Monday, May 30, 2011

MARYAM (1)

(besok UAS Oseanografi, malah bikin cerita)
30 Juni 2011
Dua Tahun Yang Lalu

MARYAM
(1)
Senangnya bisa menulis lagi. Sudah lama sekali tidak ada dorongan menulis yang keluar. Berapa lama ya ? hampir dua bulan. Lalu tiba-tiba kemarin semua ini keluar begitu saja.
Tulisan ini begitu unik. Idenya muncul saat aku bertemu teman lama ku di pernikahan salah seorang teman ku kemarin. Unik karena antara dia dan cerita ini karena sebenarnya tidak ada hubungan barang sedikit pun. Tapi melihat lagi cara teman ku tertawa itu, tawa yang telah lama begitu aku rindu, banyak hal terbuka lagi dalam pikiran ku. Tentang cerita-cerita lama yang sebenarnya sudah terlupakan.
Oh iya, teman ku itu namanya Linda, Nurmalinda Zahara, mahasiswi FKM UI semester 8. Agustus ini dia lulus sarjana. Dia teman dan sahabat baik ku dari masa SMP hingga sekarang. SMP yang sama, SMA yang sama, kampus yang sama. Lucunya, walau kampus ku dengan FKM itu bersebelahan, sudah tiga tahun ini aku jarang sekali bertemu. Tahu-tahu kemarin ketemu. Aku pangling, kecuali dengan caranya tertawa yang masih sama. Cekikikan. Seru sekali.
Untuk mu kawan ku, dan Linda Zahara, semoga tulisan ini bisa bermanfaat mengisi waktu senggang kalian ya =)
Banyak cerita ku akan memberi kalian banyak hal (PeDe abis, hehe) kunjungi blog ku ya di.
www.masabas.no1.blogspot.com

… … …
Saat itu hujan terun deras.
Aku sedang berbaring di dalam kamar. Lelah penat seharian. Mengeluh di ujung hari.
Lampu kamar sudah kumatikan, aku ingin sekali langsung tidur saja. Tapi tidak melulu bisa semudah itu. Pikiran-pikiran itu melintas lagi. Hal-hal yang sama setiap malam. Tentang bapak, tentang ibu, tentang kuliah, dan tentang pertengkaran ku siang tadi dengan dia.

“ memang apa salahnya kalau aku kesini sekarang ?, kalau aku ingin kesini, aku akan kesini ! “ katanya siang tadi begitu kesal.
“ aku tidak bilang kamu salah, aku bilang tadi, apa kamu tidak terganggu pergi sejauh ini hanya untuk menemuiku ? kamu kan punya banyak kesibukan lain.. lagipula, kamu seharusnya persiapkan ujian mu saja, daripada jauh-jauh kesini.. kalau kamu mau ketemu aku, aku saja yang kesana… aku akan datang ke rumah mu seperti biasa… “ kata ku membujuk.
“ datang ke rumah ku ? kamu ingat terakhir kali kamu datang ke rumah ku kapan ? itu sudah 3 bulan yang lalu, itu juga waktu ulang tahun ku. Setelah itu, kamu tidak pernah datang lagi, Bas. Mengurus ini, pergi kesana, mengerjakan itu. Kamu selalu bilang begitu kan ? ya sudah, daripada kamu repot meluangkan waktu yang tidak kamu punya lagi, aku saja yang kesini “ katanya lagi. Tidak bisa dia sembunyikan rasa kesal dalam intonasinya. Untungnya saat itu kampus sudah sepi. Saat-saat ujian akhir semester seperti ini banyak mahasiswa menghabiskan waktu di kamar atau perpustakaan untuk belajar. Aku juga seharusnya begitu, tapi kedatangannya ini membuatku memilih menemuinya saja.
“ kenapa hal itu kamu bahas lagi sih… aku kan sudah bilang, ini tahun pertama ku. Aku masih dalam masa adaptasi, mengambil banyak pilihan, kuliah, berorganisasi. Aku selalu usahakan punya waktu untuk mu, walau masih begitu sulit. kamu merasa aku kurang waktu untuk mu ya ? aku mohon maaf… aku sadar seharusnya di masa-masa sulit kamu ini, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama mu… maafin aku ya, sebentar lagi… sebentar lagi semester ini berakhir, setelah itu aku akan punya lebih banyak waktu dan perhatian untuk mu… maukah kau bersabar ? sebentar lagi saja… “ kata ku selembut mungkin, walau sejujurnya ikut kesal. Sulit sekali membujuk wanita yang satu ini.
“ tuh kamu tahu alasannya ? sudah jelas kan ? jadi ga papa kan aku datang kesini saat ku ingin ? “
“ ternyata kamu tidak mendengarkan aku “
“ lho ? belum jelas toh ? apalagi yang perlu aku dengarkan sebenarnya ? apa sih yang kamu sembunyiin disini, Bas ? “ tanyanya sekarang penuh curiga.

Sore itu pun kami habiskan dengan banyak tengkar, sampai akhirnya menyerah lelah. Padahal seharusnya sore itu bisa jadi hari yang baik untuk kita berdua bersama. Bahkan saat makan bersama kami malah lebih banyak diam. Aku menyesal sekali tidak mendengarkan dia saja tadi. Tidak perlu menjawab apapun kesalnya. Padahal yang dia inginkan begitu sederhana, namun penting untuknya. Dia hanya ingin bertemu ku saja. Bertemu aku. Walau dia terlihat begitu bodoh dengan begitu, meluangkan begitu banyak waktu nya untuk menemuiku disini, tiga jam perjalanan, membawa oleh-oleh rasa rindunya yang ku balas dengan rasionalitas menyebalkan. Ah, kenapa tidak aku mengalah saja tadi…
Aku mengantar nya pulang menjelang Isya. Hanya sampai dia mendapatkan bus untuk pulang, ke kota Bekasi sana. Tiga jam perjalanan yang menyebalkan. Dengan hutang perasaan rindu yang hanya bisa kulunasi sebagian. Aku tahu, di tempat duduk nya, sambil menatap jendela yang mengembun karena hujan, dia menangis sesugukan. Dan aku hanya bisa berdiri disini, menatap bis yang pergi menjauh meninggalkan asap hitam di belakang.
Maafin aku ya, aku sayang kamu, karena itu, aku tidak ingin kamu datang kesini sekarang.

Musik, buku-buku, pejaman mata tidak bisa membuat perhatian ku teralih begitu saja. Belum lagi dua ujian terakhir yang akan datang besok lusa. Sejauh mana persiapan ku ? siap secara materi, mental belum. Sungguh, bertengkar seperti itu membuatku malah memikirkan dia terus. Kalau sudah tahu begitu, kenapa aku sering bertengkar ? ah, memusingkan.
Bapak baru saja telpon, bertanya kenapa belum pulang ke rumah padahal sudah akhir minggu. Aku bilang tadi belum bisa pulang karena sudah punya janji. Aku bohong. Tidak banyak bohongnya. Ah, kau Bas. Mengelak saja. Kalau aku bilang tadi aku tidak pulang karena dia kesini, bapak ku akan bilang apa ya ? aku juga tidak pernah tahu. Bapak ibu ku, walau sudah lebih 3 tahun dia jadi pacar ku, bapak ibu selalu bilang dia itu “ teman “ ku. Tidak pernah berubah. Walau mereka berdua juga sayang sekali dengannya.
Terlebih ibu ku, senang sekali kalau dia main kerumah. Ibu akan memasak masakkan yang bahkan untuk ku saja jarang tersaji. Lalu mereka berdua berbincang macam-macam. Atau menonton sesuatu. Tanpa aku diajak-ajak. Rahasia perempuan, begitu kata Ibu.
Ibu juga senang sekali memberinya hadiah, entah pakaian atau pernak-pernik. Hadiah-hadiah itu sebenarnya jarang sekali dia kenakan. “ Takut rusak, itu kan dari ibu mu “, begitu katanya suatu hari. Ibu ku bertanya, “ bagaimana baju yang ibu kasih kemarin ? dia suka kan ? “, aku biasanya menjawab “ tentu saja dia suka Bu, sayang sekali malah “.
Kalau Bapak lain lagi. Bapak terkesan cuek dengan dia. Kalau dia datang, setelah menerima di ruang tamu, bapak akan panggil aku atau Ibu. Lalu beliau masuk ke kamar lagi untuk menonton siaran tinju hari Minggu kesukaannya. Bapak pernah bilang suatu kali “ teman mu itu baik dan cantik ya. Bapak senang dia mau berteman dengan mu “ aku menjawab “ oh begitu ya, Pak ? saya juga senang sekali berteman dengannya selama ini “

Teringat hal-hal itu di saat tengkar seperti ini tidak enak sekali. Memikirkan dia terus jadinya. Ah sudah lah, aku mau belajar saja. Lebih baik fokus dulu pada ujian ku. Hal yang lain bisa menyusul kemudian.
Aku ambil tumpukan catatan dan diktat kuliah hasil fotokopian berbagai teman. Bukan karena malas mencatat, tapi aku jarang mencatat karena jelek tulisan ku. Saat sedang berusaha fokus dengan materi ujian, hujan di luar sana semakin deras. Angin bertiup kencang, dingin masuk kedalam kamar. Sewaktu aku hendak menutup pintu kamar, saat itulah aku melihat sosok itu datang dari kejauhan, dari dalam lebat hujan. Sosok yang kemudian aku kenal dengan nama Maryam.

Bersambung
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

1 comments:

Unknown said...

wow.. dalem

Post a Comment