Tuesday, May 31, 2011

Maria (2)

(besok ngumpulin laporan KP, malah bikin cerita)
31 MEI 2011

MARIA
(2)

Hujan yang turun semakin deras, membuat juga udara jadi makin dingin. Sekarang hampir tengah malam. Penghuni kamar lain sudah tidur terlelap. Hanya aku yang masih terjaga. Berjuang lebih biar ujian besok pagi berlalu mudah.
Siapa dia ? darimana dia tengah malam begini ? dan mau kemana ? Begitu banyak muncul karena kemunculan sosok di kejauhan itu. Aku berjalan menuju pelataran parkir, menyongsong sosok yang datang dari tengah hujan itu.
Angin kencang membelokkan air hujan menerpa ku. Sebentar saja kaos dan celana pendek sudah basah. Aku perhatikan cara dia berjalan yang tertatih. Mungkin kakinya sedang terluka.
Aku bukakan payung yang ku bawa dari dalam kamar.

“ Hei… siapa namamu…? Kenapa kau bepergian dalam hujan deras malam-malam begini ? ” tanya ku ketika kami berdua sudah masuk kedalam kamar kos ku.
“ …. …. “ yang ditanya diam saja.
“ tunggulah sini, aku bawakan kau handuk untuk mengeringkan tubuh mu “
Aku naik kelantai atas tempat jemuran berada. Aku ambil handuk ku yang untungnya sudah kering.
“ ini basuhlah tubuh mu, jangan sampai kamu sakit… kamu ini mikir apa, hujan-hujanan di tengah malam… “ kata ku sambil memberi kan handuk.
“ …. …. “
Aku nyalakan mesin dispenser untuk memanaskan air. Diluar sana hujan tidak kunjung surut. Pintu sudah aku tutup untuk menahan udara dingin masuk ke dalam kamar. Dua gelas susu coklat panas pasti jadi sajian yang menghangatkan untuk kami berdua.
“ kamu pasti suka susu kan ? tapi masih panas, tunggulah beberapa saat sebelum kau dapat minum ya… “
“ …. …. “
“ aku tidak ingin kamu tidur disini sebenarnya, tapi aku rasa kau perlu waktu istirahat. Mungkin aku saja yang malam ini tidur diluar ya, disalah satu kamar teman ku. Kau beristirahatlah saja disini. Buat lah dirimu senyaman mungkin “.
“.… …. “
“ kamu ini pendiam sekali… “ kata ku pasrah.

.Belum sampai setengah gelas susu dihabiskan, dia sudah tidur kelelahan. Kasihan, dia pasti melakukan perjalanan yang begitu jauh dalam hujan tadi. Besok saja lah aku Aku pun kembali kepada lembaran kertas materi ujian. Sudah empat dari lima bab aku pelajari, aku kelelahan. Aku ambil air wudhu untuk kemudian tunaikan solat Isya. Khawatir terlupa karena ketiduran.
Setelah solat, pikiran rasanya terang sekali. Aku segera habiskan bab terakhir untuk ku pelajari. Singkat saja. Tidak lebih dari tiga puluh menit selesai semua bab aku pelajari. Telah aku buat pula ringkasannya, diagramnya, alur materinya untuk aku pelajari lagi nanti di sela waktu. Rasanya sudah cukup persiapan untuk ujian esok hari. Sekarang sebaiknya aku pergi tidur saja.

Sosok yang bahkan belum aku tahu namanya itu sudah begitu lelap tertidur. Tidur diatas kasur ku pula. Benar-benar akan tidur di kamar orang aku malam ini. Suara dengkur lembutnnya menjadi pengisi suara keheningan malam. Damai sekali. Sedangkan aku, walau sudah berusaha keras memejamkan mata, namun tidur menjadi hal yang sulit tidilakukan.
Ah, payah. Tidak bisa kah aku mengantuk saja ? gerutu ku dalam hati.

Dia sedang apa ya…? Apakah dia sedang marah atau malah menangis ? Memikirkan itu, membuat perasaan ku jadi lebih salah lagi. Menyakiti orang lain, apalagi perempuan, adalah hal yang Bapak Ibu ku ajarkan sebagai suatu perilaku yang begitu jelek untuk dilakukan. Waktu itu aku masih kecil, tidak tahu bagaimana rasanya menyakiti perempuan. Masa-masa sekarang ini membuat aku merasakan semua hal yang dulu jadi pertanyaan itu.
Membuatnya sedih, sengaja tidak sengaja, sadar tidak sadar, sesungguhnya memunculkan perasaan berdosa yang teramat. Aku selalu merasa dia, atau wanita lain yang pernah singgah di hidup ku ini, sudah teramat baik memberi ku kesempatan untuk memiliki mereka. Kesempatan berharga untuk menjadi satu orang yang berharga. Yang diperhatikan rasa senangnya. Yang diperhatikan keinginannya. Yang diperhatikan kesehariannya. Yang kemudian ditanya apakah sudah makan ? sedang apa sekarang ? jagalah kesehatan mu, kau tidak ingin aku bersedih kan ? hingga apakah kau menyayangi ku ?
Aku masih sering tidak bisa dapatkan jawaban, apa kualitas diri yang ku miliki yang bisa membuat mereka tertarik ? aku hanya lah orang kebanyakan. Orang seperti kebanyakan orang yang kau kenal. Aku adalah common people, yang dengan mudah bisa mereka temukan dimana saja dalam kehidupan mereka. Aku tidak punya hal yang membuat mereka memiliki dunia. Yang membuat mereka jadi diatas. Aku ada dikualitas biasa-biasa saja untuk kebanyakan hal. Tidak aku jadi nomor satu dalam satu hal. Semuanya biasa, seperti kebanyakan orang.

“ Kenapa kau selalu bertanya begitu ? tidak cukup kah saja kalau aku menyayangi mu ? “
“ Aku hanya ingin tahu saja … apa alasannya ? karena kau bisa mendapatkan banyak hal lebih baik dengan orang lain dibandingkan bersama ku … “
“ harus kah aku bilang pada mu sekali lagi ? aku tidak ingin mendapatkan banyak hal yang lebih baik. Aku hanya ingin bersama mu, Bas “
Kalau sudah sampai situ, aku kalah total, terkunci mati, tidak dapat berkutik

Sudah lewat dari jam 12 malam. Entah kenapa aku begitu rindu satu orang itu. Pertengkaran tidak membuat aku malah melupakannya apalagi membenci saja.
Sedari tadi telpon ku tidak diangkat. Kiriman berbagai kata lewat sms ku tidak dibalas. Apakah dia sedang marah ? ah, tidak, dia pasti lelah setelah perjalanan sedemikian jauh tadi. Aku sedang berusaha keras tidak lagi berpikir jelek tentang orang lain.
Aku ambil telepon genggam ku. Aku tekan angka-angka penunjuk nomor hape nya. Semoga kali ini telpon ku diangkatnya.
Terdengar nada dering yang begitu aku ingat, nada dari lagu untitled Maliq and D’Essential. Dia memang suka sekali lagu ini.

“ Mainkan aku untitled dengan gitar mu, Bas “
“ Tentu saja, tapi kamu tidak akan meminta ku bernyanyi juga kan ? “
“ hihihi, tidak tidak. Sudah cukup aku mengajari mu untuk bernyanyi dengan baik. Kamu memang tidak akan bisa bernyanyi, Bas. Bakat mu sudah mentok! Hihihi “
“ terserah saja. Haha. Tapi, apakah kau akan tetap menyukaiku kalaupun aku bermain gitar saja ? “
“ hmm, tergantung. Apa yang bisa kamu mainkan buat merayu ku, dasar tukang gombal! Hahaha “

Itu adalah salah satu momen yang aku ingat. Saat itu sedang libur akhir pekan. Status ku sebagai mahasiswa baru saat itu membuat ku dikenakan tugas, berbagai tugas kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Aku sampai tidak sempat datang ke rumahnya. Namun bersedia datang ke kampus ku saja.
Kami pun merencanakan piknik. Kami membeli berbagai bekal dari minimarket. Kami bawa karpet kecil dari kosan ku. Aku bawa pula gitar ku. Kami pikinik di pinggir salah satu danau yang kampus ku. Kami buka bekal dan makan dengan gembira. Aku ambil gitar ku, aku mainkan salah satu lagu kesukaannya. Siang itu cerah, begitu cerah juga sejuk. Dan sepi, yang terdengar hanya alunan gitar ku mengiringi lantunan melodi suara emasnya yang selalu bisa membuat ku tidak ingin cepat-cepat pulang.

Sudah dua kali, tapi telpon ku tidak juga diangkat. Sekali lagi maka aku menyerah saja. Mungkin dia memang sudah tidur atau memang ingin sendiri. Saat aku telpon sekali lagi. Telpon ku ternyata diangkat. Syukurlah.
“ Hei… kamu sudah tidur ya… “ tanya ku membuka percakapan
“ Ngga,… belum. Tadi aku lagi denger radio jadi ga kedengeran… “ katanya lirih diujung telpon. Malas. Bohong kah ?
“ oh begitu… aku ganggu kamu ga … ? “
“ ngga, Bas “ jawabnya singkat.
“ tadi sampe rumah jam berapa, yang… ? tanya ku selembut mungkin.
“ hampir jam 11, aku ga inget… “
“ malem banget ya… “
“ iya gapapa, udah biasa kok… kalo lagi ada job nyanyi kan juga pulang “malem… “
“ … maafin aku ya … “ pinta ku.
“ kenapa ? kok tiba-tiba minta maaf ?
“ aku selalu merepotkan kamu, yang … “
“ Ngga, Bas. Aku melakukan ini karena kemauan ku kan ? “
“ tetap saja, aku yang sekarang jarang bisa mengerti maumu… “
“ sudah lah, aku sedang malah membahas hal-hal itu… “ katanya, dengan nada yang memang malas. “ kamu lagi apa,Bas ? kok belum tidur, katanya kamu ujian kan besok “
“ iya ini aku baru selesai belajar, habis telpon ini aku tidur ” seru ku.
“ jangan malem-malem, Bas. Istirahatlah saja kamu ya” pintanya lembut.
“ Iya, sebentar saja. Oh iya, aku kuliah tinggal dua minggu lagi, nanti aku ke rumah mu minggu depan ya, kamu ada di rumah kan ? kataku bersemangat.
“ Tidak usah dipaksakan, Bas. Waktu mu pasti tersita banyak. Nanti saja kalau kamu sudah luang ” katanya dengan nada tidak yakin.
“ tapi memang minggu depan aku tidak ada kegiatan kok”
“ Oh begitu kah ?. kalau begitu aku lihat juga jadwal nyanyi ku minggu depan ya. Sekarang tidur lah, Bas. Sudah malam. Jangan sampai kau kesiangan. Aku juga ingin tidur “ terdengar suara orang menguap. Entah sungguhan atau tidak.
“ ya sudah … sampai ketemu minggu depan ya… met tidur ya… aku sayang kamu… “ kataku kecewa.
“ … “ terdengar suara telpon ditutup. Dia pasti sedang marah. Yang aku belum tahu, sejak hari itu, hubungan ku sudah sedemikian berubah.


Kita lihat minggu depan saja, setelah bertemu, pasti kita akan baikan lagi. Benar, sekarang aku
Hei, kau yang sedang tidur. Bagaimana aku memanggil mu kalau kau diam saja begitu ? kata ku dalam hati pada teman baru ku itu yang sedang terdidur.
Aku dijawab dengan dengkur.
Walaupun terkesan berlebihan, bolehkah aku memanggil mu Maria saja ? kau kenal Maria kan ? dia adalah teman baik Isa sang Rasul menjalani masa-masa sulit kenabian. Maukah kau menemaniku menjalani masa-masa sulit ini juga ? Maria ?
“ …. …. “
Dia yang sedari tadi ditanya sedang tidur, Bas !
Bersambung

Apakah kisah ini fiksi atau ada fakta didalamnya ? mungkin kau bisa menemukan jawabannya sendiri dengan membaca tulisan ku yang lain di
www. masabas.no1.blogspot.com.
Selamat berbagi ! =)
  • Stumble This
  • Fav This With Technorati
  • Add To Del.icio.us
  • Digg This
  • Add To Facebook
  • Add To Yahoo

2 comments:

Wendy Achmmad said...

Yah, kucing kok di ajak ngomong ... :D

Unknown said...

romantis!! :D

Post a Comment