PRAMUGARI RUNI
Masih tidak percaya saat ini aku sedang dalam pesawat menuju Bali. Perjalanan ku ini sebuah bukti bahwa doa kita didengar oleh Tuhan. Tuhan yang selalu ada di hati kita dan mendengar dengan baik. Masalahnya adalah sering kali kita tidak bicara pada-Nya. Jadi apa yang bisa Dia dengar ? Manusia memang sering kali jadi begitu congkak di bumi, lari dari kepenatan hidup dunia dengan segala hal duniawi lainnya. Padahal, dekat dalam hati kita, lebih dekat lagi dari urat nadi kita, selalu ada Tuhan yang bersemayam, menunggu kita berbisik memohon sesuatu.
Doa kita itu lalu dijawab, selalu dijawab dengan cara-Nya. Kadang kita langsung mendapatkan apa yang kita inginkan itu, kadang kita tidak mendapatkannya begitu saja. Kadang kita mendapatkan hal lain, yang mungkin tidak kita inginkan, tapi sesungguhnya kita butuhkan. Kita tidak pernah tahu rahasia dibaliknya.
Apa yang aku alami beberapa hari ini, kawan ku, hingga aku disini detik ini, untuk sebentar lagi mengudara diatas awan, adalah contohnya. Aku dapat mengalami hal ini, dan hal menyenangkan lain di hari-hari ke depan, “mungkin” hanya karena serangkaian keinginan, dan doa, yang terwujudkan. Memang sulit ku percaya, tapi memang begitu adanya. Dan aku berusaha mensyukuri nikmat ini dengan baik.
Aku duduk di kursi penumpang bagian aga belakang. Kursi penumpang pesawat swasta ini tersusun sedemikian rapat. Saat aku berusaha duduk, aku sampai harus sedikit menekuk kakiku. Koridor antar kursi penumpang bagian kiri dan kanan pun terasa begitu sempit untuk berlalu lalang. Beruntung sebagian besar barang bawaanku aku titipkan di bagasi. Tempat barang per kursi penumpang begitu kecil. Biar bagaimanapun, aku yakin perjalanan ku selama seminggu ke depan akan sangat menyenangkan dan memberi ku pengalaman-pengalaman menarik, termasuk merasakan duduk bersempitan di pesawat maskapai swasta.
Aku pun duduk di tempat ku seharusnya. Tempat duduk ku adalah yang terletak didekat jendela. Dua teman ku yang lain yang juga ikut ke Bali itu, duduk di kursi penumpang seberang kanan. Teman duduk ku saai itu adalah seorang wanita berjilbab, yang sayangnya tubuhnya tampaknya terlalu besar untuk kursinya. Merasa kasihan melihatnya begitu, aku pun merapatkan diri kearah jendela agar dia mendapatkan porsi tempat duduk yang lebih banyak. Walaupun mengambi jatah ku. Aku begitu, dia hanya tersenyum. Banyak hal di dunia memang sering kali tak terungkapkan dengan kata kawan ku, bahkan sekedar ucapan terima kasih untuk teman penerbangan yang memberikan sedikit jatah tempat duduknya. Aku coba ajak bicara, dia tidak membalas, hanya tersenyum saja.
Huff, ya sudah. Tidak baik berkeluh kesah. Aku nikmati saja perjalanan ini.
Mesin pesawat sudah dinyalakan. Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, meninggalkan Jakarta menuju Bali. Di saat-saat kepergian seperti ini aku sering termangu terkenang suatu hal.
Merasa geli sekaligus terharu aku mengingat keluarga ku tadi berusaha meluangkan waktu untuk mengantarku ramai-ramai ke bandara. Padahal aku sudah biasa pergi kemana-mana sendiri, lama atau sebentar. Tetap saja keluaga ku sering begini. Ibu ku bahkan sampai sesugukan melepasku pergi.
Aku bilang “sudah sih, cuma seminggu, di hotel pula, ga di gunung atau di hutan gitu, kalo begini saya kan jadi kepikiran pergi begini”. Di antara anak nya, aku memang yang paling sering bepergian, terlebih lagi bepergian sendiri, selain tentu yang paling nakal kata ibuku. Teman-teman lain yang ikut dalam perjalanan ke Bali ini, Eru, dan K suri, tertawa haru melihat keluarga ku melepasku ramai-ramai.
Memang keluarga ku sering begitu. Kalau ada anggota keluarga kami yang akan bepergian, pasti mereka menyempatkan akan mengantar. Walau pun tidak melulu semua anggota keluarga lengkap. Aku tidak malu, atau menjadi manja karena itu. Aku malah begitu senang dan bersemangat memiliki keluarga seperti itu. Aku tahu tidak banyak lagi orang yang mempunyai hal seperti itu di dunia sekarang ini, dan aku bersyukur punya banyak dari keluarga ku. Ini pertama kalinya aku pergi naik pesawat dan tanpa keluarga ku. Belum apa-apa, aku sudah rindu mereka. Seminggu pasti akan jadi waktu yang begitu lama terasa.
Aku pergi dalam keadaan yang resah. Aku baru saja untuk sekali lagi, entah untuk yang keberapa kali, bertengkar dengan pacar ku. Saat-saat bertengkar adalah saat-saat yang begitu buruk buatku. Begitu buruk karena punya dampak ke berbagai sisi hidupku yang lain. Biasanya kalau lagi begitu, aku banyak malasnya, malas belajar, malas bicara, malas kemana-mana.
Perasaan memang bagian yang paling rapuh dalam diri manusia. Namun, kerapuhan begitu, biar bagaimanapun akan teradaptasi walau lambat laun. Sampai batasnya, rasa itu akan berevolusi, berevolusi menjadi makhluk yang lebih kuat. Biarpun sulit terasa, suatu saat semua pertengkaran ini akan berlalu begitu saja. Sampai saat evolusi itu, aku sebaiknya lebih banyak bersabar saja. Ah, sudahlah, lebih baik ku sibukkan diri. Semoga di Bali nanti aku bisa sedikit melupakannya.
Di kantung kursi depan wajah ku, terdapat majalah milik maskapai penerbangan yang dapat dibaca untuk penumpang mengisi waktu dalam perjalanan. Aku ambil satu majalah itu, lalu aku baca. Majalah itu berisi liputan liburan di suatu tempat menarik di pedalaman Kalimantan. Hmmm, pasti seru melakukan liburan-liburan seperti itu.
Tempat mana yang begitu ingin aku datangi di Indonesia ini? Aku sudah ke gunung Halimun, sudah ke Karimun Jawa, dan beberapa taman nasional di pulau Jawa. Aku sudah ke Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Jember, Banyuwangi dan sekarang Bali. Selanjutnya aku ingin sekali suatu saat bisa ke Danau Toba, ke Bangka Belitung, ke Bunaken, ke Lombok, dan banyak lagi. Ah, beruntung sekali jadi bangsa ini. Aku belum tahu kapan pasti dan bagaimana wujudnya, tapi sudah ku tuliskan itu di buku impian dan perasaan ku dalam-dalam. Biarlah untuk saat ini impian itu disimpan disana, aku yakin tidak lama lagi itu bisa aku wujudkan. Amin.
Melalui pengeras suara, diberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Penumpang dalam pesawat diminta untuk menonaktifkan alat komunikasi serta menggunakan ikat pinggang pengaman saat lepas landas. Diinfokan juga para penumpang untuk tidak merokok dan menggunakan lampu baca saat ingin membaca, mematikan lampu utama di tempat duduk agar tidak mengganggu penumpang yang ingin tidur.
Beberapa pramugati nampak hilir mudik di kabin penumpang membantu persiapan keberangkatan. Tiga orang pramugari itu lalu berada di bagian kabin tengah, kabin depan, dan kabin belakang. Sesuai intruksi kopilot dari pengeras suara, mereka akan memperagakan prosedur standar keselamatan penerbangan. Sebelum membacakan prosedur tersebut, terlebih dahulu sang kopilot, memperkenalkan tiga orang pramugari, yang seperti kita kenal sebagai selayaknya pramugari adalah tentu saja cantik dan menarik penampilannya. Kenapa ya, untuk beberapa bidang seperti ini,pasti wanita yang menjadi figurnya. Selain profesi pramugari, ada resepsionis, pembawa acara olahraga, sales person produk rokok, pulsa hape, bahkan sampul majalah jualan hapenya pasti wanita cantik yang jadi figurnya. Banyak hal di dunia memang masih tanda tanya kawan ku.
Satu pramugari, yang berdiri di bagian depan kabin penumpang, yang untuk sekalian kali aku ulang, cantik, menarik perhatian ku. Bukan karena apa, tapi memang karena cantiknya, tapi bukan itu juga sebenarnya, tapi karena entah mengapa, aku begitu mengenal wajah pramugari itu. Entah dimana atau kapan aku mengenal wajah itu,ada sesuatu hal yang membuatku belum dapat mengingatnya dengan jelas.
“ Para penumpang yang terhormat, pramugari Maya, pramugari Sari, dan pramugari Runi sesaat lagi akan memperagakan prosedur standar keselamatan penerbangan kepada Anda” suara kopilot dari pengeras suara memberikan pengarahan. Nama pramugari yang berdiri di kabin bagian depan adalah Runi. Ah, itu dia namanya. Sekarang aku ingat wajah itu, siapa dia, dimana, dan kapan aku mengenalnya. Bukan, bukan kalian salah tebak. Dia adalah salah satu teman ku saat SMA dulu.
Sambil kopilot memberikan intruksi, para pramugari memperagakan prosedur keselamatan. Mulai dari bagaimana memasang ikat pinggang keselamatan, bagaimana membuka pintu darurat, hingga bagaimana menggunakan rompi penyelamat. Para pramugari memperagakan prosedur ini dengan begitu baik dan menarik.
Aku amati teman ku sang pramugari itu. Aku tahu apa yang berbeda dari nya yang sekarang. Ingin sekali aku menegur sapa dirinya saat itu, tapi aku tahu aku hanya kan mengganggu pekerjaannya, dan mengganggu penumpang lain. Aku putuskan untuk menghampirinya saat pesawat mendarat nanti saja.
Aku pasang ikat pinggang keselamatan ku. Teman perjalanan ku disebelah tampak nya juga kesulitan memasang ikat pinggang itu selain dia sulit untuk duduk tadi rupanya. Pesawat bergerak dilandasan pacu. Tidak lama kemudian aku dapat merasakan badan pesawat terangkat, lalu kami pun mengudara. Saat itu aku merasakan pengalaman tidak menyenangkan dalam menaiki pesawat.
Pertama, di ketinggian yang mulai naik, aku rasakan telingaku berdengung-dengung, makin tinggi dengungan itu makin tidak karuan rasanya. Lalu, pada saat ketinggian pesawat mulai stabil, aku rasakan seperti ada cairan yang memenuhi rongga dalam telinga ku. Kemudian, begitu pesawat mempercepat, aku rasakan cairan itu seperti akan keluar dengan paksa dari telinga, aku rasa cairan dalam telingaku itu akan memecahkan gendang telinga . Aku malah khawatir aku tuli karena itu.
Uh, aku rasa sakit itu akan berlangsung selama perjalanan pesawat ini. Itu berarti satu setengah jam ke depan. Aku tutupi telinga ku kuat-kuat sedari saat pesawat lepas landas. terasa tidak membaik aku tambah tutupan itu dengan bantal yang ada di kursi penumpang. Melihat aku begitu, teman duduk ku hanya tersenyum, sekali lagi hanya tersenyum. Teman perjalanan seperti ini bukan teman perjalanan yang baik kawan ku.
Aku coba menghibur diri dengan membaca majalah, tidak bisa melawan rasa sakit ini Aku lihat pemandangan diluar jendela. Gumpalan awan hujan dan gelap malam tidak juga bisa membuatku lupa sakit ini. Bahkan saat teman pramugari ku itu lewat koridor kursi tempat ku duduk ini dan memberikan roti dan air mineral sebagai penganan kecil, aku tidak menyadarinya. Aku coba tidur sambil memegangi telinga, walau tidak mengantuk, sesekali aku bisa tidur walau tak lama bangun lagi karena rasa sakit ini.
Bersyukur sekali, ternyata siksaan ini cuma berlangsung selama setengah jam. Setelah itu hilang begitu saja. Badanku berpeluh keringat. Aku lelah sekali. Teman duduk seperjalanan ku sudah tertidur dan mendengkur. Sudah ku bilang kan? Dia bukan teman perjalanan yang baik.
Lelah menahan sakit, aku tertidur lelap setelah itu.
… … … … … …
Aku terbangun ketika dari pengeras suara kopilot menginfokan kami sudah sampai di bandara internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Alhamdulillah, akhirnya.
Tak lama kemudian pesawat mendarat di landasan pacu. Setelah pesawat berhenti, kesibukan proses penurunan penupang pun terasa. Para pramugari tampak hilir mudik di kabin. Setelah diinfokan bahwa para penumpang sudah diperkenankan untuk turun, para penumpang pun mulaik berkeluaran dari tempat duduk nya masing-masing menuju pintu keluar.
Aku bersama Eru dan K Suri memutuskan untuk turun setelah penumpang lain sudah banyak yang turun. Teman duduk seperjalanan ku sudah turun sedari tadi, sekarang bahkan tanpa senyumnya itu. Sekali lagi ku ingatkan kawan ku, teman duduk seperjalanan seperti ini bukanlah teman seperjalanan yang baik.
Berangsur-angsur kabin penumpang pun sepi dari penumpang. Setelah membawa tas masing-masing, kami bertiga pun berniat turun, namun sebelum turun, sesuai rencana aku ingin temui teman pramugari ku itu.
“ eh, gue nyusul aja deh, ada yang mau gue temuin dulu, langsung ketemu dibawah ya “ kata ku.
“ hah? Oke, Siapa yang lo mau temui Bas?” tanya Eru sebagai jawaban.
“ temen gue, Ru, salah satu pramugari tadi”
“ oh gitu, ya udah, sampe ketemu dibawah ya, jangan lama-lama, K Mardha sama yang lain udah nunggu di pintu masuk bandara, Bas” sahut kak Suri.
Saat itu, ketiga pramugari pesawat sedang merapikan pekerjaannya di kabin penupang bagian belakang. Aku menghampiri mereka. Ku panggil nama teman pramugari ku itu.
“ Hei, Runi! “ sapa ku, yang dipanggil segera menengok.
“ Hei “ sahut Runi kaget.
“ inget gue ga hayo? “ kata ku memancing ingatannya.
“ Ah, inget dong gue, lo Abas anak 12 IPA A itu kan? “ jawabnya. Ternyata dia ingat.
“ Iya. Hehe. kirain lo lupa Run”
“Masa iya, baru berapa tahun, mau liburan ke Bali, Bas? “
“ ngga kok, urusan kuliah Run, ada seminar gitu di Bali. Gue sempert pangling lho, Run tadi, antara inget ga inget, terus pas nama lo disebutin di pengeras suara tadi, gue jadi inget “ jelas ku.
“ ah, emang gue sebeda itu apa dibanding waktu SMA, hehe. emang lo kuliah dimana, Bas? “
“ gue di Biologi UI, Run. Gue sempet denger kabar lo dari temen-temen kalo lo habis SMA jadi pramugari gitu. Ternyata ketemu disini, hehe. dunia sempit ya? “
“ iya, gue langsung daftar sekolah pramugari habis lulus SMA, gimana kabar SMA? Banyak duit lo ikut seminar sampe ke Bali gini, hehe “
“ apaan, kalo ga karena dapet dibayarin, gue juga ga berangkat dah, hehe “
“ dasar. Kabar 55 gimana, Bas?” tanyanya menanyakan kabar SMA kami berdua.
“ Ga tau gue, sejak lulus gue belum pernah kesana lagi, lo juga ngga emangnya? “
“ iya, gue ga sempet, jadwal terbangnya padat, Bas. Oh, iya, kenalin Bas, ini temen gue Sari, terus ini Maya “ katanya memperkenalkan kedung sedari tadi temannya yang sedari tadi cuma mengamati kami.
Maya adalah pramugari manis yang berlesung pipit, juga punya gigi gingsul yang menambah daya tarik senyumnya. Sari pramugari yang tinggi ramping, paling tinggi diantara mereka. Teman ku, Runi yang paling cantik dari ketiganya, kulitnya kemerahan, tinggi badannya sepadan dengan postur tubuhnya, lalu rambutnya ternyata merah, merah yang alami, bukan karena pewarna. Aku juga baru tahu kalau rambutnya berwarna merah, karena dulu waktu SMA Runi berjilbab. Berarti sesuai hukuk kepramugarian yang selama ini ku ketahui, dia melepaskan jilbabnya. Tuntutan profesi. Aku tidak tahu apa pendapat hukum Islam tentang wanita-wanita seperti ini. Bagaimana jika seseorang “ terpaksa “ melepaskan jilbabnya untuk satu-satunya profesi halal yang bisa didapatkan, yang bisa menopang hidup dirinya dan keluarganya? Aku tidak tahu, mungkin kau lebih tahu kawan. Yang pasti,Allah SWT tahu apa yang sesungguhnya benar buat Runi.
“Hei.. salam kenal, Maya… Sari… ” kata ku berturut-turut seraya menjabat tangan mereka.
“Abas sendirian aja, ga sama pacarnya ?” tanya Runi tiba-tiba.
“Ngga, gue bertiga perginya, sama temen gue dua orang udah turun duluan Run”
“Oh gitu…”
“Mmmm, ya sudah Run, ga enak temen gue pada nunggu lama, senang ketemu Runi lagi disini, semoga kita nanti bisa ketemu lagi ya?”
“Iya, Abas. Insya Allah, selamat menikmati Bali, semoga Anda menikmati penerbangan kami. Kami tunggu penerbangan Anda selanjutnya bersama maskapai kami” jelas Runi.
“Ah, promosi aja lo, hehe. ya sudah dau Run… salam kenal ya Maya… Sari…” aku berkata sambil melambaikan, menuju pintu keluar.
Aku turuni tangga pesawat. Eru dan Kak Suri sudah menunggu di landasan pacu bandara.
“Maaf ya lama, ketemu temen lama yang ternyata pramugari disini, ajaib” jelas ku kepada mereka.
“ Iya, ya, Bas. Ah hidup lo emang ada-ada aja ya” kata Eru.
“ Hehe…. Ah! Kacau! Gue lupa! Gue lupa minta nomor hapenya si Runi temen gue itu!” teriak ku panik.
“ Ah, Lo, Bas, kebiasaan, udah liat aja nanti di Facebook “ cetus Eru sebal.
“ iya deh…”
Perbedaan waktu sejam dengan Jakarta membuat kami sampai di Denpasar tengah malam. Kami menuju pintu masuk bandara untuk menemui teman-teman kami yang sudah sampai ke Bali terlebih dahulu. Dari bandara, kami akan menuju penginapan kami dengan mobil carteran. Aku mengantuk, namun aku begitu bersemangat. Aku merasa memenangkan sesuatu yang begitu berharga bersama teman-teman ku ini.
Kawan, tanah yang ku pijak saat ini adalah tanah Bali. Udaranya adalah udara Bali. Langitnya adalah langit Bali. Masyarakatnya adalah masyarakat Bali, makanan Bali, lalu nanti laut Bali. Subhanallah. Terima kasih, Tuhan yang begitu baik mengirim ku kesini. Semoga waktu-waktu kami seminggu disini penuh manfaat untuk diri kami dan orang lain. Amin.
Bersambung
Semoga aku memberi manfaat padamu lewat tulisan ini.
Semoga selamat senantiasa atas mu kawan.
Come visit my blog in masabas.no1, karena hidup nomor 1 adalah hidup yang penuh manfaat untuk orang lain. Hehe.








0 comments:
Post a Comment