Senja
di Halaman Belakang
Sudah menjelang sore, pekerjaan ku di
laboratorium belum selesai. Masih cukup
banyak sel yang harus aku hitung. Rasanya
lama sekali, padahal sejak jam 1 siang tadi aku berkutat dengan hal ini.
Aku seorang mahasiswa tingkat akhir
departemen Biologi FMIPA-UI. Selayaknya
mahasiswa tingkat akhir, aku sedang menyusun tugas akhir ku. Bulan lalu pengambilan data sudah aku
lakukan, di Teluk Jakarta tempatnya. Aku
meneliti proses dan jenis pencemaran yang terjadi disana. Cukup sederhana, menjadikan kelompok
fitoplankotn dominan yang ada disana, aku bisa menyusun kriteria dan indikasi
jenis dan tingkat pencemaran, apakah alami atau manusiawi.
Setelah pengambilan data proses yang
paling menjemukan dari proses kelulusan ku dari kampus ku ini pun dimulai;
mengolah data penelitian dan menuliskan nya dalam skripsi. Skripsi yang jumlah nya 4 bab itu, aku
targetkan selesai akhir bulan Oktober ini, karena itu data harus segera aku
olah. Setelah itu, aku bisa melakukan
seminar lalu sidang sarjana, lalu aku bisa ikut wisuda semester ganjil Februari
2013 nanti.
Laboratorium ku adalah Laboratorium
Biologi Kelautan. Letaknya di sudut kanan lantai 1 gedung departemen Biologi,
sebelah ruang himpunan mahasiswa. Di laboratorium yang berukuran 4x5 meter ini,
aku berbagi ruang dan fasilitas bersama beberapa mahasiswa lain yang sedang
melakukan penelitian.
Hampir setiap hari aku ada di lab. Biola
(singkatan untuk Laboratorium Biologi Kelautan). Aku masuk lab biola pagi hari,
dan pulang menjelang maghrib. Rutinitas
ku sederhana saja; membuka pintu, menyalakan lampu dan kipas penyedot bau,
mengambil mikroskop dan preparat, menempatkan sampel, duduk, lalu mulai
bekerja.
Sampel ku berjumlah 27 buah, jika tidak
meleset, maka aku bisa menyelesaikannya dalam 1 bulan ini. Kadang memang aku
tidak bisa menyelesaikan jatah sampel ku pada satu hari, biasanya karena
kesibukan lain di kampus atau karena mengajar bimbel. Kalau sudah begini, aku menambah hari kerja
pada hari sabtu atau minggu. Teman-teman
ku sejujurnya juga terkadang jadi pengganggu, kalau sudah bersama mereka entah
mengapa aku jadi malas mengerjakan sesuatu.
Akhir minggu, dimana aku bisa di lab sendirian merupakan waktu yang
sungguh berharga.
Hari sabtu ini, aku datang ke lab biola
dengan target setidaknya menyelesaikan dua sampel. Tempo hari aku tidak datang ke lab karena
mengikuti seminar di luar, lalu mengajar di sore harinya. Kadang hari-hari seperti ini membuat ku
menyesal sekali, apalagi kalau melihat kemajuan riset teman ku yang lain. Tapi, kondisi ku yang mengikuti beberapa
organisasi di kampus juga kewajiban mengajar sebagai bekal ku menyambung hidup
di Depok tidak ingin ku jadikan alasan.
Aku masuk lab biola dari pintu belakang.
Ibu dosen kemarin meminjamkan kunci yang beliau punya padaku, tentunya setelah
mengajukan izin dan alasan. Departemen Biologi Sabtu ini sepi sekali. Aku hanya
melihat salah satu petugas kebersihan dari kejauhan sedang menyapu dekat pintu
masuk depan. Mungkin itu pak Taryana atau pak Taryono, salah dua petugas
kebersihan kami kakak-beradik yang seperti pinang dibelah dua.
Setelah masuk lab, segera saja aku
menyiapkan mikroskop dan berbagai keperluan lain, aku pun duduk di bangku
menghadap jendela belakang departemen Biologi.
Memfokuskan mata ke lensa okuler mikroskop, aku pun mulai menghitung
satu demi satu sel fitoplankton yang teramati di kamar hitung Sedgewick Rafter Cell.
Satu… dua…. Tiga ratus… ku tekan counter seiring dengan jumlah sel
fitoplankton yang teramati di mikroskop.
Ketika hitungan ku untuk sel Genus Ceartium
di counter menyentuh angka 1842,
hujan turun.
Seketika saja hujan turun deras. Segera aku bangkit dari kursi dan menuju pintu
belakang. Aku harus menutupnya sebelum
air hujan memasuki laboratorium.
Setelah pintu belakang tertutup, suasana
lab jadi aga remang-remang. Dari jendela bisa ku lihat langit berubah jadi
mendung gelap. Hujan seperti ini di Depok bisa berlangsung berjam-jam. Sekarang
sudah jam 2 siang, semoga tidak sampai Maghrib hujan begini. Jika tidak, aku
bakal menghabiskan sabtu sore di lab biola sendiri.
Aku tersadar belum solat Zuhur, Astagfirullahalazim, segera ku ambil air
wudhu di keran di pojok kanan lab. Aku
solat di musala jurusan yang letaknya cukup dekat dengan lab ku ini. Musala kecil yang terletak di bawah tangga.
Sepertinya tidak ada orang lain di
gedung Biologi hari ini. Lantai dasar
kosong melompong tanpa ada satu pun orang, bahkan pak Taryana dan pak Taryono. Aku beruntung sekali lampu-lampu sudah
dinyalakan, tampaknya salah satu dari mereka berdua menyalakannya sebelum
pulang tadi. Namun, tetap saja, suasana sendirian selalu membuat ku tak nyaman.
Aku berharap sekali tidak sampai Maghrib
hujan turun karena aku ingin pulang kerumah.
Sudah tiga minggu aku tidak bertemu orang tua, kangen rasanya. Pekerjaan lab ku ini kadang sangat menyita
waktu, bahkan liburan ku di akhir minggu.
Kembalinya ke lab, aku pun meneruskan
sisa pekerjaan ku. Hujan diluar memang belum
berhenti, namun sudah berkurang intensitasnya.
Tempat parkir fakultas ku hari sabtu hanya melayani hingga pukul
setengah enam, lewat dari itu para pemarkir motor harus memindahkan
kendaraannya.
Huff, aku harus menyelesaikan sampel
hari ini, tinggal sedikit lagi. Cepat
saja, perhatian ku teralihkan ke jejeran kamar hitung dan limpahan sel yang
tampak di perbesaran mikroskop 10x10. Klik, klik, klik, suara counter yang aku tekan mendominasi ruang
berebutan dengan jatuhan air hujan di luar.
…
… …
Menjelang sore akhirnya aku bisa menyelesaikan
kedua sampel ku. Alhamdulillah,
sedikit lagi aku dapat mengerjakan keseluruhan sampel dan mulai menulis skripsi.
Hujan di luar pun perlahan berhenti, menyisakan rintik-rintik air jatuh
satu-satu dari ujung atap genteng. Perlahan pun langit gelap bawa mendung pergi
berarakan kearah Utara, membawa sisa air yang masih ada untuk daratan lain.
Sambil menunggu hujan benar-benar
selesai, aku membereskan segala peralatan lab yang aku gunakan; memasukkan
mikroskop ke lemari alat, mencuci preparat yang digunakan agar tidak berjamur,
dan merapikan botol berisi sampel air fitoplankton. Setelah itu tinggal menutup
pintu belakang. Pintu belakang lab biola mengarah ke halaman belakang
departemen Biologi. Hal yang sering aku lakukan setelah kesibukan di lab belakangan
ini adalah duduk di undakan kecil berumput di halaman belakang. Kebetulan masih
ada waktu setengah jam sebelum parkiran ditutup.
Aku lupa sejak tanggal berapa aku punya
kebiasaan ini. Yang jelas aku menyadari
bahwa 4 tahun waktu ku dikampus ini, di departemen ini, ternyata masih juga
melewatkan hal-hal penting. Aku pikir 4
tahun cukuplah sudah buat ku mengenal dengan baik kampus ku, tapi ternyata selama
ini aku melewatkan banyak hal di halaman belakang ku sendiri. Aku “beruntung”
juga lulus 4 setengah tahun nanti.
Departemen Biologi berbagi halaman
belakang dengan departemen Matematika dan Fakultas Farmasi. Aku selalu suka
pemandangan di halaman belakang. Halaman
belakang ditumbuhi dengan berbagai tumbuhan dan bebungaan warni-warna. Ada anyelir, seruni, kembangmerak, dan alamanda. Ada tumbuhan jarak
yang tumbuh berarak-arak menjadi pagar hidup.
Juga ada komunitas pohon karet dikejauhan, yang getahnya bergantian
disadap para warga.
Di halaman belakang juga ada taman kupu-kupu
yang sudah dua tahun ini berdiri, tidak terlalu luas, namun menjadi pelengkap
suasana yang manis. Sesekali aku bermain
kesana, menuruni tangga yang ada, untuk melihat segala macam fase kehidupan
kupu-kupu. Aku pernah begitu beruntung,
menyaksikan saat kupu-kupu keluar dari kepompongnya, setelah melalui fase pupa
yang memakani daun-daun.
Selain ditumbuhi dengan berbagai
pepohonan yang membuatnya sedemikian asri, dari halaman belakang aku juga bisa
melihat salah dua situ dari sekian banyak situ yang ada di kampus Depok
Universitas Indonesia. Yang ada
dibelakang departemen Biologi adalah Situ Laboratorium Alam dan diseberangnya
adalah Situ Agathis. Kedua situ itu
dipisahkan oleh jalan.
Seperti situ-situ yang lain, kedua situ
tidak luput dari perhatian para pemancing.
Sebenarnya aku ragu kalau didalam airnya ada ikan yang masih hidup dan
berenang, tapi tampaknya para pemancing tidak peduli. Aku sering melihat para pemancing sanggup
duduk berjam-jam menanti umpan di pancingnya dimakan. Aku yakin banyak orang
sudah tahu kala di kedua situ ini sudah tidak ada ikan yang hidup lagi,
setidaknya sangat-sanat jarang. Filosofi olahraga memancing sungguh unik,
didalamnya ada kesempatan panjang untuk pelakunya merenungi banyak hal, mulai
dari segala kesulitan hidup atau cobaan biduk rumah tangga. Menunggu ikan menyambar umpan adalah pelarian
resah yang menyenangkan.
Kadang sore-sore ini kalau cuaca cerah
dan tidak diakhir minggu, aku bisa melihat mahasiswa sendirian maupun
berkelompok menaiki sepeda kuning melintasi jalur sepeda FMIPA untuk
pulang. Naik sepeda sore-sore memang selain
menyenangkan juga bisa menyehatkan, sesuatu yang sudah lama sekali tidak aku
lakukan. Sambil memegangi lipatan perut
yang sudah terbentuk, aku menghitung sudah berapa lama aku tidak naik sepeda.
Ternyata sudah lama sekali. Kemana-mana
aku memang lebih sering naik motor. Ikut berperan serta dalam mempolusikan
kandungan udara. Sungguh bukan mahasiswa Biologi yang bisa dijadikan panutan.
Menjelang pergantian musim kemarau ke
hujan, jika beruntung aku juga bisa melihat sekumpulan burung sejenis yang terbang
besama (flocking) untuk bermigrasi ke
daerah yang lebih hangat. Yang sering
luput adalah dalam setiap kelompok terbang ini, ada satu burung yang berposisi
paling depan sebagai komando kawanan. Mereka berlalu dilangit senja sore
sebagai sekumpulan siluet hitam, ke arah langit yang lebih hangat dan daratan
yang ditumbuhi pepohonan tempat mereka melanjutkan hidup dan mencari pasangan.
Halaman belakang juga menjadi tempat
pertemuan sepasang kekasih yang sudah sama-sama berjanji. Entah itu mahasiswa Biologi atau Farmasi,
atau perpaduan kekasih antara keduanya.
Mereka yang memilih halaman belakang untuk bertemu, untuk berpegangan
tangan dengan ragu-ragu, adalah pasangan yang sungguh pemalu. Terkadang mereka
bertengkar, saling meyalahkan dan tidak mau mengalah. Alasannya sepele,
misalnya sang lelaki lupa menjemput kekasihnya sepulang kuliah, alasannya
latihan futsal. Sang wanita tentu saja
kesal, diduakan dengan sekumpulan pria berkeringat berebutan satu bola pejal. Dipasangnya
wajah cemberut sang wanita, seperti sudah tabiat mereka; mencari-cari perhatian
dan dimanja. Nanti setelah beberapa menit bujuk rayu sang lelaki dan sikap jual
mahal sang wanita, mereka berdua pun berbaikan lagi.
Dan yang paling aku sukai adalah detik-detik
saat matahari tenggelam. Aku mengetahui
bahwa dari halaman belakang kita bisa menyaksikan pemandangan yang begitu indah
ini dari salah seorang teman ku. Cerita
pun beredar mulut kemulut, hingga menyebar ke hampir semua mahasiswa. Sejak saat itu, jika kami dapat kesempatan,
sekitar pukul setengah 6, kami berkumpul di halaman belakang, duduk di undakan
kecil yang ditumbuhi rumput hijau, menanti dengan sabar matahari pulang ke
peraduan. Di antara pepohonan yang tampak di kejauhan, dan semburat jingga langit
saat senja.
Entah mengapa teman-teman ku menjadikan
detik-detik ini untuk menggalau ria dengan segala susah rasa di hati
masing-masing. Aku heran sejak kapan momen-momen keindahan alam, matahari,
bulan, langit, awan maupun bintang, dijadikan pengantar suasana galau hati.
Berkeluh kesah akan keadaan yang belum tentu terjadi, atau merasa tidak puas
akan keadaan yang sudah diberikan Tuhan.
Pencetus galau itu siapa sih ?
Kadang aku sebal dengan orang-orang
galau ini. Tidak ada habisnya hal yang mereka galaukan. Ya Allah, lindungilah aku dari orang-orang
galau dan jangan jadikan aku pengikut jalan orang-orang galau. Amin. Terserah
mereka lah mau galau atau apa, semua orang berhak memiliki alasan untuk menikmati
keindahan alam.
Sore ini, pemandangan matahari tenggelam
memang agak terganggu setelah turunnya hujan.
Tapi, tetap saja aku duduk disitu, diundakan kecil berumput itu. Menikmati
detik demi detik akhir waktu sore. Entah
ini disebut galau atau tidak, karena aku tidak tahu apa kriteria galau
sebenarnya, tapi aku sedang teringat dengan ibu-bapak di rumah.
Universitas Indonesia adalah kampus
ketiga ku. Masa-masa itu aku masih mencari jati diri, tidak yakin apakah aku
ingin kuliah atau tidak. Kalau tidak karena bapak mendesak-desak, entah
sekarang ini aku lagi apa.
Ibu dan bapak bukan orang kaya tapi
orang sewajarnya saja. Tapi impian beliau berdua tinggi sekali; ingin semua
anaknya sarjana. Keempat kakak ku sudah sarjana di bidangnya masing-masing, ada
yang dokter, guru, dan dua orang insinyur. Lha waktu itu aku bingung, aku suka
musik namun senang juga menulis. Jurusan IPA di SMA namun menyenangi bisnis.
Harus masuk ke jurusan apa aku ?
Begitulah jadinya aku berpindah-pindah
kampus. Masuk ke UI di tahun kedua aku lulus SMA. Sekarang sudah 4 tahun lebih
belum juga lulus, berarti 5 tahun lebih aku habiskan di masa hidup perguruan
tinggi. Hidup masih ditanggung orang
tua, di kampus jadi mahasiswa yang biasa-biasa saja. Apa ya yang ibu bapak banggakan dari aku ini
?
Dari kakak-kakak ku aku tahu bahwa Ibu
sering sekali menceritakan diriku dengan bangga. Diantara kolega nya pembeli
batik atau tempe yang ia buat dirumah. Anak
ku mahasiswa Biologi di UI lho, begitu ulang kakak. Aku yakin ibu ku tidak
tahu seperti apa jurusan Biologi itu dipandang, tidak di kampus apalagi di negara
yang makin tidak jelas ini.
Bapak lain lagi, bapak bisa saja tidak
mengkuliahkan aku, menghemat biaya dan waktu dan pikiran. Tapi justru bapak lah
yang memaksa aku kuliah. Kuliah tidak hanya soal kamu bekerja jadi
apa. Begitu katanya. Sewaktu aku
utarakan kalau aku diterima “hanya” di Biologi Universitas Indonesia, bapak
tetap saja menangis bangga sambil memelukku di hari pengumuman itu.
Aku sungguh tidak mengerti logika kedua
orang tua.
Aku bukannya tanpa usaha. Aku belajar
dengan cukup rajin dan aktif berorganisasi, agar tidak sia-sia masa pendidikan
tinggi ku. Namun tetap saja aku merasa
tidak menjadi “sesuatu” yang bisa membanggakan kedua orang tua. Jangan kan mapres, IPK 3.5 saja tidak pernah
bisa.
Aku malah sering merepotkan, masih
meminta uang pula. Gaji dari mengajar ku entah kenapa tidak pernah cukup, aku memang
terhitung hidup boros. Uang orang tua selalu habis begitu saja, kadang untuk
hal yang tidak-tidak.
Dan sekarang ini, makin lengkap lah
sudah alasan ibu bapak untuk kecewa pada ku. Aku tidak lulus tepat 4 tahun,
yang tentu saja menambah biaya yang dikeluarkan ibu bapak. Tapi ketika ini aku
sampaikan, ibu bapak menjawab dengan tenang saja. Hal ini sudah biasa terjadi, kakak mu juga ada yang begitu, berarti kamu
masih ada kesempatan setengah tahun kamu menjadi sarjana yang lebih baik.
Setengah jam sudah aku habiskan waktu ku
dalam renungan yang dalam. Tanpa ku
sadari, hari ini sebenarnya tidak ada pemandangan matahari tenggelam. Sedari
tadi aku hanya menatap kanopi pohon besar di seberang pandangan. Tapi sedari
tadi toh aku tidak beranjak, tetap duduk di undakan kecil rerumputan. Pikiran
ku disibukkan dengan berbagai hal seputaran ibu dan bapak. Pandangan ku
membayang wajah renta setengah abad ibu bapak. Walau bagaimanapun aku ini, aku
tahu mereka berdua pasti selalu berdoa untuk ku, tidak mungkin tidak karena
mereka adalah ibu dan bapak. Sama
seperti langit dihadapan ku ini, ibu dan bapak juga sudah memasuki masa senja. Entah
terlambat atau tidak, sebelum cahaya keduanya padam, aku harus bisa
membahagiakan ibu bapak.
Ah, terrnyata sama seperti teman-teman, aku
juga galau.








0 comments:
Post a Comment