahal sejak jam 1 siang tadi aku berkutat dengan hal ini.

Aku seorang mahasiswa tingkat akhir departemen Biologi FMIPA-UI.  Selayaknya mahasiswa tingkat akhir, aku sedang menyusun tugas akhir ku.  Bulan lalu pengambilan data sudah aku lakukan, di Teluk Jakarta tempatnya.  Aku meneliti proses dan jenis pencemaran yang terjadi disana.  Cukup sederhana, menjadikan kelompok fitoplankotn dominan yang ada disana, aku bisa menyusun kriteria dan indikasi jenis dan tingkat pencemaran, apakah alami atau manusiawi.

Setelah pengambilan data proses yang paling menjemukan dari proses kelulusan ku dari kampus ku ini pun dimulai; mengolah data penelitian dan menuliskan nya dalam skripsi.  Skripsi yang jumlah nya 4 bab itu, aku targetkan selesai akhir bulan Oktober ini, karena itu data harus segera aku olah.  Setelah itu, aku bisa melakukan seminar lalu sidang sarjana, lalu aku bisa ikut wisuda semester ganjil Februari 2013 nanti.

Laboratorium ku adalah Laboratorium Biologi Kelautan. Letaknya di sudut kanan lantai 1 gedung departemen Biologi, sebelah ruang himpunan mahasiswa. Di laboratorium yang berukuran 4x5 meter ini, aku berbagi ruang dan fasilitas bersama beberapa mahasiswa lain yang sedang melakukan penelitian.

Hampir setiap hari aku ada di lab. Biola (singkatan untuk Laboratorium Biologi Kelautan). Aku masuk lab biola pagi hari, dan pulang menjelang maghrib.  Rutinitas ku sederhana saja; membuka pintu, menyalakan lampu dan kipas penyedot bau, mengambil mikroskop dan preparat, menempatkan sampel, duduk, lalu mulai bekerja. 

Sampel ku berjumlah 27 buah, jika tidak meleset, maka aku bisa menyelesaikannya dalam 1 bulan ini. Kadang memang aku tidak bisa menyelesaikan jatah sampel ku pada satu hari, biasanya karena kesibukan lain di kampus atau karena mengajar bimbel.  Kalau sudah begini, aku menambah hari kerja pada hari sabtu atau minggu.  Teman-teman ku sejujurnya juga terkadang jadi pengganggu, kalau sudah bersama mereka entah mengapa aku jadi malas mengerjakan sesuatu.  Akhir minggu, dimana aku bisa di lab sendirian merupakan waktu yang sungguh berharga.

Hari sabtu ini, aku datang ke lab biola dengan target setidaknya menyelesaikan dua sampel.  Tempo hari aku tidak datang ke lab karena mengikuti seminar di luar, lalu mengajar di sore harinya.  Kadang hari-hari seperti ini membuat ku menyesal sekali, apalagi kalau melihat kemajuan riset teman ku yang lain.  Tapi, kondisi ku yang mengikuti beberapa organisasi di kampus juga kewajiban mengajar sebagai bekal ku menyambung hidup di Depok tidak ingin ku jadikan alasan.

Aku masuk lab biola dari pintu belakang. Ibu dosen kemarin meminjamkan kunci yang beliau punya padaku, tentunya setelah mengajukan izin dan alasan. Departemen Biologi Sabtu ini sepi sekali. Aku hanya melihat salah satu petugas kebersihan dari kejauhan sedang menyapu dekat pintu masuk depan. Mungkin itu pak Taryana atau pak Taryono, salah dua petugas kebersihan kami kakak-beradik yang seperti pinang dibelah dua.

Setelah masuk lab, segera saja aku menyiapkan mikroskop dan berbagai keperluan lain, aku pun duduk di bangku menghadap jendela belakang departemen Biologi.  Memfokuskan mata ke lensa okuler mikroskop, aku pun mulai menghitung satu demi satu sel fitoplankton yang teramati di kamar hitung Sedgewick Rafter Cell.

Satu… dua…. Tiga ratus… ku tekan counter seiring dengan jumlah sel fitoplankton yang teramati di mikroskop.  Ketika hitungan ku untuk sel Genus Ceartium di counter menyentuh angka 1842, hujan turun.

Seketika saja hujan turun deras.  Segera aku bangkit dari kursi dan menuju pintu belakang.  Aku harus menutupnya sebelum air hujan memasuki laboratorium.

Setelah pintu belakang tertutup, suasana lab jadi aga remang-remang. Dari jendela bisa ku lihat langit berubah jadi mendung gelap. Hujan seperti ini di Depok bisa berlangsung berjam-jam. Sekarang sudah jam 2 siang, semoga tidak sampai Maghrib hujan begini. Jika tidak, aku bakal menghabiskan sabtu sore di lab biola sendiri.

Aku tersadar belum solat Zuhur, Astagfirullahalazim, segera ku ambil air wudhu di keran di pojok kanan lab.  Aku solat di musala jurusan yang letaknya cukup dekat dengan lab ku ini.  Musala kecil yang terletak di bawah tangga.

Sepertinya tidak ada orang lain di gedung Biologi hari ini.  Lantai dasar kosong melompong tanpa ada satu pun orang, bahkan pak Taryana dan pak Taryono.  Aku beruntung sekali lampu-lampu sudah dinyalakan, tampaknya salah satu dari mereka berdua menyalakannya sebelum pulang tadi. Namun, tetap saja, suasana sendirian selalu membuat ku tak nyaman.

Aku berharap sekali tidak sampai Maghrib hujan turun karena aku ingin pulang kerumah.  Sudah tiga minggu aku tidak bertemu orang tua, kangen rasanya.  Pekerjaan lab ku ini kadang sangat menyita waktu, bahkan liburan ku di akhir minggu.

Kembalinya ke lab, aku pun meneruskan sisa pekerjaan ku.  Hujan diluar memang belum berhenti, namun sudah berkurang intensitasnya.  Tempat parkir fakultas ku hari sabtu hanya melayani hingga pukul setengah enam, lewat dari itu para pemarkir motor harus memindahkan kendaraannya.

Huff, aku harus menyelesaikan sampel hari ini, tinggal sedikit lagi.  Cepat saja, perhatian ku teralihkan ke jejeran kamar hitung dan limpahan sel yang tampak di perbesaran mikroskop 10x10. Klik, klik, klik, suara counter yang aku tekan mendominasi ruang berebutan dengan jatuhan air hujan di luar.
            … … …

Menjelang sore akhirnya aku bisa menyelesaikan kedua sampel ku. Alhamdulillah, sedikit lagi aku dapat mengerjakan keseluruhan sampel dan mulai menulis skripsi. Hujan di luar pun perlahan berhenti, menyisakan rintik-rintik air jatuh satu-satu dari ujung atap genteng. Perlahan pun langit gelap bawa mendung pergi berarakan kearah Utara, membawa sisa air yang masih ada untuk daratan lain.

Sambil menunggu hujan benar-benar selesai, aku membereskan segala peralatan lab yang aku gunakan; memasukkan mikroskop ke lemari alat, mencuci preparat yang digunakan agar tidak berjamur, dan merapikan botol berisi sampel air fitoplankton. Setelah itu tinggal menutup pintu belakang. Pintu belakang lab biola mengarah ke halaman belakang departemen Biologi. Hal yang sering aku lakukan setelah kesibukan di lab belakangan ini adalah duduk di undakan kecil berumput di halaman belakang. Kebetulan masih ada waktu setengah jam sebelum parkiran ditutup.

Aku lupa sejak tanggal berapa aku punya kebiasaan ini.  Yang jelas aku menyadari bahwa 4 tahun waktu ku dikampus ini, di departemen ini, ternyata masih juga melewatkan hal-hal penting.  Aku pikir 4 tahun cukuplah sudah buat ku mengenal dengan baik kampus ku, tapi ternyata selama ini aku melewatkan banyak hal di halaman belakang ku sendiri. Aku “beruntung” juga lulus 4 setengah tahun nanti.

Departemen Biologi berbagi halaman belakang dengan departemen Matematika dan Fakultas Farmasi. Aku selalu suka pemandangan di halaman belakang.  Halaman belakang ditumbuhi dengan berbagai tumbuhan dan bebungaan warni-warna.  Ada anyelir, seruni,  kembangmerak, dan alamanda. Ada tumbuhan jarak yang tumbuh berarak-arak menjadi pagar hidup.  Juga ada komunitas pohon karet dikejauhan, yang getahnya bergantian disadap para warga.

Di halaman belakang juga ada taman kupu-kupu yang sudah dua tahun ini berdiri, tidak terlalu luas, namun menjadi pelengkap suasana yang manis.  Sesekali aku bermain kesana, menuruni tangga yang ada, untuk melihat segala macam fase kehidupan kupu-kupu.  Aku pernah begitu beruntung, menyaksikan saat kupu-kupu keluar dari kepompongnya, setelah melalui fase pupa yang memakani daun-daun.

Selain ditumbuhi dengan berbagai pepohonan yang membuatnya sedemikian asri, dari halaman belakang aku juga bisa melihat salah dua situ dari sekian banyak situ yang ada di kampus Depok Universitas Indonesia.  Yang ada dibelakang departemen Biologi adalah Situ Laboratorium Alam dan diseberangnya adalah Situ Agathis.  Kedua situ itu dipisahkan oleh jalan.
           
Seperti situ-situ yang lain, kedua situ tidak luput dari perhatian para pemancing.  Sebenarnya aku ragu kalau didalam airnya ada ikan yang masih hidup dan berenang, tapi tampaknya para pemancing tidak peduli.  Aku sering melihat para pemancing sanggup duduk berjam-jam menanti umpan di pancingnya dimakan. Aku yakin banyak orang sudah tahu kala di kedua situ ini sudah tidak ada ikan yang hidup lagi, setidaknya sangat-sanat jarang. Filosofi olahraga memancing sungguh unik, didalamnya ada kesempatan panjang untuk pelakunya merenungi banyak hal, mulai dari segala kesulitan hidup atau cobaan biduk rumah tangga.  Menunggu ikan menyambar umpan adalah pelarian resah yang menyenangkan.

Kadang sore-sore ini kalau cuaca cerah dan tidak diakhir minggu, aku bisa melihat mahasiswa sendirian maupun berkelompok menaiki sepeda kuning melintasi jalur sepeda FMIPA untuk pulang.  Naik sepeda sore-sore memang selain menyenangkan juga bisa menyehatkan, sesuatu yang sudah lama sekali tidak aku lakukan.  Sambil memegangi lipatan perut yang sudah terbentuk, aku menghitung sudah berapa lama aku tidak naik sepeda. Ternyata sudah lama sekali.  Kemana-mana aku memang lebih sering naik motor. Ikut berperan serta dalam mempolusikan kandungan udara. Sungguh bukan mahasiswa Biologi yang bisa dijadikan panutan.
           
Menjelang pergantian musim kemarau ke hujan, jika beruntung aku juga bisa melihat sekumpulan burung sejenis yang terbang besama (flocking) untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat.  Yang sering luput adalah dalam setiap kelompok terbang ini, ada satu burung yang berposisi paling depan sebagai komando kawanan. Mereka berlalu dilangit senja sore sebagai sekumpulan siluet hitam, ke arah langit yang lebih hangat dan daratan yang ditumbuhi pepohonan tempat mereka melanjutkan hidup dan mencari pasangan.
           
Halaman belakang juga menjadi tempat pertemuan sepasang kekasih yang sudah sama-sama berjanji.  Entah itu mahasiswa Biologi atau Farmasi, atau perpaduan kekasih antara keduanya.  Mereka yang memilih halaman belakang untuk bertemu, untuk berpegangan tangan dengan ragu-ragu, adalah pasangan yang sungguh pemalu. Terkadang mereka bertengkar, saling meyalahkan dan tidak mau mengalah. Alasannya sepele, misalnya sang lelaki lupa menjemput kekasihnya sepulang kuliah, alasannya latihan futsal.  Sang wanita tentu saja kesal, diduakan dengan sekumpulan pria berkeringat berebutan satu bola pejal. Dipasangnya wajah cemberut sang wanita, seperti sudah tabiat mereka; mencari-cari perhatian dan dimanja. Nanti setelah beberapa menit bujuk rayu sang lelaki dan sikap jual mahal sang wanita, mereka berdua pun berbaikan lagi.
           
Dan yang paling aku sukai adalah detik-detik saat matahari tenggelam.  Aku mengetahui bahwa dari halaman belakang kita bisa menyaksikan pemandangan yang begitu indah ini dari salah seorang teman ku.  Cerita pun beredar mulut kemulut, hingga menyebar ke hampir semua mahasiswa.  Sejak saat itu, jika kami dapat kesempatan, sekitar pukul setengah 6, kami berkumpul di halaman belakang, duduk di undakan kecil yang ditumbuhi rumput hijau, menanti dengan sabar matahari pulang ke peraduan. Di antara pepohonan yang tampak di kejauhan, dan semburat jingga langit saat senja. 

Entah mengapa teman-teman ku menjadikan detik-detik ini untuk menggalau ria dengan segala susah rasa di hati masing-masing. Aku heran sejak kapan momen-momen keindahan alam, matahari, bulan, langit, awan maupun bintang, dijadikan pengantar suasana galau hati. Berkeluh kesah akan keadaan yang belum tentu terjadi, atau merasa tidak puas akan keadaan yang sudah diberikan Tuhan.  Pencetus galau itu siapa sih ?
           
Kadang aku sebal dengan orang-orang galau ini. Tidak ada habisnya hal yang mereka galaukan.  Ya Allah, lindungilah aku dari orang-orang galau dan jangan jadikan aku pengikut jalan orang-orang galau. Amin. Terserah mereka lah mau galau atau apa, semua orang berhak memiliki alasan untuk menikmati keindahan alam.

Sore ini, pemandangan matahari tenggelam memang agak terganggu setelah turunnya hujan.  Tapi, tetap saja aku duduk disitu, diundakan kecil berumput itu. Menikmati detik demi detik akhir waktu sore.  Entah ini disebut galau atau tidak, karena aku tidak tahu apa kriteria galau sebenarnya, tapi aku sedang teringat dengan ibu-bapak di rumah.

Universitas Indonesia adalah kampus ketiga ku. Masa-masa itu aku masih mencari jati diri, tidak yakin apakah aku ingin kuliah atau tidak. Kalau tidak karena bapak mendesak-desak, entah sekarang ini aku lagi apa.
           
Ibu dan bapak bukan orang kaya tapi orang sewajarnya saja. Tapi impian beliau berdua tinggi sekali; ingin semua anaknya sarjana. Keempat kakak ku sudah sarjana di bidangnya masing-masing, ada yang dokter, guru, dan dua orang insinyur. Lha waktu itu aku bingung, aku suka musik namun senang juga menulis. Jurusan IPA di SMA namun menyenangi bisnis. Harus masuk ke jurusan apa aku ?
           
Begitulah jadinya aku berpindah-pindah kampus. Masuk ke UI di tahun kedua aku lulus SMA. Sekarang sudah 4 tahun lebih belum juga lulus, berarti 5 tahun lebih aku habiskan di masa hidup perguruan tinggi.  Hidup masih ditanggung orang tua, di kampus jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja.  Apa ya yang ibu bapak banggakan dari aku ini ?
           
Dari kakak-kakak ku aku tahu bahwa Ibu sering sekali menceritakan diriku dengan bangga. Diantara kolega nya pembeli batik atau tempe yang ia buat dirumah. Anak ku mahasiswa Biologi di UI lho, begitu ulang kakak. Aku yakin ibu ku tidak tahu seperti apa jurusan Biologi itu dipandang, tidak di kampus apalagi di negara yang makin tidak jelas ini.
           
Bapak lain lagi, bapak bisa saja tidak mengkuliahkan aku, menghemat biaya dan waktu dan pikiran. Tapi justru bapak lah yang memaksa aku kuliah.  Kuliah tidak hanya soal kamu bekerja jadi apa. Begitu katanya.  Sewaktu aku utarakan kalau aku diterima “hanya” di Biologi Universitas Indonesia, bapak tetap saja menangis bangga sambil memelukku di hari pengumuman itu.
           
Aku sungguh tidak mengerti logika kedua orang tua.
           
Aku bukannya tanpa usaha. Aku belajar dengan cukup rajin dan aktif berorganisasi, agar tidak sia-sia masa pendidikan tinggi ku.  Namun tetap saja aku merasa tidak menjadi “sesuatu” yang bisa membanggakan kedua orang tua.  Jangan kan mapres, IPK 3.5 saja tidak pernah bisa.                              
Aku malah sering merepotkan, masih meminta uang pula. Gaji dari mengajar ku entah kenapa tidak pernah cukup, aku memang terhitung hidup boros. Uang orang tua selalu habis begitu saja, kadang untuk hal yang tidak-tidak.

Dan sekarang ini, makin lengkap lah sudah alasan ibu bapak untuk kecewa pada ku. Aku tidak lulus tepat 4 tahun, yang tentu saja menambah biaya yang dikeluarkan ibu bapak. Tapi ketika ini aku sampaikan, ibu bapak menjawab dengan tenang saja. Hal ini sudah biasa terjadi, kakak mu juga ada yang begitu, berarti kamu masih ada kesempatan setengah tahun kamu menjadi sarjana yang lebih baik.

Setengah jam sudah aku habiskan waktu ku dalam renungan yang dalam.  Tanpa ku sadari, hari ini sebenarnya tidak ada pemandangan matahari tenggelam. Sedari tadi aku hanya menatap kanopi pohon besar di seberang pandangan. Tapi sedari tadi toh aku tidak beranjak, tetap duduk di undakan kecil rerumputan. Pikiran ku disibukkan dengan berbagai hal seputaran ibu dan bapak. Pandangan ku membayang wajah renta setengah abad ibu bapak. Walau bagaimanapun aku ini, aku tahu mereka berdua pasti selalu berdoa untuk ku, tidak mungkin tidak karena mereka adalah ibu dan bapak.  Sama seperti langit dihadapan ku ini, ibu dan bapak juga sudah memasuki masa senja. Entah terlambat atau tidak, sebelum cahaya keduanya padam, aku harus bisa membahagiakan ibu bapak.

Ah, terrnyata sama seperti teman-teman, aku juga galau.
           

  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

0 comments:

Post a Comment